
"Aku tidak percaya dia mengatakan tidak pernah mengikuti kelas taekwondo."
Jong Il kembali mengusap tulang keringnya yang masih nyeri. Beberapa siswi yang berpapasan melirik karena penasaran. Ini sedikit menjatuhkan harga dirinya — mendapat pukulan dari seorang wanita selain Soojung adalah yang pertama — dia berharap bisa membalasnya tapi pasti Sehun tidak akan tinggal diam.
"Kau sendiri yang cari masalah." Do Kyun menatap iba.
"Aku bersabar karena dia teman Soo Jung. Sekaligus, dulu juga kekasih Chan Yool."
"Temperamennya sama buruknya dengan Soo Jung, tapi dari sisi manapun Soo Jung tetap yang terbaik." Jong Il menghela nafas sebelum melanjutkan. "Kenapa Sehun bisa menyukainya?"
"Apa?"
Do Kyun menghentikan langkahnya dan menatap Jong Il saat tanpa sadar membuat jarak. Gerakan mendadak itu hampir membuat Jong Il tergelincir karena tanggannya yang tadi sedang bersandar di pundak Do Kyun tiba-tiba kehilangan tumpuan.
"Sehun? Maksudmu Sehun dan Hyemi?"
"Kau belum tahu ya?" Jongin menggaruk sisi kepalanya.
Sebelum menjelaskan dia memastikan bahwa tidak ada siapapun di sekeliling mereka. Sepertinya topik Hyemi dan Sehun tidak pas jika di bahas di tempat umum seperti ini. Jong Il sudah mendapat peringatan dari Sehun. Katanya kalau sampai Jong Il menyebar berita ini ke siswa lain dan membuat heboh forum sekolah, Sehun akan membuat 'adik' tercitanya tiba bisa berdiri dengan tegak lagi. Mengingatnya membuat Jong Il tiba-tiba merapatkan kedua kakinya.
Jong Il kembali melihat Do Kyun yang menyenggolnya dengan siku yang tidak sabar mendengar penjelasan.
"Sudah kubilang buku-buku itu bisa berpengaruh buruk. Kau seharusnya lebih sering berkumpul dengan kami, bersosialisasi."
Do Kyun menatap datar. Bagaimanapun ucapan Jong Il sedikit menyinggungnya. "Jangan bertele-tele. Katakan, apa maksudmu saat mengatakan Sehun menyukai Hyemi? Setauku mereka saudara tiri. Itupun hal ini masih menjadi rahasia keluarga."
"Ya memang. Tapi kau tidak tahu kan kalau Sehun menyukai Hyemi?"
"Kau serius?" Do Kyun melotot karena terkejut. Tentu saja ini bukan hal bagus, dan bagaimana Sehun bisa bertindak gila seperti itu? "Apa dia sudah sudah tidak waras?"
"Aku sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi sepertinya dia serius menyukai Hyemi."
Do Kyun terdiam untuk beberapa saat. Dia memang tidak begitu mengenal Sehun. Bekyun yang lebih mengenal anak itu, tapi bukan berarti Do Kyun tidak peduli. Jong Il adalah teman Sehun dan mereka tumbuh bersama seperti saudara angkat. Selain itu, Bekyun juga tumbuh bersama diantara mereka, dia berperan sebagai seorang kakak dan Do Kyun pikir Bekyun pasti juga merasakan hal yang sama dengan dirinya, rasa cemas dan khawatir.
Jong Il merasakan perubahan suasana dalam diri Do Kyun. Dia mulai menepuk bahu pria itu hanya untuk sekedar menyadarkannya dari lamunan, lalu tersenyum.
"Jangan dipikirkan, Sehun pasti tahu apa yang dia lakukan. Dia bukan tipe orang yang mampu mempermalukan nama keluarga. Hal seperti ini, dia juga pasti sudah memikirkannya."
"Aku hanya tidak berpikir dia menjadi begitu bodoh hanya karena hal cinta."
Jong Il membuka mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi setelah dipikir lagi rasanya itu tidak cukup pantas, jadi dia membatalkannya.
"Jadi, kenapa kau tadi mencariku?" Jong Il bertanya setelah akal sehatnya kembali.
"Ohh, itu ...." Ucapan Do Kyun menggantung, merasa ragu untuk bertanya sesuatu yang diyakininya akan mengundang kecurigaan. Jong Il di sebelahnya sudah membuat garis kerutan di dahi karena penasaran.
"Kau pernah bilang kalau kau mengenal seseorang yang bekerja di bimbingan belajar kan?" Do Kyun memberanikan diri untuk bertanya setelah banyak pertimbangan.
Jong Il mengangguk pelan, sedikit ragu — mungkin juga terkejut — karena Do Kyun tiba-tiba saja membahas hal itu. "Pamanku bekerja di sana. Memangnya kenapa?"
"Apa di sana membutuhkan seorang pengajar? Temanku sepertinya membutuhkan pekerjaan itu." DO Kyun melirik ke arah Jong Il dengan hati-hati.
"Teman?" Jong Il mengulang, lalu menggaruk tulang pipinya dengan jari telunjuk. "Apa dia gadis yang tidak sengaja bertemu kita di café waktu itu?"
Do Kyun mengangguk, menghindari sorot mata Jong Il yang seperti ingin bertanya sesuatu tapi tertahan di ujung lidah. Do Kyun berharap Jong Il tidak akan banyak bertanya soal ini, dia bahkan tidak ingin membagi masalah pribadinya dengan Jong Il. Tidak sekarang.
"Baiklah." Jong Il tidak banyak berpikir ketika menjawabnya. "Akan kutanyakan ke Pamanku, nanti kukabari."
"Terima kasih,"
"Tidak maslah." Jong Il tersenyum di akhir kalimat.
"Dan juga karena tidak bertanya apapun. Terima kasih."
Satu kalimat dari Do Kyun cukup membuatnya yakin kalau bukan hanya dirinya atau pun Sehun saja yang memendam perasaan khawatir. Ada begitu banyak orang yang merasakan hidupnya akan segera tamat; Bekyun, Chan Yool, Sehun dan semua orang di luar sana, termasuk Do Kyun. Tapi Jong Il menyesali karena dia bahkan tidak menyadari hal apa yang mengusik pikiran seniornya (Do Kyun). Dia ingin bertanya tapi pihak lain seperti dengan sengaja menutupi.
.
.
Sehun mengirim pesan kepada Hyemi untuk bertemu setelah dia mendapat telpon dari orang yang menjaga ayahnya. Orang itu tidak menjelaskan banyak hal dan Sehun pikir mungkin ada masalah soal kesehatan ayahnya. Karena berita mendadak itu, Sehun diharuskan pergi untuk melihat Ayahnya yang berada di Jeju.
Tapi tiba-tiba saja Sehun mengkhawatirkan hubungannya dengan Hyemi. Kalau sampai ayahnya tahu, akan seperti apa kondisi ayahnya nanti? Sebelumnya Sehun tidak terlalu mencemaskan itu, tapi mengingat kondisi ayahnya yang dia dengar dari orang-orang di sana, sepertinya memang tidak mungkin bagi ayahnya untuk terlalu banyak mendapat beban pikiran.
Dulu, ketika Sehun mendengar bahwa Ayahnya akan menikah, Sehun tidak begitu peduli tentang siapa wanita yang akan dinikahinya. Asalkan wanita itu bisa mengurus ayahnya dengan baik, dan asalkan wanita itu bukan seseorang yang licik, Sehun tidak mempermasalahkannya. Tapi Sehun mendengar bahwa wanita itu memiliki seorang putri yang bersekolah di tempat yang sama seperti dirinya. Sehun menjadi begitu penasaran dan rasa ingin tahunya cukup tinggi. Dia bukanlah seseorang yang tidak mudah menerima, tapi dia juga bukan seseorang yang mudah menerima. Dia ingin tahu siapa, hanya agar bisa menilai karakter dan sifat orang yang akan menjadi saudara tirinya nanti.
Nama Yoon Hyemi, Sehun dengar ketika dia dan ayahnya makan malam di sebuah restoran. Nama Hyemi saja sudah tidak umum di sekolahnya, di tambah dengan marga yang menurutnya tidak cukup asing, Sehun langsung sadar bahwa Hyemi adalah seseorang yang sangat dia kenal. Hari itu juga ayahnya juga mengundang calon istrinya beserta calon putrinya. Beruntung bagi Sehun karena hari itu Hyemi tidak hadir bersama ibunya, tapi dia melihat foto dari ponsel yang wanita itu tunjukkan padanya. Saat itu juga, Sehun seratus persen yakin bahwa itu adalah Hyemi yang sejak lama sudah menempati hatinya.
Sehun seperti mendengar sebuah Guntur yang memekikkan telinga, mendengar suara pecahan kaca, dan segala sesuatunya membuat Sehun tidak bisa mendengar apapun. Dia terkejut sekaligus merasa patah hati.
"Tidak bisa, aku harus membantu ayahku." Suara Bekyun terdengar bersamaan dengan suara pintu yang terbuka. Bekyun mematung dan menatap Sehun dengan wajah terkejut. Begitupun dengan Chan Yool yang berdiri di belakangnya dan menabrak punggung Bekhyun yang mendadak berhenti.
"Sehun, kau disini?" Suara Bekyun terdengar sedikit gugup. Dia melirik sebentar ke arah Chan Yool lalu berjalan mendahului Chan Yool menuju sofa.
Sehun ingin membalas dengan kalimat kejam tapi orang itu adalah seniornya yang dia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Hm."
Gumaman Sehun terdengar tidak cukup berarti.
Bekyun tidak mengatakan apapun lagi. Dia melihat bahwa Sehun sedang dalam mood yang tidak baik dan Chan Yool di belakangnya seolah ingin tahu. Senggolan dari siku Chan Yool membuat Bekyun yang masih berdiri di dekat sofa menoleh. Mereka berdebat sebentar dengan berbisik-bisik. Dan Bekyun seperti gemas ingin menutup mulut Chan Yool yang selalu ingin tahu urusan orang lain.
Tapi saat Sehun mendongak dan merasa terganggu, berkata "sedang apa sih kalian?" Bekyun cepat-cepat menggeleng pelan dan duduk di sofa berseberangan dengan Sehun yang sedang memegang ponsel.
Dahi Sehun berkerut. Dia melihat Bekyun duduk dan di dorong oleh Chan Yool agar menggeser tempat duduknya. Keduanya duduk berdesakan dan keduanya masih saling berbisik. Adegan itu membuat Sehun tidak nyaman.
Tatapan Sehun beralih ke Chan Yool, berpikir kenapa juga Chan Yool harus mengekor kemanapun Bekyun pergi? Dia benar-benar merasa terganggu dengan penampakan Chan Yool di depan matanya, karena setiap kali melihat Chan Yool, dia akan teringat masa lalu Hyemi, dan Sehun akan merasa cemburu dengan kedekatan mereka di masa lalu.
Sehun tertangkap basah ketika sedang melotot ke arah Chan Yool, tapi Chan yool yang dipelototi seperti itu tidak sedikitpun merasa terintimidasi. Sepertinya memang Chan Yool ini memang tipe orang yang tidak peduli dengan apapun, atau mungkin pada dasarnya memang dia orang yang tebal muka?
"Hey, Sehun. Boleh kutanya sesuatu?" Chan Yool tiba-tiba bersuara dan Sehun di depannya tidak memberikan respon. Tapi pada saat itu Sehun masih tidak mengalihkan perhatian, dan itu sudah cukup bagi Chan Yool untuk mendapat sedikit perhatian darinya.
Chan Yool adalah tipe orang yang melakukan hal sesuai keinginannya sendiri. Ada apa dengan pertanyaannya yang begitu sopan seperti ini?
"Apa yang dilakukan Bekyun di hari minggu?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Chan Yool, membuat Sehun yang tegang karena kesal mengerutkan dahinya karena bingung. Seolah pria yang dibicarakannya tidak ada di sini, dan kecurigaan Sehun tentang hubungan yang tidak wajar itu semakin jelas. Apa mereka benar-benar sedang menjalin hubungan? Apa Bekyun yang dianggapnya sebagai saudara adalah orang yang bengkok?
"Membaca buku."
"Seriously?! Dia ini mesin pembaca atau apa?"
"Hey, aku masih disini." Bekyun protes. Tapi Sehun dan Chan Yool sudah tidak menganggap keberadaannya.
"Dia bilang dia juga sering membantu ayahnya di restoran? Apa itu benar?" Chanyeol kembali bertanya, mengabaikan Bekyun.
"Tidak juga."
Jawaban Sehun membuat Bekyun menatap ke arahnya. Bekyun juga memprotes tanpa suara. gerakan bibirnya membentuk sebuah kalimat yang mengatakan 'kenapa kau menjawab begitu' dengan wajah lucu yang tidak wajar untuk pria seusianya. Sehun mengabaikan Bekyun dan kembali beralih ke Chan Yool.
"Dia hanya membantu saat restoran sedang ramai." Sehun menjelaskan dengan mengabaikan Bekyun yang bersandar di sofa dan menyerah. Tapi dia juga tidak senang karena harus menjadi orang yang memberi informasi.
"Apa dia selalu seperti ini saat kau mengajaknya keluar?"
"Tidak." jawaban Sehun sudah mulai terdengar ketus.
"Lalu kenapa dia seperti ini padaku?"
"Bagaimana aku bisa tahu? Jangan melibatkanku dengan masalah kalian."
Sehun bangkit tempat duduk. Chan Yool mendongak, begitu pun Bekyun yang masih mengintip dari balik bukunya. Sebelum pergi, Sehun memberikan sebuah kalimat yang membuat keduanya mati kutu.
"Jangan bertindak seperti ABG yang sedang melakkan tarik ulur karena sedang jatuh cinta. Aku pergi."
Mereka sungguh menggelikan. Tapi hal ini membuatnya berpikir lebih dalam. Kalau Bekyun mengatakannya pada ayahnya, kalau Chan Yool mengatakan pada orang tuanya, akankah mereka tetap dalam hubungan seperti ini? Perkembangan zaman membuat beberapa orang berpikiran terbuka. Sehun pikir, gender bukan lagi menjadi sebuah masalah dalam hubungan percintaan. Jika masalah Chan Yool dan Bekyun akan selesai dengan mudah, lalu, apakah hanya dia sendiri yang berada di tepi jurang tanpa pegangan?
Sehun berjalan menyusuri lorong, berniat menemukan Hyemi yang tidak segera muncul setelah dia mengiriminya pesan. Dia hampir marah karena berpikir Hyemi mulai mengabaikannya lagi seperti sebelumnya. Perasaan seperti itu, muncul tanpa dia sadari.
Sehun segera menemukan Hyemi yang berjalan di jalur setapak. Sehun berhenti hanya untuk melihat Hyemi yang belum sadar sadar dengan keberadaannya. Ketika wajah itu mendongak dan Sehun hanya menampilkan wajah datar, Sehun melihat ekspresi Hyemi yang terkejut dan seolah tidak suka karena merasa terganggu.
Hyemi yang maju lebih dulu. Dia berjalan ke arah Sehun saat matanya mengawasi di sekitarnya dan merasa lega karena itu adalah wilayah yang jarang sekali dilewati siswa. Jalur itu adalah satu-satunya jalur menuju gudang dan bangunan bekas klub paduan suara dan drama, tempat itu hanya digunakan sebagai gudang penyimpanan barang-barang.
Pertanyaan Hyemi tidak dihiraukan. Sehun menarik pergelangan tangannya dan memutus jalur untuk berjalan di lorong menuju gedung baru yang baru di resmikan. Tapi Sehun tidak membawanya ke area umum, Sehun berbelok menuju kamar mandi yang masih bersih karena jarang di gunakan.
"Apa-apaan kau ini?! Kenapa membawaku ke sini?"
Hyemi hampir menjerit ngeri ketika Sehun membawanya masuk ke bilik toilet pria. Dia ingin keluar tapi Sehun menghalangi.
"Karena aku tidak punya banyak waktu."
Hyemi tercengang dan Sehun memberikan sebuah ciuman yang tiba-tiba.
Hyemi mendorong Sehun sebelum memprotes. "Yaa! Ini disekolah."
"Meskipun begitu, mereka tidak akan tahu."
Hyemi menghentikan Sehun segera saat melihat Sehun maju sekali lagi. "Meskipun begitu, kau harus menepati janji. Aku masih ingin hidup panjang. Jangan membuat skandal."
Sehun hampir meledakkan tawanya. "Kau ini bukan artis." Lalu menjauhi Hyemi dan bersandar pada dinding.
Hyemi sedikit mengamati tindakan Sehun yang terlihat tidak seperti biasanya. Ada perasaan khawatir yang dapat Hyemi rasakan. Beberapa hari Hyemi mendengar bagaimana kesehatan Tuan Yoon dari pembicaraan ibunya dengan orang yang merawat Tuan Yoon. Dan sepertinya itu semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Meskipun itu terlalu parah tapi ibunya mengatakan bahwa Tuan Yoon memang mudah terserang penyakit dan kelelahan.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Sehun bertanya.
"Aku ingin tahu seberapa baikkau akan mengajariku belajar kalau nilaiku sampai turun."
" .... "
"Apa tidak apa-apa kalau membolos di jam segini?"
Wajah Sehun yang terlihat serius tiba-tiba tersenyum lebar. Dia mengangguk dan menyentuh pipi Hyemi sekilas dengan penuh kepuasan.
.
.
Mereka berjalan menyusuri trotoar tanpa tahu kemana mereka akan pergi. Saat Hymi bertanya, Sehun menggeleng dan menjawab bahwa dia tidak memikirkan satupun tempat yang ingin ia tuju. Hyemi pututs asa, melirik ke arah Sehun yang tapi Sehun pura-pura tidak melihat itu. Dada akhirnya Hyemi mengeluarkan ponsel dan mulai mencari di situs pencarian.
Hyemi ingin pergi ke Seokcheon setelah melihat beberapa review, tapi sayangnya musim cherry blossom sudah berakhir. Meskipun begitu Hyemi tetap ingin ke sana. Jadi dia menunjukkan ponselnya kepada Sehun dan memutuskan untuk pergi ke sana. Mereka perlu menggunakan subway untuk sampai jadi Hyemi dan Sehun pergi menuju Stasiun terlebih dulu.
Sehun berdiri di dekat pintu, begitupun dengan Hyemi yang menolak untuk untuk duduk di kursi kosong. Mereka tidak berbicara dan Hyemi lart dalam pikirannya sendiri dengan sesekai melihat pantulan wajah Sehun dari kaca. Sampai mereka keluar dari stasiun dan menggunakan taxy untuk sampai ke Seokcheon, mereka hanya berbicara setidaknya dua kali. Pertama ketika Hyemi bertanya apakah mereka akan menggunakan bus atau taxy, kedua ketika Hyemi bertanya apakah mereka akan makan lebih dulu atau tidak.
Dari dua pertanyaan itu, selalu Hyemi yang memulai lebih dulu. Sehun yang biasanya banyak bicara sepertinya sedang sariawan, atau mungkin memang sedang tidak mood bicara. Hyemi hati-hati melirik kearah Sehun untuk mencari tahu ketika mereka berjalan menyusuri danau.
"Kenapa?" Sehun bertanya karena sadar sedang di perhatikan.
"Apa sebaiknya kita pulang saja?"
Sehun menghenikan langkahnya. Dia menggeser tubuhnya untuk menghadap Hyemi dan bertanya sekali lagi, "Kenapa?"
"Kau sepertinya sedang tidak mood jalan-jalan. Apa sebaiknya kita pulang saja?"
"Bukan begitu?"
"Kenapa?" Hemi menunggu dan Sehun terlihat ingin mengatakan sesuatu. "Ada yang mau kau katakan?"
Perasaan seperti ingin membelah isi kepala Sehun tiba-tiba saja muncul dalam kepala Hyemi. Dia ingin tahu apa yang terjadi tapi Sehun terlihat menunda-nunda hal itu. Ini membuat Hyemi semakin penasaran tapi dia bukan tipe orang yang ingin mendesak seseorang.
Sehun menempatkan tangan Hyemi dalam genggaman, membuat Hyemi menunduk lalu mendongak untuk melihat Sehun.
"Jangan membahasnya sekarang. Aku tidak mau merusak suasana."
Hyemi mengerutkan dahinya karena bingung. Tapi genggaman Sehun terasa tidak nyaman, dia ingin menarik tangannya tapi Sehun menahan dengan senyum samar yang membuat Hyemi sedikit salah tingkah.
Karena Sehun mengatakan tidak ingin mengatakan apapun sekarang maka Hyemi akan tutup mulut dan menunda pertanyaan lainnya. Seperti yang Sehun katakan, diapun tidak ingin merusak kebahagiaannya menikmati pemandangan yang bagus ini. Jarang-jarang dia bisa keluar dan bermain ke tempat seperti itu. Selama ini dia hanya selalu mengurung diri di rumah dan mendatangi beberapa distro yang tidak menarik minatnya. Dulu ibunya jarang membawanya pergi piknik. Piknik hanya selalu Hyemi lakukan jika pihak sekolah mengadakan tour. Mendatangi taman bermain saja hanya pernah Hyemi lakukan sekali, itupun dia tidak sempat naik k semua wahanya karena umurnya tidak memenuhi. Kalau memikirkan hal ini, tiba-tiba Hyemi ingin pergi ke taman bermain.
"Ayo cari tempat makan."
Suara Sehun mengejutkan Hyemi. Dia menoleh dan hanya mengangguk sebelum berjalan mengikutinya.
.
.
Mereka pulang saat sudah melewati jam malam. Hyemi juga mendapat pesan dari ibunya dan dia berbohong dengan mengatakan sedang belajar di luar. Bahkan setelah mereka pulang dan menempati kamar masing-masing di jam yang hampir menunjukkan pukul 12 malam, kedatangan mereka tidak diketahui oleh orang rumah.
Hyemi membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya karena dia banyak melamun di dalam kamar mandi. Misalnya saja ketika dia berendam dengan air hangat dan tangannya bergerak-gerak di permukaan air. Saat itu pikirannya sedang sibuk menebak-nebak apa yang menjadi kekhawatiran Sehun sampai tinakannya sedikit berubah dan terlihat tidak seperti biasanya.
Tapi perubahan Sehun yang aneh ini membuatnya terlihat seperti prianormal kebanyakan. Di sisi lain Hyemi merasa nyaman dan tidak khawatir secara berlebihan kalau Sehun akan bertindak spontan dan mulai menggodanya lagi.
Hampir dua jam, Hyemi akhirnya keluar dengan handuk ang membungkus di kepala. Dia baru membuka pintu kamar mandi, berjalan ke arah lemari dan memekik terkejut saat melihat Sehun ada di belakangnya dan duduk tenang di sofa.
Hyemi berjalan cepat untuk menyalakan lampu dan wajah Sehun yang tersenyum menggoyahkan hatinya.
"Sedang apa kau disini?" Hyemi yang berhasil mengendalikan perasaan kalutnya bertanya dengan nada yang menunjukkan penolakan karena kedatangan Sehun yang tiba-tiba.
"Aku hampir saja mendobrak pintu karena kau tidak keluar-keluar."
Jawaban itu jelas-jelas keluar dari konteks pertanyaan Hyemi tadi.
Hyemi menarik baju dari tumpukan lemari dan berjalan menuju kamar mandi sekali lagi untuk mengganti baju. Kalau hanya dia seorang diri dengan memakai piama mandi itu tiak masalah, tapi ada Sehun di sana, dan Hyemi tidak mau mengambil resiko karena pelecehan bisa saja terjadi.
Hyemi keluar dengan celana katun dan kaos panjang yang tebal dan longgar. Dia mengambil tempat duduk di seberang dan duduk dengan tenang.
"Kau mau bicara sekarang?"
Hyemi yang lebih dulu bertanya karena tidak tahan berlama-lama diamati.
"Aku pernah berpikir untuk mengatakan apa terjadi pada ayahku,"
"Mengatakan apa maksudmu?"
"Kau dan aku."
Hyemi terdiam. Dia menelan ludah lalu perasaan ngeri melihat ibunya pingsan tiba-tiba membayanginya.
"Kau jangan coba-coba, ya." Hyemi mencoba memperingatkan.
"Tenang saja. Untuk saat ini tidak. aku mendapat telpon kalau kesehatan ayahku menurun. Aku juga tidak ingin memperburuk keadaan."
Hyemi menghela nafas secara diam-diam. "Jadi kau akan pergi ke sana untuk melihat ayahmu."
Sehun mengangguk dan bergumam "hmm" yang kedengarannya seperti orang yang tidak memiliki gairah hidup. Memangnya dunia akan runtuh atau apa? Hyemi percaya ayah Sehun akan baik-baik saja, dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kepergiannya menyusul ayahnya jauh di sana.
"Ayahmu akan baik-baik saja. Kenapa menunjukkan wajah sepeerti itu?"
"Ayahku memang baik-baik saja. Kau tidak memikirkanku?"
"Kau jga akan baik-baik saja," kata Hyemi. Ucapannya tidak mengandung makna apapun, tidak khawatir ataupun merasa sedih karena kepergiannya. Dari awal memang hanya Sehun yang memiliki perasaan menggebu kepadanya, sedangkan Hyemi mungkin hanya memenuhi setengahnya saja. tapi meskipun itu hanya setengahnya saja, fakta bahwa pada akhirnya dia terjebak oleh permainan Sehun itu sudah merupakan fakta yang mengejutkan.
Hyemi berdiri dari tempat duduknya.
"Ini sudah malam. Sebaiknya kau kembali. Aku yakin kau harus pergi dengan segera besok pagi, benar?"
Setelah mengatakan itu, Hyemi membukakan pintu dan melihat kearah Sehun sebentar. Dia menyimpan perasaat cemas akan sesuatu, tapi hal itu bisa dia atasi dengan mudah ketika dia menarik nafas dan mencoba untuk tersenyum. Tapi saat itu Sehun masih tidak mau bergerak, jadi Hyemi membiarkan pintunya tetap tebuka ketika dia berjalan dan naik ke atas tempat tidur.
Hyemi mendengar suara langkah kaki, kemudian suara pintu tertutup yang membuat Hyemi menarik nafas lega. Sehun akhirnya pergi. Hyemi bisa tidur dengan tenang tanpa gangguan malam ini. tapi nyatanya hal itu hanya ada dalam angannya saja. Sehun masih di sana, naik keatas tempat tidur dan tidur dengan memeluk Hyemi dari belakang.
Pekikan Hyemi tertahan di tenggorokan. Saat dia menoleh dia tidak punya waktu untuk protes karena bibirnya sudah lebih dulu di telan oleh Sehun. Kedua tangannya terkunci dan entah bagaimana Hyemi tidak bisa menggerakkannya.
Mata Hyemi menangkap pintu yang tertutup, tapi dia lebih penasaran apakah Sehun sudah mengunci pintu atau belum. Bagaimana jika ibunya tiba-tiba saja masuk? Ibunya memang tidak pernah tiba-tiba masuk, tapi bisa saja hal tidak terduga membuat ibunya menyalahi aturan seperti itu.
Hyemi melupakan keberadaan Sehun dan apa yang dilakukan Sehun padanya selama sesaat. Sehun masih dengan begitu baik menciumnya dengan gentle. Sementara Hyemi masih berjuang, lidah Sehun mendorong masuk ke dalam mulutnya, lalu menghisap dan menjilat air liurnya.
.
.
TBC