Secret

Secret
Part 26



Begitu bel istirahat berbunyi, pembicaraan dengan kepala sekolah pun selesai. Anggota OSIS inti pun bubar begitu mereka keluar dari ruang kepala sekolah.


"Sen, lo bawa mobil?" Tanya Dimas ketika mereka berjalan beriringan menuju ruang OSIS.


"Enggak. Gue bawa motor hari ini" Arsen hari ini sedang ingin naik motor


"Gampang lah, pake mobil gue aja. Entar gue suruh sopir anterin mobil kesini" sahut Gilang yang langsung dapat anggukan dari Dimas.


"Motor gue?" Tanya Arsen yang juga diangguki oleh Dimas.


"Iya, motor gue gimana?" Dimas juga membawa motor jika ke sekolah. Jika yang lain membawa mobil, Dimas lah satu-satunya yang akan membawa motor. Dimas itu tak begitu suka mengendarai mobil karena pasti akan terjebak macet.


"Gampang. Nanti gue suruh ambil orang buat bawa ke rumah" Jika masalah begini, Gilang lah yang paling bisa diandalkan. Orang tua Gilang itu punya banyak anak buah yang berjaga di rumah. Biasa, sultan ya begitu.


Saat mereka sudah akan masuk ke dalam ruang OSIS, getar disaku celana Arsen membuatnya berhenti.


"Kalian masuk duluan aja" ucap Arsen setelah membaca nama yang tertera pada ponselnya. Gilang dan Dimas sendiri sudah masuk meninggalkan Arsen yang masih berdiri di luar ruang OSIS.


"Iya halo pa, kenapa?" Ucap Arsen begitu mengangkat telepon dari Evan.


Halo, Sen. Kamu dimana?


"Sekolah, kenapa emangnya pa?" Tanya Arsen sambil berjalan menjauh dari ruang OSIS. Ia takut ada yang mendengar pembicaraannya dengan sang papa.


Kata abangmu, kamu dari semalem belum makan. Demam juga katanya. Kamu gak apa-apa kan, Sen?


Arsen menghembuskan napasnya berat. Pasti abangnya itu bilang pada papanya.


"Gak apa-apa, pa. Cuma kurang tidur aja" Arsen bahkan baru sadar jika ia belum makan dari kemaren. Hanya minum susu kedelai saja tadi pagi. Pantas saja ia pusing dan sedikit lemas.


Kamu kalo sakit jangan masuk sekolah dulu, Sen


"Iya pa"


Papa di Bandung ini, Sen. Jengukin nenek sama kakek


"Nenek sama kakek kenapa, pa? Mereka gak apa-apa, kan?" Arsen jelas khawatir kenapa tiba-tiba papanya ke Bandung. Pasalnya, kemaren Satria bilang kalau papanya sedang lembur. Bahkan Arsen tak tau papanya semalam pulang atau tidak.


Nenek sama kakek sehat kok. Papa tadi selesai meeting langsung ke Bandung karena searah. Oh ya, Sen. Papa udah siapin semua keperluan untuk pertunangan kamu. Tinggal baju yang kamu sama Tiara pake. Papa mau kalian yang pilih sendiri


Arsen terdiam mendengar ucapan papanya. Untungnya Arsen menjauh dari ruang OSIS agar tak ada yang mendengarnya. Arsen yakin papanya pasti membahas ini.


"Kok buru-buru banget sih, pa?"


Sen, udah tinggal berapa hari loh?! Kamu harus beli baju untuk acara kamu. Papa gak mau tau, kamu harus cari baju sebelum papa pulang dari Bandung


"Emang papa pulang kapan?"


Nanti malam papa sampai Jakarta


Arsen jelas membulatkan matanya. Ia saja masih sibuk tapi malah ditambahi masalah pertunangan itu.


"Arsen gak bisa, pa. Ini aja, Arsen mau ke Bandung buat nyerahin dana dari acara penggalangan dana kemaren"


Yaudah kalo gitu. Papa tunggu sampai weekend. Papa mau weekend kalian udah ada baju buat acara pertunangan itu


Apa-apaan papanya ini. Sudah mempercepat perjodohannya sekarang harus menyuruhnya untuk menyiapkan baju. Tidak sekalian saja disiapkan. Toh, Arsen juga akan mengikuti saja.


"Iya, pa"


Inget ya, Sen. Weekend harus udah ada. Cari bajunya tuh jangan mepet sama waktunya, Sen


"Iya, pa"


Arsen sedang malas memikirkan tentang pertunangannya.


Yaudah kalo gitu. Kamu jangan lupa makan. Nanti kalo ke Bandung pulangnya bareng papa aja


"Iya, pa"


Arsen memasuki ruang OSIS untuk meletakkan buku yang ia bawa.


"Gue mau ke kantin" ucap Arsen sebelum keluar dari ruang OSIS.


Dimas dan Gilang melihat jam tangan masing-masing. Masih ada waktu sebelum pergi ke Bandung.


"Boleh deh. Gue juga laper" ucap Dimas lalu mengikuti Arsen dari belakang, disusul Gilang.


Rian dan Ilham masih berada di kelas. Mereka tetap mengikut pelajaran seperti biasa karena yang dipanggil kepala sekolah hanyalah anggota OSIS inti. Mereka juga tidak ikut ke Bandung karena hari ini ada jadwal latihan basket untuk persiapan pertandingan melawan sekolah sebelah.


Sampai di kantin, Arsen segera memesan nasi putih dengan lauk ikan. Ia mengingat kalau belum makan nasi sama sekali.


"Nanti gue pulangnya bareng bokap gue" ucap Arsen setelah pesanan mereka datang.


Dimas yang hanya memesan jus alpukat itu mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Arsen.


"Bokap lo di Bandung, Sen?" Tanya Dimas yang dibalas anggukan oleh Arsen.


"Iya, nanti gue mampir ke rumah nenek gue dulu" Arsen jadi takut jika papanya itu bicara pada kakek neneknya tentang perjodohannya. Ya, meskipun mereka pasti akan tau tapi Arsen belum siap.


Arsen dan Gilang pun mulai melahap pesanan mereka. Dimas yang hanya memesan jus alpukat, sudah tandas dengan tiga kali minum.


*****


Seorang gadis dengan gaya simple nya itu berjalan menyusuri kota Bandung. Ia merindukan suasana Bandung yang tentram dan sejuk. Belakangan ini, banyak sekali yang melintas dipikirannya. Apalagi kalau bukan masa lalunya.


Gadis itu menyusuri jalan sambil mengingat kenangan masa lalunya bersama laki-laki yang sangat ia cintai. Bahkan sampai detik ini, ia belum bisa menghilangkan laki-laki itu dari hati serta otaknya. Ia rindu laki-laki itu. Tapi, ia tak punya alasan untuk menemuinya.


Gadis itu memasuki gedung tinggi berwarna putih itu sambil melihat sekelilingnya. Banyak anak-anak yang sedang bermain di halaman luar. Baru ia akan menginjakkan kakinya ke dalam, suara anak laki-laki dari belakangnya terdengar.


"Kak Tania!!" Gadis bernama Tania itu menoleh. Dilihatnya anak laki-laki berumur enam tahun berlari kearahnya. Tania pun menerima pelukan hangat dari anak laki-laki itu.


"Kak Tantan kak Tantan" Tania tersenyum begitu mendengar panggilan sayang dari anak itu untuknya. Tania menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan anak berusia enam tahun itu.


"Kenapa, Leo?" Tanya Tania pada anak laki-laki bernama Leo itu.


"Leo punya temen baru, loh. Dia jago banget main biola. Kak Tantan harus ketemu sama dia" celoteh Leo dengan girangnya. Tania yang mendengar pun ikut tersenyum.


"Oh, ya? Siapa namanya?" Tanya Tania sambil merapikan rambut Leo yang berantakan karena tertiup angin.


"Ayo, kak. Nanti kakak tanya sendiri sama dia. Ayo, sebelum dia pergi" jawab Leo sambil menarik tangan Tania agar mengikutinya. Tania pun bangkit dan mengikuti kemana Leo akan membawanya.


Tania terheran begitu Leo menariknya menuju luar gerbang. Tapi ia terus mengikuti kemana Leo membawanya. Sampai akhirnya, Leo berhenti di bangku taman yang menjadi jarak antara dua gedung tinggi tempat Leo tinggal.


"Mia" panggil Leo pada anak perempuan berkuncir kuda yang sedang bermain dengan rubik.


Anak perempuan bernama Mia itu menoleh. Tania bisa melihat binar bahagia Mia ketika Leo datang.


"Leo" Leo tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Mia, aku mau kenalin kamu sama kakak ku" ucap Leo sambil melirik Tania. Tania pun menunduk sambil menampilkan senyum manisnya.


"Halo, gadis kecil. Nama kamu Mia, ya? Cantik sekali namanya, seperti orangnya" ucap Tania dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.


"Halo, kakaknya Leo" jawab Mia dengan senyum malunya.


"Nama kakak, kak Tania. Tapi Leo biasa manggil kakak, kak Tantan. Mia kalo mau manggil kakak sama kayak Leo, boleh lho" Mia mengangguk dengan semangat mengiyakan ucapan Tania.


Baru Tania akan mengajak Mia bercerita, ada suara yang sudah lama tak ia dengar.


"Mia" panggil seseorang dari arah barat. Mia pun menoleh dan menghambur pada orang itu.


Sedangkan Tania terdiam begitu tau siapa orang itu. Ia tak menyangka akan kembali bertemu orang itu. Orang itu menatap Tania tak kalah kagetnya. Ia tak menyangka, takdir mempertemukan mereka kembali.


To be continued....