
"Astaghfirullah! Alfarani kemana?!" teriaknya yang membuat teman-teman perempuannya itu tak kalah terkejut melihat wajah cemas Kiana yang kian terlihat jelas, menandakan Alfarani benar-benar hilang!
"Bagaimana ini?! kita harus menghubungi para petugas Porter!" ujar Kiana, yang di anggukan oleh teman-temannya, namun ada hal yang ia lupa jika telepon satelit hanyalah di genggam oleh Rendra.
"Tetapi, Kiana! Telefon satelitnya hanyalah di pegang oleh Rendra saja!" ujar seorang wanita berambut pendek sebahu, bernama Vania yang bersifat jutek itu. Kini, dia mulai peduli setelah mengetahui Alfarani hilang.
"Benar juga ... apa yang harus kita lakukan sekarang ..?" ujar Kiana bingung.
"Lebih baik kita menunggu sampai mereka kembali, baru setelah itu kita mencari Alfarani bersama-sama ..." ujar Vania, yang mengerti bagaimana perasaan Kiana sekarang,
Ia pun segera berjalan mendekati Kiana, seraya memeluknya dengan erat. Hingga, membuat teman-teman lainnya terkejut melihat perubahan sikap Vania yang berubah drastis.
"Malam akan segera datang ..., kita harus membuat api unggun dari sisa kayu bakar yang ada," ujar Vania, seraya tersenyum kepada Kiana yang terlihat sendu setelah dirinya melepaskan pelukannya.
"Baiklah ... kami akan membuatkannya," ujar teman-teman lainnya, yang langsung mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Bagaimana bisa! dia menghilang dalam ke adaan tubuh tak sehat?! padahal dia kan sedang demam tinggi ...!!" jerit Kiana yang tak bisa menahan rasa sedih bercampur kesal di dalam hatinya.
Vania yang melihatnya hanya bisa terdiam, begitu pun dengan teman-temannya yang lain, mereka semua bukan tak peduli tetapi bingung, memangnya apa yang bisa mereka perbuat?
"Semoga mereka cepat kembali!" batin Vania.
Di lain tempat, lebih tepatnya di dalam hutan.
Rendra serta Teman-temannya sedang berlari kencang menjauhi seseorang yang terus saja mengejar mereka.
Brekk! "Kita harus segera kembali ke tempat camping!" tegas Rendra kepada teman-temannya setelah mereka berhasil bersembunyi di balik pohon besar nan kokoh.
"Bagaimana caranya, Ren?!" tanya Niko dengan wajah pucat ketakutan.
"Gue masih tidak percaya! bahwa di sini ada pemburu liar yang mengincar para hewan!" ujar Rendra yang sedang berusaha berfikir di tengah kebingungan.
"Baiklah! kita sudah pasti tidak akan di tangkap olehnya, karena mereka hanya mengincar hewan. Lebih baik kalian pergilah terlebih dahulu, nanti gue akan menyusul!" ujarnya kembali.
"Semua hewan di Indonesia memiliki hak untuk di lindungi, tidak sepantasnya mereka memburu para hewan secara liar!" batin Rendra.
"Apa yang akan Lu lakukan, Ren?" tanya Niko.
"Sudah! tidak ada waktu! suara tembakan itu bisa menyakiti telinga kalian, cepatlah pergi dari sini!" tegas Rendra seraya berlari menuju jalan yang sebelumnya mereka lewati.
"Sebaiknya, kita menurut saja. teman-teman kita lainnya juga membutuhkan kita!" ujar salah satu temannya yang mencegah Niko, saat dirinya ingin mengejar Rendra.
"Kalian! bawalah kayu-kayu itu kepada teman-teman, dan peringatkan kepada mereka untuk segera membereskan barang-barang! karena kita akan pulang!" tegas Niko, seraya menyusul Rendra.
"Baiklah ..." mereka berdua yang mendengarnya pun hanya bisa menurut, seraya berjalan mengikuti jejak yang sebelumnya telah mereka tandai untuk kembali.
Di lain tempat pula, terlihat seorang wanita berhijab panjang tanpa memakai jaket, yang terbaring tidak sadarkan dirinya tepat di atas ranting pohon yang mengarah kepada jurang.
Dengan pakaian gamis serta hijabnya yang tak terlalu tebal membuat tubuhnya menggigil kedinginan.
"Tuan putri salju ...?" terdengar suara lirih seseorang yang entah asalnya dari mana, membuat Alfarani sedikit demi sedikit sadar seraya membuka pelupuk matanya.
"Huff ... dingin sekali!" batinnya, seraya menoleh pelan ke arah sesuatu yang tengah berdiri tak jauh darinya.
"Siapa ... kalian ...?" lirih Alfarani dengan tubuh gemetar, ia tak bisa berbicara dengan jelas karena gigi atas dan bawahnya yang berulang kali tabrakan tanpa hentinya.
Para manusia yang bertubuh kecil itu memperkenal diri dengan bergiliran, Kurcaci.
"Aku, happy!"
Ia memiliki perawakan gemuk dengan kemeja kuning, rompi merah, celana panjang biru serta topi berwarna oranye.
"Aku, Doc!"
Doc terlihat mencolok karena ia satu-satunya kurcaci yang memakai kacamata dan memakai tunik oranye-cokelat. Walaupun begitu, ia merupakan kurcaci paling rajin, ia memperbaiki parit, membuat tangga serta membuat lemari.
Ia juga dikenal sebagai pemimpin para kurcaci yang blak-blakan dan memiliki sikap sering memerintah. Namun, ia memiliki masalah gagap ketika tidak tahu harus berkata apa
"Aku, Grumpy!"
"Aku sangat membenci ini!" gumamnya.
Ia memakai kemeja merah, celana cokelat dengan topi cokelat. Biasanya ia membawa kapak atau ciri yang paling terlihat adalah ia selalu menyilangkan tangan.
Diantara kurcaci lain, ia merupakan kurcaci yang pemarah, selalu cemberut, suka mengeluh bahkan membenci segala hal dari pagi hingga malam.
"Aku, Bashful!" ujar salah satu lainnya dengan wajah memerah karena malu.
Kurcaci pemalu satu ini selalu memakai tunik kuning-cokelat dengan topi kehijauan. Ia memiliki jenggot panjang yang biasa digunakannya untuk menutupi rasa malunya. Wajahnya sering terlihat memerah dan cekikikan jika merasa malu.
"Aku, Sleepy!"
Kurcaci yang selalu mengantuk ini memakai topi kehijauan dengan pakaian berwarna kuning.
Ia bisa tidur dimana saja, bahkan setelah ia bangun tidur. Saat bangun atau berbaring tidur, perutnya paling menonjol di ujung celana.
Bahkan! Sekarang ia sedang tertidur di ranting pohon besar yang di tiduri oleh Alfarani tepat di sampingnya dengan tenang setelah memperkenalkan dirinya.
"Aku, Sneezy!"
Kurcaci ini memakai kemeja abu-abu, celana merah serta topi emas. Sesuai dengan namanya, ia paling sering bersin diantara kurcaci yang lainnya.
Ia sering dibantu atau menutup sendiri hidungnya untuk mencegah benda atau furnitur berterbangan. Hal ini karena Sneezy bisa bersin sangat kuat. Namun dibalik itu, ia memiliki hati yang baik dan ramah kok.
Seperti sekarang, ia langsung menutupi kedua lubang hidungnya saat ada sesuatu yang menyerang hidungnya.
Pandangan Alfarani melirik satu persatu para kurcaci yang memilki perbedaan-perbedaan sifat dan perilaku.
"Dari mana kalian semua datang ...?" lirih Alfarani dengan tubuhnya yang semakin lama semakin menggigil dan gemetar hebat.
"Bashful! pakaikan dia selimut tebal yang kamu pegang!" perintah Doc kepada Bashful, si kurcaci pemalu.
Dengan wajah yang masih merah dan sikapnya yang pemalu, ia memberanikan diri secara perlahan untuk mendekati Alfarani seraya mengulurkan sebuah kain tebal berwarna coklat ke tubuh Alfarani.
"Terimakasih ..." ujar Alfarani seraya menggulung senyuman ke arahnya, di saat itu pula dengan kedua lubang telinganya yang telah mengeluarkan uap bak uapnya kereta api,
Ia berlari cepat menjauhi Alfarani dengan tubuh bergetar seraya menutupi wajah memerahnya dengan topi sambil sesekali melirik Alfarani.
Dari bawah Alfarani, ia merasakan sebuah angin sejuk nan dingin yang menerpa tubuhnya dengan kencang.
"Memangnya aku ada di mana? mengapa bawahku terasa sangat dingin?!" batinnya seraya melihat ke bawah.
"Astaghfirullah! SEBENARNYA ... APA YANG TELAH TERJADI!!" Teriak Alfarani sekencang-kencangnya saat melihat di bawahnya adalah jurang gelap yang entah seberapa ratusan meter jaraknya dengan tanah.
Suara teriakan itu, berhasil di tangkap oleh pendengaran teman-temannya yang di camping tak terkecuali Rendra dan Niko juga mendengarnya.
Dan para pemburu yang sedang berhadapan dengan mereka pun mendengar hal itu, dengan menatap tajam ke arah mereka.
"Telah terjadi sesuatu!" gumam salah satu pemburu itu, yang terlihat sebagai pemimpin yang memimpin agar semua pemburu lainnya itu segera pergi ke sumber suara tersebut.