
Sambil terus berjalan pergi menjauh dari tempat pertarungan dengan sang naga. Sosoknya sesekali menoleh ke belakang dengan ekspresi rumit tercetak jelas di wajahnya.
Ia sangat tau bahwa Jun dan Rion adalah sosok yang kuat, begitupun Max yang berperan penting menjadi pilar pendukung Jun dan Rion. Tapi hatinya masih saja resah atas keselamatan ketiga sekawan itu. Terutama ketika kedua pendengarannya samar mendengar Jun menyuruh anggota tim Bintang Berjajar yang lain untuk meninggalkan ketiganya melawan naga.
Bella tidak habis pikir dengan pemikiran ketiganya, meski mereka bertiga adalah murid unggulan. Tapi bersikap terlalu meremehkan lawan itu bukan hal baik.
"Hanya ada tiga kemungkinan Jun menyuruh kita dan anggota tim Bintang Berjajar yang lain untuk pergi meninggalkan ketiganya. Pertama adalah Jun memang benar-benar tidak ingin membuat kita semua terluka atas dampak pertarungan. Kedua, Jun tidak ingin kita mengetahui tingkat kekuatan mereka, sehingga kepergian kita dapat mempermudah ketiganya mengeluarkan kekuatan penuh dan yang ketiga adalah, Jun..." Bella tidak melanjutkan tebakan ketiganya karena merasa tebakan yang terakhir adalah hal yang tidak mungkin. Bahkan Bella sendiri merasa terkejut atas pemikirannya sendiri
"Yang ketiga?" Salah seorang bertanya dengan penasaran. Setelah cukup lama berpikir Bella menghembuskan nafas beratnya sebelum mengatakan alasan ketiga kenapa Jun menyuruh semua orang untuk pergi meninggalkan ketiganya melawan naga.
"Jun mungkin ingin menjinakan naga itu dan memeliharanya." Tebakan ketiga yang Bella katakan membuat kedelapan temannya itu menatapnya tidak percaya.
"Kemungkinan menjinakan naga itu hanya 000000000,1%. Akan lebih masuk akal di tebakan pertama dan kedua. Kau harus ingat Bella, kalau misi kali ini adalah mendapatkan Kristal Naga dan secara teknis harus membunuh si naga untuk mendapatkannya." Seorang dengan surai hijau lumut berucap pelan.
"Aku tau ketua, aku hanya menebak secara acak." Bella membala diri sambil menepuk bahu si ketua yang mendapat dengusan dingin dari si surai hijau lumut.
"Kita punya waktu tiga hari untuk mengumpulkan Kristal Naga. Jadi, untuk hari ini dan dua hari kedepan. Mari berjuang keras bersama!"
Si surai hujau lumut masih ingat dengan jelas alasan kenapa mereka bisa kalah dengan mudah oleh serangan dadakan sang naga. Itu karena mereka tidak memiliki rasa kebersamaan untuk saling melengkapi. Mereka terlalu egois dengan kepentingan pribadi sehingga serangan dadakan dari sang naga dengan mudah menghancurkan mereka. Andai saja waktu itu mereka lebih solid, mungkin mereka bisa bertahan dari serangan dadakan itu lebih lama atau mungkin memiliki kesempatan untuk menang.
" Itu bagus!"
Bella senang timnya menjadi kompak begini. Memang benar, teman sejati adalah seorang yang telah melewati hidup dan mati bersama.
Dengan insiden naga itu, tim mereka yang dulunya saling egois dan acuh satu sama lain, kecualikan ketua tim yang selalu kawatir dan memperdulikan mereka. Kini telah bersatu sebab memahami arti dari sebuah tim.
•••
Rion menggerakan giginya menahan amarah karena lagi-lagi si naga memaksannya untuk mundur dengan serangan yang sayangnya memang kuat.
Sebagai seorang Pelindung yang memerlukan fiksi yang kuat dan ketahanan atas efek serangan musuh. Rion merasa bahwa ia sudah cukup kuat untuk menjadi Pelindung yang baik.
Tapi setelah menghadapi naga ini. Rion sadar bahwa ia belum sekuat itu. Memang benar ia adalah yang terkuat di kelas pelindung, tapi ia bukan terkuat di Area Merah apa lagi Athens.
"Jangan melamun? Aku sudah suah payah mengisi tenagamu, tapi malah kau melongo begitu!" Lewat lirikan mata Max, Rion menangkap kata yang menohok hatinya yang terdalam. Max benar-benar tidak paham atas harga diri Rion yang terluka karena selalu di pukul mundur oleh serangan sang naga dan Rion tau, Max tidak akan perduli dengan hal itu.
Matanya menatap tajam sang naga yang kembali lagi meraung marah saat pedang tipis Jun mengenai mata sang naga. Bersamaan dengan raungan, tanah kembali bergetar pelan sebelum tanah berbetuk seperti jarum muncul di permukaan tanah.
Tentu saja Rion sudah mengantisipasi hal itu sehingga dengan elemen airnya ia membuat perisai pelindung. Sebenarnya Rion juga berniat membuat perisai dari elemen airnya untuk melindungi Max, tapi ia urung kala melihat si anak ayam telah terbang dengan kemampuannya. Sementata Jun, assasin hebat itu dengan mudah menghindari serangan dengan naik ke atas kepala naga.
Tentu saja sikap Jun membuat sang naga merasa sangat terhina sehingga mahluk itu terus menggerakan kepalanya dan membuat Jun harus mundur. Saat itu pula sang naga menyerang Jun dengan ganas sebagai perwujudan amarahnya.
Di sisi lain Max sangat geram karena kesulitan yang naga itu perbuat terutama saat melihat betapa ganasnya naga itu menyerang Jun. Sungguh rasanya kesabaran Max sudah habis dan tanpa Max sadari ia telah mengarahkan tongkat sihirnya sambil berucap dengan reflek.
" Penjara Tanah!" Seketika tanah dimana sang naga berpijak bergetar di susul pilar-pilar yang terbuat dari tahan perlahan muncul dari permukaan tanah.
Bunyi krek! Terdengar keras di susul jeritan sang naga menggema hampir di seluruh penjuru lembah.
Rion pun langsung mundur saat serangannya telah mengenai target karena Penajara Tanah yang Max buat sebentar lagi akan sempurna.
Setelah penjara tanah telah terbentuk sempurna, sang naga yang tidak bisa keluar pun mencoba menyerang Penjara Tanah yang mengurungnya meski itu hanya berakhir sia-sia.
"Gunakan elemen air-mu." Jun memberi kode mata yang di balas anggukan dari Rion.
"Belenggu Air!" Kata Rion sambil mengarahkan tangannya ke arah sang naga. Perlahan tapi pasti, seluruh Penjara Tanah terbungkus oleh bola air besar.
Max yang melihat hal itu pun langsung menarik elemen tanahnya sehingga Penjara Tanah runtuh seketika. Meninggalkan sang naga yang masih terperangkap dalam Belenggu Air.
Tapi, saat melihat sang naga yang terus berjuang melepaskan diri dari Belenggu air milik Rion. Max merasa tidak tega, terutama kelika melihat sang naga yang terlihat sulit tuk benafas.
Hal itu pula membuat Max teringat kalau ia pernah tenggelam di kolam dan itu rasanya sangat tidak nyaman. Jadi dengan kemampuan terbangnya ia menghampiri Rion lalu menarik baju si pemilik netra hitam kelam itu pelan.
"Ada apa?" Rion berucap pelan sambil menolehkan kepalanya ke arah sang kawan yang tengah memasang wajah melas.
"Jun kenapa kita tidak langsung membunuhnya saja? Jika mati karena kehabisan nafas itu sangat tragis." Kode mata Max pada Jun yang tengah berdiri di salah satu pohon. Rion yang melihat kode mata Max pada Jun itu pun menatap Jun dengan pandangan rumit.
Alasan kenapa Rion tidak melepas Belenggu Air miliknya adalah, Jun yang belum memberi intuksi selanjutnya jadi sebagai seorang yang patuh, Rion tidak bertidak sebelum ada perintah dari Jun.
"Lepas!" Kata Jun pelan.
Setelah Belenggu Air milik Rion terlepas, sang naga langsung terkapar di tanah dan langsung menghirup oksigen dengan rakus.
Namun saat itu ketiganya tidak bergerak, hanya melihat sang naga dalam diam.
•
•
•
•
•
•
•
Bersambung.