
Tidak terasa seminggu telah berlalu begitu cepat. Bahkan Rion sampai linglung saat Ayna, Julius, Kenan dan Dimas datang ke basecamp mereka lalu bertanya perihal kenapa ketiganya belum datang ke tempat janjian, sehingga keempat orang itu harus menjemput Jun, Max dan Rion.
Sebenarnya Jun ingat bahwa mereka memiliki janji temu, tapi saat akan membangunkan Max dan Rion. Si muka datar itu mengurungkan niatnya, sebab tidak tega membangunkan keduanya yang tengah tertidur lelap itu.
Jika Jun ingat pula, kedua temannya itu berlatih dengan sangat keras seminggu belakangan ini, bahkan sampai lupa waktu makan singa dan malam. Mereka berdua tidak mau di anggap lemah dan membebani tim nantinya.
Jun menghembuskan nafas beratnya lalu menjelaskan alasan mereka belum datang ke tempat janjian, " Ini salahku, aku tidak membangunkan mereka berdua lebih awal.." katanya yang di balas nggukan ringan oleh Ayna. Gadis itu tidak berkomentar lagi karena Jun sudah angkat bicara.
Sebenarnya ini juga setengah jam lebih awal dari perjanjian, mungkin karena keempat orang itu terlalu bersemangat untuk acara pertandingan tim kali ini sehingga bangun sangat pagi.
" Aku tidak tau kalau Dimas juga bisa bersemangat begini.." ucap Rion menggoda Dimas. Menanggapi godaan Rion, Dimas hanya tersenyum dan bersikap pura-pura tidak tau.
Sebenarnya Dimas bangun sangat pagi bukan karena dia terlalu bersemangat dengan pertandingan tim tapi memang ia sudah terbiasa bangun lebih awal dari yang lainnya.
" Lebih baik kita pergi ke kantin terlebih dahulu untuk sarapan.." saran Julius yang mendapat anggukan dari keenam temannya.
•••
Susana aula latihan sangat ramai, para murid dari semua kelas berkumpul jadi satu disini.
Jun bisa melihat kobaran penuh semangat dari para murid yang hadir. Ia juga melihat para senior dan beberapa anggota Pasukan Merah turut hadir meramaikan acara ini. Jangan lupakan tujuh pembimbing dan Felix yang sebagai ketua pembimbing turut hadir dalam acara.
Tak lama sosok yang Jun sangat kenal datang dengan dua orang mengikuti di belakangnya. Orang itu Dean, Alan dan Edwan. Entah kemana sisa pentua Aliansi Fajar berada, Jun tidak tau dan tidak mau tau karena mereka bukan urusannya.
Setelah Dean sampai di podium, semua murid menghentikan obrolan mereka dan memfokuskan perhatian mereka ke arah Dean.
Tentu saja seperti acara biasa, Dean mengatakan sambutan dan melakukan pidato singkat, sebelum menyampaikan perihal pertandingan tim yang di senggelarakan kali ini.
" Pertandingan Tim kalin ini terbagi menjadi tiga tahapan. Yang pertama adalah 'Pemburuan Naga'. Lalu yang ke dua adalah 'Mencari Harta Karun', dan puncak dari pertandingan tim adalah 'Permainan Mahkota'. Tim yang bisa menyelesaikan tiga tahapan ini akan mendapat hadiah dan di promosikan menjadi anggota Pasukan Merah." Terang Dean yang membuat semua murid semakin bersemangat.
Siapa sih yang tidak tergiur untuk masuk ke Pasukan Merah, selain merasa sangat terhormat. Masuk ke pasukan merah juga membuat mereka memiliki derajat lebih tinggi dari generasi sepantaran mereka.
Rion sendiri yang mendengar perkataan Dean hanya memutar bola matanya malas, ia tidak terlalu minat masuk ke Pasukan Merah, karena menurutnya masuk ke sana hanya membuatnya kerepota. Baginya sudah cukup ia menjadi oemilik simbol Asher yang membuatnya dalam bahaya.
Sementara Jun sendiri hanya diam tanpa ekspresi, tapi tatapan matanya tidak bisa berbohong kalau ia tidak berminat sama sekali masuk ke Pasukan Merah dan Max sendiri nampak bingung karena melihat ekspresi kedua temannya yang tidak tertarik sama sekali untuk masuk ke Pasukan Merah.
" Dimas, bagaimana menurutmu?" Bisik Max pada Dimas yang kebetulan berada di sebelahnya.
Dimas menoleh ke arah Max lalu tersenyum kecil, " Aku tidak terlalu berminat untuk menjadi bagian Pasukan Merah," jawab Dimas tenang dan yang tidak Max sadari, mata Dimas menunjukan getaran ketakutan kala melihat tiga pentua Aliansi Fajar, sebelum kembali tenang seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi.
" Untuk memulai acara kali ini, pertama-tama kalian harus membuat tim terlebih dahulu. Tim yang kalian buat berisi sembilan anak dan kalian memilih anggota tim sendiri," kata Dean tenang, " Kemudian putuskan nama dan siapa ketua tim kalian, lalu ketua tim akan melapor ke Ketua Pembimbing Felix. Kami beri waktu limabelas menit di mulai dari sekarang!"
Setelah mendengar perkataan Dean, sebagian murid ribut mencari annggota tim, meski sebagian yang lain nampak tenang karena sudah merencanakan siapa saja anggota tim yang akan masuk.
Sepuluh menit berlalu sangat cepat, hampir semua murid sudah membuat tim dan mulai berdiskusi, meninggalkan sembilan murid yang saling berpandangan satu sama lain.
Itu Jun, Max, Rion, Dimas, Ayna, Julius, Kenan dan dua murid yang belum masuk tim manapun dan mungkin harus terpaksa masuk ke tim Jun.
" Kita hanya punya waktu lima menit untuk memutuskan nama dan ketua tim," kata Ayna setelah mereka bersembilan berkumpul.
" Haruskah kita batu, gunting, kertas untuk menentukan ketua tim?" Saran Max yang terdengar seperti lelucon. Tapi tidak ada yang berkomentar apapun padanya, mungkin karena ada Jun yang melindunginya.
" Kalian berdua," Rion berucap sambil melirik kedua orang yang belum mereka kenal. " Bagaimana menurut kalian?" Tanyanya yang membuat dua orang itu saling bertukar pandangan.
" Kita tidak punya waktu untuk itu!" Kesal Kenan sambil melipat tangannya di dada.
Meski kedua orang yang belum di ketahui namanya itu sedikit tidak suka dengan perkataan Kenan, tapi mengingat mereka tidak punya banyak waktu sehingga mensampingkan ketidak sukaan mereka.
" Kurasa 'Ice Prince' cocok jadi ketiua tim.." kata si pemuda sambil menatap Jun.
" Setuju!"
" Lalu Jun, sebagai ketua kau yang menetukan nama tim kita!" Ucap Ayna cepat.
Jun terdiam sebentar lalu mengangguk dan langsung berjalan ke arah Felix tanpa memberi tau apa nama tim mereka, hal itu membuat pemuda dengan surai dark blue itu menaikan sebalah alisnya heran. Begitupun gadis dengan wajah polos bak bayi itu, matanya yang bulat menatap Ayna meminta penjelasan.
" Apapun nama tim kita, aku tidak terlalu perduli selama kita bisa menjadi pemenang dalam pertarungan tim kali ini," kata Ayna dengan penuh semangat dan dengan itu seudah di simpulkan kalau Ayna hanya mengincar kemenangan, tidak masalah akan nama tim mereka.
" Kau sangat percaya diri.." kata si surai dark blue tenang.
" Tentu saja, percaya diri juga modal utama seorang pemenang," balasnya dengan senyum lebar.
" Kurasa kau bisa jadi wakil ketua.." si gadis polos berucap pelan yang masih bisa mereka dengar dengan sempurna.
" Kau benar. Diantara kami, dialah yang paling mendominasi urutan kedua." Sindir Rion yang di balas pelototan tajam dari si gadis surai merah.
Tak perlu waktu lama sosok Jun datang menghampiri teman-temannya. Max yang memang sangat penasaran akan nama tim langsung bertanya pada si muka datar.
" Apa nama tim kita Jun?" Semangat Max. Namun semangatnya harus pudar karena Jun tidak memberi tau nama tim, tapi malahan menyuruh anggota tim memperkenalkan diri.
" Sebelumnya mari saling berkenalan. Namaku Jun Alexander," kenal Jun tenang. Setelah itu Max, Rion, Ayna, Julius, Kenan dan Dimas memperkenalkan diri mereka secara bergantian.
Tiba giliran si gadis polos dan si surai dark blue memperkenalkan diri.
" Namaku Fiera Anantsya, bisa di panggil Fie. Ras Elf-Penyihir. Dari Kelas Bengkel. Mohon kerjasamanya.."
" Namaku Mikael Arvan. Ras vampir. Dari Kelas Pelindung." kenal Mikael singkat padat dan jelas.
•
•
•
•
•
•
•
Bersambung.