Snouw White's magic

Snouw White's magic
EPS 6# MASKER.



SHERP! Semua kembali berjalan seperti sedia kala, bahkan Fex pun merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya yang masih terdiam di kursi sembari memandangi Alfarani yang sedang menaruh kamera di dalam tasnya.


'Apa yang sebenarnya telah terjadi?' batin Fex, karena semua yang terjadi sebelumnya tidak ada di dalam ingatannya.


'Tetapi, mengapa .. perasaanku secara tiba-tiba merasa sangat senang?' batinnya kembali dengan hati yang berbunga-bunga entah kenapa.


"Fa, bukan, kah. seharusnya sekarang bel masuknya berbunyi?" tanya Rani.


"Iya, tapi kenapa gak berbunyi dari tadi?!"


Takk...


Suara langkah kaki seorang guru wanita berhijab pendek hingga menutupi dada, yang sedang berjalan menuju kelas delapan E.


Semua siswa-siswi yang melihatnya, berbondong-bondong masuk ke dalam kelas hingga ada yang terjatuh di lantai.


"Aduh! ****** gue sakit!" Rintih Akil, siswa berkaca mata dan berkulit hitam, saat dirinya terpleset di lantai.


"Akil, buruan duduk! Bu Ani dalam perjalanan!" ujar seorang siswa lainnya yang telah terduduk di kursi mereka masing-masing.


"Tolongin dong!"


"Ogah! Jangan manja!"


"Dih! Iya, Iya!" Ia berusaha bangun dan berlari terbirit-birit menuju kursinya, namun nasib si*l berpihak kepadanya.


Bruuk! Ia kembali terpleset dengan bersama Bu Ani yang telah berdiri tegak di belakangnya.


"Aduh! Nasib bur*k!" gumam Akil saat dirinya terjatuh dalam keadaan tidur telentang.


"AKIL!"


"Hahh! I-iya, Bu. Saya akan duduk." ujar Akil tanpa berani menoleh, ia kembali bangun dan berjalan ke kursinya.


"Mau kemana? Ibu sudah bilang, jika ada siswa yang belum siap saat Ibu datang. Maka... Akan ibu.. ?" tanya Bu Ani.


"Akan Ibu .. Akan Ibu .. hu-hukum!" Jawab Akil terbata-bata.


"Bagus! Jadi sekarang kamu KELUAR!" Tegas Bu Ani seraya menjewer telinga kiri Akil dengan kencang lalu menariknya keluar dari kelas.


"Sakit Bu!! Bu Ani yang baik hati, Ampunkan anak didik mu ini yang berjanji tidak akan mengulanginya." ujar Akil dengan memelas.


"Pufftt!" Semua murid di sana menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Akil yang sangat lucu, membuat siapa saja entah kenapa tertawa melihatnya.


"Hmm.. nasib ..." Lirih Akil yang berdiri dengan satu kaki di depan kelas sembari menjewer kedua telinganya.


"Hahaha! Di hukum. Lu, Akil?!" Ejek seorang siswi yang lewat.


Akil hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.


Di saat Bu Ani mengabsen semua murid, pandangannya teralihkan kearah Alfarani dan Fex yang memakai masker di dalam kelas.


"Di dalam kelas tidak boleh adanya perbedaan! Kalian yang memakai masker, MAJU KE DEPAN!" Tegas Bu Ani yang membuat Alfarani dan juga Fex terdiam.


"Alfarani! MAJU KE DEPAN SEKARANG!" Tegas Bu Ani dengan menatap tajam kearah Alfarani.


"Baiklah ..." Dengan perasaan takut, ia berjalan menuju Bu Ani di depannya.


"Lepas maskermu!" Tegas Bu Ani saat tubuh Alfarani telah berbalik dan mengarah kepada para Teman-temannya di sana.


"Ta-tapi, Bu! Sa-saya ..." ujar Alfarani yang tak berani membuka masker, karena dirinya telah terbiasa dengan cadar hingga baginya wajah adalah termaksud aurat.


"Buka sekarang!" Bentak Bu Ani.


Kedua bola mata Alfarani berkaca-kaca memancarkan cahaya yang berkilau di kedua pelupuk mata lentiknya.


"Tapi ... Saya tidak bisa, Bu .."


"Kenapa tidak bisa?! Tidak usah insecure dengan ciptaan Allah, apakah wajah kamu kurang menarik sehingga pakai masker?"


"Bukan begitu ... Karena sebaliknya, aku tidak ingin wajahku dapat memikat lawan jenis ..." batin Alfarani khawatir.


"Cepat buka ...!" ujar Bu Ani lembut namun tajam.


"Saya tidak bisa, Bu!"


"Buka, atau ibu akan memberikanmu surat di keluarkan dari sekolah!"


"Hah! Jika aku keluar dari sekolah ini, aku bisa bersekolah di mana lagi ...?!" batin Alfarani karena SMPN Rayakarta 2 adalah sekolah negeri satu-satunya yang gratis yang dekat dengan rumahnya.


Dengan perasaan berat hati .. akhirnya, Alfarani membuka masker hitam yang selalu membuatnya terlindungi di tambah dengan tangannya yang bergetar hebat saat ingin menarik maskernya ke bawah dagu.


SHERP! Secara tiba-tiba! Semua di sana kembali terdiam tanpa bergerak sedikitpun bagaikan waktu telah berhenti sementara ...