Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 7# BERANI!



Dengan bulir-bulir air mata telah membasahi pipi chubby Alfarani yang tak lagi berbalut masker, ia menutup kedua bola matanya.


"Hikss .. hikss ... Aku ingin bisa Istiqomah ...!" Jerit Alfarani, tanpa ia sadari jika hanya dirinya dan Fex saja yang dapat bergerak.


"Dia menangis? Sebegitu sangat berartinya penutup wajahnya itu?" Batin Fex, saat dirinya melihat butiran air mata yang menetes dari kedua sudut mata Alfarani yang tertutup.


"Bukalah matamu ..." lirih seseorang yang terasa lembut di pendengarannya.


Akhirnya, ia memberanikan diri untuk membuka kedua bola matanya. Dan ia lagi, lagi melihat semua orang di sana terdiam bak patung kecuali dirinya dan Fex, siswa misterius itu.


"Jangan menangis ... Air matamu sangatlah berharga ..." lirih Fex yang telah berada di depannya sembari menyeka air mata di pipi Alfarani.


SHERP! "Apa yang sebelumnya terjadi?!" Batin Fex, yang terduduk di kursi miliknya, dengan sang ibu jari yang basah terkena tetesan air bening yang tidak ia ketahui penyebabnya.


"Alfarani! Kemana gadis remaja Sholehah itu?!" Gumam Fex yang pertama kalinya Alfarani terlepas dari penglihatannya.


Ia menoleh sekelilingnya, banyaknya para murid melakukan aktivitas seperti biasa dan Bu Ani yang telah pergi karena bel istirahat telah berbunyi.


"Mengapa dia menghilang? Kemana dia?!" Gumamnya kembali seraya berlari keluar dari kelas sembari mencari keberadaan Alfarani.


"Jangan. Kau, mengganggu dirinya!" terdengar suara seseorang yang di tangkap oleh pendengaran Fex, saat dirinya berlari melewati kelas sembilan D yang terlihat kosong di karena para murid pergi ke kantin.


Ia menghentikan langkahnya, sembari berjalan perlahan menuju sumber suara tersebut.


BRUKK! "Tidak akan aku biarkan. Kau, berada di sini selamanya!" Tegas seseorang dengan khas suara wanita pada umumnya.


"Apa yang dia lakukan?" Batin Fex, saat dirinya melihat Alfarani yang seorang diri sedang menekan sesuatu ke arah tembok kelas.


"Dia pergi!" seru Alfarani saat melihat hal sesuatu di depannya telah menghilang.


Saat menyadari ada tatapan tajam ke arah dirinya, ia menoleh ke arah tatapan tersebut sembari membalasnya dengan tajam pula.


"Siswa pindahan itu!" Batin Alfarani, dan kini keduanya kembali terdiam di tempatnya masing-masing tanpa berucap sepatah kata pun.


Deg, Deg, Deg!


Suara jantung yang berpacu cepat menjadi alunan merdu di antara dua insan yang sedang diam melirik satu sama lain, walau diri mereka mengetahui rasa yang sama.


"Ekhem!" Suara deheman seseorang menyadarkan mereka berdua, yang tak bisa lepas dari jeratan setan yang di awali dari mata.


"Kalian anak kelas berapa?" tanya seseorang berkaca mata yang baru saja masuk ke dalam kelas tersebut.


"Kelas delapan?" Ulangnya lagi saat melihat bet di bahu Fex.


"Kalian tidak melakukan hal yang tercela kan ...!" ujar orang berkaca mata tersebut, yang berparas cakep dari ilahi dengan kulitnya yang putih bersih di tambah dengan hidung mancung yang senantiasa memikat kaum hawa.


"Tidak!" Tegas Alfarani, seraya pergi dari sana dengan terburu-buru. Sedangkan Fex, hanya terdiam saat melihat tubuh Alfarani yang melewati dirinya.


"Adik kelas ini seperti patung saja sedari tadi!" Batin Muttaqien, siswa kelas sembilan yang mendapatkan julukan 'As-sidik' orang yang jujur serta paham akan ilmu agama.


Fex tanpa permisi langsung pergi meninggalkan nya sendiri.


"Aku jadi penasaran dengan siswa itu ..." Gumam Muttaqien, saat melihat Fex yang terlihat acuh tak acuh.


"Dan siswi tadi ... Sangat jarang wanita zaman sekarang, apalagi masih sangat muda seperti dirinya yang memakai pakaian syar'i. Sungguh beruntung lelaki yang dapat mendapatkannya." lirihnya kembali sembari menggulung senyuman yang menawan.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Dan siapa yang dia ajak bicara di dalam kelas kosong tadi?" Batin Fex, yang sedang mengikuti Alfarani di belakang.


"Fa! Kamu dari mana saja?" ujar Rani yang sedang mencari Alfarani sedari tadi.


Karena hari ini, ia mendapatkan uang jajan dari sang kakaknya yang telah berumur 25 tahun dan sedang bekerja menjadi seorang chef di salah satu restoran yang berada di Jepang.


"Hey! Fex!" Panggil seseorang dari belakang Fex saat dirinya sedang melamun di tempat.


"Kita ke kantin, Yuk?" ujar Ramdan Alamsyah, seorang murid yang selalu berusaha agar bisa dekat dengan Fex, si murid pindahan tahun lalu yang misterius.


Ia merangkul bahu Fex sembari menariknya menuju kantin. Sedangkan, Fex yang di perilaku kan seperti itu hanya diam saja. Karena bagi dirinya 'memberontak dari Ramdan, adalah hal yang sangat melelahkan!


"Bi, beli Mia ayamnya dua porsi!" ujar Rani kepada penjual di kantin.


"Iya, Neng. tunggu sebentar." Jawab Bibi Desi.


"Fa, kenapa melamun?" tanya Rani saat melihat Alfarani sedang termenung duduk di kursi yang telah tersedia di sana.


"Tidak apa-apa."


"Kamu bohong, ya?"


"Cerita sini sama aku!" ujar Rani kembali seraya merangkul bahu Alfarani.


"Tidak! Tidak ada apa-apa!" Ngelak Alfarani seraya menjauhkan tubuhnya dari Rani.


BREEK! DUGH! Terlihat Gabriel terduduk di depan meja Alfarani dengan bersama kedua temannya yang berdiri di sisinya.


"Apa yang dia lakukan?" Batin Alfarani yang merasa risih dengan keberadaan mereka.


"Alfa, nanti pulang bareng, ya?" tanya Gabriel dengan lantangnya ia berkata di depan para murid yang ada di sana.


"Aku bawa motor sendiri!" Tegas Alfarani, mendekatkan tubuhnya ke arah Rani di sebelahnya dan memberikan kode jika ia ingin pergi dari sana.


Tanpa berpamitan, mereka berdua berdiri lalu berjalan menuju warung Bibi Desi.


"Tunggu dulu, dong!" ujar Gabriel, yang menghalangi jalan Alfarani.


"Apa?!"


Dengan gerakan cepat, Gabriel langsung menarik tubuh Alfarani ke dalam dekapannya sembari menghirup aroma harum di balik hijab panjang Alfarani.


"Sangat harum ..." lirih Gabriel, Alfarani yang terbelalak kaget! Langsung mendorong keras tubuh Gabriel yang terhempas ke belakang namun kedua temannya dapat menahannya.


"Jangan berani-berani menyentuhku sembarangan!" tegas Alfarani sembari menatap sekilas ke arah Gabriel dengan manik mata tajamnya.


"Fa, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Rani sembari menggandeng tangan Alfarani agar menjauh dari mereka bertiga.


"Lo, tidak apa-apa?" ujar Indra, saat melihat Gabriel tersenyum.


"Iya, gue. Baik-baik saja!" Jawab Gabriel, dengan batinnya yang bersuara. "Lumayan juga kekuatan Alfarani yang dapat membuat jantungku berdetak kencang kembali!"


"Berani-beraninya dia memelukku seenaknya saja!" Gumam Alfarani, yang merasa kesal saat dirinya sedang berjalan bersama Rani menuju kelas sembari membawa semangkuk mie ayam.


"Memeluknya?!" Batin Fex, yang sedang berjalan bersama Ramdan menuju kantin saat tanpa sengaja berpapasan dengan Alfarani.


"Siapa? Siapa yang berani memelukmu?!" Tegas Fex, Dan tentunya itu hanya di dalam hatinya saja.


BREKK! "Ada apa?" tanya Ramdan, saat Fex menghentikan langkahnya.