Secret

Secret
Part 34



Tiara dan Arsen kembali memasuki sebuah toko begitu mereka sudah keluar dari toko kosmetik.


Siapa lagi pelakunya kalo bukan Tiara. Tiara mengajak Arsen untuk mampir di toko baju, tempat Tiara sering belanja.


Arsen yang hanya bisa menurut itu sering kali menghembuskan napasnya berat. Ia baru pertama kali belanja dengan waktu yang bisa dibilang lama. Sekarang saja sudah pukul sebelas. Mereka sudah menghabiskan waktu belanja satu jam lebih. Ini rekor bagi Arsen yang tak pernah berkeliling mall. Ia hanya membeli yang ingin dibeli lalu pulang. Beda cerita kalo cewek.


"Sen, bagus yang mana?" Tanya Tiara sambil menunjukkan dua baju yang berbahan hampir sama namun berbeda motif.


Arsen melihat kedua baju yang dipegang Tiara.


"Bagus semua" jawab Arsen yang tak tau harus memilih yang mana. Bukan bingung memilih yang mana, lebih tepatnya bedanya apa? Toh, sama-sama dipakai juga.


"Kok gitu sih" ucap Tiara sewot. Ia kan meminta saran dari Arsen tapi malah jawaban begitu yang ia dapatkan.


"Ya gimana? Kalo suka dua-duanya, ya beli semua. Apa susahnya sih? Dari pada bingung milih" Tiara menghela napas mendengar ucapan Arsen. Laki-laki tuh gitu. Kalo ditanya pendapat malah ambil jalur netral, menyebalkan.


"Ih sama aja boong nanya sama lo" ucap Tiara dengan sewot sambil mengembalikan baju yang dipegangnya.


Arsen yang melihat Tiara tak jadi membeli baju tadi jadi menghela napas. Cewek tuh kenapa ribet coba kalo belanja. Gak bisa apa kalo suka ya beli aja gitu. Gak usah pake nanya yang mana.


Arsen mengikuti Tiara yang berjalan melihat baju lainnya. Tiara juga sesekali masih meminta pendapat Arsen tentang baju yang dipakainya. Arsen tak masalah Tiara memakai baju apa saja, asal sopan.


"Jangan itu, Ra. Terlalu terbuka" ucap Arsen saat Tiara mengambil dress mini yang panjangnya diatas lutut Tiara jauh.


Tiara tersenyum simpul lalu mengembalikan baju yang dipegangnya. Entah kenapa ia senang jika Arsen berkata begitu. Itu tandanya cowok itu peduli pada kita bukan?


Arsen sudah pegal dari tadi mengikuti Tiara memilih baju. Ia juga bosan jika melihat gantungan baju dimana-mana. Rasanya ia ingin menunggu diluar saja.


Saat dirinya mengamati sekitar untuk menghilangkan rasa bosannya, Arsen justru teringat pada Tania. Bagaimana kabar gadis itu sekarang, ya? Ia jadi ingin mendengar suara gadis itu.


Arsen teringat akan foto dirinya, Leo dan juga Tania semalam. Ia belum sempat meminta foto itu pada Tania. Ia juga lupa meminta nomor Tania yang baru. Tapi, satu hal yang Arsen ingat dan menjadi kunci jawabannya. Bu Lusi. Bu Lusi mungkin bisa membantunya.


"Ra, gue tunggu di depan, ya. Gue mau telfon" Awalnya Tiara tak merespon. Namun setelah berpikir sejenak akhirnya Tiara mengangguk.


Arsen berjalan keluar toko sambil melihat ponselnya. Ia akan menelpon bu Lusi.


Tiara melihat Arsen yang sudah keluar dari toko. Mungkin Arsen bosan karena dirinya yang mengajak belanja terlalu lama. Tiara pun segera mencari baju yang ingin ia beli.


Saat melihat-lihat baju itu, suara seseorang yang tak asing baginya terdengar.


"Mbak yang kemaren, kan?" Suara seseorang yang berada di samping Tiara membuat Tiara menoleh.


"Eh, mas nya yang kemaren" Tiara tak menyangka akan bertemu cowok ini lagi.


"Hahaha... Kok bisa ketemu lagi ya mbak" tawa ringan dari cowok itu terdengar jelas di telinga Tiara. Sepertinya dia tipe orang yang humoris.


"Saya juga gak nyangka ketemu mas nya disini" jawab Tiara dengan kekehannya.


Tiara hanya tersenyum simpul pada cowok di depannya. Ia rasa ada yang aneh pada cowok ini.


"Eh, mbak nya disini sama siapa? Temen yang kemaren?" Tiara hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ohh.. jadi yang kemaren diganti hari ini gitu ya mbak" jawab cowok berhoodie hitam itu dengan kekehan.


Tiara tak menjawab, ia hanya tersenyum simpul.


"Belanjanya udah, Ra?" Pertanyaan dari Arsen membuat Tiara menoleh. Ia kaget tiba-tiba Arsen disini. Ia kira Arsen menunggu diluar sampai dirinya selesai belanja.


Tadinya Arsen sedang menelfon bu Lusi untuk meminta nomor Tania, agar dirinya bisa meminta foto semalam. Dan mungkin itu jalan baginya agar bisa kembali berkomunikasi dengan Tania. Tapi saat dirinya tak sengaja melihat ke arah Tiara, ia justru dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang menganggapnya musuh, Dion.


Ya, Dion ada bersama Tiara. Bahkan Arsen melihat mereka mengobrol. Arsen segera menutup telponnya dan menghampiri Tiara. Ia tak mau Dion bercerita atau pun melukai gadis itu. Masalahnya dengan Dion tak ada sangkut pautnya dengan Tiara.


"Loh, Arsen. Jadi temennya mbak ini, lo?" Tanya Dion yang Arsen yakini hanya basa basi semata. Mana mungkin Dion mendekati Tiara tanpa maksud tertentu.


"Kalian saling kenal?" Tanya Tiara yang kaget kenapa cowok yang dia temui kemaren bisa kenal dengan Arsen.


Dion mengangguk lalu berkata, "Kenal lah mbak. Orang Arsen ini temen saya. Jadi kemaren mbak nya nungguin Arsen? Kalo saya tau mbak nya nungguin Arsen mah, saya kasih tau mbak. Arsen kan kemaren ke Bandung"


Arsen memandang sengit Dion begitu mendengar ucapan cowok itu. Apa-apaan ini. Kenapa Dion berkata seperti itu pada Tiara.


Tiara yang tak mengerti maksud cowok itu hanya mengernyitkan dahinya sambil melihat ke arah Arsen yang kini hanya terdiam.


"Kita pergi dari sini, Ra" ucap Arsen pada Tiara karena tak mau Dion berbicara yang macam-macam pada Tiara.


"Kok buru-buru sih, Sen. Lo takut ya gue kasih tau mbak nya kalo kemaren lo habis nemuin cewek di Bandung. Siapa tuh namanya? Mila gak sih?" Arsen rasanya ingin menghajar Dion sekarang juga. Dion sepertinya sengaja menemui Tiara agar membuat dirinya dan Tiara bertengkar.


"Mila? Siapa Mila?" Tiara jelas penasaran siapa yang dimaksud oleh cowok itu. Ia bahkan tak kenal dengan nama yang diucapkan cowok itu.


"Mila itu siapa Sen? Saya sih gak begitu tau mbak mereka ada hubungan apa. Cuma kemaren saya liat Arsen di Bandung bareng sama cewek" Dion tersenyum miring pada Arsen yang kini memandangnya sengit. Jelas Arsen sedang marah karena ia mengatakan itu.


Tiara menoleh pada Arsen seolah meminta penjelasan. Ia tak mengerti kenapa justru cowok itu yang memberitahunya, bukan Arsen. Apa yang dikatakan cowok itu benar?


"Kita pergi, Ra" ucap Arsen sambil menggandeng erat tangan Tiara. Ia tak mau Tiara mendengar semua omong kosong Dion.


Dion yang melihat Arsen membawa pergi gadis itu jadi berpikir bahwa Arsen tak ingin rahasianya terbongkar. Mengingat wajah Arsen yang seperti kepiting rebus itu, membuat senyum miring di bibir Dion tercipta.


Ini bukan waktunya ia membalaskan dendamnya. Tapi dengan ini, ia bisa melihat Arsen yang akan membongkar masa lalunya sendiri.


Kemaren Dion mengikuti Tiara yang tak sengaja ia temui di taman. Awalnya ia hanya mencari udara segar saja, tapi justru dirinya diingatkan dengan foto Arsen yang berboncengan motor dengan Tiara. Ya, Dion sengaja mendekati gadis itu agar dirinya bisa menghancurkan menghancurkan hubungan keduanya. Dion merasa mereka bukan sekedar teman.


Dan tentang Dion yang bilang bertemu Arsen, itu karena temannya yang memberitahunya.


To be continued....