Secret

Secret
24



Mendengar pertanyaan Keysha,  Erga mengerutkan keningnya, terdiam.


Pernahkah dia?


Pertanyaan ini cukup tiba-tiba.


Dia sendiri tidak yakin dengan dirinya sendiri?


Dia hanya pernah menjadi seorang yang tidak tahu malu hanya untuk memenuhi keinginan kakeknya.


Menggelengkan kepalanya pelan, sepertinya tidak pernah.


Dia melekat pada Ardan bukan karna dia menyukainya, tapi karna permintaan kakeknya. Saat itu, meski Ardan tidak menyukainya, dia masih menunjukan kelembutannya.


Hanya setelah kematian kakeknya, dia menghilang selama 5 tahun dan kemana dia pergi, hanya dirinya yang tahu. Dan ketika dia muncul kembali entah dari mana, dia kembali mendekati Ardan hanya untuk mencapai tujuannya.


Itu adalah murni untuk melihat sifat Ardan yang sebenarnya.


Itu sebabnya dia tidak pernah peduli dengan omongan orang-orang serta beberapa postingan buruk tentangnya di forum.


Erga tenggelam dalam pikirannya.


Melihat bahwa Erga tiba-tiba terdiam, Keysha mengerutkan keningnya, jadi apakah dia benar-benar menyukainya?


"Kamu.. apakah kamu..?" Keysha ragu-ragu untuk bertanya. Dia juga sedikit cemas menunggu jawaban Erga.


Tersentak dari pikirannya, Erga segera menggelengkan kepalanya, "Tidak". Jawabnya. Meskipun itu terdengar lembut, ada ketegasan yang menegaskan jawabannya.


Itu membuat Keysha menghela napasnya lega. Syukurlah. Ucapnya dalam hati.


Dibelakang, tidak jauh dari keduanya, Ardan tengah berdiri mendengar percakapan mereka dari awal sampai akhir.


Hari ini merupakan hari cukup sibuk bagi para mahasiswa..


Dengan status sebagai seorang senior politisi yang cukup terkenal, dia tidak seharusnya berada ditempat tersebut. Karena bagaimanapun, gedung dan kelas disetiap fakultas berbeda.


Namun, Karena hari ini merupakan hari di mana seorang ahli dari Ibukota datang berkunjung sekaligus memberikan beberapa pata kata, tentu mereka tidak bisa melewatkannya begitu saja.


Itu sebabnya Ardan terlihat di ruangan tersebut.


Namun, Inez tidak terlihat disisinya saat ini. Dia telah melepaskan Inez pergi ke kamar mandi agar dapat menenangkan dirinya dari keluhan.


Siapa sangka bahwa ketika dia sedang berusaha mencari kursi kosong, dia justru mendengar percakapan Erga dan Keysha.


Ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang dan itu cukup berisik.


Untuk dapat berbicara satu sama lain tanpa adanya kendala apapun, mereka diharuskan untuk sedikit mengeraskan suaranya. Hal itu menyebabkan Ardan dapat dengan mudah mendengar percakapan yang dilakukan oleh keduanya.


Awalnya, dia sama sekali tidak memiliki niat sedikitpun untuk menguping pembicaraan orang lain. Hanya saja, ketika namanya disebutkan, dia merasa bingung dan sedikit tertarik dengan percakapan keduanya.


Saat itu, dia memang menyadari bahwa sejak awal, dia cukup bias terhadap Inez, meski dia mengetahui segala hal yang dilakukan oleh Inez, dia hanya bisa menutup mata dengan acuh.


Dia tidak tahu mengapa dia begitu toleran terhadap Inez.


Atau mungkin, sikap Erga yang mengganggu membuatnya merasa bahwa Inez dapat diandalkan dibanding Erga?


Dia tidak tahu!


Dia hanya berpikir bahwa Inez cukup baik baginya dibandingkan dengan Erga. Namun, setelah pertunangan itu dibatalkan, entah kenapa dia merasa bahwa segala sesuatunya menjadi kosong.


Tidak ada lagi suara centil dan menyebalkan yang mengganggunya dan mengikutinya kemanapun dia pergi.


Detak jantungnya tiba-tiba melonjak ketika dia mendengar pertanyaan Keysha yang terakhir.


Entah bagaimana, dia secara tidak sadar mengharapkan jawaban positif dari Erga. Namun, harapan itu dipukul beberapa detik setelah muncul.


Dia tercengang beberapa saat, dan ketika dia kembali sadar, sedikit kilatan kekecewaan melintas dibagian bawah matanya yang redup.


Dia tidak mau mempercayai apa yang didengarnya. Namun, ketika dia mengingat kembali bagaimana sikap dan tatapan Erga terhadapnya, dia sedikit menunduk dengan senyum pahit dibibirnya.


Dia hanya tidak mengerti.


Mengapa seseorang yang dulunya selalu menunjukan cintanya secara menggebu-gebu, dalam sekejap menghilang begitu saja.


Dia tahu bahwa dia telah banyak membuat Erga kecewa. Namun, bisakah perasaan seseorang menghilang hanya dalam waktu yang begitu singkat?


Dan jika Erga benar-benar tidak menyukainya, maka perlakuan Erga terhadapnya sejak awal hanya sebuah pertunjukan semata?!


Lalu, apa tujuannya?


Memikirkan ini, Ardan tidak bisa tidak menekan pelipisnya.