Secret

Secret
Part 35



Arsen mengajak Tiara pergi dari mall begitu selesai membayar baju yang dipilih Tiara. Awalnya Arsen ingin mengajak gadis itu makan siang di cafe dekat mall. Tapi karena Arsen takut Dion datang lagi, dengan alibi tak sengaja bertemu, itu membuat Arsen was-was.


Arsen menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia bingung, bagaimana Tiara bisa bertemu dengan Dion. Dan bagaimana nanti ia menjelaskan kepada Tiara tentang ucapan Dion.


"Kita makan dulu, ya" ucap Arsen sambil melirik Tiara yang fokus melihat ke depan. Entah apa yang membuat gadis itu diam. Apa perkataan Dion tadi yang membuat Tiara begini.


Tanpa banyak pikir, Arsen melesat menuju restoran jepang yang biasa ia kunjungi. Ia tak tau Tiara mau makan apa tapi ia tak ingin bertanya, karena pasti Tiara akan menuntut penjelasannya.


Arsen bukannya takut, ia hanya mencari tempat dan waktu yang tepat untuk menceritakan masa lalunya dengan Tiara. Arsen sadar, dirinya akan segera menjadi suami gadis itu. Bagaimana pun juga, Arsen harus jujur pada gadis itu. Mau diterima atau tidak, itu urusan Tiara. Yang jelas Arsen sudah menceritakan semuanya.


Begitu mobil terparkir di depan restoran jepang, Arsen keluar dari mobil yang juga diikuti oleh Tiara. Arsen memesan berbagai menu makanan karena ia tak tau Tiara menyukai yang mana.


Arsen duduk di bangku yang dipilih Tiara. Ia melihat Tiara yang hanya diam memainkan ponsel.


"Ra" panggilan Arsen membuat Tiara mendongak. Ia melihat Arsen dengan kernyitan di dahinya.


"Apa?" Arsen tak tau harus menjelaskan dari mana.


"Lo mau tanya apa aja, gue jawab" ucap Arsen yang sudah pasrah akan pertanyaan Tiara nanti. Ia akan menjawab semua pertanyaan Tiara dengan jujur. Ia rasa, ini waktu yang tepat baginya untuk menceritakan masa lalunya.


"Kenapa lo tiba-tiba ngomong gitu?" Jelas Tiara tau maksud Arsen. Arsen pasti berpikir Tiara diam karena menunggu penjelasannya.


"Ya karena kita harus bahas ini. Gue tau, lo marah karena omongan Dion tadi. Lo bisa tanya ke gue apa yang lo pikirin sekarang. Gue bakal jawab, Ra" Arsen yakin Tiara menuntut penjelasannya tentang Mila.


Tiara memandang lekat Arsen yang duduk dihadapannya sebelum mengutarakan berbagai pertanyaan yang ada di otaknya.


"Kok bisa kenal sama cowok itu?" Tiara hanya ingin memastikan, apakah benar Arsen dan cowok yang ia temui tadi itu adalah teman.


"Namanya Dion, musuh gue. Tapi gue gak pernah nganggep dia musuh" jawab Arsen yang mendapat pandangan tak percaya dari Tiara.


Tiara tak menyangka jika Arsen dan Dion adalah musuh.


"Trus dia nganggep lo musuh?" Arsen mengangguk sebagai jawaban.


"Kenapa kalian bisa musuhan? Maksud gue, kenapa Dion nganggep lo musuh?" Belum sempat Arsen menjawab, pelayan resto datang mengantarkan minuman mereka.


"Ceritanya panjang. Dan gue juga gak yakin, lo bakal percaya sama gue" jawaban Arsen kembali mengundang kernyitan di dahi Tiara.


"Emang apa?" Jujur Tiara kepo. Ia ingin tau kenapa Dion menganggap Arsen musuh sedangkan Arsen tak menganggap demikian.


"Oke gue cerita. Tapi gue harap, lo gak ceritain ini ke sahabat lo atau siapa pun. Gak ada yang tau soal ini kecuali sahabat gue" Tiara mengangguk setuju.


Arsen menghela napas sebelum memulai ceritanya.


"Dulu, gue sama temen gue ngadain acara di klub gitu. Acara santai aja sih, sampai temen gue ngenalin gue sama cewek, namanya Mila. Gue akhirnya temenan sama cewek itu karena sering ketemu di klub. Dan suatu hari, gue lihat Mila mabuk berat. Dia udah gak sadar tapi tetep minum. Awalnya gue gak peduli, karena kata temen gue, Mila itu kuat minum. Jadi gue rasa gak aneh liat cewek itu teler" cerita Arsen terhenti ketika pelayan kembali mengantarkan makanan yang dipesan oleh Arsen.


"Trus?" Tiara sudah tak sabar mendengar kelanjutan cerita Arsen.


Setelah beberapa menit mereka menikmati makanan jepang itu, akhirnya makanan yang dipesan Arsen tersisa sedikit.


"Habisin, Ra" ucap Arsen yang dibalas gelengan oleh Tiara.


"Kenyang gue" jawab Tiara lalu meminum jus jeruknya.


Melihat Tiara yang sudah selesai makan, Arsen pun segera menyelesaikan makannya.


"Lanjut, dong" ucap Tiara saat dilihat Arsen sudah selesai makan.


Arsen yang baru meneguk minumannya kembali menghela napas.


"Malem itu, gue lihat om-om deketin Mila saat Mila udah gak sadar. Bahkan dia mau bawa Mila pergi dari kursinya. Gue yang liat itu gak bisa tinggal diam, gue nyamperin meja Mila dan bawa gadis itu pergi. Gue gak tau dimana gadis itu tinggal. Akhirnya gue bawa Mila ke hotel yang ada di klub itu. Gue bawa dia ke kamar dan nolong dia yang sempet muntah waktu itu. Gue rasa dia udah gak sadar sampai gue denger dia ngeracau gak jelas gitu. Awalnya gue mau langsung balik, tapi tangan gue dipegang sama Mila sambil meracau" Arsen membasahi tenggorokannya dengan jus jeruk sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


"Akhirnya gue tunggu tangan dia lepas dari tangan gue. Paginya, dia datang nyamperin gue minta pertanggung jawaban. Gue gak tau apa yang dia maksud. Tapi dia desak gue ngaku kalo gue udah hamilin dia. Bahkan dia nangis minta dinikahi" Tiara tak menyangka Arsen dijebak oleh cewek itu.


"Gue jelas gak mau tanggung jawab. Gue gak ngelakuin apa pun malam itu. Niat gue cuma nolong Mila, udah. Dari situ, Mila terus minta pertanggung jawaban gue sampek dia dateng ke rumah kakek nenek gue. Dan saat itu, bokap ajak gue pergi ke Jakarta karena berhasil bangun perusahaan disini. Akhirnya gue gak ketemu Mila lagi setelah itu. Awalnya gue masih diteror sama dia lewat nomer hp gue. Karena gue yang gak kuat sama Mila, gue ganti nomor. Dia gak bisa hubungin gue lagi sampek sekarang. Dan satu kenyataan yang gue tau baru-baru ini, Dion adalah kakak Mila. Dia dateng ke Jakarta karena mau cari gue. Lebih tepatnya, bales dendam sama gue" Arsen menghela napas begitu selesai menceritakan semuanya pada Tiara.


Arsen melihat Tiara yang terkejut. Gadis itu diam dengan pandangan yang sulit diartikan. Sekarang Arsen hanya mampu pasrah. Ia hanya berharap, Tiara percaya padanya kalau dirinya tak melakukan itu.


"Jadi, Dion itu benci sama lo karena dia pikir, yang hamilin adiknya itu lo?" Arsen mengangguk sebagai jawaban.


"Tapi kenapa lo gak jelasin ini semua ke Dion? Kalo emang lo gak salah, Sen" Arsen tersenyum pias mendengar ucapan Tiara.


"Buat apa gue jelasin sama orang yang dari awal aja udah gak percaya sama gue, Ra. Gue ngewajarin sikap Dion yang membela adiknya" Tiara jadi gemas sendiri pada Arsen.


"Sen, lo bilang lo gak salah. Lo gak lakuin itu semua. Trus kenapa lo gak mau jelasin semuanya?" Ucap Tiara dengan kesal.


"Ra, buat apa lo cari pembelaan disaat suara lo gak didenger? Sama aja kayak ngomong sama batu kan? Gue bukannya gak mau jelasin, Ra. Tapi sebagai manusia, harusnya Dion juga mikir. Gue aja baru sekali bawa adiknya ke hotel, itu pun gue gak ngapa-ngapain. Kalo Mila beneran anak gue, gak mungkin dalam semalam kan?" Tiara terdiam begitu mendengar ucapan Arsen.


Ya, ucapan Arsen masuk akal. Bisa saja, Mila melakukan hal itu dengan laki-laki lain. Jika Arsen memang tak melakukan itu, berarti Mila lah yang menuduh Arsen.


"Mila ada buktinya lo ngelakuin itu?" Arsen mengangguk sambil tersenyum pias.


Tiara kaget, bagaimana bisa mereka mempunyai bukti? Apa Arsen benar melakukan itu?


"Bukti cctv saat gue nganter Mila ke hotel" lanjut Arsen yang membuat Tiara berpikir. Bagaimana bisa itu dijadikan bukti jika Arsen benar tak melakukan itu.


"Trus lo kemaren ketemu sama dia?" Arsen menggeleng mendengar pertanyaan Tiara.


"Jadi Dion bohong?" Arsen tak menjawab. Dion tak sepenuhnya bohong. Ia memang ke Bandung, tapi tidak menemui Mila. Arsen tak mungkin berterus terang pada Tiara mengenai Tania. Arsen hanya belum tau bagaimana kehidupan Tania sekarang. Jika ia menceritakan semuanya pada Tiara, lalu Tiara mencari tau siapa Tania, secara tidak langsung Arsen telah mengganggu hidup gadisnya lagi. Ia akan menjaga Tania, meski dengan cara yang berbeda.


To be continued...