
Dan dalam sekejap mata ... ia menghilang dari sana, dengan tubuh Alfarani yang bersandarkan sebuah batu besar di belakangnya.
Di alam mimpi, Alfarani.
Fex datang ... dengan melihat sekolah SMP dulunya yang telah ambruk tak tersisa yang telah rata di atas tanah. Pandangannya pun menoleh ke arah seorang wanita berhijab,
Berumur sekitar 14 tahun yang sedang menggali tanah bangunan sekolah itu dengan tangannya serta butiran air mata yang turun perlahan dari pelupuk matanya.
"Dia ..." batin Fex, sembari mendekati wanita itu secara perlahan tanpa mengeluarkan suara.
"Kenapa ...? kenapa ini semua bisa terjadi ..? Rani ...!!" lirih wanita berhijab panjang itu yang tak lain adalah Alfarani, ia terus saja menggali tanah menggunakan tangannya yang terluka,
Akibat runtuhan bangunan sekolah itu, yang terdapat beberapa besi patah, serta potongan tembok-tembok yang terbentuk lancip.
"Apa ... yang kau lakukan ...?" tanya Fex pelan di sebelah tubuh Alfarani yang tengah berjongkok.
"Teman-temanku! tenggelam di dalam reruntuhan bangunan sekolahku!!" jerit Alfarani, dengan derai air mata yang terus membanjiri wajah cantiknya.
"Hikss ...! Hikss ...! teman-temanku! Rani!" jeritnya kembali dengan terus menggali dan gali tanpa henti.
"Hal memungkinkan apa yang akan terjadi? mereka telah tenggelam di dalam reruntuhan setinggi dan seberat ini, mana mungkin masih selamat?"
"Masih ada kesempatan! dengan izin Allah akan ada yang selamat! Hikss..." tegas Alfarani.
Deg! "Sebegitu berharga itu, 'kah teman-temanmu bagi dirimu?" tanya Fex, yang membuat Alfarani menoleh dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Tanpa mereka, aku tidak akan bisa merasakan kenangan-kenangan indah di kala saat SMP!" tegas Alfarani, yang mengingat tingkah lucu nan kocak mereka dalam meriahkan kelas delapan E.
Walau banyak masalah yang di lakukan oleh ketiga murid nakal di kelas terakhir itu, namun dengan adanya kelas delapan E,
Sekolah SMPN 2 Rayakarta menjadi terkenal dengan banyaknya prestasi dari berbagai bidang akademik maupun non-akademik yang di raih oleh salah satu murid kelas delapan E.
"To-tolong ..." lirih seseorang di balik reruntuhan itu.
"Ada yang selamat!" ujar Alfarani, dengan semangat yang membara di hatinya, ia kembali menggali dengan lebih cepat lagi.
Di sela-sela reruntuhan itu, terlihat satu tangan wanita dengan jarinya yang bergerak-gerak muncul di depan mereka.
"Tangannya!" ujar Alfarani, seraya menggenggam erat telapak tangan itu dengan satu tangan dan satu tangan lainnya masih terus menggali.
BRAK! Akhirnya setelah memerlukan waktu yang cukup lama, Alfarani berhasil mengeluarkan wanita itu dari reruntuhan.
"Rani!!" girang Alfarani, yang sangat bahagia.
"Alfarani ...?" sahut Rani pelan nan lemas, dengan tubuhnya yang kotor, banyaknya luka di tubuh serta dahinya yang juga mengeluarkan darah yang sangat banyak.
Alfarani menatap penuh iba ke arah wajah Rani yang terlihat pucat pasi seperti mayat hidup, ia tanpa berfikir panjang langsung memeluk tubuh Rani dengan erat.
"Hikss ... hikss ... Rani! jangan tinggalkan diriku!" jerit Alfarani, dengan bulir-bulir air bening membasahi pipinya secara perlahan.
"A-alfa ... ka-kamu tidak terluka, 'kan?" lirih Rani dengan tubuhnya yang tak lagi kuat untuk bangun dan akhirnya terjatuh di dekapan Alfarani.
"Rani! Rani!" ujar Alfarani, seraya menggoncangkan tubuh Rani dengan pelan nan lembut.
Fex masih saja terdiam di tempat, dengan pandangannya yang tak teralihkan ke mana pun dari melihat wajah cantik Alfarani yang terlihat sayu.
"Hanya karena ini, air mata berharga itu bisa terjatuh dari bendungannya?" batin Fex, dengan pandangannya yang secara tiba-tiba melihat sesuatu yang melesat cepat di atasnya.
"Apa itu?!" batinnya kembali, sembari melihat dengan teliti sekelilingnya.
"Awas!" tegas Fex, saat melihat ada sesuatu yang melesat cepat hampir mengenai kepala Alfarani yang sekarang telah ia tenggelamkan di dadanya.
"Hikss ... hikss ...! Rani ...!!" jerit Alfarani di dalam dekapan Fex, dengan tubuh Rani yang telah terlepas dari pelukannya.
Secara tiba-tiba, ada sesuatu yang kembali melesat secepat kilat melewati mereka lalu tubuh Rani pun seketika menghilang tanpa jejak.
"Rani!! kemanah! dia!" kejut Alfarani, saat kembali melihat ke belakang dengan tubuh Rani yang tak ada di sana.
"Kemana Rani?! apakah kamu yang telah menghilangkannya?!" ujarnya lagi, sembari memukuli dada bidang Fex dengan derai air bening yang terus saja membasahi pipi chubby nya.