
'Siapa dia, sebenarnya?!'
Pria bertudung saji tersebut, mengeluarkan sebuah gelang yang terdapat sebuah tombol berwarna merah di balik pakaian yang biasa di pakai oleh para pendekar masa kerajaan.
'Untuk sekarang, aku tidak bisa melawannya! karena hal itu akan menyebabkannya mati untuk kedua kalinya!' batin pria itu, seraya menekan tombol tersebut.
Sehingga, membuat dirinya dan Alfarani menghilang dalam sekejap mata. 'Kemana mereka pergi?!' batin Fex, saat setelah melihat mereka menghilang dengan tersisa kabut tipis.
TRAK!
Ia menjatuhkan pistol berisi panah bius tersebut, seraya mengepalkan kedua telapak tangannya.
'Aku harus mendapatkan wanita yang memakai gelang batu tersebut!' batin Fex, seraya menghentakkan kakinya lalu berputar arah keluar dari ruangan tersebut dengan gagah.
"Lacak! dan bawa wanita itu kembali kepadaku!" tegas Fex, di depan semua para anak buahnya yang berjumlah 300 orang, baik dari Indonesia maupun dari spanyol, semuanya sama-sama berbadan besar.
"BAIK, BOS," jawab mereka dengan serentak nan keras.
'Kali ini! Aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku, wanitaku!' batin Fex, sambil tersenyum miring ke kiri, lidahnya keluar lalu mengelap sudut bibir kirinya karena dirinya haus akan darah segar yang harum.
Di lain tempat, Tubuh Alfarani yang masih terlelap itu, di taruh secara perlahan di atas sebuah permadani putih berkilau yang mengambang di atas tanah oleh pria bertudung saji tersebut.
"Tuan putri ..., hanya tempat ini yang aman untukmu," lirih pria tersebut, sambil melihat tubuh Alfarani yang berada di atas permadani itu terbang untuk berdiam diri di atas dedaunan raksasa pohon yang amat tinggi.
'Wujud reinkarnasinya putra mahkota, sepertinya bukan manusia yang baik, tatapannya ..., sangat tajam! seperti ingin mencekam tuan putri salju!'
'Aku harus segera memberitahukannya kepada kaisar kerajaan Xi!"
Pria bertudung saji tersebut, menjadi menghilang dalam sekejap sebagaimana sebelumnya.
Tubuh Alfarani yang telah berada di atas permadani itu seketika pakaiannya berubah menjadi gaun berwarna ungu terang benderang melebihi suryanya sang mentari yang tengah bertugas.
Di tambah dengan hijab panjangnya yang berwarna senada, yang di hiasi oleh manik-manik indah nan menawan serta bunga udumbara/youtan poluo yang berjejer rapih di setiap sisi hijab bagian atas kepalanya.
Harum bunga ini bisa melebihi harum dari parfum, aromanya menyebar hingga waktu yang lama.
Ada seseorang yang mencium aroma harum tersebut. Hingga, sampailah ia di depan tubuh seorang putri cantik nan bersinar tengah tertidur di atas permadani.
"Ibunda ..."
Di tempat lain, tempat penjara bawah tanah yang sangat dalam dan tak terlihat dengan mata telanjang.
"Masukkan!" ujar lainnya, seorang pendekar mulai mendekati sebuah lubang di antara beberapa bebatuan yang mengelilingi mereka, lalu menancapkan tongkat tersebut dengan keras.
KRAK
BAGKH!
HUARKK!!
Dari luar, suara singa Toxia terdengar sangat keras hingga angin berhembus begitu kencang dari depan menerpa tubuh para pendekar tersebut.
Penjara bawah tanah yang berbentuk seperti gua dengan sebuah sungai yang berada di antara pijakan kaki yang berlalu lalang masuk ke dalamnya,
Dan di kelilingi oleh sebuah air liur dari berbagai jenis hewan buas yang menempel menjadi satu di bebatuan yang berada di kedua sisi sungai.
Ketiga pendekar samurai yang di perintahkan oleh kaisar Linxio tersebut, kini sudah memasuki sungai bawah tanah itu dengan menggunakan sebuah perahu yang tak bermesin.
Bila mengeluarkan suara bising walau hanya sekali, air sungai bawah tanah tersebut akan bergetar dan berputar cepat layaknya sebuah mesin cuci baju.
Sehingga, mengakibatkan siapa saja yang tengah berada di atas air sungai tersebut tak terselamatkan karena kecepatan air yang berpusar itu tak dapat terhitung walau hanya sedetik pun.
Hanya sekejap mata, mereka yang memasuki gua tersebut telah menghilang bak di telan bumi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Setelah kabar bahwa tuan putri Jia Li menghilang, dalam beberapa hari dengan waktu yang sangat cepat. Hal itu, menyebar ke pelosok negeri hingga para penduduk kecil di mana pun mereka berada digegerkan akan kabar tersebut.
"Buka portal sekarang!" tegas mereka bertiga, secara serentak dan secara bersamaan menekan sebuah tombol di baju besi bagian dada kanan mereka bertiga yang telah di berikan oleh kaisar Linxio.
Terlihat ..., ada sebuah kabut berwarna biru laut yang terkumpul menjadi satu dari masing-masing tombol tersebut, yang menandakan portal ke dalam kehidupan manusia akan segera terbuka.
Secara tiba-tiba, kabut tebal yang tengah berputar di depan mereka itu berubah warna menjadi hitam kemerahan, gua tersebut bergetar membuat air sungai tersebut bergelombang.
"Kita harus pergi dari sini, sekarang!" tegas salah satu pendekar tersebut dengan nada pelan, saat pusaran kabut tebal itu bagaikan menarik mereka untuk mendekatinya.
Karena gelombang air sungai tersebut semakin lama semakin meninggi, membuat perahu itu terbalik dan ketiga pendekar tersebut terpaksa untuk berenang ke tepi yang terdapat bebatuan berselimut air liur itu.
BLESH!
KHUARK!!