Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 48



BLESH!


KHUARK!!


Setelah mereka berhasil menaiki bebatuan yang terdapat air liur menjadi satu seperti sarang laba-laba, mereka segera melumuri seluruh tubuh dengan air liur tersebut, agar singa Toxia tidak menyadari keberadaan mereka.


Dari dalam air sungai, ada pancaran warna ungu muda berkilau yang terlihat seperti sihirnya putri salju, terlihat ada sesuatu yang keluar dari dalam air yang semakin lama semakin terlihat jelas wujud aslinya.


"Tuan singa Toxia ...!" lirih mereka bertiga, yang menatap tak percaya.


Setelah berabad-abad tahun lamanya, kini mereka bisa kembali melihat wujud asli singa Toxia yang telah berubah drastis dari yang semestinya berukuran 150 cm menjadi 400 cm panjang tubuhnya.


Rambut surainya yang berwarna gelap begitu terlihat panjang nan sedikit keriting menutupi setengah tubuh bagian depannya.


Singa Toxia tersebut, keluar dari dalam sungai dan terbang ke atas dengan cepat secepat kilat yang memasuki portal ke dalam dunia manusia.


Dengan kecepatannya tersebut, membuat sebuah angin topan muncul dari kedua kaki belakangnya.


Dan mengakibatkan air sungai bawah tanah tersebut tersiram ke tepi tanpa menyisakan air sedikitpun di atasnya, dan air yang sebelumnya memancarkan sinar purple, kini berubah warna menjadi merah terang dengan sebuah api besar yang menyala tanpa sebab.


Bebatuan yang berada di tepi sungai tanpa air itu terbakar, dengan sangat cepat menyambar ke seluruh ruangan di dalam gua karena zat-zat kimia dari air liur tersebut yang mudah terbakar.


Seluruh tubuh para pendekar tersebut pun terbakar dari ganasnya sang cahaya merah kebiruan.


Langit yang semula cerah nan berawan kini menjadi gelap gulita tanpa adanya penerang dari sang rembulan dan bintang.


Yang pergi, menghilang. Entah kemana tanpa memberi kabar.


Semua manusia bertanya-tanya, "Apa yang telah terjadi?"


Mereka linglung di jalan, dengan pandangan yang tak jelas untuk melihat, walaupun sudah menggunakan senter hp.


Cahaya dari senter hp tersebut hanya terpancar kecil sekecil saat kita melihat cahaya satu bintang di luar angkasa yang terlihat sangat kecil dari bumi.


Angin topan dan badai kian berdatangan dengan jangka waktu yang cepat, membuat semua kendaraan yang di naikin maupun hanya di parkiran, bergeser-geseran tanpa henti.


Bahkan, ada triliunan mobil di berbagai negara yang saling bertabrakan dengan tembok serta menabrak pembatas jalan sehingga menerobos jurang.


Sekarang, sudah bisa di pastikan. Bahwa para reporter tengah sibuk menayangkan kejadian aneh tersebut tanpa melewatkan satu negara pun.


Es di kutub Utara pun seketika mencair tanpa sebab, membuat suhu di seluruh negeri beriklim tropis menjadi sangat dingin.


-----🦚🦚🦚-----


Terlihat seorang pria berjas hitam tengah terduduk dengan menopang kedua kakinya di atas meja sembari menghisap rokok berulang kali tanpa henti.


Entah, sudah berapa banyak rokok yang ia hisap. Kancing kemeja bagian atasnya yang terbuka memperlihatkan dada bidangnya yang berubah warna menjadi hitam kemerahan.


Seiring berjalannya waktu, dirinya dapat merasakan jika dada bagian kirinya terasa sakit bagaikan di tusuk-tusuk oleh sebuah jarum.


Seluruh saraf-saraf di bagian dadanya, kian menjadi tembus pandang oleh mata telanjang.


Tubuhnya sekian lama semakin melemas, dan terjatuh ke lantai dengan keras dalam keadaan kaki yang masih terangkat di atas meja.


Sebatang rokok yang di jepit oleh kedua jarinya pun, ikut terlempar dengan abu berwarna merahnya yang masih menyala bertebaran di mana-mana.


'Ada apa dengan diriku .... Mengapa diriku sangat lemah seperti sampah!?'


Dalam sekali helaan nafas, matanya telah terpejam dengan sepenuhnya.


-----🌍🌍🌍-----


Kini, keadaan bumi semakin kacau. Dengan lautan samudera yang semula selalu tidak tenang, sekarang ia tenang dalam waktu yang cukup lama.


Lautan samudera yang sangat terkenal dengan keganasan ombaknya, kini menjadi tenang adalah sesuatu hal yang aneh.


Seluruh awan bersatu menjadi satu dari seluruh penjuru negeri, hingga membentuk sebuah pusaran angin yang berputar sangat kencang di atas langit.


Dari sana, muncul sebuah kaki seekor singa yang seperti tengah menginjak atmosfer bumi yang tak terlihat itu dengan sangat mudahnya.


Sebuah desaran listrik mengalir mengelilingi tubuh singa Toxia yang kini telah menunjukkan seluruh tubuhnya, sehingga membuat semua manusia menjadi terdiam dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.


Dan jantung yang seperti di paksa untuk keluar dari tempatnya dengan rasanya yang lebih besar pula dari pada saat menaiki roller coaster.


SRING!


Alat ponsel yang di pegang oleh manusia di seluruh dunia itu, mengeluarkan suara tanpa sebab dan secara tiba-tiba dapat mengalirkan aliran listrik yang amat dahsyat kepada yang memegangnya.


Bukan hanya ponsel, semua yang berada di atas bumi mengalirkan aliran listrik bahkan tanah sekaligus.


Ber triliunan manusia dalam sekejap mata telah musnah karena aliran listrik tersebut, namun tidak dengan Fex beserta keluarganya yang memiliki mesin khusus untuk di siapkan dalam keadaan darurat.


Di saat Fex telah memejamkan matanya, pria bertudung saji datang dengan menggunakan portal dimensi lain.


Ia segera mengibaskan pedangnya ke seluruh sumber aliran listrik tersebut, yang secara cepat muncul dan hampir mengenai tubuh Fex.


"Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, tuan ... Pangeran mahkota ...,"


Kibasan pedang tersebut, dapat membentuk sebuah perisai berwarna biru yang tak terlihat.


'Sebenarnya ... Apa yang telah terjadi? Mengapa ada aliran listrik bertenaga tinggi di atas tanah?'


Setelah berhasil memasangkan perisai di seluruh tubuh Fex, dengan telapak kakinya yang juga telah terpasang alat perisai khusus, dirinya kembali pergi dari sana tanpa jejak sedikitpun.


Namun, Fex. Walau dalam keadaan tidak sadarkan diri itu, dapat menghirup aroma aneh yang menempel pada tubuh pria bertudung saji tersebut.


"Dunia manusia ... sedang dalam ke adaan tidak baik! Bangunlah! dan buktikan dirimu!"


Terdengar suara aneh tanpa wujud sang pemiliknya yang terngiang-ngiang di dalam otaknya secara berulang kali tanpa henti.