
BUGH!
BRUK!
"Akhh!" rintih Fex, saat dirinya menerima sebuah tendangan keras dari kaki jenjang Alfarani yang berbalut gamis hingga membuat tubuhnya yang tak siaga itupun terjungkal ke belakang.
'Wanita ini ...!! jika sedang tertidur mengapa ia bisa menendang sesuatu?' batin Fex yang merasa geram, namun hal itu membuat dirinya kembali sadar.
'Syukurlah ..., Dengan ini aku tersadar kembali dan harus secepatnya pergi meninggalkan wanita ini!' batinnya kembali, seraya beranjak pergi dari sana.
CEKLEK!
Setelah Fex menutup pintu, terlihat dari belaik pintu. Ada sesosok lain yang berdiri tegak di sana dengan sebuah tudung saji yang menutupi wajahnya.
'Aku harus melindunginya dari lelaki itu!' batin sosok misterius tersebut, seraya berjalan mendekati tubuh Alfarani yang masih terlelap.
"Cincin batu itu! telah terpasang di jari telunjuk tangan kanannya?!" lirihnya dengan suara serak.
"Sejak kapan?!"
"Sejak kapan, ia menemukan cincin batu itu?!"
"Hal itu ..., akan sangat berbahaya bagi dirinya ...!!" ujarnya secara terus-menerus tanpa henti dengan suara lirih nan serak.
'Aku harus membawanya pergi dari sini! sebelum pangeran kerajaan Xi mengetahuinya!' batinnya, seraya mengangkat tubuh Alfarani seperti karung beras.
DRAP
DRAP!
'Astaga!' batinnya lagi, saat mendengar suara langkah kaki yang mengarah ke ruangan tersebut.
"Tuan putri ..., bangunlah tuan putri salju ...," ujarnya dengan lembut sembari menepuk-nepuk pelan punggung Alfarani yang berbalut hijab panjang.
CEKLEK!
'Namun, aku harus segera melepaskan cincin tersebut dari jarinya!' batin Fex, tubuhnya dapat merasakan ada seseorang yang berada di sampingnya.
Dengan insting yang tajam, ia menoleh ke arah samping dan berkata, "Aku sudah tahu!"
Hal itu, membuat sosok bertudung saji tersebut menarik kecil satu sudut bibirnya, seraya keluar dari balik pintu.
'Wanita itu! mengapa berada di pundaknya?!' batin Fex dengan sedikit terkejut.
"Kita bertemu kembali, Tuan!" ujar sosok bertudung saji tersebut, sembari menatap dengan tajam ke arah Fex di depannya.
"Kembali? sejak kapan aku bertemu denganmu?!" tegas Fex, "Namun ..., itu semua tiada artinya!"
Fex secara cepat langsung menyerangnya dengan tangan kosong, sedangkan sosok bertudung saji itu hanya menghindar dengan lompat ke satu tempat ke tempat lainnya dengan sangat gesit.
'Ternyata tuan FEXIO YINXE belum menyadari kekuatan miliknya dalam wujud manusia!' batin sosok bertudung saji tersebut, seraya menangkap tangan Fex dengan satu tangan lalu menghempaskannya ke sembarang arah hingga membentur tembok.
BRAK!
BRUKK!
"AAKHH!"
'Syukurlah ..., tuan Fex belum mengetahui kekuatannya yang sebenarnya, kalau tidak?! habislah diriku!' batin sosok bertudung saji tersebut, seraya berlari keluar dari ruangan tersebut.
"Akhh! S*Al!" umpat Fex, sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
'Wanita itu! tidak boleh lepas dari diriku!' batinnya, dengan tubuh terombang-ambing ia kembali berdiri seraya berlari mengejar sosok tersebut.
DRAP!
TAAK ...
Kini, terjadilah pengejaran antara mereka berdua. Sehingga, sosok bertudung saji tersebut memasuki sebuah ruangan yang amat sangat besar dengan sekelilingnya terdapat sebuah jeruji besi yang tak kalah besarnya.
'Tempat apa ini?!' batin sosok tersebut, ia mengecilkan langkahnya secara perlahan-lahan sambil menoleh ke kanan-kiri dengan seksama.
"Hei!" dari arah belakang, ada seseorang yang memanggilnya dengan tegas.
Ia membalikkan tubuhnya, dan ia melihat Fex yang telah menodongkan pistolnya tepat ke arah dirinya.
"Tuan .., sebaik and-" ucapan sosok tersebut tercekat, saat sebuah peluru yang telah melesat cepat melewati dirinya itu membuat satu besi di belakangnya bolong.
GLEK!
"Turunkan wanita itu!" tegas Fex, hingga membuat rombongan pendaki yang sebelumnya masih berada di balik jeruji besi itu terbangun.
"Ada apa sih?!" tanya Gabriel, saat dirinya sedang tertidur dalam ke adaan lemas dan tengkurap itu harus terbangun dengan pemandangan yang cukup ngeri.
"Pe-peluru!" teriak Gabriel tanpa sadar, dan seketika itu ia langsung menutup mulutnya serapat-rapatnya.
"Huuftt ....,"
"Hei! Dinda!" bisik Gabriel dengan sedikit kencang, saat melihat Dinda sedang menahan kantuk dengan kepala yang manggut-manggut.
Dengan mata yang telah sipit, Dinda menoleh ke arahnya.
"Ehh ..., bus*t!" kejut Gabriel saat melihat kantung bawah mata Dinda yang telah menghitam, "Peluru itu .., apakah akan meledak?" tanya Gabriel.
Dinda menoleh ke arah yang di lihat Gabriel, namun dengan kantuk yang masih menyelimuti dirinya. Ia kembali manggut-manggut.
"Astaga! benar 'kah?" kejut Gabriel, seraya menjauhi peluru tersebut dengan menggerakkan tubuhnya seperti cacing.
"Hei! Din," ujarnya lagi.
Namun tak di gubris lagi, karena Dinda yang telah tertidur dalam ke adaan meringkuk.
'Mengapa ia bisa tertidur di saat seperti ini?!' batin Gabriel keheranan, ia mengedarkan pandangannya ke semua teman-temannya yang terdiam lemas tanpa mempedulikan aksi yang terjadi di depan mereka.
"Astaga! mereka benar-benar hanya diam saja?!" gumamnya, seraya menoleh ke luar jeruji besi, terlihat di sana ada dua orang pria yang saling berhadapan, dengan salah satu dari mereka yang juga membawa sesuatu di pundaknya.
'Itu ..., Alfarani!" batinnya dengan sangat yakin saat melihat sesuatu yang di pundak pria bertudung saji.
'Dan ..., pria itu! bukankah yang pernah gue lihat saat di pinggir sungai tadi?!'
'Mereka siapa?! sepertinya ..., mereka berdua mempunyai niat jahat kepada Alfarani!'
'Tapi ..., Apa yang bisa gue lakukan sekarang?!' batinnya, yang merasa lemah saat melihat Alfarani dalam bahaya namun ia tak dapat berbuat apapun.
CRUS!
Terlihat dari atas, ada sebuah cipratan air yang turun mengenai tubuh mereka semua serta tercium aroma aneh yang menyebabkan mereka semua menjadi pingsan, begitu juga dengan Gabriel.
"Apa ..., yang ..., terjadi?" lirih Gabriel, dalam hitungan detik. Ia sudah pingsan tak sadarkan diri.
"Turunkan dia!" tegas Fex berulang kali, namun pria bertudung saji tersebut tak menggubris ucapannya.
Tatapan tajam nan membunuhnya kian terlihat dari kedua bola matanya yang mengarah ke arah pria itu.
'Tatapan tajam ini! sangat berbeda dengan pangeran mahkota yang kukenal!' batin pria bertudung saji itu.
'Siapa dia, sebenarnya?!'