
'Hah?! dia menghilang!' batin Alfarani melotot tak percaya, ia benar-benar melihat bahwa ada sesuatu yang menarik tangan Gabriel dari kegelapan itu.
Kedua kaki Alfarani secara perlahan berjalan mendekati kegelapan tersebut, yang semakin lama menjadi berlari kencang memasukinya.
"Alfarani?! I-itu benar-benar Alfarani, kan?!" ucap wanita ber tahi lalat itu sebelumnya.
"Jangan masuk ke dalamnya!" tegas seorang wanita berkacamata, yang sebelumnya menjerit ketakutan melihat Alfarani yang sebelumnya.
Tanpa mendengarkan apapun, tubuh Alfarani yang sebenarnya telah berhasil memasuki kegelapan itu.
SREP! "Mereka tidak akan kembali ...," lirih wanita berkacamata tersebut, pandangannya tertunduk ke bawah menatap tanah dengan lesu.
"Bagaimana mungkin?! itu, kan hanya kegelapan!" gertak Indra tak terima mendengar tutur kata wanita berkacamata itu, seraya berlari menuju kegelapan itu.
Namun, setelah memasukinya. Ia hanya melihat kegelapan hutan yang cukup menyeramkan dan kembali berjalan keluar dari kegelapan.
"Memangnya, mereka berdua pergi kemana?" tanya Indra kepada wanita berkacamata tersebut,
Wanita itu hanya bisa diam dengan kepala menunduk.
"Cepat, katakan!" bentak Indra yang telah kehabisan kesabaran, pasalnya Gabriel adalah satu-satunya sahabat sejati yang ia miliki sekarang.
Tubuh wanita itu terlihat sedikit bergetar setelah mendapatkan bentakan dari Indra, dengan suara lirih nan pelan ia berkata, "Ruang kegelapan ...,"
"Apa?! dia mengatakan apa?!" bentak Indra kepada wanita ber tahi lalat yang berada di sebelah wanita berkacamata tersebut, karena dirinya tak mendengar dengan jelas.
"Ruang kegelapan!" tegas wanita ber tahi lalat itu, dengan menatap tajam ke arah Indra yang berani membentak temannya seenaknya saja.
Indra tak menggubris tatapan tajam yang mengarah kepadanya, ia hanya berusaha menenangkan diri, "Ruang kegelapan? ruangan macam apa itu ...?"
Kini, suara Indra sudah tidak lagi terdengar membentak, yang membuat wanita berkacamata itu berani untuk mengeluarkan sepatah kata.
"Ruangan itu adalah tempat berkumpulnya para kaisar kerajaan yang memiliki sifat sombong dan ber durhaka kepada para Tuhan mereka pada abad ke-40. Sehingga, mereka semua di asingkan di dalam sana oleh para Tuhan mereka sendiri," jelas wanita berkacamata itu, yang beragama Kristen.
"Dari mana kamu tau semua itu?" tanya wanita ber tahi lalat di sebelahnya, "Aku suka membaca buku ber-genre fantasi," jawabnya.
"Lalu, mengapa Gabriel dan Alfarani bisa masuk ke dalamnya? ada sangkut paut apanya dengan mereka?" tanya Indra dengan matanya menatap kegelapan.
'Ruang kegelapan ...? ruangan seperti apa itu?' batinnya, kini mereka terdiam tak bisa berbuat apapun.
Di lain tempat, lebih tepatnya di dalam Ruang kegelapan. Terlihat seorang wanita berhijab syar'i yang sedang berjalan menelusuri kegelapan, pandangannya menoleh ke segala arah dengan keheranan.
'Tempat apa ini?' batinnya, yang tak lain adalah Alfarani.
Sekelilingnya hanyalah kegelapan dengan tanpa adanya setitik pencahayaan apapun, membuat tubuh serta kedua kakinya berkali-kali tersenggol dengan keras mengenai sesuatu.
"Aku benar-benar tidak bisa melihat!" gumamnya ketakutan, wajahnya menjadi pucat dengan matanya yang telah berkaca-kaca, dahinya pun berkerut.
Penglihatannya bagaikan seperti orang buta yang tak dapat melihat apapun, "Tolong lah ... siapapun!" jeritnya dengan tangannya meraba-raba ke depan.
SLENG! "Su-suara apa itu?!" gumamnya dengan tubuhnya terhenti di tempat, seraya memejamkan matanya untuk menajamkan pendengaran.
SING! Sebuah benda tajam nan runcing bergesekan ke kanan-kiri dengan mengeluarkan suara yang amat bising.
'Jebakan? apakah jebakan yang seperti ada di film-film?!' batin Alfarani yang sudah terbiasa menonton film-film petualangan.
"Bismillahirrahmanirrahim!" gumamnya seraya berlari sedikit cepat lalu berhenti dan berulang lagi sampai 6 kali untuk menghindari benda tajam tersebut, hingga dirinya berhasil keluar dari jebakan itu.
"Alhamdulillah..., suaranya telah menjauh dariku," ujarnya lega, seraya kembali berjalan seperti biasa dengan tangan yang masih meraba-raba ke depan.
SLEP! 'Biasanya, di film akan ada jebakan lainnya!' batinnya dengan tubuh mundur selangkah di saat satu panah melesat di depannya.
'Itu adalah berjuta-jutaan panah yang akan melesat dengan cepat!'
SLEP! Suara panah melesat kian lama semakin banyak hingga ada yang saling bertabrakan satu sama lain dari arah berbeda.
BRUK! Dengan sigap, Alfarani menjatuhkan tubuhnya ke bawah seraya merangkak ke depan.
SLEP! "Akkh!" rintihnya, saat satu panah melesat cepat mengenai lengan kanannya hingga merobek lengan bajunya dengan darah yang telah bercucuran keluar.
'Ssshh! sakit sekali!"
Ia segera mempercepat merangkaknya.
Kini, tubuhnya telah kembali berdiri setelah berhasil menjauh dari jebakan panah tersebut, namun jebakan lainnya masih menunggu dirinya.
'Dan sekarang adalah ...,"
Ia maju selangkah sembari memegangi lengan kanan bajunya yang masih mengeluarkan darah.
KREK! 'Jebakan selangkah!' batin Alfarani seraya memindahkan tubuhnya ke kiri saat ada sebuah cairan jatuh dari atas yang sebelumnya tempat ia berdiri.
CRAT! "Cairan yang sangat menjijikkan!" gumamnya saat mencium aroma bau got yang sangat menyengat dari cairan tersebut yang entahlah berwarna apa.
Walau ia hanya melihat kegelapan, namun ia tetap bisa merasakan sesuatu di sekitarnya.
'Apa yang harus kuinjak'
"Bismillah!" ucapnya seraya berjalan selangkah demi selangkah ke kanan dan menghindari batu yang terasa sedikit tinggi dari yang seharusnya.
Saat sedang melangkah, pandangannya melirik sesuatu bercahaya kuning kemerahan layaknya api kecil yang tengah terbang dan terlihat pula bila ia linglung mencari jalan keluar.
'Aku harus mengejarnya!'
Ia segera berlari mengejarnya, tanpa mengetahui telapak kaki kirinya menginjak sebuah batu yang sedikit tinggi dari seharusnya.
BREK! 'Gawat!' Rasa takut akan apa yang terjadi menyelimuti dirinya. Dengan jantung yang berdetak kencang, nafasnya terhenti dan tubuhnya yang menjadi patung.
Dalam hitungan semenit, belum terjadi apapun di sana, dirinya akhirnya bisa kembali bernafas lega.
"Hufhh ... Alhamdulillah ...,"
"Ssshh!" terdengar suara salah satu hewan yang berbisa dan biasa di kenal dengan sebutan Qing kobra.
Seketika, suara hewan reptil tersebut terdengar mengerumuni di sekeliling ruangan gelap tersebut.
GLEK! 'Ular ..., itu adalah suara ular, kan?' batin Alfarani, dirinya kesulitan menelan ludah yang terasa menyangkut di tenggorokannya.
Tubuhnya masih terdiam bak patung saat merasakan ada sesuatu di bawahnya sedang bergerak mengelilingi kedua kakinya yang berbalut gamis.
'Ya Allah, bantulah hambamu ini ...,' batinnya dengan berusaha tetap menstabilkan keseimbangan tubuhnya yang telah mengeluarkan begitu banyak keringat dingin. Lalu, ia hanya bisa memejamkan matanya.
PRAK! "Cepatlah!" ujar seseorang sembari menarik lengan kanannya dengan kencang, setelah melemparkan sebuah obor ke arah para hewan reptil tersebut yang membuat mereka mundur.
Setelah jarak mereka cukup jauh dengan para reptil, orang itu langsung menekan sesuatu di sebelah tembok, sehingga membuat sebuah pintu dari atas turun dengan cepat dan tertutup.
"Auww! Sshhtt!" rintih Alfarani saat orang tersebut menarik lengan kanannya yang sedang terluka, darah kembali bercucuran keluar dengan cukup banyak, Alfarani hanya dapat menekannya dengan bantuan kain hijabnya.
"Kamu siapa?" tanya Alfarani, tanpa mempedulikan rasa nyeri di lengan kanannya.
"Kamu Alfarani, kan?!" jawab orang tersebut, mereka tidak dapat melihat apapun karena ruangan itu sungguh sangat gelap.
Alfarani tak menjawab, ia dapat mengira jika di depannya itu adalah seorang lelaki yang tadi berani menarik tangannya.
"Iya, benar! aku yakin itu adalah kamu!" ujar orang itu,
'Suaranya terdengar ..., seperti dia!' batin Alfarani yang mengetahui jika di depannya itu adalah Gabriel, cowok yang selalu mengaku jika mereka teman masa SMP.
'Mengapa tubuhku sebelumnya secara refleks langsung masuk ke dalam kegelapan ini?' batinnya kembali, seraya berjalan entah kemana, ia hanya maju selangkah demi selangkah ke depan mencari jalan.
BUGH! "AKHHH! astaghfirullah!" rintihnya, tanpa ia sadari kepalanya terbentur sesuatu di atasnya dengan cukup keras, sehingga membuat tubuhnya hampir saja terjungkal ke belakang,
Kalau tidak ada kedua tangan Gabriel yang dengan cepat langsung menahan tubuhnya, karena dirinya senantiasa berada di belakang Alfarani.
"Apa yang barusan membentur kepalaku?" gumamnya sembari memegangi dahinya, sesuatu yang di tabrak nya tersebut terasa seperti berpindah posisi.
*KREK!
BREGH*!
Suara bising sebuah mesin kuno. Kini, terdengar begitu keras di sekeliling mereka berdua yang hanya terdiam.
BLAS! Sebuah cahaya berwarna kuning kemerahan bersinar secara bergiliran mengelilingi ruangan gelap tersebut, sehingga membuat mereka dapat melihat.
"Astaga!" kejut Gabriel, saat pertama yang ia lihat adalah sebuah wajah patung berwujud manusia yang mengenakan pakaian kalasiris, busana kuno Mesir.
Ia segera menjauhinya, lalu menoleh ke arah Alfarani.
Terlihat bahwa Alfarani mendekati sesuatu yang berbentuk batu besar, berada tepat di tengah-tengah ruangan yang bernuansa Mesir dengan berbagai patung manusia mengelilingi mereka berdua.
'Ini ..., mengapa tubuhku terasa ada kaiatannya dengan batu besar ini ...?' lirihnya seraya menyentuhnya.
"Η μεγάλη δύναμη ήρθε να μας βγάλει έξω!"
(I megáli dýnami írthe na mas vgálei éxo!)
(Kekuatan besar telah datang untuk mengeluarkan kita!)
Suara yang sangat aneh dan terasa asing bagi kedua telinganya itu. Berkali-kali, terus saja mengucapkan kata yang sama hingga membuat bangunan Mesir kuno itu bergetar.
"Apa yang terjadi?!" tanya Gabriel keheranan, mengapa ada suara aneh yang tiba-tiba muncul setelah tangan Alfarani menyentuh batu besar tersebut?
'A-apa yang akan terjadi ...?' batin Alfarani, secara tiba-tiba tubuhnya kembali menjadi patung. Namun, hal itu bukanlah keinginannya.
'Ada apa dengan tubuhku ...?' lirih Alfarani, tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun.
Gabriel hanya bisa terdiam karena tubuhnya yang juga seketika tak bisa bergerak dengan matanya terbelalak kaget melihat tubuh Alfarani, yang semakin lama di selimuti oleh sebuah asap hitam nan tebal.
"Ada apa ... ini ..?" bingung Alfarani, saat tubuhnya yang di selimuti asap hitam itu melayang ke atas, secepat kilat asap hitam itu langsung terserap masuk ke dalam tubuhnya lewat punggung belakang.
SREP! "AAKHH!!" Alfarani menjerit sekencang-kencangnya saat merasakan rasa sakit yang amat dahsyat menjalar ke seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
Ia mengernyitkan dahinya seraya memejamkan mata, asap hitam yang datang dari batu besar itu sekian lama semakin banyak merasuki tubuhnya,
Tubuh Alfarani yang tadinya melayang dalam ke adaan berdiri kini menjadi telentang tak sadarkan diri.
"Alfarani!!" teriak Gabriel, tubuhnya tak bisa bergerak!