Secret

Secret
Timea - You And I



Sekalipun Sehun menjelaskannya Hyemi tetap tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Sehun dulu. Dia emang memiliki memory yang benar-benar buruk.


Sekelebat bayangan saat dirinya menyelinap ke sekolah itu memang Hyemi yakini kalau itu pernah terjadi, tapi tidak saat Sehun mengatakan kalau dirinya pernah berkata akan membuat Sehun terpesona dengan dirinya. Membayangkannya saja Hyemi tidak bisa, lihat saja, siapa dirinya dan siapa itu Sehun. Perbedaan itu terlalu jelas!


"Memikirkanku?"


Hyemi terkejut dan minuman dalam genggamannya sedikit tumpah. Musik keras dari earphone mungkin bisa meredam suara, tapi yang mengejutkan adalah tiupan dari nafas seseorang di dekat telingannya yang membuat Hyemi yakin seseorang mencoba menyalahi aturan. Dan siapa lagi kalau itu bukan Sehun.


Hyemi mundur selangkah, menarik sebelah earphonenya, melirik sosok di samping yang masih tersenyum menikmati reaksi Hyemi yang dianggapnya lucu. Hyemi melihat ke sekeliling dan mulai waspada, memastikan kalau tidak ada satupun orang yang melihat mereka di sana — di dapur yang seharusnya di dominasi oleh para pelayan.


"Tidak ada siapapun di sini."


Sehun menjelaskan kekhawatiran Hyemi. Dan seperti yang Sehun katakan, tidak ada siapapun di sana. Sehun tidak mungkin dengan nekat mendekatinya seperti itu kalau di sana ada banyak pasang mata.


Bagaimanapun juga, Hyemi merasa lega. Wajahnya jelas menunjukkan eskpresi yang membuat seseorang ingin menarik pipi. Karena itu Sehun tersenyum, dan Hyemi di sebelahnya merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini.


Hyemi diam-diam melirik. Pada saat itu dia menangkap wajah Sehun yang terlihat kelelahan. Hyemi langsung teringat selama beberapa hari, Sehun di ganggu oleh pekerjaan di luar sekolah.


"Kau terlihat seperti sedang banyak masalah."


"Ada banyak pekerjaan,"


"Pekerjaan di kantor?"


"Hm,"


"Kenapa tidak menyerahkan semuanya kepada sekretarisnya atau orang kepercayaan ayahmu?"


"Khawatir padaku?"


"Tidak juga." Hyemi membuat ekspresi sedater mungkin.


Sehun tersenyum. "Mereka tetap membutuhkan kehadiranku. Akulah orang kepercayaannya. Setelah ayahku, hanya aku yang bisa bertindak dan memutuskan. Pikirkan berapa banyak kepala keluarga yang bergantung di tanganku."


"Oh." Hyemi menyesap minuannya dan menyembunyikan ekspresi wajahnya.


"Aku juga mau." Sehun menunjuk gelas Hyemi yang hapir kosong dengan dagunya.


"Kau bukannya tidak suka susu coklat?"


"Sekarang aku suka."


Jawaban itu membuat Hyemi mengernyit heran karena perubahan selera Sehun yang begitu tiba-tiba.


Sehun mendekat dan menjilat cepat diatas bibir Hyemi yang lengket. Bekas susu masih bisa Sehun rasakan. Wajahnya datar tidak menunjukkan rasa khawatir kalau orang lain akan melihat. Sebaliknya, Hyemi di depannya hampir mengeluarkan bola matanya.


"Hm, manis."


Satu kepalan dari tangan Hyemi meninju lengan Sehun. Memarahinya sebentar sebelum Sehun memberikan senyuman sebagai permohonan maaf.


Hyemi harus membiasakan diri mulai sekarang. Sehun mungkin saja akan lebih gila lagi dari sebelum-sebelumnya. Dan memikirkan apa yang dilakukan Sehun padanya seperti hari ini membuat dirinya seperti menganggam bom waktu. Itu bisa meledak kapan saja. Tidak hanya merusak ligkungannya, tapi itu juga bisa menghancurkannya menjadi berkeping-keping.


"Kau ke sekolah besok?"


"Mungkin,"


Hyemi melirik dari sudut matanya. "Enak sekali jadi dirimu, kau bisa datang dan pergi tanpa harus melibatkan surat keterangan dokter." Komentar itu membuat Sehun tertawa ringan. Bagaimanapun Hyemi menyukai suara tawanya. "Aku harus berpura-pura sakit agar ibu mengijinkanku membolos tapi selalu tidak pernah berhasil."


"Mau coba bolos?"


"Dan mendapat hukuman karena nilaiku turun? Tidak, terimakasih."


"Aku bisa membantumu belajar,"


Hyemi memutar tubuhnya dan menatap Sehun penuh curiga. Sehun jelas sedang menyombongkan diri, dan bagaimana Hyemi bisa mengimbangi Sehun?


"Aku tidak tahan siksaan, kau mungkin akan memukul kepalaku dengan penggaris atau seacamnya,"


"Atau aku mungkin akan melakukan hal lain selain memukulmu dengan penggaris."


Sehun menatap Hyemi yang bergeming. Dia menikmati saat menggoda Hyemi dan melihat tubuhnya tiba-tiba saja menegang. Saat tatapan Sehun di penuhi dengan tanda tanya, Hyemi sadar dengan apa yang akan dilakukan Sehun.


"Jangan melihatku seperti itu. Kalau kau mau aku bisa membuatkanmu satu."


di dahi Sehun terlihat samar. Sehun mengambil cangkirnya, meletakkannya di atas meja, berjalan maju mendekati Hyemi sementara Hyemi mundur selangkah demi selangkah.


Dengan kedua tangannya, Sehun menarik wajah Hyemi ke arahnya. Dengan cepat dia memberikannya ciuman singkat dan sedikit jilatan di sudut-sudut bibir sebelum akhirnya Sehun menjauh dari Hyemi.


"Habiskan," kata Sehun. dia mengambil cangkir dan meletakkannya kembali di tangan Hyemi.


Hyemi di buat tercengang. Ingin memaki tapi dia menahan diri untuk tidak terlalu menarik perhatian orang.


Kenapa aku bisa menyukai orang seperti ini?


Setelah pernyataannya kemarin, Hyemi adalah satu-satunya yang berperilaku tidak wajar di. Dia selalu merasa cemas karena hal-hal kecil, mengkhawatirkan suara gesekan kursi yang didudukinya sendiri, merasa ada seseorang yang mengawasi di belakang, atau merasa risih hanya karena hembusan angin yang dia pikir itu berasal dari Sehun. Dan karena hal itu Sehun selalu menertawainya diam-diam. Mereka menjadi sangat akrab hanya karena sebuah pertengkaran dan Hyemi akan mati-matian menghindar dan bersikap jahat saat ada orang lain di sana.


Hyemi terbaring di tempat tidur dan merasa begitu bosan dengan kesendiriannya. Padahal sebelumnya dia merasa baik-baik saja. Tapi semenjak Sehun menempatkan tangannya di belakang lehernya, menciptakan serangkaian perasaan hangat dihatinya, membuat pikirannya berlarian kemana-mana karena sentuhan di bibir, Hyemi merasa seperti sudah kehilangan sesuatu. Secara tidak langsung itu membuat Hyemi kecanduan. Keberadaan Sehun dan hal-hal yang dia lakukan, menumbuhkan perasaan yang benar-benar tidak wajar.


Apakah yang dilakukannya salah? Apakah tidak seharusnya dia mengatakan itu dan mengijinkan Sehun menyentuhnya? Hyemi bahkan berpikir berulang kali mengenai tindakan dan perilakuknya beberapa hari belakangan. Kenapa dia merasakan ketidaktenangan dalam hatinya setelah apa yang terjadi waktu itu?


.


.


Musim semi untuk Hyemi sudah tiba — meskipun dia menyadarinya sedikit terlambat — setelah akhirnya dia melewati musim gugur dan musim dingin yang membuatnya ingin mencekik leher seseorang. Karena Chan Yool sudah menetapkan pilihannya, Hyemi tidak akan menyesali apapun karena sudah melepaskannya. Tapi pilihannya ternyata tidak lebih baik. Dari semua orang, kenapa orang itu harus Sehun. Dari banyaknya keluarga yang tinggal di daratan semenanjung Korea, kenapa harus Sehun yang menjadi saudaranya?


Ketika Hyemi dipusingkan dengan urusannya, temannya yang berbahagia seolah tidak pernah memikirkan masalah apa yang akan menimpanya di depan mata. Mereka selalu bermesraan seolah menikmati bulan madunya — sekalipun mereka berada di lingkungan sekolah.


Jongil mendengar suara lenguhan halus dari kekasihnya.


Jong Il berusaha menahan beban tubuhnya saat satu tangannya bertumpu di atas meja. Tangan lainnya menarik pinggang Soo Jung yang sedari tadi mendorong tubuhnya ke belakang. Tidak ada siapapun di kelas saat jam olahraga berlangsung, karena itu Jong Il memanfaatkan waktunya untuk benar-benar menikmati wanitanya selama beberapa menit kedepan.


Jong Il menerima ciuman Soo Jung — yang awalnya hanya sebatas ciuman singkat — tapi Jong Il yang tidak bisa menahan diri membuat gerakan yang mengundang geraman dari dasar tenggorokan.


Kamera cctv yang mengawasi murid selama 24 jam dalam 7 hari menyorot mereka dari sudut ruangan. Tapi hal itu tetap tidak menurunkan keinginan Jong Il untuk melepaskannya, sebaliknya dia malah semakin tertarik untuk menarik Soo Jung dan menciumnya beberapa kali. Chan Yool akan mengurus semuanya, karena keberadaannya selalu menyelesaikan masalahnya. Itulah gunanya berteman dengan seserang yang memiliki pengaruh besar di antara petinggi sekolah.


Meskipun begitu, Soo Jung tidak mau kalau orang lain melihat apa yang sedang mereka lakukan. Dia menyudahi ciumannya dan wajah Jong Il terlihat tidak puas. Soo Jung hanya ingin mencari tempat yang aman, karena itu dia menarik tangan Jong Il dan mendekat ke jendela. Mereka bersembunyi di balik tirai jendela dan melanjutkan ciumannya yang tertunda.


Selama satu minggu Soo Jung disibukkan dengan kegiatan clubnya. Dia bahkan mengabaikan kencan yang terjadwal di hari jum'at karena saat itu Soojung harus menghadiri pertemuan dengan klub taekwondo. Pertemuan itu berlangsung di sebuah café, dengan beberapa teman yang kebanyakan adalah pria. Entah Jong Il sengaja mengikuti Soo Jung atau tidak, yang jelas saat itu Soo Jung melihat kekasihnya berada di sana dengan Do Kyun dan juga Chan Yool.


Soo Jung terlihat menikmati kebersaannya bersama teman-temannya, dia tertawa dan bercanda. Matanya menangkap di sudut meja lain, lalu terdiam setelah menyadari Jong Il sedang memperhatikannya dari jauh dengan raut wajah kesal.


"Jadi, kau lebih memilh bersama teman-teman priamu dari pada aku, huh?" Jong Il bertanya dengan nada cemburu yang berlebihan. "Coba lakukan lagi, kupastikan mereka tidak akan berani mendekatimu bahkan dalam jarak dua meter sekalipun!"


Soo Jung memutar bola matanya. "Aku berada di klub taekwondo yang mengharuskanku melakukan skinsip, dan bagaimana aku tidak ikut serta di acara klubku sendiri?"


"kalau begitu jaga kelakuanmu,"


"Memangnya apa yang kulakukan?"


"Jangan tersenyum di depan mereka!"


"Yaa—"


"Atau aku akan mematahkan keki mereka dan membuat mereka tidak bisa ikut serta dalam pertandingan." Jong Il menambahkan sebuah ancaman. Soojung harap itu hanya ucapan iseng karena kalau Jong Il sampai melakukan itu maka tamatlah riwayatnya.


"Aku serius. Jadi jaga kelakuanmu."


"Kalau begitu jaga juga kelakuanmu?"


" ... " Dahi Jong Il berkerut.


"Atau lebih baik kau buat mereka agar tidak melirikmu lagi. Atau aku akan menusuk mata mereka sampai buta."


Jong Il melepaskan pinggang Soo Jung dan bersandar pada bingkai jendela. "Mana bisa? Mana mungkin aku memintanya seperti itu? Ini seperti halnya kau merasa lapar tapi kau tidak benar-benar ingin makan."


"Kalau begitu, ya sudah. Yang kulakukan juga karena aku merasa lapar padahal aku sedang tidak ingin makan."


"Soo Jung,"


"Apa?"


Putus asa, Jong Il mengambil sejumput rambut Soo Jung yang terurai lalu memainkannya di jari. "Aku hanya tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain. Aku memang brengsek, selalu berganti-ganti pasangan—tapi itu dulu. Aku memang belum sepenuhnya menghilangkan kebiasaan burukku tapi aku yakin kalau hanya kau yang sekarang menjadi tujuanku. Kaulah yang membuatku seperti ini — berubah menjadi seperti orang idiot. Aku benar-benar tidak mau kehilanganmu. Soojung, kau membuatku khawatir dengan hanya melihatmu berbicara dengan teman-teman priamu."


Jong Il memang dikenal bermulut manis. Dia pintar merayu bahkan jika itu bukan kalimat rayuan yang penuh dengan bait puisi. Soo Jung pikir dia tidak akan pernah termakan rayuannya, tidak akan tertipu dengan kalimat noraknya, tidak akan terjebak dalam segala pujiannya. Tapi sekarang dia di sini, berdiri di hadapan pria yang selalu menebar senyum dan menyenandungkan kalimat cinta. Kalaupun dia tidak ingin, hatinya sudah di pahat hanya untuk satu pria ini, Kim Jong Il.


Satu tangan Soo Jung terulur menangkup rahang Jong Il yang mengeras. Bola mata Jong Il bergerak untuk menatap Soojung. Jong Il memang cemas kalau Soo Jung tiba-tiba meninggalkannya. Hal itu pernah terjadi dalam mimpinya. Jika dibandingkan dengan Myungsoo — pria cantik yang kabarnya pernah menyukai Soojung — Jong Il sama sekali tidak ada apa-apanya.


"Mereka hanya teman," kata Soojung. Dia juga mendaratkan ciuman dan tersenyum. "Dan kau lebih dari sekedar teman. Bahkan kata kekasih terlalu biasa untuk menjabarkan hubungan ini."


"Puas sekarang?"


Jong Il mengangguk, masih dengan senyum khas yang terlihat menggelikan.


"Aku mungkin akan meminta Chan Yool mendorongku jatuh ke sungai Han kalau aku sampai kehilanganu. Tapi tentu saja aku harus membawamu juga jatuh ke dalamnya."


Soojung berdecih pelan. Humornya terkadang terdengar sangat mengerikan.


Jong Il menarik Soo Jung ke dalam pelukannya dengan tiba-tiba. Ada sensasi aneh yang Soo Jung rasakan, perasaan sentimental yang dia tangkap terkesan tidak wajar. Hal seperti ini benar-benar bukan khas Kim Jong Il.


"Aku berencana melamarmu setelah lulus SMA nanti."


Kalimat itu di ucapkan di dekat telinga Soo Jung.


"Apa? Jangan bercanda."


"Aku serius. Sudah kubilang aku tidak mau kehilanganmu,"


"Setelah mendengar kau akan membuatku mengikutimu terjun ke Sungai Han, kau pikir aku akan melakukan itu?" Soo Jung menarik dirinya. Dia terlihat sedikit frustasi dengan arah pembicaraannya sendiri. "Oke. Jangan membahas ini lagi. Jangan membahas soal kematian. Intinya, aku akan selalu bersamamu bahkan sampai seratus tahun kedepan. Kau tidak perlu melakukan hal-hal gila. Dan aku akan menjaga jarak dengan teman-temanku. Tapi—"


Jong Il sudah lebih dulu mendaratkan bibirnya untuk menutup mulut Soo Jung. Cengkraman Jong Il di pinggang Soo Jung cukup kuat, dia kemudian melingkari pinggang Soo Jung dengan kedua tangan kokohnya. Memeluknya erat dan memberikan ciuman dengan beberapa sentuhan di lidah saat bertemu.


Seseorang bisa saja memergoki mereka, dan Soojung, orang yang paling berpikiran rasional bahkan tidak memperdulikan hal itu. Soo Jung di dorong dan keluar dari tirai jendela, tubuhnya mulai setengah terbaring di atas meja dengan Jong Il yang kehilangan kendali dan membuat Soo Jung menggigil karena geli. Satu tangan Jong Il menahan sisi lehernya dan gerakan bibirnya itu terkesan lambat tapi menuntut.


Gigitan yang diberikan Jong Il di dagu membuat Soojung memejamkan mata karena merasa geli. Soo Jung menjauhkan wajah Jong Il dan dia mendapatkan ciuman di bibir sekali lagi.


Kedua tangan Soojung *** baju di pinggang Jong Il saat dirinya merasakan bibir prianya berpindah ke leher. Jantungnya berdegup dengan keras dengan irama cepat. Tiupan dari nafas Jong Il membuat Soojung menegang, dia memejamkan matanya beberapa kali dan menahan segala macam perasaan yang membuncah. Soojung harus bertahan untuk setidaknya tidak mengeluarkan desahan yang hanya akan menarik perhatian orang-orang.


Di tengah keintiman itu, di luar pintu Do Kyun berniat menggeser pintu, tapi urung saat melihat pemandangan menakjubkan di dalam kelas. Matanya membulat dan dia mendengus tidak percaya. Keinginannya untuk melewati garis pintu batal dan memilih untuk berjaga di luar karena siapa tahu saja dua orang yang sedang berpagutan itu membutuhkan alarm peringatan saat seseorang hadir di antara mereka.


"Hah! Mereka bahkan tidak bisa membedakan privasi dan tempat umum," komentarnya. Dia berdecak beberapa kali dan sesekali mendengar bunyi gesekan meja dan itu membuatnya menarik kedua tangan untuk menutupi kedua telinganya.


"Senior,"


Seruan itu membuat Do Kyun yang menjadi satpam dadakan menoleh. Dia melihat Hyemi menatapnya penasaran.


"Sedang apa di sini?" tanya Hyemi, dengan wajah polos sekaligus penasaran.


"Mencari Jongin," jelas Do Kyun. Tindakannya sedikitpun tidak terlihat gugup ataupun malu. Tidak seperti kucing yang ketahuan sedang mengintip ikan segar.


"Coba lihat apa yang mereka lakukan, kau mungkin akan menjatuhkan rahangmu ke lantai." Do Kyun menambahi dengan kalimat yang membingungkan.


Hyemi mengintip ke dalam kelas dan melihat Jong Il sedang **** Soo Jung yang setengah terbaring di atas meja. Hyemi hampir menjatuhkan rahangnya kalau dia sendiri tidak cepat-cepat menutup mulutnya karena terkejut.


"Mereka pikir ini hotel atau apa?" Hyemi hampir mengeluarkan nama-nama binatang untuk memaki.


"Iyakan? Berarti bukan hanya aku yang berpikiran seperti itu,"


"Dan kau tidak berniat menegurnya?"


"Untuk apa? Ini pemandangan bagus, aku mungkin harus merekamnya juga. Ini akan jadi topik bagus di forum sekolah, bagaimana menurutku?"


Hyemi memutar bola matanya, mengabaikan candaan Do Kyun yang mengerikan. Hyemi tidak berpikir dua kali saat menggeser pintu dan membuat kedua orang yang berpagutan mesra tersentak.


"Kalian sedang syuting adegan porno atau apa?" Hyemi berkata sengit. "Tidak sabar ingin mendapat hukuman?"


"Yoon Hyemi! Apa kau tidak pernah diajari untuk mengetuk pintu?" Jong Il berkomentar dan tidak benar-benar peduli dengan apa yang Hyemi ucapkan.


"Kau pikir aku sedang bertamu di rumahmu?!" Hyemi merasa seperti ingin melempar Jong Il ke luar jendela. Dia berjalan masuk dan melirik Soojung yang meringis lalu kembali mengawasi Jong Il. "Tolong jaga sikapmu, yang kau cumbu itu temanku. Dan ayahnya adalah seorang pengacara. Kau bisa di gantung kalau ayahnya sampai di panggil karena berita semacam ini."


"Sayangnya tidak,"


"Belum," DO Kyun meralat cepat.


Jong Il melirik Do Kyun dengan jengkel yang tiba-tiba ikut campur. Tapi dia buru-buru beralih ke Hyemi dan berkata, "Kalau itu yang kau permasalahkan —" Jong Il menunjuk cctv "— aku bisa membereskannya."


"Ohh, bagus sekali. Ada gunanya juga berteman dengan Chan Yool."


Jong Il mendengus dan tidak peduli saat di pelototi Hyemi seolah dirinya adalah penjahat kelamin yang menyesatkan seorang murid SMA.


"Kau seperti tidak pernah melakukannya saja," kata Jong Il, saat kedua tangannya membenahi seragamnya yang kusut.


Soojung mendengar itu, dan menatap Hyemi dengan terkejut.


Begitupun dengan DO Kyun yang berseru "Wuahh ...." Dengan nada panjang yang dibuat-buat. Lalu komentar selanjutnya membuat Hyemi ingin memelintir lehernya. "Jadi kau pernah melakukannya dengan Chan Yool?"


"Bukan. Bukan dengan Chan Yool. Tapi—akh!" Ucapan Jong Il terhenti saat Hyemi menendang tulang keringnya. Soojung memekik karena terkejut dan memprotes tindakan Hyemi yang kelewat kasar.


"Senior, kau mencari Jongin kan?" Hyemi beralih menatap Do Kyun, "bawa dia, karena aku tidak bisa menjamin kalau dia nanti bisa berdiri dengan kedua kakinya lagi."


Hyemi melirik tajam ke arah Jong Il. Tidak peduli apa, Hyemi akan membuat Jong Il menutup mulutnya meskipun dia harus meremukkan tangannya untuk meninju rahang Jong Il.


"Hey—"


"Jung." Hyemi mentap Soojung dan mengabaikan Jong Il. "Kenapa kau bisa mengencani pria seperti dia? Sudah hitam, mata keranjang lagi."


"Karena dia tampan." Soojung menjawab dengan enteng. Dia mengabaikan kalimat terakhir yang sering Hyemi gunakan untuk mengejek Jong Il. "Dan hitam itu sexy," bisik Soojung saat menatap lekat lelakinya.


Jong Il hanya tersenyum dan balas menatap Soojung, membuat Hyemi ingin menggosok wajah Jong Il dengan penghapus papan tulis.


"Sebaiknya kita pergi." Do Kyun memberi setelah menyadari situasinya sedikit memanas. "Dia (Hyemi) terlihat seperti tidak sabar ingin menebas lehermu." Kyungsoo berbisik dan berusaha untuk tidak terlihat jelas saat posisinya membelakanggi Hyemi.


Hyemi mencibir saat melihat Jong Il nyengir sambil lalu.


Soojung melipat kedua tangannya sambil menatap Hyemi sebal. Dia tahu Hyemi mengkhawatirkannya, dan Hyemi juga tidak bersungguh-sungguh memusuhi Jong Il seperti yang diperlihatkannya seperti tadi. Mungkin memang timing dan lokasinya saja yang memicu Hyemi bertindak seperti ibu yang protektif terhadap anaknya, meskipun Hyemi tidak secara gamblang mengatakannya, Soo Jung tahu Hyemi adalah salah satu orang yang mendukung hubungannya dengan Jong Il.


"Aku dengar kau sakit." Hyemi membuka suara, "karena itu aku pergi ke ruang kesehatan tapi kau tidak ada di sana. Begitu aku kembali ke kelas aku melihat adegan yang —" Hyemi menggidik ketika mengingatnya. "—bagaimana kalian bisa melakukannya di sekolah? Kalian benar-benar sudah gila!"


Sindiran itu membuat Soojung merona karena malu, tapi itu hal yang biasa dan Hyemi sudah tahu semuanya. Jadi untuk apa ditutup-tutupi?


"Tadinya aku memang tidak enak badan. Tapi sekarang sudah lebih baik."


"Tentu saja kau merasa lebih baik." kalimat Hyemi tujuannya adalah untuk menyindir. Tapi Soo Jung merasa senang sampai tertawa kegirangan mengingat apa yang dilakukannya tadi.


"Jadi, kenapa mencariku?"


"Ohh, itu—"


Ucapan Hyemi terputus saat ponselnya berdenting.


Pesan masuk dan itu dari Sehun.


Kemarilah. —Sehun


Hyemi mengernyit dan mengabaikan pesannya. Mau apa memintanya datang? Dan ketika dirinya kembali fokus ke Soojung ponselnya kembali berdenting. Sehun lagi.


Sekarang!!! —Sehun


Ohh, ya ampun. Hyemi mendengus dan tindakannya membuat Soo Jung mengernyit heran. Soo Jung bertanya pesan dari siapa itu dan Hyemi hanya menjawab "orang iseng" dan berbalik meninggalkan Soojung untuk menemui orang iseng yang dimaksud.


Sebelum Sehun mengacau dan membuat dirinya muncul di hadapan Hyemi dengan di saksikan orang banyak, Hyemi lebih memilih untuk mendatangai pria itu sesuai isi pesan tadi. Kalau ini bukan hal penting Hyemi berniat akan memukul kepala pria itu.


Di tengah jalan, Hyemi melihat Sehun muncul dari arah lain. Dia terlihat setengah berlari ke arah Hyemi dan tindakan itu membuat Hyemi melangkah mundur karena terkejut.


Sehun tidak mengatakan apapun saat Hyemi bertanya kenapa mencarinya, pria itu hanya menarik tangan Hyemi saat jarak mereka cukup dekat dan membawanya masuk ke satu bilik toilet. Bersyukur tidak ada satupun orang di dalam toilet saat mereka di sana. Hyemi mungkin akan menjerit seperti orang gila. Tidak masalah kalau itu toilet wanita, tapi Sehun membawanya ke tempat yang salah. Itu adalah toilet pria!


"Apa-apaan kau ini?!" Hyemi memprotes dengan menekan suaranya saat berbicara lirih. "Kenapa membawaku ke sini?"


"Karena aku tidak punya banyak waktu."


Saat itu juga, di ruangan yang hanya selebar dua meter, dua orang saling berhimpitan di balik pintu bilik toilet. Dan setelah Sehun menyelesaikan kalimatnya, dia langsung memberikan ciuman di bibir Hyemi dengan tiba-tiba.


Hyemi terdorong ke dinding dan badannya terangkat sedikit saat tangan yang lain menariknya keatas. Setelah tiga puluh detik, setelah Sehun berhasil mengacaukan Hyemi, dia melepaskan ciumannya juga menjauhkan tubuhnya dari Hyemi.


Kepala Hyemi masih sedikit pusing karena tindakan Sehun yang sudah mengacaukan dirinya. tapi dia bisa menangkap kalimat Sehun selanjutnya, yang pada saat itu diucapkan dengan nada penyesalan.


"Aku akan pergi dalam beberapa hari, ke pulau Jeju. Aku mungkin tidak akan melihatmu selama beberapa hari."


.


.


.


TBC