
"Apa yang dia lihat di bawah?" batin Gabriel keheranan.
"Semuanya!! kita harus secepatnya pergi dari sini!!" teriak Alfarani, sekencang-kencangnya kepada mereka semua yang telah berada di atas jembatan.
"Ada apa, Alfa?!" tanya Kiana khawatir, sembari memeluk tubuh Alfarani yang gemetar ketakutan.
"Kita harus pergi dari sini, Kiana!" ujar Alfarani, yang langsung menggandeng tangan Kiana menuju pegunungan kartawara.
"Ada apa dengannya?" batin Gabriel keheranan, seraya melirik ke arah bawah.
TREKK!
krekk!
'Jembatan ini akan ... roboh!' batin Gabriel, saat melihat ada beberapa retakan kaca yang merambat cepat ke seluruh sisi jembatan.
"KEMBALI KE DARATAN!!" teriak Gabriel, seraya berlari sekuat tenaga melewati lautan manusia yang menatap penuh keheranan kepadanya.
"Ada apa, Riel?" tanya Indra, saat melihat Gabriel melewati tubuhnya hingga menabraknya tanpa sengaja.
"Lihatlah jembatannya!" tegas Gabriel, seraya menarik tangan Indra untuk ikut berlari bersamanya.
Saat sedang berlari, pandangan Indra melihat dengan teliti jembatan kaca yang mereka injak sekarang terlihat retak!
'Retak?! jembatannya akan roboh?!' batin Indra, sembari berteriak, "Woy! jembatannya akan roboh! cepat! kalian kembali ke daratan!!"
"Hahh?! jembatannya akan roboh?!" batin mereka semua yang juga melihat serta mendengar suara retakan yang semakin lama semakin terdengar kencang.
Mereka yang menyadari hal itu pun, langsung berlari dengan kencang menuju kedua pegunungan kartawara dan Gracia di sisi ujung jembatan itu.
Karena hentakan kaki mereka yang begitu kencang menginjak jembatan kaca itu, sebelum sampai pada tujuan jembatan kaca itu pun akhirnya tumbang ...
"Aakhh!!" jerit mereka semua, saat tubuh mereka telah terjun ke bawah dengan kebesaran angin yang tak terhingga menerpa kulit serta tulang mereka.
Dengan menghirup nafas dalam-dalam di tambah dengan kedua matanya yang terpejam,
Tubuh Alfarani yang melayang itu pun mengangkat kedua tangannya dan membangun kembali serpihan-serpihan kaca itu menjadi jembatan semula yang memancarkan sinar berwarna ungu.
"Inilah ... sesuatu yang ku lihat di dalam ingatanku sebelumnya ..." lirih Alfarani, seraya dengan kekuatan yang ia miliki, ia membawa semua teman-temannya yang tak sadarkan diri untuk kembali berada di daratan tinggi, Gunung.
Dan jembatan kaca yang memancarkan sinar berwarna ungu itu di sebut The light of the snow white, cahaya sang putri salju.
Karena kekuatan yang di miliki Alfarani terlalu besar di tambah dengan tubuhnya yang lemas membuat dirinya tak kuasa untuk tetap bertahan dan akhirnya ...
Tumbang di kedua tangan seorang pria yang entah datang dari mana, namun dirinya bagaikan telah siap sedia menerima tubuh Alfarani yang mengambang turun secara perlahan menuju kedua tangannya.
"Kamu ... telah bekerja dengan keras ... beristirahatlah sejenak ..." terdengar suara lirihan seseorang tepat di dekat telinga Alfarani, dan itu membuat hati Alfarani tenang sembari menggulung senyuman menawannya.
Pria itu pun ikut tersenyum, saat dirinya kembali di buat terpana melihat kecantikan wajah seorang wanita yang berada di pangkuannya itu.
"Alfarani ... istriku ... diriku telah kembali untuk menjalankan kehidupan manusia bersamamu ..." lirih pria itu yang berumur seusia dengan Alfarani.
"Suatu saat nanti, kita akan bertemu ... dan menjadi sesama manusia yang saling mencintai, walau dirimu tak mudah untuk menaruh rasa kepadaku ..." lirih pria itu kembali, ialah Fex.
Waktu masih terus berhenti, dengan jembatan kaca The light of the snow white.
Yang telah menghilang di antara para awan yang menyelimutinya bagaikan memindahkan jembatan itu ke suatu tempat dalam sekejap mata.
"Teman-temanku ..." lirih Alfarani, dengan mata terpejam ia mengernyitkan dahinya.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di alam bawah sadarnya!" batin Fex, seraya memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang.
Dan dalam sekejap mata ... ia menghilang dari sana, dengan tubuh Alfarani yang bersandarkan sebuah batu besar di belakangnya.