Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 19# BERSEMBUNYI.



"Ada apa?" tanya Gabriel, kepada teman-temannya dan Indra yang berada di sana.


Terlihat sebuah tempat, entah apa dengan menuruni tangga terlebih dahulu, Gabriel melihat ke arah Teman-temannya yang berkumpul di sana.


"Jembatan! Riel!" seru Indra, seraya telunjuk jarinya menyentuh kedua sisi jembatan kaca yang berselimut awan itu.


"Jembatan?" Gumam Gabriel, tak percaya sembari melangkahkan kakinya mendekati jembatan yang tak ada satu pun temannya berani mendekat.


"Ya! Hahaha!! Kalian takut?!" ledek Gabriel, seraya menatap penuh sombong ke arah mereka sembari berjalan memasuki jembatan berbalut awan itu.


"Woy! Gabriel, jangan gegabah!" ujar Indra, yang merasa khawatir.


"Tidak ada apa-apa di sini!!" suara teriakan Gabriel di balik awan itu, dapat membuat Teman-temannya merasa tenang.


"Gabriel! Kembalilah!" teriak Indra.


Tak ada jawaban.


"Apakah kita harus masuk?" tanya seseorang kepada Indra, Indra menoleh seraya mengangguk.


"Kalian mempunyai hp frillet?" tanya Indra, kepada teman-temannya dan mereka semua menjawabnya dengan mengangguk seraya mengeluarkan hp yang di maksudnya.


"Baiklah, kita harus berhati-hati melewatinya," ujar Indra, sembari berjalan dengan di iringi teman-temannya yang berjalan pula di belakang.


"Woy! Gabriel!" teriak Indra, setelah mereka telah berjalan di atas jembatan kaca itu dalam ke adaan pandangannya yang tertutup oleh awan.


"Dia ... wanita itu! cewekku!!" batin Gabriel, lewat hp frillet yang ia miliki, ia dapat melihat dengan jelas seorang wanita berhijab panjang yang sedang berdiri di sisi jembatan sembari memandang lurus ke depan.


"Aaaa!! Serem banget!" jerit Gabriel, tubuhnya gemetar hebat saat melihat ke bawahnya yang terlihat jurang gelap gulita dengan pikirannya juga yang telah healing kemana-mana.


Awan semakin lama semakin menghilang karena terus berjalan melewati jembatan kaca itu, kini pandangan mereka sudah mulai terlihat jelas.


"Mamp*s gue! jika teman-teman melihat tubuh gue yang gemetar seperti ini ..." Batin Gabriel, seraya merangkak dalam ke adaan tubuh masih bergetar ke sebuah kain panjang yang ia lihat di sisi jembatan.


"Sepertinya tempat itu sangat aman untuk gue bersembunyi!" Batinnya kembali, seraya memasuki kain tersebut.


Alfarani menoleh ke arah ujung jembatan yang belum mereka lewati, ternyata ada segerombolan orang-orang yang ikut berjalan melewati atas jembatan itu.


"Mengapa ... terasa seperti ada sesuatu ...? batinnya, sembari menatap ke bawah dan menyelipkan sedikit ujung bawah gamis yang ia kenakan.


"Alfa! Ternyata banyak orang dari sana yang datang ke sini juga!" ujar Kiana, saat ia juga melihat rombongan orang-orang itu.


"I-iya ..." jawab Alfarani, seraya tubuhnya yang ia bungkukkan sedikit untuk melihat ada apa di balik gamisnya.


"Ada apa, Alfa?" tanya Kiana, keheranan.


"Astaghfirullah hal'azim!" jerit Alfarani, yang terbelalak kaget melihat ada seorang lelaki dewasa bersembunyi di balik gamis panjangnya, tubuhnya pun secara refleks langsung terduduk dengan pria itu yang telah keluar dari sana.


"Apa yang kau lakukan pada temanku?!!" bentak Kiana, dengan marah ia menarik kencang kerah jaket Gabriel.


"A-a, tidak! gue tidak melakukan hal apapun padanya!!" gertak Gabriel, mencoba membela diri dengan pandangannya yang menoleh ke arah Alfarani.


Glek!


"Dia ... wajahnya ... Cantik sekali!" batin Gabriel, dengan tubuhnya seketika mematung dengan matanya yang hanya tertuju ke arah wajah Alfarani.


"Woy! sadar! apa yang kau lakukan padanya?!" bentak Kiana kembali, seraya semakin mengencangkan tarikannya hingga membuat Gabriel kesulitan bernafas.


"Woy! apa yang lo lakukan pada temanku?! teriak Indra, tak terima saat melihat Gabriel di tarik kerah jaketnya oleh seorang wanita.


"Ini temanmu?! bilang kepadanya untuk Bertanggung jawab!" ujar Kiana, sembari mendorong tubuh Gabriel yang masih mematung hingga terjungkal ke belakang.


Brukk! "Haisshh! dasar wanita!" kesal Indra, setelah dirinya membantu tubuh Gabriel untuk kembali berdiri, dirinya ingin sekali menghajar wanita tersebut.


Namun, hal itu di cegah oleh Gabriel yang menyadari kesalahannya seraya membungkukkan tubuhnya di depan Alfarani sebagai permintaan maaf.


"Maafkan, saya. saya tidak sengaja ..." ujar Gabriel sopan, dengan pandangannya melirik kedua bola mata Alfarani yang menunduk menatap bawah.


Ia pun yang merasa keheranan, ikut turut melihat ke arah bawah serta sepatunya apakah ada yang salah.


"Astaghfirullah!" kejut Alfarani, secara tiba-tiba yang membuat Gabriel kembali meliriknya.


"Apa yang dia lihat di bawah?" batin Gabriel keheranan.