
'Cairan itu ...?!' batin Sleepy dengan tubuhnya yang masih seperti jemuran basah.
'Cairan tuan naga hitam!" batinnya dengan mata melotot dan tubuhnya yang terbelalak kaget melihat sesuatu berbentuk bulat yang di penuhi oleh cairan hitam itu, bergerak-gerak.
Setelah Fex menenangkan dirinya, ia langsung berjalan sedikit cepat menuju ruangan ujung di depannya.
Sleepy yang sudah sadar itu, meronta-ronta melihat ada makhluk besar membawanya seperti jemuran.
Saat merasakan ada pergerakan dari makhluk kecil di tangannya, Fex menarik pakaian Sleepy ke atas hingga menyamai tinggi tubuhnya.
"Makhluk macam apa yang membawaku ini?!" ujar Sleepy dengan tangannya yang terus saja mencoba meraih tangan Fex yang menarik bajunya.
Dari sampingnya, ia merasa ada sepasang mata menatap ke arahnya dengan tajam, secara perlahan ia pun menoleh ke arahnya.
Mereka saling bertatapan, kedua bola Sleepy yang semula bulat membesar kini menciut menjadi kecil setelah melihat kedua matanya Fex yang terlihat besar karena sangat dekat dengan dirinya.
"Sudah sadar ternyata!" ujar Fex dengan menarik sedikit kedua sudut bibirnya.
Bagi pendengaran Sleepy, suara Fex bagaikan terdengar lamban nan besar seperti seorang raksasa.
"Ahh! lepaskan!" ujar Sleepy dengan memberontak.
Fex tak melepaskannya, ia membuka pintu ruangan yang berada di ujung itu setelah dirinya sampai dan langsung melemparkan tubuh Sleepy masuk ke dalam.
BRUGH! "Akkh!" rintihnya dengan tubuh yang terbentur tembok, ia berusaha berdiri dengan lemas.
"Ibu, aku telah membawa makanan lezat untukmu ...," lirih Fex dengan matanya yang sayu sembari menutup kembali pintu ruangan tersebut.
'Ibu?' batin Sleepy dengan matanya yang terasa berat untuk melihat, ia pun segera tertidur kembali di lantai.
Ruangan yang bernuansa hijau menandakan kedamaian itu, tak terlihat aman ataupun damai karena isinya hanyalah lumuran darah dengan tulang belulang hewan serta potongan-potongan daging mentah yang berserakan di mana-mana.
Terlihat sesuatu yang keluar dari kegelapan, mendekati tubuh Sleepy yang telah terlelap seraya berkata, "Trofi!"
Di Puncak gunung kartawara, Vania terus saja waspada dengan sekelilingnya, sedangkan Kirana terus saja memanggil-manggil nama-nama mereka, yang menjadi tujuan mereka.
"Alfarani!"
"Rendra!"
"Niko ...!! kalian di mana?!!" teriaknya tak habis-habisnya dengan sekuat tenaga hingga membuat burung-burung beterbangan.
SLEP! Satu panahan melesat cepat melewati depan tubuh Kirana yang sedang berjalan, nafasnya terengah-engah dengan jantungnya berdegup kencang.
"Dapat satu!" girang Vania seraya mendekati seekor harimau yang sebelumnya ingin menerkam tubuh Kirana dari samping itu kini terjatuh tak berdaya.
SREK! Dengan menggunakan sarung tangan, ia mengeluarkan jantung harimau tersebut, sembari menekan-nekan nya layaknya jeli.
Kirana yang melihat pemandangan menjijikkan itu, segera memalingkan pandangannya ke arah dedaunan lebar nan berduri di sisi kanannya.
'Jejak kaki?' batinnya yang melihat ada empat jejak kaki di atas tanah yang mengarah ke arah dedaunan tersebut, ia pun segera berjalan memasukinya.
"Van, gue menemukan mereka!" teriak Kirana, setelah melihat ada Rendra serta Niko yang terbaring di atas tanah di saat dirinya baru saja menyingkirkan dedaunan lebar itu dengan tangan.
Vania tidak menyahut, karena sedang sibuk memasukkan daging mentah serta organ-organ tubuh harimau itu yang ia masukkan ke dalam kantung makanan miliknya.
'Ihh ... menjijikkan sekali, pengen muntah rasanya!' batin Kirana saat menoleh ke arah Vania yang tak menjawabnya.
Ia pun dengan keberanian setipis tisu, berjalan mendekati tubuh mereka dengan mengarahkan panahannya ke segala arah, untuk berjaga-jaga.
Walaupun, dengan caranya memegang panah terlihat aneh, ia menyipitkan matanya dengan waspada melihat sekelilingnya.
"Kirana ...!" teriak Vania yang mengira jika Kirana tersesat, pandangannya melirik ke arah bawah terdapat jejak kaki enam mengarah ke arah dedaunan tebal nan berduri.
'Apa itu dia?' batinnya sembari melangkah perlahan memasuki dedaunan tersebut.
"Auw! sakit!" rintih Vania saat dedaunan berduri itu mengenai wajah serta tangannya.
SLEPP! "Dapat!" girang Kirana setelah dirinya melepaskan satu panah ke arah dedaunan tersebut.
"Astaga! Kirana ...!!" teriak Vania saat melihat sebuah panah tertancap dengan sempurna mengenai kantung makanan yang di bawanya. Alhasil, daging mentah tersebut berhamburan di tanah.
"Upss! maaf, Van ...," ujar Kirana merasa bersalah.
"Berikan kantung makananmu!" ujar Vania yang terlihat kesal, Kirana hanya menurut dan melemparkan sebuah kantung makanan yang masih berisi kepadanya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?!" ujar Kiana terhentak kaget melihat Vania mengeluarkan semua makanan miliknya seraya memasukkan daging mentah serta organ dalam itu ke dalamnya.
"Kamu akan kesulitan membawanya sembari menyeret salah satu dari mereka, lebih baik kamu memakan makananmu sekarang," jelas Vania.
"Menyeret? kita akan menyeret tubuh mereka?" tanya Kirana keheranan.
"Lantas, selain itu. Apa yang bisa kita perbuat?" tanya Vania seraya berjongkok di depan tubuh Niko yang tak sadarkan diri lalu menggendongnya di belakang punggung.
Kirana melihatnya ngeri dan penuh tanda tanya, "Apa kamu tidak keberatan?" tanyanya yang melihat tubuh Niko lebih besar nan gagah di banding tubuh Vania yang ramping dengan tinggi yang cukup ideal.
'Semoga saja tulang punggungnya tidak patah, setelah menggendong tubuh Niko,' batin Kirana sembari memakan makanan miliknya, yang terdapat beberapa buah serta tempat nasi yang ia siapkan sebelum pergi.