
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam an, akhirnya Arsen dan kedua sahabatnya beserta kepala sekolah sampai di rumah disabilitas yang ada di Bandung.
Arsen menyempatkan mengobrol sebentar bersama anak-anak disana. Rasanya senang sekali bisa membantu anak-anak ini. Ia mengusulkan proposal penggalangan dana untuk rumah disabilitas ini agar mereka semua bisa mendapat perawatan yang lebih baik. Dan untungnya proposal itu disetujui oleh kepala sekolah.
Setelah penyerahan uang dan sesi foto selesai, Arsen mengantar beberapa guru serta kepala sekolah keluar gerbang. Arsen dan kedua sahabatnya akan kembali nanti karena mereka akan ke rumah nenek Arsen terlebih dahulu.
Setelah mobil yang membawa beberapa guru serta kepala sekolah keluar dari gerbang rumah disabilitas, Arsen menghampiri bu Lusi. Sedangkan Dimas dan Gilang sudah diajak bermain oleh anak-anak.
"Arsen, terima kasih ya. Ibu bersyukur bisa ketemu kamu" ucap bu Lusi ketika Arsen berjalan kearahnya.
Arsen membalas dengan senyuman lalu berkata, "Ibu gak perlu berterima kasih, Arsen akan bantu sebisa Arsen"
Hati bu Lusi menghangat mendengar ucapan Arsen. Bu Lusi bersyukur mengenal Arsen. Arsen adalah pemuda yang baik dan peduli pada sekitarnya. Belakangan ini, keuangan di rumah disabilitas tidak stabil karena anak-anak yang membutuhkan baju baru, mengingat baju lama yang sudah tidak muat lagi. Belum lagi untuk alat tulis beserta keperluan lainnya yang harus dipenuhi. Tapi dengan adanya bantuan dari sekolah Arsen, bu Lusi bisa menutup semua kebutuhan itu.
Arsen melihat ponselnya yang bergetar di dalam saku celananya. Ada panggilan dari papanya ternyata. Ada apa lagi papanya ini menelpon? Pasti membahas masalah pertunangan lagi. Arsen jadi malas menjawabnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus menjawab telepon itu agar papanya tak khawatir.
"Bu, Arsen angkat telpon dulu, ya" ucap Arsen yang diangguki oleh bu Lusi.
Arsen menjauh dari bu Lusi begitu panggilan telepon berlangsung.
"Ibu! Ibu!" Panggil Leo sambil berlari menghampiri bu Lusi.
"Jangan lari-lari, Leo. Nanti jatuh" peringat bu Lusi ketika melihat Leo yang berlari kearahnya.
"Hehehe, maaf ibu" cengiran Leo tunjukkan pada bu Lusi begitu ia tidak mengindahkan ucapan bundanya itu.
"Ada apa, sayang? Kok sampek lari-lari gitu" tanya bu Lusi sambil menyamakan tubuhnya dengan Leo.
"Ibu, lihat apa yang Leo bawa" ucap Leo sambil menyerahkan brosur pada bu Lusi. Bu Lusi pun menerima brosur itu dengan kerutan didahinya.
"Wah, apa ini?" Tanya bu Lusi lalu membaca sekilas isi brosur yang diberikan Leo.
"Ibu, ayok lihat kak Tantan nyanyi" ajak Leo dengan semangatnya.
"Leo dapat ini darimana?" Tanya bu Lusi begitu ia sudah membaca brosur yang dipegangnya.
"Dari kak Tantan" jawab Leo dengan polos.
"Kak Tantan?" Suara Arsen yang baru datang membuat bu Lusi menoleh.
"Halo, kak Sensen" sapa Leo dengan senyum manisnya.
"Halo, Leo ganteng" balas Arsen sambil mengelus rambut Leo.
"Ibu, ayok lihat kak Tantan" ajak Leo lagi karena tadi belum mendapat jawaban dari bu Lusi.
Sebelum bu Lusi menjawab, ia menatap Arsen sebentar sambil tersenyum.
"Leo, kalo lihatnya sama kak Sensen dulu gak papa, ya? Ibu gak bisa nemenin Leo. Kan ibu harus jagain temen-temen disini" jawab bu Lusi dengan lembut.
"Tantan itu siapa, bu?" Tanya Arsen yang bingung dengan pembicaraan Leo dan bu Lusi.
"Tantan itu panggilan sayang Leo buat Tania" jawab bu Lusi dengan senyumannya.
Arsen membulatkan matanya begitu mendengar jawaban bu Lusi. Tania? Apa yang dimaksud bu Lusi adalah Tania yang Arsen kira? Jika memang benar, maka Arsen benar-benar bahagia.
"Tania?" Bu Lusi mengangguk kembali. Arsen tak bisa menahan senyumnya. Senyum dari bibir tipis Arsen terbit seketika.
"Kak Sensen mau temenin Leo buat lihat kak Tantan?" Tanya Leo yang langsung membuat Arsen mengangguk.
Arsen mensejajarkan tubuhnya dengan Leo sambil berkata, "Leo mau gak ditemenin sama kak Arsen?"
"Oke. Besok kita nonton kak Tantan ya" Leo meloncat-loncat kegirangan mendengar jawaban Arsen.
"Horeeee!!" Arsen tersenyum melihat Leo yang bahagia akan bertemu Tania. Begitu pun dirinya yang tak sabar bertemu gadisnya.
"Leo main dulu ya sama temen-temen. Ibu mau bicara sama kak Sensen" Leo mengangguk lalu berjalan menuju teman-temannya.
"Tania kesini, bu?" Tanya Arsen yang diangguki oleh bu Lusi.
"Tania baru saja pulang saat kamu datang kesini" jawaban bu Lusi mengingatkan Arsen pada gadis yang tadi dilihatnya.
Tadi saat dirinya bangun dari tidur, Arsen melihat gadis yang dikenalnya sedang berdiri di depan taman, dekat dengan rumah disabilitas. Arsen jelas mengenali siapa gadis itu. Tapi rasanya seperti mimpi melihat gadis itu lagi. Sampai Arsen menajamkan penglihatannya.
Ternyata ia tadi tak salah melihat. Itu benar gadisnya. Gadis yang masih sangat ia cintai.
Setelah bermain dengan anak-anak yang ada di rumah disabilitas, Arsen dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke rumah neneknya Arsen.
Jarak dari rumah disabilitas ke rumah neneknya Arsen itu tak jauh, sekitar tiga puluh menitan.
"Napa lo Sen, senyum-senyum?" Tanya Gilang yang kini giliran menyetir.
"Gue pikir, ketemu sama Tania itu cuma mimpi. Ternyata tadi gue lihat Tania secara nyata" jawab Arsen masih dengan senyuman diwajahnya.
"Ketemu Tania?" Tanya Dimas yang tadinya ingin tidur jadi kembali membuka matanya lebar begitu mendengar ucapan Arsen.
"Tadi gue liat Tania di taman deket rumah disabilitas" jawab Arsen yang membuat kedua sahabatnya saling pandang.
"Kok gue gak liat?" Tanya Gilang yang diangguki oleh Dimas. "Iya gue juga gak liat"
"Gue cuma liat sekilas sih" jawab Arsen santai.
Ia tak ingin memberitahu kedua sahabatnya mengenai acara Tania. Ia ingin menyaksikan Tania lebih dulu baru ia bercerita pada kedua sahabatnya. Arsen hanya takut jika nanti ia gagal bertemu Tania. Nanti malah dikira ia belum bisa move on. Padahal nyatanya benar, Arsen belum bisa move on.
"Pantes aja senyam senyum sendiri dari tadi" ucap Gilang yang diangguki setuju oleh Dimas.
"Iya, siapa lagi yang bikin Arsen senyum-senyum kayak gitu kalo bukan Tania" sahut Dimas yang justru ditertawakan oleh Gilang.
Keempat sahabatnya tau bagaimana Arsen mencintai gadis bernama Tania itu. Mereka juga tau, bagaimana menderitanya Arsen ketika ia tak bersama gadis itu. Arsen bahkan selalu menyibukkan diri agar ia tidak teringat lagi pada Tania. Tapi takdir mempertemukan mereka kembali.
Arsen tak menyahut lagi ucapan sahabatnya. Ia sedang membayangkan wajah cantik Tania, gadis yang ia rindukan sejak lama.
*****
Malam ini bintang bertebaran di langit. Bulan sabit pun ikut turut serta menghiasi langit malam ini. Sunyi dan tenang menjadi suasana yang begitu jarang Tiara rasakan di daerah perumahan ini.
Kebanyakan semua orang selalu berlalu lalang menggunakan kendaraan pribadi untuk sekedar jalan-jalan keliling kompleks atau pun sekedar makan malam diluar. Tak pernah sepi dan tak pernah setenang malam ini.
Tiara melihat keadaan diluar dari balkon kamarnya, ia menikmati malam ini. Ketika dirinya sedang asik menikmati suasana malam yang tenang ini, tiba-tiba pikirannya tertuju pada pesan Arsen tadi siang.
Arsen mengirimkan pesan padanya untuk pergi membeli baju pertunangan mereka. Jujur, Tiara kaget membaca pesan itu. Tiara tak menyangka Arsen akan mengajaknya untuk memilih baju pertunangan mereka. Tiara kira, semua sudah disiapkan.
Tiara tersenyum begitu mengingat pesan itu. Tapi satu nama yang muncul di otaknya membuat ia kembali berpikir.
Tiara harus mengingat ucapan Kayla yang mengusulkan untuk membuat fake account. Sepertinya tak ada salahnya jika mencoba saran dari Kayla. Toh, ia hanya ingin tau saja.
Tiara masuk ke kamarnya dan menyalakan laptopnya. Ia akan mencoba saran dari Kayla. Setelah beberapa menit berkutat dengan laptopnya, Tiara tinggal menunggu konfirmasi dari akun Tania.
Tiara jadi berpikir, bagaimana jika Tania benar pacar Arsen? Apa ia akan melepaskan Arsen setelah mereka bertunangan? Lalu bagaimana dengan keluarga Arsen? Bagaimana nama baik keluarganya nanti jika ia batal menikah dengan Arsen. Tiara jadi tak tau langkah apa yang akan ia ambil nantinya.
To be continued...