
HARP! "Astagfirullah! woy! kita harus menolongnya!" teriak Niko yang terus saja menjerit-jerit tak karuan, saat melihat Rendra serta Kirana yang hanya terdiam memperhatikan Vania dengan seksama.
"Sudah ..., kamu harus diobati dulu," ujar Vania, saat tangannya di gigit harimau itu sebagai tanda bahwa hewan tersebut mengajaknya bermain.
"Huuhh! bikin orang khawatir saja!" kesal Niko, dengan menghembuskan nafasnya kasar.
Kirana menggulung senyuman melihat kebaikan Vania di balik wajah juteknya, 'Ternyata dia pecinta hewan,' batinnya sangat senang.
Di lain tempat, lebih tepatnya. Di sebuah lorong bawah tanah yang luas, hal itu terdapat di bawah sebuah mansion besar yang sangat mewah.
Kedua kaki serta kedua tangan ketiga kurcaci itu, di gantung oleh rantai, dengan lampu yang amat terang mengarah ke arah mereka bertiga yang terlihat lemas karena tubuh mereka di sengat listrik saat memberontak.
KREAK! Gerbang istana utama terbuka lebar, dan memperlihatkan seorang pria bertubuh gagah, tinggi nan berotot melebihi para anak buahnya tersebut.
"Di mana?" tanyanya kepada salah satu bawahannya yang menjaga gerbang, dengan manik mata tajamnya yang mengarah lurus ke depan tanpa menoleh.
"Di lorong bawah tanah, bos!" jawab anak buahnya itu.
Tanpa berucap lagi, ia langsung berjalan pergi sembari menekan sebuah tombol di remote kecil yang ia pegang dari dalam kantung jas hitamnya.
CHES! Terlihat, tanah di depannya menjadi terbuka dengan memperlihatkan sebuah tangga menuju lorong bawah tanah itu.
'Dia mengirimkannya lagi! kali ini, apakah lebih baik dari pada yang kemarin? bila tidak! akan kubunuh dia!' batinnya, dengan tersenyum menyeringai dan berjalan menuruni setiap anak tangga dengan gagahnya.
"Akhh! lepaskan kami, para makhluk aneh!" gertak Grumpy, sembari meronta-ronta.
SRET! Dan hal itu membuatnya kembali merasakan sengatan listrik dari rantai yang menggantung tubuhnya, sehingga tubuh pendeknya itu, bergetar hebat.
Sleepy. ia tergantung dalam ke adaan tidur, sedangkan Doc, yang juga hanya bisa terdiam dengan lemas karena lelah, berkali-kali Grumpy memberontak yang membuat mereka juga terkena sengatan listrik itu.
CHEKET!
BLES!
Sebuah pintu ruangan otomatis yang terbuat dari beberapa besi itu, terbuka lebar.
Dengan memperlihatkan sesosok makhluk tinggi, berkumis tipis, dengan senyuman menyeringainya yang masih setia terpancar di wajahnya.
Doc menatap dengan seksama kedua bola matanya yang memancarkan aura membunuh, namun di balik itu semua tersembunyi semua kenangan yang menyedihkan dari sang pemilik mata.
Tatapan tajam orang itu, mengarah ke arahnya dengan cepat dan langkah kaki orang itu pun berjalan sedikit cepat ke arahnya.
DRAP!
DRAPP!
Dan ia langsung mencengkram leher Doc dengan sangat kencang, sehingga membuat Doc kesulitan untuk bernafas.
"Makhluk aneh! lepaskan dia!" tegas Grumpy, seraya memberontak kembali. Sehingga mengakibatkan kedua kurcaci lainnya ikut terkena sengatan.
Saat ada sengatan dari rantai tersebut, pria itu secara cepat melepaskan cengkeramannya.
"Kau, cukup menarik!" ujarnya, dengan tersenyum smrik menatap Doc yang terlihat lemas karena terkena sengatan listrik yang ke sekian kalinya.
KREAK!
Dengan tangan kosong, pria itu menggenggam erat rantai yang menggantung Doc lalu ia menariknya dengan kencang dan hal itu membuat tubuh Doc terjatuh dengan lemas ke tanah.
Ia menarik bagian belakang pakaian Doc, dan menaruhnya ke atas bahu sebagaimana seperti mengangkat karung beras.
Dan ia segera beranjak pergi dari sana tanpa mempedulikan teriak-teriakan Grumpy.
"Jangan biarkan dia membawa Doc, Sleepy!" teriak Grumpy yang terus saja meronta-ronta tanpa henti, sehingga membuat mereka kembali merasakan sengatan listrik tersebut tanpa henti.
"Sleepy!" teriaknya lagi, saat melihat Sleepy dalam ke adaan tidak sadarkan diri setelah di sengat listrik yang ke sekian kalinya sebab dirinya, dan pria itu telah menghilang dari pandangannya.
"Aku sangat membenci ini semua!!" teriaknya, seraya menundukkan kepalanya yang bertujuan agar dagunya dapat mengenai tombol biru di kalung yang ia kenakan.
Di lain tempat, lebih tepatnya. Di sebuah kamar bawah tanah yang di tempati oleh Alfarani.
Secara perlahan kedua pelupuk matanya terbuka, dengan tubuhnya yang masih terasa lemah di tambah punggungnya yang terasa sakit akibat terjatuh dari gendongan Vino sebelumnya.
'Tempat ..., apa .., ini ...?' batinnya, saat melihat sekelilingnya yang terlihat gelap gulita namun ada sedikit pencahayaan dari sebuah lampu berwarna kuning yang berkedip-kedip di meja nakas.
CEKLEK!
Terdengar suara pintu yang terbuka, dan memperlihatkan bayangan hitam seorang makhluk bertubuh tinggi dengan kepalanya yang terlihat seperti ada beberapa tusukan yang menempel di sana.