Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 15# DI RAWAT.



Mereka semua berlari berbondong-bondong menuju gerbang sekolah, namun kecelakaan tak dapat di pungkiri ...


BRUUKGH!!


TUTT! terdengar suara dari sebuah alat yang berada di sebelah seorang pasien wanita yang tengah terbaring di ranjang pasien dengan status KOMA.


"Hmm ... Apa ... yang ... terjadi ...?" Lirih pasien wanita tersebut, yang berumur 20 tahun dengan berbagai alat menempel di sekujur tubuhnya.


Ia melirik sekelilingnya yang berbau obat-obatan rumah sakit serta pandangan pun teralihkan ke arah alat-alat yang menempel pada tubuhnya.


"Apa yang terjadi kepadaku ...?" Lirihnya kembali, seraya melihat seorang dokter wanita yang baru saja memasuki ruangan.


"Nona! Nona, ternyata sudah sadar!" Ujar dokter wanita tersebut, yang bernama Sinta.


"Apa ... yang ... terjadi ... kepadaku?" Tanyanya dengan suara pelan nan bergetar.


"Nona, beristirahatlah terlebih dahulu." Ujar Dokter Sinta itu, saat menyadari tangan pasien itu ingin mencabut alat-alat yang terpasang di tubuhnya.


"Nona, telah mengalami koma selama 6 tahun berturut-turut setelah kejadian gempa bumi melanda sekolah SMP, Nona." Ujar Dokter Sinta sembari melakukan tugasnya.


"Bagaimana ... dengan teman-temanku ...?" Lirih pasien itu, dengan nafasnya yang semakin lama semakin terengah-engah.


"Nona, sudah! Nona, tidak perlu memikirkan apapun itu, yang terpenting adalah kesehatan Nona." Ujar Dokter Sinta dengan lembut seraya menyuntikkan sesuatu kepada lengan pasien itu.


"Apa ... teman-temanku pada selamat ...?" Tanya pasien itu, yang terlihat khawatir namun secara perlahan kedua pelupuk matanya tertutup sempurna.


"Pasien ini ... pasti sangat mengkhawatirkan Teman-temannya ..." Lirih Dokter Sinta, seraya keluar dari ruangan setelah selesai dengan urusannya.


"Tolong, hubungi nomor keluarga pasien yang bernama Alfarani Putih Maharani Az-zahra," Ujar Dokter Sinta, kepada seorang suster wanita di meja resepsionis.


"Baik, Dok." Jawab suster itu, seraya mengambil telefon rumah sakit dan segera menghubungi nomor keluarga pasien tersebut.


"Dengan keluarga pasien yang bernama Alfarani?"


"Pasien telah sadarkan diri di rumah sakit dan akan di pindahkan ke ruangan rawat biasa setelah pemeriksaan lanjut, di harapkan keluarga pasien bisa datang?" Ujar pasien itu,


"Alhamdulillah! Baik-baik, kami akan segera datang!" Ujar seseorang di sebrang telefon.


Di lain tempat, terlihat Alfarani yang masih dalam ke adaan tidur itu mengernyitkan dahinya.


"Jangan ...! Jangan ...! Jangan lukai dia!!" Lirihnya yang terlihat seperti terjadi sesuatu di alam bawah sadarnya, Mimpi.


Di dalam mimpi ... Ia melihat seorang pria dewasa bertubuh tinggi nan kurus dengan wajahnya yang tertutup oleh rambut serta brewoknya yang telah tumbuh dengan lebat.


Pria tersebut dalam ke adaan prihatinkan dengan sesuatu yang terus saja menggencet tubuhnya berkali-kali dengan sangat kencang tanpa henti sedetik pun.


BRUGH! BRUUKGH!! "Jangan!! Jangan ... sakiti dia!!" Jerit Alfarani, seraya mengangkat kedua tangannya dengan kekuatan yang ia miliki, yang dapat


Memberhentikan sebuah tembok tinggi nan kokoh yang sedari tadi terus saja saling bertabrakan dengan pria itu berada di dalamnya.


Dalam keadaan tubuh di rantai oleh sebuah kekuatan berwarna kuning, pria itu berkata. "Kamu ... telah kembali ..."


"Siapa sebenarnya pria ini? mengapa hatiku terasa sakit, melihat ke adaan nya yang sangat memprihatikan?" Batin Alfarani,


Sembari tubuhnya yang melayang entah kenapa menuju pria itu yang juga melayang di tempat dengan kedua tembok di sisinya yang telah berhenti saling bertabrakan.


"Rantai?" Batin Alfarani, saat dirinya telah dekat dengan pria itu, ia melihat sebuah rantai kuning yang bersinar mengelilingi tubuh pria itu yang terlihat pula jika dirinya bagaikan tercekik!


"Apakah, kamu baik-baik saja?" Tanya Alfarani, seraya tangannya ingin menyentuh pria itu.


Drept! secara tiba-tiba, ada sebuah kekuatan seperti laser mengenai jari jemari lentik Alfarani yang ingin menyentuh pria itu, alhasil jari jemarinya itu terasa sangat panas dan tergores dengan sempurna.


"Auww! Ada apa dengan jariku?!" Kaget Alfarani, saat merasakan jarinya sangatlah panas hingga dirinya tak kuasa menahannya dan butiran air mata pun turun secara perlahan melewati kedua pipinya.


"Jangan! Jangan dekati diriku!" Tegas pria itu, dengan suara yang serak. Ia menatap lekat-lekat kedua bola mata Alfarani yang berwarna biru kehitam-hitaman.