Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 38



Pria itu menarik kembali senyumannya, sembari menoleh ke arah yang di lihat oleh Gabriel.


Sesuatu yang mereka lihat itu, kembali bersembunyi di balik pohon saat tadi ia sekilas untuk mengintip mereka kedua kalinya.


"Ada yang tidak beres dengan tempat ini! sebaiknya, kita segera pulang dan kembali ke kota!" ujar Vino, seraya beranjak dari duduknya sembari menggendong kembali tas ranselnya di depan.


Pria yang menggendong tubuh Alfarani itu. Bernama Vino, salah satu mahasiswa dari universitas Brawijaya yang mengambil jurusan Fakultas Teknik UM/ teknik mesin dan industri.


Ia memiliki postur tubuh yang gagah namun tak terlalu tinggi dengan rupa wajahnya yang menawan bak Oppa-oppa Korea, hidung yang mancung dan terdapat satu tahi lalat kecil di dekat kumis tipis miliknya.


'Tatapan orang itu mengarah kepada Alfarani!' batin Gabriel, kedua matanya menatap dengan intens di sela-sela wajah orang itu yang tertutup tudung saji, ia melihat tatapan orang itu mengarah kepada Alfarani.


'Sepertinya dia mempunyai niat jahat kepadanya!' batinnya lagi, seraya berjalan di belakang pria tersebut yang masih menggendong tubuh Alfarani untuk menghalangi arah tatapan orang misterius tersebut.


'Ternyata benar! dialah orangnya!' batin sesosok manusia di balik pohon besar itu.


"Semuanya! bersiaplah! kita akan kembali melakukan perjalanan yang cukup jauh dan tentunya tidak akan mudah!" ujar seseorang dengan menggunakan toa seraya memimpin jalan.


Di dalam perjalanan, Pandangan Gabriel terus saja memperhatikan Alfarani yang masih memejamkan mata dan Vino yang tak terlihat kelelahan sedikitpun namun keringatnya tetap saja terlihat bercucuran memenuhi leher serta kedua tangannya.


'Dia terlihat sangat kelelahan!' batin Gabriel, seraya dengan rendah hati, ia langsung berjongkok dengan tubuh membelakangi Vino yang masih berdiri.


"Naikkan dia ke punggung gue!" ujar Gabriel, tanpa menoleh ke arah belakang.


"Tidak usah!" jawab Vino cuek, dengan melewati tubuh Gabriel yang masih setia berjongkok.


"Woy! Jangan gegabah jadi orang!" teriak Gabriel tak terima bila bantuannya di tolak mentah-mentah.


"Ada apa sih, dengan mereka?!" tanya teman-teman lainnya, "Biasalah!" jawab wanita ber tahi lalat itu, dengan memperhatikan kelakuan mereka berdua.


SRUK! Terdengar suara beberapa langkah kaki yang berkali-kali menginjak dedaunan kering di tanah, dan berpindah secepat kilat dari satu tempat ke tempat lainnya.


"Berhenti!" gumam seorang pemimpin, yang bernama Satria. Ia merentangkan kedua tangannya sebagai peringatan bagi mereka yang berada di belakangnya untuk berhenti.


"Ada apa?" tanya wanita ber tahi lalat itu, dengan suara pelan, yang berada di dekat Satria.


"Ada beberapa orang tengah mengamati kita!" jawab Satria dengan suara pelan pula.


Setelah mengetahui, bahwa keberadaan mereka telah di ketahui oleh rombongan pendaki.


Satu persatu manusia berbadan besar, bertato dan berwajah sangar itu menampakkan diri dari balik pohon, dengan beberapa alat-alat tajam yang mereka genggam.


"Siapa mereka?!" pertanyaan demi pertanyaan, terlontarkan dengan begitu saja dari para rombongan pendaki itu, dengan matanya yang terbelalak kaget melihat benda-benda tajam yang terpampang jelas.


Para manusia berbadan besar itu, semakin mendekati mereka dengan senjata di genggaman mereka mengeluarkan suara masing-masing.


SLING!


CEKREK!


Gabriel menatap dengan seksama, beberapa pistol dan pisau yang mereka genggam.


"Itu ..., adalah pistol yang sesungguhnya! sudah berisi penuh dengan pelatuk yang akan melesat dengan sangat cepat!" batin Gabriel, sebagai ketua geng motor, sudah sepatutnya ia mengetahui senjata-senjata yang beneran atau hanya tipuan.


"Serahkan wanita itu! bila kalian ingin selamat!" tegas salah satu manusia berbadan besar tersebut, dengan memilki tato kalajengking di kepala botaknya.


Tatapan pria bertato kalajengking itu, mengarah ke arah Alfarani yang masih memejamkan matanya.


'Alfarani?!' batin Gabriel, secara refleks tubuhnya langsung berjalan mendekati tubuh sang wanita yang ia cintai itu, sembari tangannya membelai pucuk kepala Alfarani di balik hijab.


"Ambil saja wanita itu! dan jangan mengganggu kami!" tegas Dinda, dengan perlahan menghampiri mereka.


"Dinda!" teriak wanita ber tahi lalat itu, saat melihatnya, langsung di sergap oleh pria ber tato kalajengking tersebut.