
Suasana Tim Bintang Berjajar menjadi tegang kala mendengar perkataan Jun, dimana si muka datar mengatak kalau tim yang berada di sebalah barat tengah berada di ambang kematian, itu membuktikan kalau tim itu melawan seekor naga yang sangat tangguh.
Tapi, setangguh apa sampai tim yang terdiri dari sembilan orang bisa sampai terpojok seperti itu?
"Haruskah kita menolong mereka?" Fiera berucap pelan, mata bulatnya menatap Jun yang belum memberi intruksi selanjutnya.
"Bukankah sebelum kita ke Lembah Naga kita di beri kertas segel teleportasi? Kenapa tim itu tidak menggunakannya?" Heran Max. " Berarti tim itu terlalu arogan saat melawan naga yang belum mereka ketahui tingakat kekuatannya hingga mereka jatuh ke perangkap naga, atau mungkin naga itu menyerang tim secara dadakan hingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk melawan maupun menggunakan kertas segel teleportasi."
"Kita pergi ke sana!" Ucap Jun pada akhirnya sambil berlari dengan kecepatan seorang vampir menuju ke arah barat di ikuti anggota tim yang lain.
Sampainya di tempat pertempuran tim lain dan seekor naga itu. Mata para anggota Bintang Berjajar terbelak kala melihat betapa hancurnya daerah sekitar tempat kejadian.
Banyak pohon tumbang, tanah di sekitar tampak retak dengan penuh lubang dan aroma darah tercium dengan jelas di indra penciumannya yang tajam.
Jun juga bisa melihat delapan orang tengah terkapar tidak berdaya dan seorang gadis tengah bertarung dengan putus asa dengan sang naga. Seperti yang Max duga, tim itu tidak punya kesempatan untuk mengeluarkan kertas segel teleportasi.
Melihat kejadian itu pula, spontan Jun langsung mengeluarkan pedang tipisnya dari cincin ruang dan langsung menyerang sang naga yang tengah mengamuk.
Rion dan Max yang tanggap pun langsung mengeluarkan senjata mereka dari cincin ruang dan langsung menyerang sang naga. Sementara anggota tim yang lain menyelamatkan delapan orang yang tengah terkapat tidak berdaya atas intruksi Dimas.
"Jun!?" Gadis itu berucap kaget saat melihat sosok yang membantunya. Jun dengan sekuat tengah mencoba menyerang setiap titik lemah sang naga saat ada kesempatan.
Gadis itu masih ingat jelas saat tim mereka tengah terpojok, ada tim lain yang lewat. Namun tim itu tidak mengulurkan bantuan pada mereka, mungkin karena melihat naga yang di hadapi sangat tangguh hingga tidak mau ambil resiko. Tapi tim milik Jun, mereka..
"Kau mundur!" Ucap Jun bertepatan dengan sosok Rion dengan tombak kesayangannya mengenai ekor naga yang membuat si naga semakin mengamuk.
"Kurang asam! Kulit naga terlalu keras!" Seru Rion dengan wajah frustasi, kini ia tau asalan tim itu dapat kekalahan telak. Naga ini terlalu kuat!
"Max, serang dengan elemen api!" Teriak Rion yang di balas anggukan oleh Max, tak lama bola api yang menyala-nyala mengenai kepala sang naga membuat mahluk itu terpaksa mundur.
"Cepat!!" Kata Jun lagi.
"Naga itu memiliki elemen tanah, hati-hati..." ucap gadis itu sebelum mundur menuju tempat teman-temannya berada. Jun mengangguk sebagai tanggapan lalu memberi kode pada kedua temannya.
"Jadi elemen tanah ya," batin Max dan Rion bebarengan. Perlu di ingatkan bahwa ketiga sekawan itu punya cara komunikasi yang unik, yakni bisa mengerti apa yang ingin di katakan hanya dengan pandangan mata saja.
Max pun memberi kode mata yang mengatakan, " Apa aku perlu menggunakan elemen tanah juga?" Yang di balas gelengan kepala oleh Jun. Ini terlalu membuang tenaga Max, sementara anak itu adalah pilar mereka, jadi jika Max terluka atau kehabisan tenaga maka keduanya bisa kalah.
"Menyerang balik dengan elemen tanah? Itu terlalu memakan banyak tenaga, apa lagi bila naga ini memiliki elemen tanah lebih kuat. Biar Rion saja yang bertugas menyerang, kau hanya perlu menggunakan sihir penyembuh dari jauh," kata Jun dengan kode mata yang di balas anggukan oleh Max, lalu anak itu mundur sedikit jauh dari tempat sang naga. Matanya terus mengawasi Jun dan Rion.
"Rion, gunakan elemen air saat kau menyerang naga itu!" Perintang Jun menggunakan kode mata. Rion yang melihat kode mata dari Jun pun langsung mengeluarkan elemen airnya dan mempusatkan energi elemen ke tombaknya lalu menyerang sang naga dengan ganas.
Jun pun tidak mau kalah, ia terus menyerang sang naga untuk mengecoh fokus sang naga.
Sementara itu, tim Bintang Berjajar dan tim yang di tolong tadi hanya menatap ketiga sekawan itu dengan kagum. Bahkan tanpa bicara pun ketiganya memiliki harmoni yang luar biasa. Ini memang kekuatan sahabat sejati!
" Mereka bertiga sangat kuat!" Ucap salah seorang dengan mata penuh pujian di sana.
Dimas pun menatap ketiga temannya yang tengah bertarung itu dengan senyum di bibirnya. " Ini belum seberapa, mereka lebih kuat dari yang kalian tau," katanya yang membuat semua orang menoleh ke arahnya dengan ekspresi penuh tanya. Tapi sepertinya Dimas tidak ingin menjelaskan lebih lanjut dan memilik menyembuhkan anggota tim yang terluka.
" Jika begitu, mereka bisa membuat tim Bintang Berjajar jadi juara pertama dalam pertandingan tim," batin Ayna sambil menatap Jun, Max dan Rion bergantian.
Julius dan Kenan yang melihat kilatan penuh ambisi Ayna hanya menggelengkan kepalanya ringan, mereka tidak bisa terlalu berharap pada Jun, Rion dan Max, karena ketiganya nampak tidak terlalu tertarik menjadi pusat perhatian banyak orang.
Julius sendiri masih ingat akan Rion dan Jun yang memiliki wajah tidak tertarik akan Pertandingan Tim, dengan itu Julius menduga bahwa jika bukan karena pertandingan tim ini wajib, maka keduanya tidak akan ikut.
Lalu ia melirik ke arah Dimas yang nampaknya juga tidak terlalu perduli dengan pertandingan tim. Dimas hanya berpikir; asal mereka bisa pulang selamat itu sudah ia syukuri. Jadi si surai platinum tidak terlalu perduli dengan juara berapa tim mereka karena keselamatan adalah yang lebih penting baginya.
Jadi, entah Kenan atau Julius merasa ragu bila tim mereka bisa menjadi juara satu mengingat hampir separuh tim tidak memiliki ambisi sebesar Ayna.
"Ini tidak baik!" Batin Max saat melihat naga itu menyerang Rion dengan ekornya dan membuat si empu terlempar ke belakang.
Tentu saja dengan cepat Max langsung mengarahkan sihir penyembuh ke arah Rion sambil sesekali menggunakaan elemen cahaya untuk mengecoh penglihatan sang naga. Dengan itu pula Jun bisa meluncurkan serangannya meski luka yang di hasilkan tidak sebesar ketika Rion menyerang sang naga.
"Naga sedang terpojok, ia pasti akan segera mengamuk. Jun, selain kita bertiga, yang lain harus mundur." Rion berucap dengan kode mata yang langsung mendapat acungan jempol.
Sementara Jun mundur untuk menyuruh yang lain untuk pergi, Rion memberin kode pada Max untuk menggunakan elemen cahaya untuk mengecoh penglihatan sang naga sambil sesekali menggunakan emelen tanah untuk menghentikan pergerakan.
"Bella, ini terserah kau mau menggunakan kertas segel teleportasi atau mundur dan mencari naga lain," kata Jun sambil menatap gadis yang di panggil Bella itu dengan pandangan serius. " Intinya kau dan tim-mu harus pergi dari tempat ini."
"Kita bisa membantu!" Sela Bella, gadis itu merasa bahwa ia juga harus membantu Jun karena Jun juga telah membantunya.
"Naga sedang terpojok dan pasti akan mengeluarkan kemampuannya yang sebenarnya." Jun menghembuskan nafas beratnya atas kekeras kepalaan Bella. "Aku tidak mau ambil resiko bila kalian semua terluka lagi atas dampak pertarungan kami," lanjutnya.
"Sebagiknya kalian mundur.." Dimas angat bicara sambil menatap Bella tegas. "Keselamatan adalah yang lebih penting!"
"Tapi bukankah jika kita menyerang bersama, tingkat kemenangan lebih tinggi!?"
"Bella!!" Seru Jun yang membuat Bella terkejut, selama ini meski ia sering mencari masalah pada Jun, ia belum pernah di teriaki begini.
"Huhh.. baiklah, aku akan mengingat hutang budi ini." Meski Bella sendiri nampak enggan, begitupun anggota timnya, tapi mereka harus mundur. Mereka juga berharap kalau Jun dan yang lain akan baik-baik saja.
Tepat setelah tim milik Bella pergi, Jun menatap anggota tim Bintang berjajar dengan serius. " Kalian harus pergi ke timur, kami bertiga akan menyusul," katanya yang langsung tidak di setujui oleh anggota tim yang lain. Kecualika Dimas, karena ia sudah paham betul tujuan Jun menyuruh mereka pergi.
"Jangan membantah dengan mengatakan kalau menyerang naga akan lebih mudah dengan jumlah penyerang lebih banyak!" Kata Jun memotong perkataan Ayna.
"Tapi Jun!"
"Pergi ke timur dan kalahkan naga tingkat rendah disana, ini perintah!"
•
•
•
•
•
•
•
•
Bersambung.
Hai semuanya🙋♀️
Apa kabar? semoga pada sehat semuanya yaa..
Maaf Laysa gk bisa up tiap hari kayak dulu soalnya banyak kesibukan sama penyakit males yang tiba² datang dengan aneh😅 Jadi intinya Laysa mau bilang kalo sabar² buat nunggu chapter selanjutnya dan Laysa usahain juga biar bisa up secepetnya.
Makasih.