Secret

Secret
Bertemu dua lawan yang tangguh



Bertemu Dua Lawan yang Tangguh


Yang satu selalu mengganggumu, yang satu adalah perebut kekasihmu.


***


"Menjadi nomor satu itu adalah keinginan semua orang, tapi menjadi orang yang bahagia adalah sebuah pilihan. Karena itu, nikmati selagi kalian masih bisa menikmatinya, karena kebahagiaan adalah hal yang utama dan masa depan kalian ditentukan oleh apa yang Anda lakukan sekarang."


Ruangan yang tadinya tenang berubah riuh karena lengkingan suara murid perempuan saat melihat siswa teladan yang berdiri di atas podium menundukkan kepala untuk menyudahi pidatonya pada pertemuan tahunan.


Dia-Yoon Sehun-dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara. Orang-orang menganggapnya sebagai orang pendiam dan memiliki kepribadian yang baik. Para guru dan siswa lain juga menganggap bahwa Sehun adalah siswa teladan sejak memasuki sekolah di tahun pertama karena mendapat nilai tertinggi dan selalu bertingkah sopan.


Tapi tidak menurut Hyemi. Gadis yang sedang duduk bersama ratusan murid di aula besar itu terlihat tidak antusias sama sekali menyaksikan pertunjukan Sehun. Baginya, Sehun tidak lebih dari seorang aktor dalam opera.


Pintar sekali dia berpura-pura.


Hyemi mencibir dalam hati dengan ekspresi seperti menelan labu busuk. Dia memiliki seribu alasan kenapa begitu tidak menyukai Sehun. Hyemi juga jengah dengan topeng yang selalu melekat di wajah Sehun.


Hyemi menggaruk lubang telinganya saat mendengar jeritan Bomi yang menyerupai peluit. Rasanya dia ingin menjejalkan kaos kaki di mulut Bomi yang duduk tepat di sebelahnya.


Bomi kembali berseru dengan lantang, mengelu-elukan Sehun yang berjalan meninggalkan panggung. Tingkah Bomi ini sudah mirip seperti ABG yang kecanduan idolanya di TV. Dan sehebat apapun kata-kata pujaan Bomi yang menjabarkan kelebihan Sehun, Hyemi tetap memberi label 'keparat' di belakang nama Sehun sebagai sebuah penghargaan atas apa yang dilakukannya tanpa sepengetahuan orang lain.


Semua mata masih tertuju pada Sehun saat berjalan menuju barisan tempat duduk, dan Hyemi masih mendengar tepuk tangan meriah yang didominasi oleh murid perempuan.


Karena terlalu gaduh, kepala sekolah meminta perhatiannya kembali melalui microphone kecil di atas podium, tapi tidak satu pun yang mendengar ocehan orang tua itu.


Hyemi sangat penasaran kenapa Sehun menjadi begitu populer. Dia bukan satu-satunya pria tampan di sekolah, masih banyak siswa yang memiliki tubuh tinggi, kulit putih, tulang hidung yang lurus, dan yang pasti memiliki sopan santun.


Tapi meskipun ada banyak pria tampan di sekolah, nama Sehun masih saja menduduki peringkat atas sebagai tipe pria yang paling diinginkan oleh para gadis. Mungkin juga, Sehun menduduki nomor satu sebagai pria yang paling banyak menjadi objek 'kenikmatan' dalam otak seksualitas para perempuan di sini. Hyemi sangat yakin dengan hal itu.


Image Sehun sebagai murid yang memiliki sopan-santun, pintar, ramah dan humble, sepertinya sudah melekat seperti lem kayu di pikiran mereka. Karena itu upaya Hyemi untuk membuat nama Sehun jatuh di mata semua murid menjadi begitu sia-sia.


Yang Hyemi pikirkan untuk bisa menjatuhkan nama Sehun adalah dengan mengungkap rahasianya. Tapi sayangnya rahasia itu harus menyeret nama Hyemi sendiri. Bagaimanapun Hyemi tidak menyukai ide itu, dia harus mencari cara lain untuk membuat Sehun tidak lagi disukai oleh semua murid terutama oleh guru. Mungkin haruslah sesuatu yang membuat semua perempuan memandang Sehun dengan jijik.


Hyemi sedang memikirkan caranya ketika dikejutkan dengan cengkeraman Bomi di bahu kiri. Bomi mengoyaknya secara berlebihan sampai bagian tubuh Hyemi bergerak dengan konyol mirip tumpukan lemak dalam daging.


Hyemi mengaduh, melirik Bomi yang sama sekali tidak sadar kalau Hyemi sedang melotot ke arahnya. Rupanya sahabatnya itu sedang sibuk memandangi Sehun yang berjalan menuju barisan yang mereka tempati.


"Apa kau tidak bisa diam?"


Soo Jung bertanya dengan nada sinis, membuat Hyemi melirik ke arahnya. Bisa dilihat bagaimana reaksi Soo Jung yang kesal karena reaksi Bomi yang terlihat norak. Mirip anak ABG yang kedatangan artis baru di komplek rumah.


"Sikapmu ini membuatku ingin melemparmu dari sini."


Itu adalah kalimat terakhir yang dilontarkan Soo Jung sebelum Bomi benar-benar menjaga sikapnya dan duduk dengan tenang dan merapat ke arah Hyemi.


Bomi terpaksa menuruti ucapan Soo Jung kalau tidak ingin benar-benar ditendang keluar atau dibakar menjadi abu. Soo Jung terlihat seperti ingin menyumpal mulut Bomi dengan tisu bekas yang sudah berubah menjadi seukuran bola kasti, membuat Bomi mencebik lalu semakin beringsut ke arah Hyemi di sisi kanannya.


'Jangan pernah meremehkan ucapan Soo Jung.' Kalimat itu adalah apa yang selalu diucapkan Jong Il, dan Hyemi benar-benar mengerti makna dari kalimat itu.


Sekalipun dari luar Soo Jung tampak cantik dan anggun, menurut Bomi gadis yang entah bagaimana ceritanya bisa menjadi sahabatnya itu sudah mirip seperti mafia; tidak berperasaan, keras, dan yang pasti ucapannya itu sanggup membunuh lalat yang berani menyentuh kulitnya.


Hyemi menekan pelipisnya pelan, dalam hati berterimakasih pada Soo Jung karena membuat Bomi bersikap seperti manusia normal. Bagaimanapun dia tidak mau menjadi pusat perhatian karena ulah sahabatnya. Itu sangat memalukan.


Saat kembali menatap ke depan, Hyemi dikejutkan dengan tatapan Sehun yang sudah lebih dulu menangkap posisi duduknya. Hal itu membuatnya langsung mengeryit. Berpikir, kenapa juga Sehun menatapnya seperti ingin menelan bakso bulat begitu? Tapi anehnya tatapan itu membuat jantungnya sedikit berpacu, berdetak lebih cepat dari biasanya, karenanya Hyemi membuang muka ke arah lain.


.


.


Perhatian Sehun masih tidak lepas dari figur Hyemi yang setiap malam selalu muncul di dalam mimpinya. Bahkan setelah menempati kursinya di barisan belakang dengan satu jari meraba bibir. Pikirannya masih tidak lepas dari melucuti Hyemi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jarak mereka cukup dekat, tapi terlalu jauh untuk mengulurkan tangan dan menyentuh ujung rambutnya.


Dari tempat duduknya, Sehun masih bisa melihat wajah Hyemi meskipun hanya dari samping. Kadang-kadang bibir itu mengerucut, sesekali juga tersenyum lebar, tapi saat tidak sengaja melirik ke arah Sehun, puluhan sumpah serapah membuat Hyemi komat-kamit. Di mata Sehun itu terlihat sangat lucu, membuatnya ingin tertawa, membuatnya ingin menggodanya.


"Apa yang kau lihat?"


Sehun menoleh dan melihat Jong Il sedang menjulurkan lehernya-mencari sosok yang menjadi objek perhatiannya. Tapi Jong Il tidak menemukan hal yang lucu meskipun dia melihat ke arah barisan Hyemi. Pada saat itu Jong Il memang masih belum mengetahui apapun.


Sehun hanya menarik sudut bibirnya sekilas, berharap agar Jong Il tidak menyadari apapun. Tidak ada satupun dari mereka yang boleh tahu, untuk sementara ini tidak, karena Sehun juga sudah berjanji untuk tidak membocorkan rahasianya.


"Aku tidak mau seluruh sekolah tahu kita menjadi saudara, dan kalau aku tahu hal itu keluar dari mulutmu maka jangan harap kau bisa berdiri di depanku hidup-hidup!!!"


Sehun masih mengingat bahkan setiap kata, nada, dan ekspresi yang Hyemi katakan padanya. Pada saat itu Sehun hanya mengangguk tanpa membuat pertimbangan lain.


"Apa sih yang kau lihat?"


Jong Il mengulang. Dia masih penasaran hal apa yang membuat Sehun tersenyum seperti itu.


"Hanya beberapa murid perempuan yang sedang mengambil foto di sana." Sehun menunjuk dengan gerakan dagunya pada barisan murid yang duduk di depan Hyemi.


Sehun tidak berbohong saat mengatakan hal itu, dan Jong Il dengan santainya malah melambai ke arah gerombolan perempuan yang mengambil foto mereka secara diam-diam.


Sehun harus mengakui kalau Jong Il juga populer di kalangan murid perempuan. Anehnya gadis-gadis jaman sekarang berpikir bahwa image bad boy seperti Jong Il juga tidak kalah menariknya dari image pria baik-baik layaknya hero di siang hari.


Sudut bibir Jong Il yang melengkung dan lambaian tangannya saat tebar pesona tidak berlangsung lama. Hal ini membuat Sehun heran, dan setelah menyelidikinya, Sehun tahu kenapa Jong Il mengerutkan lehernya seperti kura-kura yang ingin bersembunyi dan membuang muka.


Soo Jung yang duduk di sebelah Hyemi menatap ke arah dua pria yang menjadi bintang utama di aula. Dia melotot dengan sikap posesif dan memberikan dua jari untuk menunjuk matanya dan kemudian menunjuk ke arah Jong Il dengan ekspresi mengancam.


'Aku melihatmu, awas saja kau!'


Sekujur tubuh Jong Il merinding ketika mendapat pesan seperti itu.


Diam-diam Sehun tertawa. Dia juga tidak mengerti kenapa sifat Jong Il yang genit tidak banyak berubah padahal pacarnya sedang duduk dan mengawasi seperti satpam. Sehun selalu berpikir kalau Soo Jung adalah gadis yang tangguh, bahkan ketangguhannya ini bisa menundukkan Jong Il yang dikenal sebagai anak nakal dan penggila wanita.


Jong Il mengumpat pelan karena kekasihnya yang masih melotot kearahnya itu terlihat seperti ingin menelannya hidup-hidup.


Sehun bahkan tidak menyangka kalau seorang Jong Il-si pembuat onar nomor satu di sekolah-akan tunduk hanya karena seorang gadis. Dimana keberaniannya saat menantang guru olahraga berbadan gempal waktu itu?


"Kayl, kau mencari masalah."


Sehun selalu memanggil nama Jong Il dengan nama lain saat ingin mengejeknya. Kayl adalah nama samaran yang selalu Jong Il gunakan saat berkenalan dengan wanita lain di luar sekolah. Untungnya saja Jong Il selalu menjaga sikap dengan tidak berhbungan terlalu jauh karena masih menghargai Soo Jung sebagai pacarnya.


"Biarkan aku bersembunyi di tempatmu." Jong Il memohon. "Pliss..." Dia bahkan menggenggam telapak tangan Sehun dengan aksen pengucapan yang buruk.


Perbuatannya ini mengejutkan Sehun dan membuatnya merinding. Keintiman seperti itu dirasa aneh untuk sebagian orang, terutama Sehun. Tapi Jong Il sudah kehilangan kewarasannya sampai tidak berpikir bahwa tindakannya sudah menarik perhatian beberapa orang.


Sebaliknya, Sehun mengkhawatirkan pikiran orang-orang yang akan menganggap serius tentang gosip yang mengatai dirinya menyimpang. Karena itu dengan sentakan keras Sehun menghempaskan tangan Jong Il dan mendorongnya untuk menjauh.


"Kau sendiri tahu Soo Jung itu mengerikan seperti penjagal. Terakhir kali dia berada di ruanganku, dia menghancurkan semua barang-barang berharga milikku. Apa yang membuatmu tahan mengencani gadis seperti dia?"


"Sialan, kau mengatainya penjagal?" Jong Il memprotes tidak terima. "Dia itu gadis yang lembut. Dan dia juga hebat saat berada di atas ranja-"


Sehun membungkam mulut Jong Il tepat pada waktunya. Omongannya itu bisa membuatnya berada dalam masalah. Hanya orang yang mencari mati yang membicarakan soal sex di sekolah dengan banyak pasang telinga. Bisa dipastikan itu akan merusak semua usahanya untuk membuat dirinya memiliki kesan baik di mata semua orang.


Setelah melihat anggukan tanda persetujuan dari Jong Il, Sehun segera melepaskan tangannya dan menggunakan lengan baju Jong Il untuk mengelap tangannya yang basah karena terkena ludah. Wajahnya sedikit menunjukkan ekspresi jijik.


Jong Il yang merasa punya pengalaman lebih dalam hal wanita tentu tidak mengerti dengan sikap Sehun selama ini. Kenapa lelaki yang digilai banyak wanita ini masih betah sendiri? Bukankah ini aneh jika tampang seperti Sehun masih menyimpan kemurnian di dalam dirinya?


"Kau tidak pernah mengerti. Sekali kau mencobanya kau tidak akan bisa berhenti. Kau harus tahu bagaimana rasanya tidur dengan seorang wanita."


Sebelum Sehun sempat membuangkam mulutnya, kalimat itu sudah meluncur bebas dari mulut Jong Il. Mata Sehun sudah melotot, sikunya sudah beberapa kali menyodok sisi perut Jong Il agar supaya tutup mulut, tapi orang-orang di dekatnya sudah terlanjur mendengar semuanya.


.


.


Nama Sehun masih tak henti-hentinya keluar dari mulut Bomi. Bahkan sejak mereka menginjakkan kaki keluar dari aula utama sepuluh menit yang lalu, Bomi sudah 17 kali menyebut nama Sehun.


"Aku penasaran kenapa Sehun tidak tertarik dengan gadis manapun di sekolah ini?"


Bomi masih saja mempertanyakan hal itu meskipun Hyemi sudah menjawabnya dengan ejekan kepada Sehun, si muka dua. Bahwa Sehun mungkin hanya tertarik dengan laki-laki.


Tapi lagi-lagi Bomi memberikan tatapan tidak suka ketika Hyemi menjelek-jelekkan idolanya.


Hyemi tidak peduli bahkan ketika mendapat komentar pedas dari Bomi yang mengatakan karena sifat jutek itulah semua laki-laki tidak mau mendekatinya. Kurang ajar sekali kan?


Hyemi merasa sakit hati. Lalu mendengus ringan.


"Tapi aku memang curiga kalau gosip yang mengatakan dia gay itu memang benar. Dan aku penasaran dengan orang yang bernama Xiao Lu, bukankah dia yang digosipkan dengan Sehun?"


"Apa sih bagusnya Sehun? Kenapa semua gadis menyukainya?"


Soo Jung berdecih saat kedua tangannya terlipat di depan dada. Hal itu membuat Bomi memiringkan kepalanya dan menatap Soo Jung dengan aneh.


"Bukannya kau tahu alasannya? Kau kan dulu juga menyukainya."


Hyemi ingin sekali tertawa, tapi situasinya sedikit menegang karena Soo Jung tiba-tiba saja menghentikan langkahnya dan menatap Bomi tajam. Hyemi memiliki firasat kalau mereka akan bertengkar lagi. Babak baru mungkin akan dimulai.


Hyemi penasaran apakah Bomi akan mendapat jatah cakaran Soo Jung atau tidak kali ini. Masa lalu Soo Jung adalah hal yang paling sensitif menurutnya. Hyemi tahu Soo Jung tidak suka siapapun membahas masalah itu, terlebih Soo Jung sudah mencoret nama Sehun dalam daftar incarannya. Sekarang Soo Jung sudah mendapat penggantinya, meskipun Hyemi tidak terlalu suka dengan pilihan Soo Jung.


Tatapan horor Soo Jung membuat Bomi pindah posisi. Tangan-tangan lentik Bomi mencengkeram bahu Hyemi dengan kuat, menjadikan tubuh sahabatnya itu sebagai perisai kalau-kalau Soo Jung melayangkan serangan mendadak.


"Apa kau tidak mau menemui Jong Il? Dimana dia?"


Pertanyaan Hyemi membuat Soo Jung berhenti untuk meremukkan jari Bomi.


"Tidak tahu. Aku tidak melihatnya sejak kita keluar dari aula."


Soo Jung membuang muka. Menahan geram saat mengingat kelakuan Jong Il yang selalu tebar pesona. Kenapa Jong Il bahkan tidak mau mengubah sikapnya untuk tidak lagi membuat masalah?


Hari ini Soo Jung dikejutkan dengan kemunculan Jong Il yang menghadiri pertemuan siswa dan guru dalam upacara singkat. Soo Jung tahu kalau Jong Il sekalipun tidak pernah menempelkan pantatnya di kursi aula, dia selalu menggunakan wakunya untuk tidur di ruang kesehatan. Tapi hari ini dia muncul dan langsung membuat masalah dengannya. Sepertinya Jong Il memang gatal ingin bermain-main dengannya atas matras.


"Kalian memang serasi sekali." Bomi tiba-tiba berkomentar. "Aku penasaran bagaimana kalian bergulat di atas ranjang dengan sikap liar kalian berdua. Seekor citah dan harimau, apa itu mungkin?"


Soo Jung mendelik saat memutar kepalanya melihat ke arah Bomi yang berani memprovokasi. Tapi kali ini Bomi mengabaikan reaksi Soo Jung yang seperti ingin mengunyahnya hidup-hidup. Entah dari mana keberanian itu, tapi menurut Bomi, sahabatnya itu tidak akan berani mengirimnya ke rumah sakit. Lagipula Soo Jung akan berurusan dengan ayahnya yang berprofesi sebagai seorang Jaksa, apa yang harus ditakutkan?


Tapi bukan hanya ayah Bomi saja yang bekerja di bidang hukum, ayah Soo Jung juga adalah seorang pengacara dan ayahnya tidak kalah hebatnya seperti ayah Bomi.


Biarkan mereka bertemu di pengadilan, Hyemi juga penasaran siapa yang akan menang.


"Aku yakin tidak akan ada yang selamat di kamar yang kalian tempati."


Dalam sekejab lengan Soo Jung sudah memiting kepala Bomi karena komentar itu, mengampitnya di bawah lengan dan membuat Bomi melengkingkan lolongan.


Pergulatan yang serius berubah menjadi candaan. Keduanya tertawa menikmati pertengkaran sementara Hyemi mengabaikan keduanya. Dia berjalan sendiri meninggalkan mereka yang sedang menikmati pertengkaran. Berdoa semoga seorang guru menyeret mereka ke ruang eksekusi karena terlalu berisik.


Hyemi tadinya ingin mengambil langkah menuju toilet, tapi dia pikir akan banyak gadis yang berkumpul dan mengeluarkan kalimat sampah. Bergosip di toilet sudah seperti pekerjaan wajib untuk para wanita. Seolah mereka membuat acara reunia untuk membicarakan temannya sendiri. Hyemi tidak mengerti kenapa itu harus dilakukan saat di toilet, apakah mereka tidak merasa jijik saat nongkrong bersama orang yang sedang membuang kotoran?


Namun mengambil arah lain tidak lantas membuat Hyemi merasa lebih baik.


Dia melambatkan temponya ketika melihat seorang seniornya berjalan ke arahnya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, berhenti untuk memikirkan apakah akan terus berjalan atau berbalik arah saja.


Tapi pria di seberang sana terlihat lebih bisa mengendalikan dirinya, kelihatannya juga tidak terbebani ketika diharuskan untuk berpapasan dengan Hyemi. Jadi ketika keduanya menghentikan langkah mereka, pria itulah yang lebih dulu berjalan mendekati Hyemi.


Dari jarak jauh seperti itu saja Hyemi mengakui kalau wajah seniornya itu masuk dalam kategori tampan, tapi garis wajah dan figurnya sangat tidak umum karena terlihat cantik. Itu belum dalam jarak dekat-yang biasanya membuat Hyemi mengeluh dan membatin, kenapa dia bahkan memiliki jari yang lebih lentik dariku?


"Hyemi,"


Hyemi berhenti. Bagaimanapun dia harus menunjukkan sikap sopan kepada seorang Senior. Benar kan?


"Kenapa?"


Pria itu hanya tersenyum, melirik sebentar ke arah kiri saat dua murid perempuan melewatinya. Bahkan seniornya yang tampan sekaligus cantik ini masih mendapat perhatian dari beberapa gadis. Mereka memberi salam dan pria itu membalas dengan sopan. Dan karena sikap sopan seniornya itulah yang membuat Hyemi tidak bisa membencinya. Ini membuat Hyemi kesal.


"Aku hanya penasaran sampai kapan kau memperlakukanku seperti ini."


"Aku sedang berusaha." Hyemi tidak mengerti kenapa saat dia berusaha keras untuk membenci orang ini tapi dia tidak bisa benar-benar membencinya. "Dan kuberitahu satu hal, aku senang karena kau mengambilnya sebelum aku semakin bergantung padanya."


Pria itu menyipitkan matanya. Membuat garis melengkung yang semakin cantik. Hyemi yakin seniornya mengerti maksud ucapannya, tapi tetap menolak untuk menanggapi hanya untuk menjaga sebuah rahasia. Ini memang patut untuk dirahasiakan atau seluruh sekolah akan menjadi gempar. Tapi apa dia harus tersenyum seperti itu? Kenapa Hyemi merasa seniornya itu seperti ingin menggodanya?


Hyemi menatap lurus pada pria berambut coklat di depannya. Berusaha untuk tidak terlihat menyedihkan karena pacarnya sudah diambil seorang pria-pria yang bahkan lebih lembut dari berbagai sisi tapi juga memunculkan aura jantan sebagai laki-laki-Hyemi tidak tahu harus bagaimana mendeskripsikannya. Yang jelas Hyemi harus menerima kenyataan bahwa mantan pacarnya itu adalah seorang gay-mungkin awalnya tidak, tapi sekarang iya-dan laki-laki di depannya itu adalah orang yang sudah memikat pria yang dulu menyandang status sebagai pacar Hyemi. Jadi bagaimana Hyemi harus memperlakukannya?


Hyemi tidak mau terlihat seperti orang bodoh dengan menangisi seorang pria yang nyatanya tidak tertarik dengan wanita.


"Ngomong-ngomong," ucap Hyemi kemudian. "Bagaimana hubunganmu dengan Chan Yool?"


"Kak...."


Seruan itu membuat Hyemi menoleh. Obrolan mereka terputus karena panggilan dari arah lain.


Mata Hyemi langsung melotot karena terkejut melihat Sehun berdiri dari arah berlawanan. Kenapa dia di sini?


Ekspresi Sehun terlihat tenang, berbeda dengan Hyemi yang kebakaran jenggot ingin cepat-cepat kabur dari sana.


Hyemi tidak mengerti kenapa Sehun selalu muncul di saat yang tepat. Contohnya saja hari ini, saat Hyemi berbicara dengan pria di depannya, Byun Bekyun.


.


.


.


TBC