
Arsen mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Hari ini ia harus menemui kepala sekolah untuk membicarakan terkait acara penggalangan dana yang berlangsung beberapa hari lalu.
Tadi malam, Gilang menelpon Arsen dan memberitahukan tentang penyerahan dana itu. Arsen juga diminta untuk menemui kepala sekolah secepatnya agar bisa segera menyalurkan dana tersebut.
Tapi pagi tadi, Satria memarahinya karena tak sarapan sedangkan semalam Arsen juga tak makan di rumah. Jika diingat kembali, Arsen tak makan dari kemaren. Tapi ia tak merasa lapar, hanya sedikit pusing karena tak tidur dua hari ini.
Arsen melihat seseorang yang ia kenal baru turun dari motor sport hitam dengan plat yang sedikit familiar bagi Arsen. Motor hitam dengan plat AD itu berhenti menurunkan gadis yang dia kenal.
"Nanti kabarin ya, kalo minta dijemput" Tiara mengangguk menjawab ucapan Kaffa.
"Yaudah, masuk sana. Gue mau ngampus" Tiara kembali mengangguk lalu motor yang dikendarai Kaffa melaju meninggalkan sekolah Tiara.
Tiara berjalan memasuki kawasan sekolahnya. Ia tak mau diantarkan Kaffa sampai lobby karena kakaknya itu pasti akan tebar pesona. Tiara juga malas kalo harus menanggapi cewek-cewek yang merespon Kaffa.
"Tiara" Tiara menoleh pada sumber suara. Dilihatnya Arsen yang sudah ada dibelakangnya dengan motor sportnya.
Belum sempat Tiara menjawab, Arsen sudah melajukan motornya menuju parkiran motor yang ada disebelah parkiran mobil. Tiara pun memutuskan untuk menunggu cowok itu. Takutnya ada sesuatu yang mau dibicarakan oleh Arsen. Karena tak biasanya cowok itu menyapanya.
Arsen berjalan menghampiri Tiara begitu sudah memarkirkan motornya.
"Lo... Berangkat naik apa?" Tanya Arsen sambil memikirkan bagaimana bertanya tentang motor yang tadi mengantarkan Tiara. Tak sopan rasanya jika ia langsung bertanya.
"Gue? Naik motor" jawab Tiara sedikit bingung kenapa tiba-tiba Arsen bertanya begitu.
"Motor?" Melihat Arsen yang kebingungan itu, Tiara pun memperjelas ucapannya.
"Dianter naik motor, maksud gue" Arsen mengangguk sambil ber-oh ria.
"Sama siapa?" Arsen jadi bingung. Salahkah ia bertanya begitu? Atau ia terlihat berlebihan? Arsen hanya ingin tau siapa pemilik motor berplat AD yang dilihatnya tadi.
"Sama kakak gue. Kenapa emangnya?" Belum sempat Arsen menjawab, ada suara seseorang dari arah kiri mereka menyerukan nama Arsen.
Arsen dan Tiara menoleh pada seseorang yang berlari kecil menghampiri mereka.
"Kenapa, Ham?" Tanya Arsen begitu Ilham sudah berada diantara mereka.
Ilham tak langsung menjawab, ia menetralkan napasnya yang sedikit tersengal.
"Lo ditungguin bu Riska di kantor" ucap Ilham begitu napasnya sudah normal.
Bu Riska itu adalah guru yang mengurus keuangan di sekolah, termasuk keuangan yang diperoleh saat acara penggalangan dana kemaren.
"Jam segini?" Arsen tak menyangka sepagi ini ia harus mulai membahas terkait dana.
"Iya, jam sembilan kepala sekolah dateng buat bahas itu" Arsen pun mengangguk. Mau tak mau ia harus segera pergi menemui bu Riska. Bagaimana pun ini adalah tugasnya.
"Ra, gue pergi dulu" Tiara mengangguk lalu setelahnya Arsen dan Ilham pergi menuju kantor sekolah.
Tiara sedikit bingung kenapa Arsen bertanya begitu. Tak biasanya cowok itu menanyakan tentangnya. Tapi setiap melihat Arsen, Tiara selalu mengingat Tania. Masih terbayang jelas wajah cantik Tania. Tiara harus cepat melakukan sesuatu untuk membuktikan siapa Tania sebenarnya.
Tiara melihat kedua sahabatnya sudah berfoto ria ketika dirinya memasuki kelas.
"Pagi-pagi udah stok foto aja, ya" ucap Tiara sambil duduk di bangkunya.
"Hehehe.. pap ayang dulu dong, Ra" jawab Salma dengan cengirannya.
"Ya gitu, Ra. Mentang-mentang punya ayang" sahut Kayla yang justru diledek oleh Salma dengan menjulurkan lidahnya.
"Yang jomblo mah diem" sahut Tiara dengan kekehannya.
"Apaan situ aja dah gercep gitu" Tiara langsung menyentil pundak Salma begitu mendengar ucapan sahabatnya itu. Bisa gawat kalo ada yang dengar.
"Tuhkan, emang ember si Salma mah" sahut Kayla
"Ya maap, keceplosan" ucap Salma sambil menunjukkan cengirannya. Ia lupa kalau hanya dirinya dan Kayla yang tau masalah itu.
Dion jadi kangen pada adiknya itu. Ia sebenarnya sudah ada rencana untuk mengajak adiknya tinggal bersama di rumah tantenya tapi ia masih memikirkan bagaimana nanti jika Mila bertemu dengan Arsen. Ia takut adiknya itu masih menyimpan cintanya untuk Arsen.
Baginya Arsen itu brengsek. Orang terbrengsek yang pernah Dion temui. Bahkan ia akan melakukan apapun untuk membuat Arsen menanggung semua dosanya. Dion memang bukan Tuhan yang akan menurunkan karma, tapi Dion akan membuat karma sendiri untuk Arsen.
Baginya. Tuhan tak adil memberi hidup yang bahagia pada Arsen. Sedangkan ia dan adiknya harus hidup tanpa orang tua. Bahkan mamanya sampai gila karena papanya pergi untuk selamanya.
Dion membayangkan hidupnya yang sulit hingga tak menyadari teman yang ditunggunya sudah tiba.
"Sorry, gue anter adik gue dulu soalnya" ucap seseorang yang baru duduk dihadapan Dion.
"Santai aja" jawab Dion sambil melambaikan tangan pada pelayan cafe.
"Lo mau pesen apa?" Tanya Dion begitu pelayan cafe itu datang.
"Lemon tea aja satu" jawab cowok dengan jaket jeans biru yang langsung ditulis oleh pelayan cowok itu.
"Ada tambahan lagi, kak?" Dion menggeleng sambil menjawab tidak. Setelahnya pelayan itu pergi menyiapkan pesanan mereka.
"Gimana motor gue? Jadi lo ambil di bengkel?" Cowok di depan Dion itu mengangguk.
"Udah gue ambil kemaren. Udah gue cuci juga. Baik kan gue sebagai temen?" Ucap cowok itu sambil menaik turunkan alisnya.
"Hahaha... Iya-iya baik, iya deh" jawab Dion dengan tawanya.
"Lo harus bayar ke gue" canda cowok dengan tawa renyahnya.
"Gampang. Besok lo dateng aja ke rumah gue, kita pesta" ucap Dion yang dibalas anggukan setuju oleh orang didepannya itu.
*****
Jam istirahat kali ini, Kayla memutuskan untuk di kelas saja. Ia dibawakan bekal oleh sang mama. Tiara pun hanya membeli roti dan beberapa snack untuk dimakan di kelas.
"Kay" panggil Tiara begitu Kayla sudah menutup kotak bekalnya.
"Hm?" Tanya Kayla sambil memasukkan kotak bekalnya kedalam totebag.
"Enaknya gimana ya, biar gue bisa tau secepatnya siapa Tania" Kayla langsung melihat Tiara begitu mendengar topik yang dibicarakan.
"Lo coba buat akun fake aja. Siapa tau ada sesuatu yang bisa lo dapetin di postingannya" usul Kayla.
Tiara masih mempertimbangkan usulan Kayla.
"Masalahnya Kay, kalo mereka cuma mantan? Apa masih ada postingan yang menyangkut Arsen? Pasti kan gak bakal ada lagi" Kayla jadi berpikir jauh mendengar jawaban Tiara.
Benar juga apa yang dikatakan Tiara. Kalau mereka masih berhubungan pasti masih bisa dilacak. Tapi kalo sudah menjadi mantan, apa masih ada yang menunjukkan mereka pernah berhubungan?
"Ya juga ya, Ra. Gue gak mikir sampek situ sih" Kayla kembali memikirkan cara lain.
"Bahas apaan nih?" Tanya Salma yang baru kembali dari toilet.
"Itu, bahas Tania" jawab Kayla pelan. Tadi saat Salma pergi ke toilet, di kelas hanya ada Kayla dan Tiara. Saat Salma kembali, beberapa anak ada yang ikut masuk kelas juga. Kalau ada yang dengar agak kacau.
"Kenapa emang si Tania? Udah ketahuan dia siapa?" Tanya Salma yang kepo begitu mendengar nama Tania.
"Justru itu, Sal. Gue bingung gimana cara nyari tau siapa Tania" jawab Tiara dengan pelan.
"Iya juga sih. Buntu banget soalnya" balas Salma yang juga bingung memikirkan cara mengungkap siapa Tania.
Masalahnya, selama berpacaran dengan Rian, ia tak pernah mendengar berita Arsen berpacaran. Yang ada hanya gosip-gosip murahan dari fans alaynya Arsen.
To be continued...