
Terdengar suara pintu yang terbuka, dan memperlihatkan bayangan hitam seorang makhluk bertubuh tinggi dengan kepalanya yang terlihat seperti ada beberapa tusukan yang menempel di sana.
"Apa itu?!" kejut Alfarani, seraya melihatnya dengan seksama dari atas sampai bawah.
"Hufft ..., melegakan," ujar makhluk tersebut, ia langsung menoleh ke arah Alfarani dengan cepat.
"Si-siapa kamu ...?" tanya Alfarani, dengan tubuh sedikit bergetar seraya menempelkan kedua telapak tangannya yang mengepal di bawah dagu.
Makhluk itu terdiam sambil menatapnya.
Alfarani yang mulai merasa takut itu, segara turun dari kasur sembari mundur untuk menjauhi sesosok makhluk di depannya tersebut.
"Diam! jangan mendekat!" tegas Alfarani, saat bayangan kedua kaki makhluk itu terlihat berjalan mendekatinya.
Terlihat dari bayangannya, makhluk di depannya itu sedang memiringkan kepalanya sambil menatap ke arahnya dengan seksama.
Secara tiba-tiba, keluarlah sebuah cahaya berwarna ungu dari jari telunjuk tangan kanannya, sehingga membuat pandangan mereka berdua menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Ca-cahaya apa ini?!" kejut Alfarani, dengan keheranan ia mengangkat tangannya ke depan.
Tak berselang lama, saat Kilauan cahaya berwarna ungu itu masih bersinar. Sesosok makhluk di depannya itu langsung menggenggam pergelangan tangan kanannya dengan sangat erat.
"Akhh!" rintih Alfarani, tulang pergelangan tangannya terasa remuk saat sesosok itu tak melepaskan genggamannya melainkan semakin mengencangkannya.
"Akkhh!! lepaskan! kau, siapa?!" tegas Alfarani, dengan memberontak. Dan hal itu, membuat tubuhnya secara cepat langsung tertarik masuk ke dalam dekapan makhluk tersebut.
"HUUFFTT ..."
GLEK!
Deru nafas yang memburu dari makhluk itu, terdengar jelas di dekat telinga bagian kiri Alfarani.
"Makhluk yang menjijikkan!" ujar Alfarani secara refleks, karena tubuhnya merasakan sesuatu yang lengket dari tubuh makhluk di depannya itu.
Ia mengira, bahwa sesuatu lengket tersebut adalah sebuah liur yang ada seperti di hewan-hewan aneh yang tercipta di film sejarah Yunani.
"Uppss!" Alfarani menutup mulutnya rapat-rapat, dengan tubuh yang telah bergetar karena takut makhluk itu akan marah kepadanya.
Namun, tak ada hal apapun yang terjadi. Ia pun segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh makhluk tersebut.
"Apakah kamu adalah hewan mitologi?" tanya Alfarani, karena dirinya yang menyukai prasejarah, sudah tentu ia mengetahui para hewan-hewan zaman kuno dulu.
Makhluk itu masih terdiam, dan tak menjawabnya.
Kilauan cahaya berwarna ungu itu, seketika menghilang setelah makhluk di depannya tersebut melepaskan genggamannya.
"Diamlah!" tegas makhluk di depannya itu, hal itu membuatnya dapat merasakan ada sesuatu yang di tusukkan mengenai punggung tangannya.
"Ka-ka-kamu," ujar Alfarani yang tiba-tiba menjadi gagap, saat mengenali siapa pemilik suara makhluk di depannya itu yang terdengar jelas seperti suara laki-laki pada umumnya.
BRUK!
Tubuh Alfarani pun tumbang di dalam dekapan makhluk tersebut, yang langsung kembali menaruh tubuh Alfarani di atas kasur.
'Wanita ini ..., cukup menarik!'
'Namun ..., mengapa hatiku gelisah? apa karena cincin batu tersebut terpasang di jarinya?'
'Sehingga diriku akan mati karena penyakit aneh yang ada di dalam tubuhku?'
Ia mempunyai sebuah penyakit yang tak dapat di mengerti oleh para dokter profesional bahkan psikolog sekalipun, semua gejalanya di bilang aneh oleh para ilmuwan kedokteran terhebat di dunia yang telah ia undang dari Spanyol ke Indonesia, sejak dua tahun lalu.
'Akhh! S*Al! dia berdiri lagi!' batin Fex, itulah gejala yang sering terjadi kepadanya. Namun penyebabnya bukanlah saat melihat wanita yang berpakaian minim, melainkan rasa itu muncul di sekian menit sehingga menyiksa bagi dirinya yang masih lajang.
Di saat cincin batu tersebut terpasang di jarinya, rasa itu tak pernah sekalipun muncul walau di pancing oleh wanita di sekitarnya.
BRUK!
"AKHH! MENGHILANG LAH DARI TUBUHKU!" jeritnya yang tak berdaya dengan kedua lututnya yang telah terjatuh menyentuh lantai.
Ingin sekali ia melakukannya kepada Alfarani, namun hatinya terus saja mengelak, 'Tidak! jangan dia!'
Keringat dingin bercucuran memenuhi dahi serta lehernya yang telah terbentuk jakun, ia mengernyitkan dahinya sembari memejamkan mata.
"AAKHH!" ia berkali-kali menjerit sembari mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat, karena hal itu sangatlah menyiksa dirinya.
GLEK!
Saat dirinya tanpa sengaja membuka kedua pelupuk matanya, ia menjadi terpaku melihat wajah Alfarani yang sangat cantik dengan bantuan lampu kuning di sebelah yang berkedip-kedip.
Tangannya yang mengepal itu menjadi bergetar, dengan tubuhnya yang telah kembali berdiri tegak menatap dengan seksama setiap inci tubuh Alfarani yang masih berbalut pakaian syar'i nya.
'Tidak! jangan dirinya!' batinnya, dengan kedua kakinya yang telah berjalan mendekati Alfarani tanpa perintah dari sang otak pemilik jiwa.
BRUK!
BUGH!