Secret

Secret
37 : Senjata



Setelah kejadian dimana Rion mengaku bahwa ia adalah seorang yang memiliki simbol Asher pada Jun. Semua kembali bejalan seperti biasa.


Rion yang kembali jahil pada Max dan selalu menggoda Dimas. Sementara Jun, si muka datar itu tidak mengalami perubahan apapum, masih datar dan tenang seperti biasanya.


Sejujurnya Max sangat penasaran akan sikap Rion yang lalu, tapi saat melihat Jun yang seolah mengkode agar dia tidak menanyakan apapun pada si netra hitam kelam, membuatnya harus menelan semua kalimat yang telah di susun dengan sempurna dalam benaknya.


" JUNN!.." Itu suara seorang memanggil Jun dengan penuh semangat. Seorang yang tidak tau sopan santun karena tidak mengetuk pintu dan langsung menerobos masuk. Juga seorang yang tanpa rasa malu langsung menghampiri Jun dengan pose ingin memeluk si muka datar, jika bukan karena Rion menahan sosok yang di panggil Kenan itu, mungkin sekarang Jun sudah di peluk oleh si surai pirang.


" Apa-apaan!" Rion berucap kesal saat Kenan mencoba memberontak darinya, terutama cara memberontak si pirang cukup unik, yakni mengigit lengan Rion.


" Apa kau titisan tupai gila?! Kenapa suka mengigit!" Kata Rion lagi saat Kenan terus mengigit lengannya, setaunya Kenan itu ras undead bukan ras pengerat. Sementara yang di tegur hanya menunjukan senyum tanpa dosa, seolah dia adalah malaikat paling suci di surga yang belum pernah melihat kejamnya neraka. Uhuk..


Di tengah ekspresi merengut Rion, seorang gadis dengan surai merah dan sosok yang membuntutinya terlihat memasuki kamar Jun, setidaknya kedua orang itu lebih sopan karena si surai merah mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Kau harus sabar-sabar dengannya, Rion."


" Temanmu ini tidak punya gigi ras pengerat, bukan juga bagian dari ras itu. Tapi kenapa suka mengigitku!" Misuh Rion lalu duduk di sebelah Jun sambil melotot ke arah Kenan.


Harus Max maupun Dimas akui bahwa hanya Kenan seorang yang bisa menguji kesabaran di netra hitam kelam. Keduanya juga bersyukur atas adanya Kenan, karena Rion jadi tidak menjahili mereka. Sebab fokus Rion akan terarah ke Kenan, sehingga melupakan niat jahilnya pada Max atau Dimas.


" Aku juga tidak tau kenapa dia suka mengigit seperti itu, ini pertama kalinya," aku Ayna lalu duduk di sofa santai begitupun Julius, meski si biru tidak terlihat sesantai teman bar-barnya.


" Entah kenapa ketika Rion menghalangiku mendekati Jun, gigiku terasa gatal dan ingin menggigit sesuatu," ucap Kenan masih dengan nada dan ekspresi tanpa dosa miliknya. Betapa tidak tau malunya ah!


" Jadi apa yang membawa kalian kemari?" Dimas berucap penuh tanda tanya sambil membenarkan letak kacamata bulatnya. Dengan pertanyaan itu pula perdebatan atas kenapa Kenana suka mengigit Rion teralihkan.


Ayna tersenyum lebar lalu menjelaskan akan alasannya datang kemari. Memang selama ini di antara ketiganya, yang bisa keluar masuk dengan semena-mena adalah Kenana dan Julius. Ya, meski Julius hanya berani datang jika ada Kenan bersamanya. Sementara si gadis bar-bar jarang ikut berkumpul.


" Seminggu lagi akan ada pertandingan tim, itu sudah di umumkan limabelas menit yang lalu sebelum aku pergi ke sini bersama Liu."


" Lalu?" heran Max.


" Hanya ingin bertanya apa kalian mau setim dengan kami.." jelas Ayna yang membuat Max mengangguk, lalu anak ayam itu menatap Jun. Jun yang mendapat kode rahasia Max hanya mengangguk pelan tanda tau.


" Sebelumnya, apa kau dapat bocoran atau semacamnya hingga cukup percaya diri tuk mengajak kami dalam tim. Kalian tau Jumlah tiap tim dalam pertandingan nanti?" Cerocos Rion yang membuat Ayna gemas.


" Aku tidak dapat bocoran apapun, tapi untuk rencana awal jika jumlah anggota tim bisa bertujuh atau lebih." Terangnya yang membuat Rion mengangguk paham.


" Aku tidak keberatan jika Jun mau," ucap Rion cuek.


" Jun pasti mau!" Max berucap penuh keyakinan, Jun sendiri mengaguk sebagai tanggapan. Rion yang melihat betapa patuhnya Jun pada Max tidak mampu berkata-kata lagi.


" Dimas mau kan?" Tanya Max yang di balas anggukan oleh Dimas, sebenarnya ia tidak keberatan masuk tim manapun, tapi akan lebih baik bisa setim dengan orang yang ia kenal.


" Tapi kita tidak bisa menutup kemungkinan kalau anggota tim akan di acak oleh panitia," terang Dimas mengingatkan.


" Kami tau, ini hanya rencana.."


" Membahas tentang pertandingan tim, ada satu hal yang penting untuk setiap individu.." ucap Julius penuh keseriusan.


" Senjata?" Tebak Rion tepat sasaran.


" Benar, apa kalian sudah punya senjata?" Ucap Ayna sambil menatap Dimas, Max, Rion dan Jun bergantian.


" Aku sudah punya, senjataku tongkat sihir.." jawab Dimas tenang. Lalu Ayna menatap Max, Rion dan Jun.


" Senjata kami..." perkataan Max terpotong oleh suara ketukan pintu. Sponta saja Max melirik Rion, ia memberi kode pada kawannya itu untuk membukakan pintu dan dengan cepat pula Rion langsung berdiri dari posisi duduknya lalu membuka pintu kamar.


Setelah pintu terbuka, sosok pria yang amat ia kenal itu muncul dengan senyum ramah yang biasa. Orang itu Felix, ketua pembimbing itu memasang wajah sedikit terkejut karena melihat betapa ramainya kamar Jun. Sekarang ia percaya bahwa perkataan Max yang mengatakan bahwa kamar Jun berubah fungsi jadi basecamp memang benar adanya.


Dimas sendiri tidak terlalu terkejut karena ia sudah lama tau bahwa ketiga temannya itu bukan orang biasa.


" Sesuatu terjadi?" Kejut Max, karena setaunya Felix tidak pernah mendatangi mereka secara langsung bila tidak ada keperluan penting.


" Masuk.." ucap Rion memotong kalimat yang ingin Felix sampaikan.


Setelah masuk ke kamar.. Maksudnya, basecamp. Felix langsung mengatakan alasan kedatangannya yang di untus oleh Dean untuk menyerahkan senjata yang mereka pesan.


" Paman Zaidan sangat hebat!" Puji Max, karena menurutnya sangat luar biasa bisa membuat tiga senjata dalam waktu secepat ini.


" Dalam cincin ruang ini ada senjata kalian dan beberapa barang yang Zaidan kirim untuk Max." Felix menyerahkan sebuah cincin ruang pada Jun yang langsung di terima oleh si empu dan di rebut oleh Max.


" Luar biasa!" Seru Max dengan mata berbinar. Rion dan Jun tidak berkomentar apapun saat si anak ayam mengeluarkan tiga senjata yang di buat oleh Zaidan. Yakni, pedang tipis, tombak dan tongkat sihir yang nampak sangat elok itu.


Pedang tipis itu nampak sangat rapuh, tapi Max bersumpah bahwa ketajamannya tidak bisa di baikan. Max juga takjub akan pola unik yang menghiasi pedang, jika di perhatikan lebih teliti pula, akan ada tulisan kata 'Jun' di sana. Setelah puas mengagumi pedang milik Jun, Max langsung menyarungkan kembali pedang itu ke sarung pedang yang memiliki warna hitam.


Tombak milik Rion juga tidak kalah kerennya. Tombak itu bewarna hitam dengan pola emas membetuk gambar naga nampak sangat agung dan tiran. Max yang membayangkan Rion menggunakan tombak ini membuatnya hampir mimisan karena di rasa Rion terlihat sangat gagah.


Untuk tongkat sihirnya sendiri. Max tidak mau berkomentar banyak, tapi intinya tongkat sihirnya sangat luar biasa, lebih elok dari pedang milik Jun dan tombak milik Rion.


Felix sendiri hanya bisa nenggeleng pelan atas ke-antusias-an Max. " Sepertinya Zaidan tau kalau kalian akan mengikuti pertandingan tim jadi membuat senjata kalian dengan kecepatan penuh.." ucap Felix sambil terkekeh pelan.


" Paman Zaidan memang terbaik!" Hanya kata itu yang bisa Max ucapkan untuk memuji kehebatan Zaindan. Rion pun mengangguk sebagai tanggapan, lalu matanya terfokus ke arah tombak yang Zaidan buat untuknya dengan penuh kepuasan.


Karena memang tidak ada yang bisa ia bahas lagi dengan ketiga orang yang di ramalkan itu. Felix langsung ijin undur diri.


Setelah kepergian Felix. Ayna, Kenan dan Julius langsung menatap ketiga sekawan dan Dimas secara bergantian, seolah meminta penjelasan atas kedekatan mereka dengan Felix.


" Kurasa Assasin-mu perlu banyak belajar, Ayn." Rion berucap sambil menepuk bahu si gadis bar-bar itu pelan. " Bagaimana bisa Kenan tidak mendengar kabar bahwa kami bertiga adalah murid yang di rekomendasikan langsung oleh pentua Dean? Assasinmu kurang update!" Lanjutnya dengan nada pura-pura kecewa.


Meski terkejut, Ayna tidak terlalu damatis seperti Kenan dan Julius, setidaknya ia bisa mengontrol raut wajahnya saat tau fakta mengejutkan itu.


" Tidak heran mereka jadi anak yang menonjol di generasi muda, ternyata individu yang di rekomendasi pentua Dean.." batin Ayna.









Bersambung.


Makasih yang udah setia baca cerita Laysa sampai sejauh ini. Laysa cinta kalian, unch😘


Maaf juga kalau ada kekurangan dalam cerita dan typo masih menyerang dengan ganas layaknya negri api.. Laysa masih harus banyak belajar. Jadi mohon bimbingannya:'v


Mungkin cukup sekian, sampai jumpa di chapter selanjutnya.


Bye❤