
Karna tidak memiliki hal penting untuk dilakukan, Joan memutuskan untuk mengirim Erga pergi ke Universitas, sedangkan Olivia, dia perlu kembali ke Ibukota secepatnya untuk mempersiapkan beberapa hal sehingga dia tidak membuang lebih banyak waktu ditempat ini.
"Kasih kabar ketika kelas selesai". Ucap Joan setelah memarkirkan mobilnya.
"Hm.." Erga mengangguk setuju, memikirkan sesuatu, "Kemana Anda akan pergi setelah ini?" Tanyanya dengan tatapan curiga.
"Jangan melihat saya seperti itu, saya akan pergi menemui Rian. Sudah lama saya tidak melihatnya".
"Baiklah. Sampai jumpa, Saudara". Ucap Erga pelan, kemudian berbalik pergi menuju salah satu gedung dibawah tatapan orang-orang.
Erga sama sekali tidak memperdulikan apapun. Namun, suara tidak mengenakan gendang telinga terdengar, "Saudari, siapa orang yang mengirimu?"
Menghela napas pelan, Erga sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan yang diajukan oleh Inez.
Buang-buang waktu.
Melihat bagaimana Erga mengabaikannya, Inez menggertakan giginya kesal. "Saudari, kamu..."
"Erga, apakah itu saudara Joan?" Tanya Keysha menyela Inez.
Melihat betapa semangatnya Keysha, Erga hanya bisa menghela napas pelan. "Hm". Jawabnya.
Sambil meraih lengan Erga, "Benarkah? Jika, saya tahu itu dia, saya akan datang lebih awal untuk menyapanya. Betapa kurang beruntungnya saya". Ucap Keysha dengan nada sedikit menyesal.
Erga tersenyum geli melihat tingkahnya. "Masih ada banyak waktu".
Melihat bagaimana kedua orang itu tidak mempedulikannya, Inez akan meledak karna marah. Namun, melihat Keysha, dia segera memperbaiki gambarnya, dan dengan senyum manis dibibirnya, "Hallo. Apakah kamu temannya saudari Erga?" Ucapnya dengan hati-hati.
Mendengar perkataannya, Keysha menaikan alisnya. "Saudari?"
Keysha tentu tahu hubungan keduanya. Hanya saja, dia juga tahu bahwa Erga sudah bukan merupakan bagian dari keluarga Lovata, bagaimana gadis ini dapat mengucapkan kata saudari dengan begitu lancar? Seolah-olah dia sudah terbiasa dengan itu.
Berbeda dengan Inez. Dia sedikit bersemangat melihat respon Keysha. Menganggukan kepalanya, "Ya, ya". Mengulurkan tangannya, "Saya Inez Lovata".
"Ah". Mengangguk, tanpa mempedulikan uluran tangan Inez, Keysha mengalihkan atensinya pada Erga, kemudiam bertanya, "Apakah kamu masih menggunakan nama Lovata?"
"Tidak lagi". Jawab Erga santai.
Mendengar jawaban Erga, Keysha tersenyum. Atensinya dikembalikan pada Inez, memeriksanya dengan cermat, dia berkata, "Anda mendengarnya? Dia bukan lagi bagian dari keluarga Lovata Anda. Itu bukan hal yang baik jika Anda masih menyebutnya seperti itu. Anda harus tahu bahwa orang-orang akan mudah salah paham. Selain itu, buang semua pikiran Anda, Anda sama sekali tidak layak untuknya".
Dengan itu, Keysha segera menarik Erga dan pergi dari tempat itu sambil mengobrol beberapa hal dengan bahagia.
Berbeda dengan keduanya yang terlihat begitu bahagia, Inez ditinggalkan dengan wajah pucat dan gelap.
Dia tidak begitu mempermasalahkan ucapan Keysha diawal. Karna bagaimanapun juga, hampir seluruh siswa di universitas tahu tentang permasalahan keluarga Lovata. Hanya saja, kalimat terakhir dari Keysha benar-benar menamparnya dengan sangat keras.
Dia tidak menyangka bahwa Keysha dapat dengan mudah mengetahui isi pikirannya. Tapi, Wajah tampan pria itu terus menerus muncul dipikirannya. Bagaimana dia bisa menyerah dengan begitu mudah?
Melihat Keysha dan Erga dari kejauhan, Inez mengepalkan tangannya kuat.
"Ada apa?" Tanya Ardan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Terkejut, Inez segera mengubah ekspresi wajahnya, menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak apa-apa".
Melihat tatapan rumit Ardan, Inez segera menggandeng lengannya dan dengan senyum lembut dibibirnya, "Saya baik-baik saja. Ayo, jika tidak segera pergi, kita mungkin akan terlambat".
Melihat tingkahnya, Ardan dengan cepat tersenyum, mengusap rambut Inez dengan lembut, "Hm". Jawabnya.
Keduanya pergi bersama, melihat kedepan, senyum diwajah Ardan hilang digantikan dengan wajah dingin. Inez terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tidak dapat melihat perubahan pada Ardan.
Tidak tahu apa yang ada dipikiran Ardan, tatapannya tiba-tiba lebih dingin dan tajam.