
Sore ini, angin berhembus lebih kencang. Daun-daun kering di pohon berjatuhan begitu angin menerpanya. Bahkan, langit yang tadinya biru berubah warna menjadi orange. Suasana senja hari ini menemani gadis cantik yang sedang duduk di taman sendirian.
Gadis dengan rambut yang sedikit berantakan karena terpaan angin itu sesekali melihat jam tangannya. Bahkan entah sudah berapa kali dirinya melihat handphone nya. Lebih tepatnya menunggu notif dari seseorang yang ditunggunya.
"Arsen kemana, ya? Kok udah jam segini belum dateng juga" gumam Tiara sambil meliarkan pandangannya. Siapa tau, orang yang ditunggunya sudah datang.
"Gue nunggu hampir dua jam masa dia gak dateng, ya" Tiara sudah menunggu Arsen sejak dirinya meninggalkan rumah sekitar pukul empat sore.
"Tadi temennya bilang, Arsen ada acara. Apa acaranya belum selesai, ya? Atau dia udah perjalanan kesini? Gue telfon pake gak bisa, lagi" Jujur Tiara sama saja dengan orang diluaran sana. Tak kuat menunggu seseorang dengan waktu yang lama. Apa lagi tanpa kepastian seperti ini.
Tadi sepulang sekolah, Tiara sempat menanyakan keberadaan Arsen pada Ilham yang sedang bersiap untuk latian futsal. Ilham bilang, Arsen ada acara. Tapi Ilham tak tau acara apa. Tiara juga tak bisa menanyakan lebih dalam lagi. Tiara tak tau harus mencari Arsen dimana. Ia sudah menelfon cowok itu berkali-kali, tapi tak ada yang terjawab. Bahkan sekarang, handphone Arsen sudah tak bisa dihubungi.
"Suntuk banget gue nungguin kayak gini. Kalo bukan demi papa, udah pulang kali gue" keluhan Tiara pun keluar begitu tak bisa menghubungi Arsen, lagi.
Tiara menghela napas sambil menguatkan dirinya sendiri. "Sabar, Ra. Mending jalan-jalan dulu biar gak suntuk disini trus"
Tiara pun berdiri lalu beranjak dari bangku taman yang tadi ia duduki. Tiara sesekali melihat handphone nya yang bergetar, siapa tau pesan dari Arsen.
Tiara melihat pemandangan yang ia lalui sambil sesekali memotret pemandangan yang indah itu. Langit senja dengan bunga warna warni di taman menjadi daya tarik tersendiri untuk Tiara. Tiara memotret keindahan bunga-bunga didepannya.
Saat dirinya sedang memotret langit sore ini, tiba-tiba ada yang menabraknya dari belakang.
Brukk
"Ehh sorry sorry mbak" ucap seseorang yang menabrak Tiara. Handphone Tiara dan handphone laki-laki yang menabraknya itu sama-sama jatuh.
"Iya mas, gak apa-apa" jawab Tiara sambil menerima handphone nya yang diambilkan oleh laki-laki yang tadi menabraknya.
"Sorry banget ya, mbak. Saya gak tau kalo ada mbaknya disitu. Handphone nya gak apa-apa, mbak? Kalo rusak saya ganti kok, mbak" ucap laki-laki dengan jaket jeans hitam serta kaos hitamnya.
Tiara tersenyum sambil menjawab, "Gak apa-apa, mas. Handphone saya gak rusak, kok"
"Saya jadi gak enak, mbak" Tiara tersenyum mendengar ucapan laki-laki di depannya ini.
"Oh ya, mbaknya sendirian disini? Atau lagi nunggu orang mungkin?" Tiara awalnya diam tak menjawab, hingga akhirnya ia pun mengangguk.
"Lagi nunggu orang, mas" jawab Tiara yang mendapat anggukan oleh orang didepannya ini.
"Wah, berarti kita sama mbak. Saya juga lagi nunggu temen saya, makanya sampek nabrak mbaknya karena terlalu fokus ngehubungin temen saya. Sekali lagi, maaf ya mbak" Tiara mengangguk menjawab ucapan laki-laki yang sedang tersenyum padanya itu.
"Santai aja, mas" Tiara tak masalah untuk itu. Handphone nya baik-baik saja.
"Oh ya, temen mbaknya udah on the way atau udah sampek sini? Saya gak enak kalo ganggu nantinya" Tiara jadi teringat kembali oleh Arsen. Dari tadi ia menunggu balasan pesannya, tapi tak kunjung dibalas oleh Arsen.
"Masih otw sih kayaknya" jawab Tiara yang mendapat anggukan dari laki-laki di depannya.
"Saya duluan ya, mas" ucap Tiara langsung pergi dari hadapan laki-laki itu. Ia sedang tidak mood membahas Arsen, orang yang ditunggunya disini selama dua jam.
Di tempat lain, Arsen perjalanan mengantar Tania pulang. Tadi sebelum pulang, Leo mengajak Tania untuk pulang bersama. Awalnya Tania menolak, tapi karena permintaan Leo akhirnya Tania setuju. Begitu mobil berjalan, Leo sudah tertidur dengan pulas di kursi belakang.
"Buat kamu, Na" Tania melihat setangkai bunga yang disodorkan Arsen padanya, mawar putih. Ya, bunga kesukaan Tania.
Tania tak langsung menerima bunga itu. Ia melihat Arsen dengan tatapan bingungnya.
"Sebagai tanda selamat atas acara kamu malam ini" lanjut Arsen diakhiri dengan senyuman manisnya.
Tania melihat Arsen dan setangkai mawar putih di depannya secara bergantian. Hingga akhirnya ia menerima bunga itu.
"Makasih" Arsen mengangguk mendengar jawaban Tania. Ia senang Tania menerima bunga darinya.
Arsen kembali menjalankan mobilnya begitu bunga yang ia beli diterima oleh Tania. Arsen ingat semua yang disukai gadis itu. Setangkai bunga mawar putih yang ia beli mengandung arti bahwa Tania lah satu-satunya gadis yang ia cintai.
Rasanya hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Arsen. Hari pertama ia bertemu langsung dengan Tania setelah hari itu.
"Kamu cantik, Na" puji Arsen masih dengan pandangan terfokus ke jalan.
Tania menoleh melihat Arsen yang berada disampingnya. Ia mendengar apa yang diucapkan Arsen, jelas sekali. Tapi dirinya tak ingin menjawab.
"Maaf ya Na, fotonya ke posting sama Leo. Aku ngerasa gak enak soal itu" Tania kembali melihat Arsen yang kini juga melihatnya.
"Gak apa-apa, Sen. Santai aja" jawab Tania dengan senyum teduhnya.
"Aku seneng bisa liat kamu lagi, Na" Arsen ingin Tania tau betapa senangnya ia bertemu gadisnya lagi. Bahkan senyum dibibir Arsen tak kunjung hilang.
"Kamu kok bisa liat bareng Leo?" Tanya Tania yang tak mengerti bagaimana Arsen mengenal Leo.
"Waktu Leo nunjukin brosur dari kamu ke bu Lusi, aku ada disitu" Arsen melihat kernyitan dahi di wajah cantik gadisnya.
"Kamu disana?" Arsen mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Kamu sering kesana?" Tania melihat Arsen sekilas lalu menggeleng.
"Jarang" jawab Tania singkat.
Tania mengangguk mengerti. Mungkin ini yang dikatakan takdir. Mau bagaimana pun cara Tania menjauh dari Arsen, takdir akan mempertemukan mereka. Dan hari ini, Tania kembali bertemu dengan masa lalunya. Baru kemaren dirinya bertemu dengan Mila, sekarang dirinya juga bertemu dengan Arsen.
"Maaf, Na. Aku belum bisa nepatin janjiku. Aku tau ini nyakitin kamu banget, tapi aku gak punya bukti untuk buat kamu percaya" ucap Arsen dengan suara sendunya.
Tania diam. Ia tak tau akan menjawab apa. Dihatinya, ia masih mencintai Arsen. Tapi otaknya membutuhkan bukti dari Arsen.
"Kalo waktu bisa ulang, aku gak akan datang ke tempat itu. Tapi sayangnya waktu terus berjalan" Tania masih tak mengeluarkan suaranya. Ia tak ingin larut dalam masa lalu lagi.
Mobil terus menyusuri kota Bandung malam ini. Arsen sesekali melirik Tania yang fokus melihat pemandangan luar.
"Aku berhenti di depan, ya" ucap Tania yang langsung mendapat kernyitan di dahi Arsen.
"Kok di depan? Aku anter sampek rumah" tolak Arsen
"Sampek depan aja"
"Ini udah malem, Na. Biar aman aku anterin kamu sampek rumah"
"Aku udah pindah rumah" jawaban Tania membuat Arsen mengalihkan pandangannya dari jalan ke mata teduh Tania.
"Pindah rumah? Sejak kapan?" Arsen tak tau perihal ini. Ia kira Tania masih berada di rumah yang lama.
"Sejak kamu pergi ke Jakarta. Jarak sebulan aku pindah" jawaban Tania membuat rasa bersalah dihati Arsen muncul. Jadi ini semua karenanya.
"Maaf, Na" hanya ucapan maaf yang keluar dari mulut Arsen. Hal yang tak ia perbuat membuat gadisnya kerepotan. Bahkan sampai gadisnya pindah rumah.
"Bukan apa-apa. Cuma males aja ketemu Mila dan dengerin semua yang dia omongin. Lagian, rumah disana dipake sama tante ku" jelas Tania. Arsen masih merasa bersalah karena Tania harus pindah dari rumahnya. Rasanya pasti berat, seperti dirinya dulu saat pindah ke Jakarta.
"Berhenti depan ya, Sen" Mau tak mau Arsen harus menuruti Tania.
"Kamu yakin berhenti disini? Aku anter sampek rumah aja, ya" tawar Arsen begitu mobilnya berhenti di pertigaan dekat toko roti.
"Iya, gak apa-apa. Rumahku deket dari sini" ucap Tania sambil melepas selt belt nya.
"Makasih, Na" ucap Arsen begitu Tania akan keluar dari mobil.
"Makasih untuk?" Tania tak mengerti maksud terima kasih yang diucapkan Arsen.
"Makasih udah ijinin aku liat kamu dan dengerin kamu nyanyi malam ini" Tania tersenyum lalu mengangguk. Ia segera keluar dari mobil Arsen.
"Makasih" ucap Tania begitu dirinya sudah keluar dari mobil. Arsen tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya menuju rumah disabilitas.
Setelah mengantarkan Leo, Arsen langsung berpamitan dengan bu Lusi. Ia takut sampai rumah kemalaman. Ia sudah janji juga pada teman-temannya untuk ikut acara bakar-bakar di basecamp.
Arsen memacu mobilnya dengan kencang. Tak sampai dua jam ia sudah sampai di rumahnya. Ia ingin merebahkan tubuhnya lebih dulu sebelum berangkat ke basecamp.
"Kamu udah pulang, Sen?" Suara sang papa membuat Arsen berhenti. Ia sampai tak menyadari kalau papanya duduk di ruang tengah.
"Ya kelihatannya, pa" jawab Arsen sambil memeriksa handphone nya yang mati. Sepertinya handphone nya benar-benar kehabisan baterai.
Evan terkekeh mendengar jawaban anaknya.
"Trus gimana bajunya? Udah dapet?" Mendengar pertanyaan papanya, Arsen seketika kaget. Ia lupa soal baju.
Tanpa berkata lagi, Arsen berlari menaiki tangganya, mengundang pertanyaan di benak Evan.
"Kenapa Sen!?" Teriak Evan yang tak dapat jawaban dari Arsen.
Selang beberapa menit, Arsen kembali turun dari tangga sambil berlari.
"Arsen keluar, pa" ucap Arsen dengan buru-buru.
"Mau kemana lagi, Sen?!" Teriak Evan begitu melihat Arsen yang berlari keluar dari rumah.
Arsen memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Tiara. Ia sungguh lupa perihal baju itu. Arsen jadi merasa bersalah pada Tiara. Pasti gadis itu menunggunya tadi.
Arsen mencharger handphone nya dengan power bank yang tadi ia ambil di rumah. Arsen mencoba untuk menelfon Tiara.
"Angkat dong, Ra" Arsen berdecak begitu telfonnya tak kunjung diangkat oleh Tiara.
Jelas gadis itu pasti marah padanya. Arsen benar-benar lupa dengan janjinya pada Tiara. Ia terlalu menikmati waktu bersama Tania hingga ia melupakan handphone nya.
Arsen melihat tujuh panggilan tak terjawab dari Tiara serta sepuluh pesan yang membuktikan bahwa Tiara menunggunya. Arsen jadi merasa bersalah pada gadis itu.
**To be continued....
Ditunggu kelanjutannya ya kakakš¤author sedang mencari inspirasi untuk membuat kalian semangat membaca cerita ini.
Author menerima saran atau permintaan kalian buat scene selanjutnya lhoš¤**