Secret

Secret
Musim gugur, Dua tahun lalu.



Musim gugur, Dua tahun lalu.


Sehun membuka matanya dan merasa jengkel saat mendengar suara yang membuat waktu tidurnya terganggu. Dia pergi dari kelas dan datang ke ruang kesehatan untuk mendapatkan ketenangan, menjauh dari Kim Jong Il adalah tujuan utamanya, tapi sepertinya sekarang ada yang menggantikan posisi Jong Il yang terbiasa menggagu ketenangannya.


Ranjang yang di tempatinya berderit saat dia bangkit dan beralih ke sisi jendela. Matanya awas seperti mencari sesuatu dan hal itu dia temukan saat melihat dua wanita berdiri di bawah sana. Sehun tidak begitu jelas melihat wajah mereka, posisinya tidak memberinya kesempatan melakukan itu, jadi Sehun hanya bersandar di bingkai jendela sambil melipat kedua tangannya dan mengamati.


Acara gosip murahan rupanya.


Sehun bahkan tidak mengerti dengan mereka—para wanita—yang hobi membicarakan laki-laki di belakang. Selalu berkata manis di depan dan mengutuknya di belakang, itu persis seperti dua wanita yang dilihatnya sekarang. Sehun penasaran pertunjukan apa yang akan dia lihat kali ini? Mungkin pernyataan cinta lagi.


Sehun menahan langkah kakinya saat mendengar namanya di sebut, dia mengurungkan niatnya untuk pergi dan malah menikmati percakapan mereka.


Rupanya itu bukan mengenai pernyataan cinta, melainkan posisinya sebagai peringkat satu di sekolah yang nyatanya masih saja di pertanyakan. Alasannya sudah jelas karena Sehun lebih sering membolos dan hal itu sama sekali tidak mempengaruhi nilainya — terlebih peringkatnya. Siapapun akan menduga kalau Sehun berbuat curang, tidak hanya kali ini saja karena beberapa hari yang lalu juga tersebar gosip kalau Sehun menggunakan uang untuk mempertahankan posisinya.


"... banyak anak-anak mengatakannya juga."


Sehun melirik ke bawah. Melihat gadis bersurai gelap itu menyugar rambutnya dengan kasar.


"Berhenti membuat gosip, kau pikirkan saja nilaimu itu." Ucapan seperti itu sama sekali tidak membuat Sehun terkesan, sekalipun Sehun tahu gadis yang tampak kesal itu sedang mati-matian membelanya.


Tidak ada perdebatan lagi setelah itu karena gadis yang tampak membela Sehun tadi sudah berjalan meninggalkan satu temannya yang masih bergeming. Sehun meliriknya sekilas, dan tahu kalau gadis itu adalah salah satu teman sekelasnya—tapi tidak dengan teman satunya yang sudah lebih dulu menghilang.


Kedudukan selalu menjadi masalah utama, tuduhan dan kesalahpahaman tidak lepas dari hal tersebut, dan kalaupun Sehun bisa memilih dia lebih suka bertukar posisi dengan Bekyun yang hidup sederhana dan tidak pernah mencicipi sendok emas di dalam mulutnya. Rasanya itu lebih menyenangkan, sekalipun Bekyun harus merasakan susahnya mengumpulkan uang.


"Kelasku kosong, jadi kutemani saja kau di sini."


Bekyun berkata seperti itu dan menghilang lima menit kemudian, sekarang sudah hampir dua puluh menit dan Bekyun belum juga kembali saat mengatakan akan membeli cemilan. Ponsel sudah dalam genggamannya dan bersiap menghubungi Bekyun, tapi sesuatu mengalihkan perhatian Sehun. Di sana, jauh ke arah pagar pembatas di dekat pohon. Dua orang sedang mencoba melewati tembok pagar dan berusaha masuk ke halaman sekolahnya.


"Aku pasti sudah gila, setelah ini kupastikan aku tidak mau menemuimu lagi." Hyemi melompat ke bawah setelah puas mengomeli temannya yang meringis penuh kemenangan. "Aku bahkan akan meminta ganti rugi untuk sepatu baruku. Lihat ini jadi kotor," tambahnya, seraya menunjukkan sepatunya yang semakin usang karena cipratan lumpur. Padahal baru dua hari dia membeli sepatu itu dengan menyisikan uang jajannya.


"Baiklah, lakukan apapun. Yang jelas kita sudah sampai di sini, see?" Sulli merentangakan tangannya, menunjukkan keberadaan mereka yang berhasil sampai di halaman sayap kiri sekolah. "Aku berhasil membuat kita masuk sekolah ini tanpa satu orang pun yang tahu."


"Yah, dan kau harus menjaga baik-baik lehermu karena mungkin aku akan menebasnya kapan saja kalau sampai kegilaanmu ini membuatku dalam masalah."


Sulli menelan ludah, meraba lehernya dan merasakan lehernya benar-benar tidak nyaman karena ucapan Hyemi tadi. Dia tahu yang dilakukannya ini memang gila, bisa jadi kelakuannya akan mendapat hukuman dari pihak sekolah sedangkan sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian kelulusan SMP. Tapi tidak ada pilihan lain, pria yang ingin ditemuinya akan meninggalkan korea, begitu pun dengan dirinya yang akan terbang ke Kanada, dan mungkin ini kesempatan terakhirnya untuk melihat laki-laki itu.


"Sudah ketemu belum?" Melihat tubuh jangkung Sulli yang merunduk dan bertingkah seperti pencuri benar-benar membuatnya ingin melarikan diri sekarang juga. Kegiatan seperti mengintip kamar ganti laki-laki itu sangatlah memalukan. Dia yang sejak awal menolak ide gila ini pada akhirnya hanya berdiri mengawasi dengan masih memasang wajah suram. "Sulli, aku rasa dia tidak di sini. Kita kembali saja sekarang."


"Tidak. Aku yakin. Dia pasti di sana" Sulli berkata tanpa menghentikan kegiatannya. "Ohh, dia di sana, ayo cepat pergi! pergi, pergi, pergi!"


Belum sempat melayangakan protes, Sulli sudah lebih dulu menarik lengan Hyemi dan bersembunyi di balik tembok di persimpangan. Tidak lama gerombolan lelaki itu keluar dari ruangan dengan sudah mengenakan kostum basket yang tampak kebesaran. Salah satu dari mereka yang berpostur lebih tinggi memainkan bola basket di kedua lengan dan membuat Sulli terkesan.


"Tampan," bisik Sulli yang seperti ingin menangis dan tanpa sadar menggigit bahu Hyemi.


Hyemi memekik dan mendorong Sulli menjauh dari tubuhnya dan tindakan mereka langsung saja menarik perhatian orang lain. Sulli dan Hyemi di kejutkan dengan suara dari belakangnya. Sepertinya sedang menegur mereka yang sedang bersembunyi. Yang jelas seragam yang Sulli dan Hyemi kenakan menunjukkan bahwa mereka berasal dari sekolah yang berbeda, itulah yang membuat orang itu memanggil.


"Hakseng!"


"Lari, sekarang! Lari! Lari!" Sulli berkata dan menarik tangan Hymi. Derap langkahnya membuat gerombolan pria tadi menoleh ke belakang karena penasaran. Teriakan dari arah belakang yang Sulli yakini kalau dia adalah seorang guru masih saja bergemuruh di susut-sudut lorong. Tapi bukannya lari saat—akhirnya—berdiri di depan pria jangkung tadi Sulli malah berhenti.


"Annyeong haseyo sunbae." Sulli menunduk tiga puluh derajat, membuat gadis di sampingnya mendengus kesal.


"Sulli, timing-mu benar-benar...."


Hyemi tidak bisa melajutkan kata-kata umpatannya. Dia dibayangi masa depannya yang hancur hanya karena perbuatan konyol ini. Hyemi beralih ke pria di hadapan Sulli, berkata, "Sunbae, bisakah kau membantu kami menghalangi orang itu?"


Sulli menoleh ke arah Hyemi, lirikan mata yang mengungkapkan pertanyaan seperti 'apa yang kau lakukan?' dengan Hyemi yang membalas dengan tatapan, 'memangnya kau mau mendapat hukuman?'


"Terimakasih." Hyemi menunduk untuk memberi salam lalu menarik Sulli pergi dari sana, bahkan sebelum orang yang dimintai tolong itu menyetujui permintaannya.


Langkah Hyemi tidak disangka lebih cepat dari kaki panjang milik Sulli. Hyemi meninggalkan Sulli jauh di belakang, sesekali berhenti untuk mendukung Sulli agar berlari lebih cepat.


Hyemi berlari menyusuri lorong melewati beberapa murid yang menatap ke arahnya. Sesekali dia akan mengutuk tindakan Sulli yang menjerumuskannya ke dalam masalah seperti ini, tapi Hyemi juga mengatai dirinya sendiri bodoh karena mau saja mengikuti ide gila temannya hanya karena imbalan kupon makan gratis. Harusnya Hyemi menolak saja, bahkan dengan imbalan entraktirnya di hotel berbintang sekalipun. Karena Hyemi tahu, ketika dia mengikuti apapun yang dikatakan Sulli maka masalah baru akan terjadi.


Hyemi tidak menurunkan temponya saat berlari, bahkan saat berbelok di persimpangan dan membuat hidungnya hampir saja menyentuh lantai. Hyemi menyeimbangkan tubuhnya saat hampir terjatuh, dia melihar dua orang siswi menyingkir dari jalan dan Hyemi menunjukkan cengiran lalu melihat ke belakang dan melihat Sulli sedang menyusulnya.


Hyemi berlari dengan cukup kencang, kali ini dia berhasil mengontrol tubuhnya saat hampir menabrak seseorang, dengan reflek bagus Hyemi bisa menghindar. Pria tinggi itu sedikit menarik perhatian Hyemi. Tubuh tinggi dan kulit putihnya bagaimanapun terlihat mencolok. Tapi bukan waktunya Hyemi mengagumi fisik seseorang karena dia harus lebih dulu menyelamatkan diri.


Lalu samar-samar dia mendengar nama seseorang di panggil. Hyemi berhenti untuk melihat Sulli yang masih berusaha menyusulnya, lalu matanya melihat pria yang hampir di tubruknya tadi.


"Yoon Sehun!"


Pria itu melambaikan tangannya, lalu menoleh ke belakang —ke arah Hyemi — dan Hyemi tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya dari jauh.


.


.


Hari Minggu, pertengahan di bulan Oktober.


Sehun berusaha untuk tidak menjatuhkan ponselnya saat benda itu terapit bahu dan telinga kanan. Dia kesulitan ketika harus membuka botol, tidak ada waktu untuk mengeluh ketika mulutnya sedang berbicara dan meledek temannya di seberang telpon.


Sehun langsung memutus panggilan sebelum mendengar omelan Jong Il yang tidak jelas. Saat ponsel kembali berdering Sehun mengabaikannya, itu Jong Il yang masih saja gigih dengan terus menghubunginya seburuk apapun Sehun memperlakukannya.


Di sebelahnya, sehun dikejutkan dengan kemunculan seorang siswi dengan seragam sekolah. Sehun yakin kalau dia bahkan belum pikun untuk mengingat hari. Ini hari minggu, di mana semua sekolah di liburkan, semua siswa mungkin akan bermain di department store, menenuhi area game center atau setidaknya bermalas-malasan di rumah. Tapi pemandangan di sampingnya membuatnya kembali berpikir ulang, mungkinkah ada sekolah yang mengharuskan muridnya masuk di hari minggu? Karena seorang gadis di sebelahnya sedang mengenakan seragam sekolah, lengkap dengan tas dan sepatu saat Sehun menatapnya tanpa gadis itu sadari. Anehnya Sehun merasa seperti pernah melihatnya.


Ponsel terjepit diantara bahu dan telinga. Meletakkan cup ramyeon di meja, mengikat asal rambutnya dengan karet gelang yang melingkar di tangannya, mengeluarkan sumpit dari wadah. Gadis itu tidak menyadari kalau Sehun terus memandangi setiap gerakan kecil yang dia lakukan. Mungkin karena gadis itu terlalu asik berbicara di telpon — lebih tepatnya mengomel. Gadis itu tidak merasa canggung saat menoleh ke samping dan memergoki Sehun sedang menatap ke arahnya.


Gadis itu memalingkan muka begitu saja tanpa merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Sehun.


"Yi Fan?" gadis itu berkata—dengan ponsel yang masih melekat di telinga kanannya. "Bahkan namanya sangat aneh ... siapa yang perduli dia dari mana ... pokoknya aku tidak mau menuruti ide gilamu lagi, kalau kau memang mau menemuinya ya tunggu saja di depan sekolah, tidak perlu menerobos masuk seperti waktu itu."


Ahh! Sehun teringat saat menatap bayangannya di dinding kaca. Lalu sesekali dia kembali melirik gadis di sampingnya sambil tersenyum. Dia, gadis yang ditemuinya di lorong sekolah satu minggu yang lalu, yang menggunakan seraga berbeda dan meimbulkan gosip, katanya ada siswa yang menyusup ke sekolah. Itu adalah dia.


Hyemi mendengus, mengunyah gigitan sosis dari tangan kanannya. "Siapa lagi itu?" gadis itu bertanya saat temannya menyebut nama orang asing. "Yoon Sehun? Aku tidak kenal."


Sehun terkejut karena namanya di sebut. Dia meyakini bahwa wajahnya tidak pernah terpajang di berbagai media sosial. Sebenarnya Sehun tidak pernah memiliki akun seperti itu. Dia tidak pernah berpikir kalau namanya akan di kenali seorang murid dari luar sekolahnya.


Sehun tersenyum dan menunduk untuk menahan diri agar tidak terkikik.


"Apa maksudmu dengan mengatakan aku jelek? Dia mungkin saja akan tergila-gila padaku kalau aku mau mendekatinya. Itu karena aku ingin memberi peluang kepada kalian. Cih! Jangan mengejekku! Bagaimana kalau aku berhasil mengencani si Sehun ini? Apa kau siap memakan kotoran kalau aku memintamu? Jangan meremehkanku. Tunggu dan lihat, aku akan membuat Sehun yang kau maksud itu terpesona olehku." Hyemi memutus panggilan dan meletakkan ponselnya dengan kasar di meja. Dia mendengus sekali. "Seenaknya saja mengataiku tidak laku. Tunggu dan lihat sampai aku benar-benar menjadikan Sehun—atau siapapun itu—sebagai pacarku!"


Sehun bercih pelan dan berusaha meredam tawanya. Dia bukannya merasa tersinggung tapi malah tersanjung. Sebenarnya dia ingin tahu seperti apa gadis disebelahnya itu akan mewujudkan kata-katanya.


Hyemi sedang tidak mau membuat masalah. Pria di sebelahnya sepertinya sedang menertawainya, itu sangat tidak sopan, tapi apa yang bisa dia lakukan saat wajahnya yang tertawa membuat dirinya bergeming jatuh dalam khayalan. Dia baru sadar kalau orang di sebelahnya itu sangat menarik secara fisik.


Hyemi masih menatapnya dan Sehun tidak berhenti tersenyum. Dalam beberapa detik mereka tatapan mereka bertemu. Yang satu masih bergeming dan yang satu masih tidak bisa menahan senyum.


Sampai akhirnya Hyemi yang lebih dulu menutupi perasaan canggung. Dia menunjuk kimchi di depan Sehun yang masih menyisakan setengahnya. Sepertinya Sehun tidak menghabiskannya, jadi dia menunjuk dengan sumpitnya.


"Berikan itu padaku."


.


.


Hari senin, bulan Maret, di tahun ajaran baru.


Hari pertama memasuki SMA setelah libur panjang yang membosankan. Sehun tidak terlihat seantusias murid lainnya yang berlari-lari di sepanjang trotoar atau murid lain yang bertemu karena mereka satu sekolah dan mulai membicarakan kelulusan lagi. Sehun hanya berjalan begitu saja diantara orang-orang yang begitu bersemangat sambil menenteng tas di bahu kiri.


Sehun berjalan sendirian, Jong Il mungkin tidak akan datang di hari pertama. Anak itu membenci hari seperti ini. Akan ada sambutan dengan pertemuan siswa dan guru di hari pertama sebagai ucapan selamat atas di terimanya sebagai siswa dan siswi baru.


Tidak ada alasan bagi Sehun untuk tidak hadir, dia diharusnya memberikan sambutan, beberapa patah kata untuk mewakili ratusan murid baru yang di terima di sekolah itu. Kalau bukan karena dirinya berada di urutan teratas dalam ujian masuk mungkin Sehun juga akan membolos seperti Jong Il.


"Hey, Yoon Hyemi!"


Seruan itu entah kenapa membuat Sehun seperti mendapatkan kejutan listrik. Langkahnya terhenti. Sosok gadis dalam jarak lima meter berdiri di depannya dengan satu tangan terangkat ke atas. Sekali lagi, gadis itu menyerukan nama yang bagaimanapun menganggu pikiran Sehun, mungkin karena dia mendengar marga yang sama seperti dirinya. Penasaran. Sehun memutar tubuhnya, menoleh ke belakang bahkan sebelum dia sempat berpikir untuk melakukannya.


Hyemi yang berjalan dari belakang melambaikan tangannya ke arah Sehun — tepatnya arah gadis di belakang Sehun — dan Sehun merasa familiar dengan orang yang berlari ke arahnya.


Sudut bibir Sehun melengkung saat mengingatnya. Itu adalah ketiga kalinya dia bertemu dengan gadis itu. Tidak ada yang berbeda dari gadis yang di panggil Yoon Hyemi ini. Dia masih memiliki senyum yang sama, suara yang sama, aroma yang sama.


Dia juga murid baru di sekolah ini.


Sehun menunduk dan tersenyum. Berjalan diam-diam di belakang dua gadis yang sesekali tertawa, entah sedang membicarakan hal apa. Lalu dia mendengar namanya di sebut-sebut. Kali ini bukan sebagai pria yang ingin dijadikannya sebagai pacar, seperti yang pernah Hyemi katakan di telpon dulu, tapi ini soal Yoon Sehun yang menduduki peringkat satu di ujian masuk. Dan sangat menyebalkan karena bahkan keberadaannya tidak juga disadari oleh dua wanita di depannya, terutama Hyemi yang seharusnya mengingat siapa dirinya karena gadis itu pernah melihatnya dua kali.


"Hey, Yoon Sehun!"


Seruan itu membuat dua gadis tadi menghentikan langkahnya. Menatap ke arah lelaki mungil yang berada di depan mereka. Bekyun.


"Sehun?" gadis itu berbisik. Bukan Hyemi, karena gadis yang diharapkan menyebut namanya itu hanya bergeming sambil menoleh mengikuti gerak lincah Bekyun yang mendekati Sehun.


"Itu dia. Itu dia yang kumaksud. Benarkan, dia memiliki marga yang sama sepertimu." Temannya kembali berbisik di dekat telinga Hyemi.


Hyemi sudah terkejut dengan keberadaan Sehun di belakangnya, sekarang dengan pernyataan temannya yang nyata-nyata di sana ada orang yang selama beberapa hari ini selalu mereka bicarakan.


Sehun tersenyum ke arah Hyemi dan Hyemi langsung merasa ngeri. Jantungnya langsung berdentam karena ketampanan Sehun yang bukan main, tapi dia 100 kali lebih banyak merasakan rasa malu yang membuatnya ingin bersembunyi.


Jangan bilang, jangan bilang kalau dia mendengar semuanya.


Hyemi merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Dia lalu menarik lengan temannya dan cepat-cepat kabur dari sana.


.


.


TBC


160310