Secret

Secret
Damn!



Bahkan setelah lama tinggal di rumah itu Hyemi masih belum terbiasa dengan tempatnya yang baru. Hal itu membuatnya tidak nyenyak saat tidur. Dia selalu terbangun setelah beberapa jam. Seperti sekarang ini, saat Hyemi baru menapaki alam mimpi dan dia tiba-tiba terbangun karena perasaan khawatir.


Hyemi beberapa kali membalikkan badan ke kanan dan ke kiri. Dia juga sudah memejamkan matanya. Saat mencoba untuk memaksa pikirannya beristirahat, sekeras apapun dia mencoba, dia masih sibuk memikirkan ini dan itu.


Saat tinggal di rumahnya yang dulu, Hyemi selalu mengeluh karena tempatnya benar-benar berisik. Dia tinggal di lingkungan yang dekat dengan tempat pembangunan. Banyak sekali suara-suara dari alat beban yang membuat konsentrasinya belajar terganggu. Terkadang hal itu membuatnya susah tidur. Pada dasarnya Hyemi memang tidak bisa tidur kalau mendengar suara berisik. Kebiasaannya itu mungkin menurun dari ayahnya. Berbeda dengan ibunya yang walaupun ada guncangan sedikitpun ibunya tidak akan terbangun.


Keadaan ruangan yang sunyi seharusnya memudahkan Hyemi untuk terlelap. Hyemi merasa lebih nyaman karena suasana tenang saat malam hari, dia tidak perlu mengkhawatirkan ketika urusan belajarnya diganggu, tidak perlu menyumpal lubang telinganya dengan kapas atau mengunci rapat-rapat kamarnya agar gangguan dari suara luar tidak terdengar begitu jelas.


Hyemi menyibakkan selimutnya dan bangun dari tempat tidur. Matanya melirik kearah jendela. keadaan kamarnya yang remang-remang membuat Hyemi sedikit tidak tenang. Dia kemudian menyalakan lampu duduk di sebelah tempat tidurnya, mengambil guling dan memeluknya sebentar sambil mengamati bahwa dia berada di tempat itu sendirian tanpa ada yang mengawasi.


Sehun selalu datang entah darimana. Tiba-tiba saja saat Hyemi membuka mata Sehun sudah duduk di sebelahnya, atau terkadang membaca buku koleksi Hyemi di rak, atau berbaring di sebelahnya sambil meniup-niup matannya. Padahal Hyemi sangat yakin kalau dia sudah mengunci pintu, tapi Sehun yang adalah pemilik rumah selalu memiliki cara untuk menyusup ke dalam kamarnya, entah melalui jendela atau menggunakan kunci duplikat.


Wajah Sehun yang memerah karena sedang sakit membuat Hyemi tidak bisa berhenti memikirkannya. Dia meraba pada jantungnya yang berdetak cepat seiring bayangan Sehun yang muncul di dalam pikirannya. Mengusiknya seperti nyamuk yang berterbangan di dekat telinga.


"Hemm, tapi sekarang sudah lebih baik karena kau di sini."


Satu tangan Hyemi meremas ujung bantal yang ditindih saat terbaring menyamping, membayangkan kembali tubuh Sehun yang terbaring nyaman di sampingnya dua hari yang lalu membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Bahkan ucapannya masih terdengar di telinganya sampai saat ini.


Malam itu dengan susah payah Hyemi akhirnya berhasil keluar dari kamar Sehun. Genggaman tangannya waktu itu begitu erat, Hyemi sampai takut kalau Sehun akan terbagun karena gerakan sekecil apapun. Beberapa kali usahanya untuk melepaskan diri juga gagal, perhatian Hyemi malah terfokus pada otot tangannya yang menyembul keluar. Beberapa kali igauan Sehun menyadarkan Hyemi dari fantasinya yang tidak masuk akal. Dia mendengar Sehun memanggil nama ibunya dan Hyemi merasa kasihan pada bocah malang itu (Sehun). Melihat keadaan Sehun seperti itu perasaan bersalahnya kembali muncul. Bersalah karena keberadaannya dan ibunya yang bagaimanapun sudah mengambil alih posisi seseorang yang teramat penting dalam hidup Sehun.


.


Hyemi baru akan memasukkan sendok kedalam mulut ketika ibunya dari arah belakang memanggil dan membuat sebuah perintah.


Anna datang saat meletakkan makanan lain diatas meja. Reaksi Anna saat menatap Hyemi yang mencebik hanya tersenyum geli. Anna, pasti tahu apa penyebabnya. Pelayan itu hampir selalu mendampingi ibu Hyemi menyiapkan makanan dan selalu tahu reaksi Hyemi saat mendapat perintah melakukan hal yang paling tidak disukainya, membangunkan Sehun.


"Anna, kita ini sudah berteman kan?"


"..." Alis Anna bertaut.


"Kau mau melakukannya untukku 'kan?"


Hyemi berbisik saat mendekatkan tubuhnya pada Anna yang sedikit membungkuk saat meletakkan piring lain di tengah meja. Dia berharap kalau Anna akan sedikit membantunya, karena Anna selalu melakukan apapun yang Hyemi minta tapi ternyata itu ada pengecualian.


Hyemi pikir Anna akan merubah keputusannya untuk mengubah kata 'tidak' menjadi 'iya' dengan Hyemi memberikan imbalan. Tapi hal itu tidak pernah berhasil, karena itu Hyemi selalu merasa jengkel.


"Bukannya dulu itu tugasmu?"


"Ya, memang, tapi sekarang sudah menjadi tugasmu, Hyemi."


Senyuman Anna bagaimanapun membuat Hyemi tidak tahan untuk tidak mencibirnya.


Kebersamaan mereka sudah menumbuhkan persahabatan diantara keduanya, tanpa sadar mereka sudah menganggap satu sama lain seperti itu. Hyemi seharusnya memanggil Anna dengan sebutan kakak tapi gadis dengan lesung pipi itu tidak mau dipanggil seperti itu, lagipula mereka hanya berjarak enam bulan dan Hyemi senang-senang saja memanggil Anna dengan namanya langsung.


**


Hyemi menghentikan langkahnya di ujung tangga, melirik foto besar yang memajang wajah nenek Sehun dengan muka masam. Dia merasa bersyukur karena nyonya besar itu lebih memilih untuk tinggal di kediamannya sendiri dari pada di rumah yang dia tinggali bersama ibunya. Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa jadinya dia sekarang kalau Hyemi terus-terusan menghadapi nenek Sehun yg begitu otoriter.


Hari-hari saat Hyemi tinggal pertama kali di rumah ini tidak bisa dikatakan cukup menyenangkan, gerak-geriknya selalu diawasi Nenek itu, bahkan saat langkah kaki Hyemi yang menaiki tangga dengan sedikit berlari menjadi masalah tersendiri untuknya. Sehun hanya memperhatikan sambil terus tersenyum geli saat omelan neneknya itu dirasa cukup menghibur, dan saat tiga puluh menit berlalu lelaki itu pasti akan muncul dan menyudahi pidato neneknya yang membuat kaki Hyemi keram karena harus duduk bersimpuh selama lebih dari sepuluh menit.


Sekarang kalau Hyemi berteriakpun tidak akan ada yang akan menegurnya. Ayah Sehun lebih sering berada di luar kota untuk mengawasi pyoyek, menyerahkan semua pekerjaannya kepada asistennya. Tapi sesekali Hyemi juga sering melihat Sehun mengambil alih pekerjaan ayahnya dengan mengikuti rapat yang menurut Hyemi itu sangat mustahil untuk diikuti oleh seorang siswa seperti dirinya.


Tapi Paman Lee—asisten tuan Oh—mengatakan kalau Sehun selalu bisa diandalkan sekalipun masih seorang pelajar. Hyemi tidak percaya hal itu sampai dia mendengar pembicaraan penting di ruang tengah antara Sehun dan Paman Lee mengenai pekerjaan. Itu adalah saat Hyemi melihat Sehun mengenakan setelan jasnya untuk pertama kali, yang bagaimanapun hal itu membuat jantung Hyemi berdebar. Sehun bahkan terlihat semakin tampan dengan pakaian resmi semacam itu.


Hyemi menarik pipi kanannya untuk menyadarkan diri dari pikiran tentang Oh Sehun, terutama bagian seberapa menggodanya dia dengan jenis pakaian yang melekat di kulit putihnya itu. Bahkan Hyemi mulai merasa panas di area pipinya, itu jelas karena pikirannya yang sibuk membayangkan hal-hal aneh dan beberapa memori yang tiba-tiba muncul saat Sehun membawanya seolah tidak pernah menapak di bumi.


Ketukan pertama Hyemi terdengar pelan, lalu mendekatkan telinganya ke pintu untuk mencari tahu apakah Sehun memberikan respon. Ketukan keduanya masih sama saja, dan diketukan ketiga Hyemi masih tidak mendengar tanda-tanda kehidupan di dalam sana. Hyemi beridiri didepan pintu sambil menimbang apakah dia harus menerobos masuk atau turun kebawah saja untuk melanjutkan sarapannya. Tapi kalau dia pergi begitu saja ibunya pasti tidak akan tinggal diam dan mengoceh tanpa henti. Jadi Hyemi memberanikan diri unuk memutar kenop pintu, berpikir kalau itu mungkin saja terkunci dan Hyemi punya alasan, tapi sialnya tidak. Setelah pintu berhasil dibuka, Hyemi menarik tangannya dengan segera, berbalik dan berniat meninggalkan kamar itu, tapi Hyemi tahu ibunya tidak akan membuatnya duduk dengan tenang.


"Aku merindukan suara mesin kontraktor itu," gumam Hyemi, saat akhirnya dia memasukkan kepalanya lebih dulu dari sela pintu. Dia mengedarkan pandangannya, mencari sosok Sehun yang terbaring di ranjang tapi akhirnya tidak dia temukan.


Tidak ada siapapun. Hyemi melepas pegangan pintu dan melangkahkan kakinya dengan santai saat mendapati ranjang Sehun kosong dengan selimut yang hampir terjatuh ke lantai.


Dia mungkin sudah berangkat.


Hyemi merapikan tempat tidur Sehun yang cukup berantakan sambil berpikir kenapa juga dia melakukan hal ini? Dan matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di atas nakas.


Hyemi tahu Sehun adalah salah satu orang yang lebih suka membaca buku dan menghabiskan waktunya di meja belajar dari pada bermain game, membaca komik, atau kegiatan lainnya seperti remaja normal. Tugasnya di rumah ini tidak hanya untuk bersekolah dan belajar, tapi juga memenuhi kewajibannya sebagai pengganti ayahnya di perusahaan. Dan yang dia temukan di atas nampan menjadi bukti kalau Sehun adalah orang yang mengandalkan obat-obatan untuk mempertahankan daya tahan tubuhnya.


"Sedang apa?"


Suara itu membuat Hyemi menoleh. Mendapati Sehun yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melingakar di lehernya.


"Kenapa kau berdiri di sana?"


Sehun menambahi sambil mengusap rambutnya dengan ujung handuk.


Gugup, Hyemi membung muka saat kedua tangannya menepuk-nepuk pahanya pelan. Tiba-tiba dia menunjuk obat yang tadi dilihatnya dan mendapat ide bagus untuk mengalihkan perhatian Sehun.


"Kau minum obat?"


"Hanya beberapa vitamin,"


"Vitamin?"


"Hemm." Ada jeda sebelum Sehun kembali bersuara, "Apa yang kau lakukan di sini?"


Hyemi terkejut, mendongak, menatap Sehun saat pemuda itu bersandar pada pintu, satu-satunya jalan yang membawa Hyemi keluar dari kamar ini.


Hyemi berusaha menyenyahkan kegugupannya, dan berharap kalau 'penyakit' Sehun tidak kambuh lagi karena melihatnya di sana.


"Panggilan untuk sarapan." Tatap Hyemi. Dia lantas berjalan ke arah pintu—ke hadapan Sehun—sebelum menyikut Sehun dan membuat pemuda itu menyingkir.


"Kau tahu apa yang kulakukan setiap pagi dan kau masih melakukan ini."


Tangan Hyemi menggantung di kenop pintu saat mendengarnya mulai bicara. Dia mulai menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan saat matanya tertutup. Bagaimanapun Sehun adalah orang yang paling diandalkan di sekolah maupun di perusahaan, tidak seharusnyakan Hyemi membuat lelaki itu terbaring di ranjang dengan kaki terbalut perban atau semacamnya.


"Kau tidak peduli atau kau memang menginginkannya?"


"..." Hyemi hanya melirik sebentar dan melihat seringaian nakal.


Harus Hyemi akui kalau ucapan Sehun selalu tidak bisa mengontrol detak jantungnya. Suara dalam kepalanya mengisyaratkan untuk lari sekarang juga tapi bukannya pria tinggi itu memang hampir selalu melakukannya? Hyemi bahkan semakin pintar menyembunyikan kegugupannya dengan memasang wajah kesal karena permainan kata Sehun yang selalu membuatnya merinding.


"Sarapan. Sekarang!"


Dua kata itu sudah cukup menegaskan kalau Hyemi memang tidak ingin meladeni candaan Sehun, tapi sepertinya Sehun tidak ingin cepat-cepat menyudahi pertemuannya karena saat Hyemi memutar kenop dan menariknya, pintu itu tidak mau terbuka. Dia mencobanya beberapa kali dan pintu itu masih tersangkut. Hyemi melirik Sehun dan mendapatkan senyuman yang membuat tubuhnya merinding geli. Hyemi mengatupkan giginya menahan kesal, melirik dengan ekor matanya yang membuat Sehun semakin melengkungkan bibirnya.


"Kau menguncinya?"


Sehun mengedikkan bahu.


Si pemilik kamar hanya menyandarkan sebelah bahunya di tembok. Handuk yang melingkari lehernya sudah menggantung dalam genggamannya saat pemuda itu menyilangkan tangannya dan berkata, "Aku pikir kau cukup pintar untuk tidak masuk ke kamar ini lagi, Hyemi. Dan melihatmu di sini kupikir kau memang tidak keberatan dengan apa yang kulakukan padamu, benar kan? Bukankah kau seharusnya menghindar? Atau kau memang sedang menggodaku?"


Hyemi melirik Sehun sekali lagi sebelum menyandarkan dahinya di pintu dan berpikir bagaimana caranya membuat Sehun bersikap normal.


"Aku pernah mendengar ini dari Chanyeol."


Kepala Hyemi berputar dengan dahi masih menempel pada dinding pintu saat Sehun mulai bersuara lagi. Hyemi tidak perlu menggunakan kata-kata untuk menanyakan maksud ucapan Sehun karena dari ekspresinya Sehun mengerti bahwa Hyemi butuh sebuah penjelasan.


"Aku dengar kau bahkan belum pernah melakukannya dengan dia."


Ucapan Sehun sukses membuat Hyemi menarik kepalanya. Berdiri tegak dengan menatap Sehun yang tersenyum miring dan itu menambah kekesalan Hyemi yang mmembuat darah tingginya naik.


"Apa maksudmu?"


Hyemi hanya butuh jawaban bukan gerakan tiba-tiba Sehun yang mengurungnya dengan kedua tangan dan mendekatkan wajahnya seperti orang yang ingin mengendus makanan.


Hari di mana Hyemi merasa jantungnya akan melompat keluar kembali dialami saat kedua tangan Sehun menyentuh pundaknya dengan hati-hati. Hal selanjutnya yang akan terjadi pasti seperti yang ada dipikiran Hyemi sekarang ini, dan pikiran kotornya itu membuat seluruh persendiannya lemas sampai dia membutuhkan pintu di belakangnya untuk menopang bobot tubuhnya. Bagaimanapun Hyemi harus mengontrol dirinya, karena itu sebisa mungkin Hyemi tetap menjaga kewarasannya dan menatap kedalam mata Sehun dengan tekat.


Detik berikutnya Hyemi mendengar suara ibunya memanggil. Cukup keras, dan itu adalah kebiasaan ibunya saat nenek Sehun tidak sedang berkunjung.


Hyemi tahu pria didepannya ini tidak akan begitu saja melepaskannya, tapi tetap saja Hyemi berpikir kalau mungkin saja kesehatan lelaki itu yang menurun dua hari yang lalu sedikit mengembalikan kewarasannya. Tapi nyatanya hal itu malah semakin membuat Sehun seenaknya memperlakukan dirinya.


Beberapa detik lagi mungkin Hyemi akan jatuh pinsan atau mungkin mati karena kehabisan udara. Dengan bodohnya ia menahan nafas saat menghirup aroma Sehun yang sialnya sangat menggoda libido-nya. Rambut Sehun masih basah, belum lagi melihat dada bidang lelaki itu yang sekaligus mengekspos otot perutnya, bagaimanapun itu terlihat sangat seksi dan sedikit nakal.


Hyemi mengeyahkan pikiran busuknya tentang bagaimana menariknya Oh Sehun dengan belutan handuk yang melingkari pinggang. Bagaimanapun Oh Sehun adalah pria brengsek yang tidak mungkin di kencaninya, terlebih status mereka di rumah ini yang menghalangi hubungan itu. Hyemi menarik nafas teratur saat matanya terpejam dan tanpa sadar nama pria itu sudah keluar dari mulutnya. Bahkan gumaman singkat pemuda itu saat menjawab seruannya membuat Hyemi menggidik ngeri. Kenapa itu bahkan terdengar sangat seksi?


Yang harus Hyemi pikirkan sekarang adalah bagaimana cara membuat Sehun menuruti kemauannya tanpa memberi persyaratan? Bagaimana cara membuat Sehun bertindak seperti manusia normal? Bagaimana cara membuat Sehun mengerti, bahwa mereka memiliki batasan yang harus tetap dijaga untuk kenyamanan orang-orang di samping mereka.


Sekali lagi Sehun dihadapkan dengan pilihan apakah dia harus mengikuti keinginan pikiran kotornya atau hatinya yang lemah, apakah dia harus memejamkan mata untuk menolak pemandangan indah ini atau harus menatap demi kesenangan?


Tiba-tiba saja Hyemi menjadi begitu gugup. Tapi Sehun terlihat sebaliknya. Seolah momen seperti inilah yang dia tunggu, seolah reaksi Hyemi-lah kesenangan itu.


Dibandingkan dengan Hyemi yang selalu bersikap hati-hati, Sehun tidak pernah berpikir bahwa yang dilakukannya bisa saja membuat seisi rumah jantungan. Dia tidak pernah berpikir seperti apa jadinya kalau mereka sampai tertangkap basah sedang berduaan sambil berdempetan seperti yang mereka lakukan sekarang ini. Sehun tidak memikirkan hal itu.


Bagaimanapun, Hyemi sudah mengklaim bahwa Sehun menderita serangan otak yang membuat jalan pikiran dan hatinya bertindak tidak normal. Saudara laki-lakinya itu sudah kehilangan kontrolnya. Bagaimana bisa dia menyebut ini sebagai perasaan cinta? Bagaimana rasa suka bisa disamakan dengan cinta?


Tapi apa yang bisa Hyemi lakukan? Ketika seekor domba masuk ke dalam rumah yang memelihara srigala, tidak satu pun ada yang bisa menyelamatkan hidupnya.


"Kau sungguh tidak ingin membiarkanku pergi?"


"Apa harus kuperjelas?"


Apa itu ancaman? Tapi kenapa dia harus menunjukkan wajah seperti itu? Membuatku merasa bersalah saja


Terkadang saat Sehun sedang memohon, dia selalu menatap dengan mata sendu. Dan terkadang saat Sehun mengancam, matanya seolah mengatakan bahwa itu hanya sebuah candaan. Dua kepribadian dalam satu tubuh ini hanya Sehun yang memilikinya. Dalam hal berakting, tidak ada yang lebih hebat dari Sehun.


Hyemi pikir kalau teriakannya tidak cukup membuat Sehun mundur dan tetap nekat memojokkan tubuhnya seperti itu, dia akan menggunakan serangan seperti yang sudah Hyemi pelajari dari Krista. Mungkin dengan memberikan tendangan ke arah selangkangannya. Tapi masih lebih bagus kalau mereka berbicara seperti seorang murid terpelajar, benar kan?


Saat Hyemi berpikir apa yang seharusnya dia lakukan, Sehun sudah megambil langkah pertama dan membuat Hyemi terkejut setengah mati.


Sehun berhasil mencium bagian bawah telinga Hyemi dan membuat Hyemi menjerit tertahan.


Saat itu Hyemi hanya merasa seperti lehernya dililiti ular yang berbisa. Rasanya benar-benar aneh, karena itu Hyemi segera mendorong dan menjauhkan diri. Tapi Sehun selalu punya cara untuk membuat Hyemi selalu dalam jangkauannya.


"Kau berani melakukannya?"


Hyemi mengusap tempat yang dijejaki Sehun tadi. Berusaha menghilangkan sensasi aneh dan menatap Sehun tidak percaya.


"Karena kau tidak berani melakukannya maka biarkan aku menanggungnya."


Dalam sekali dorong, bahu Hyemi sudah membentur pintu lagi. Kedua tangan Sehun mengunci di sisi kiri dan kanan. Seolah tangan itu sudah terpaku di sana, sekeras apapun Hyemi mencoba untuk menyingkirkannya, itu tidak semudah mendorong kursi.


Ujung rambut Sehun yang jatuh ke dahi masih basah, Hyemi lupa dengan fakta bahwa dia sedang menganggu pihak lain dalam urusan mandinya.


Seperti tikus yang terpojok dan ingin lari, Hyemi mengerutkan tubuhnya ketika Sehun semakin maju dengan senyum yang kurang ajar.


Hidup Hyemi tertolong dengan suara ibunya sekali lagi. Dia bernafas lega tapi wajah Sehun yang tampak kecewa membuat Hyemi mengerutkan dahi dengan ekspresi lucu. Dan meskipun begitu tangan sialan itu tidak mau berpindah tempat.


"Apa kau tidak dengar ibu sudah memanggil?"


"Aku dengar."


Sehun menjawab dan tidak sedetikpun mengalihkan matanya.


"Cepat minggir,"


"Tidak mau,"


"Kalau begitu lepaskan aku."


Hyemi mendongak hanya untuk melihat ekspresi Sehun yang minta dipukul. Tapi tatapan Sehun berkata lain. Hyemi bisa menebak apa saja yang ada di isi kepalanya, itu seperti; beri aku imbalan, ciuman, pelukan, berkencan atau apalah. Hal-hal seperti itu. Hyemi sudah sering mendengarnya dan Hyemi pikir Sehun sedang hangover atau kepalanya sudah terbentur kloset ketika sedang mandi.


"Lepaskan dari apa? Lihat aku tidak mengikatmu atau mengurungmu kan?"


"..." Hyemi mengatupkan giginya karena kesal.


Saat Sehun mengatakannya, entah kenapa itu terkesan seperti sedang membujuk anak kecil. Berikan aku permen dan kau bisa bermain dengan boneka ini, seperti itu. Dan kalau Hyemi tidak memberikan satu-satunya permen yang dia miliki, memangnya Sehun mau melakukan apa?


"Jangan seperti ini. Jangan membuatku membencimu. Jangan bermain-main denganku!"


Hyemi menggunakan satu tangan untuk menyingkirkan tangan Sehun. Memukulnya, menggesernya, mencubitnya. Sepertinya kulit itu setebal kulit badak. Tangannya tidak cukup kuat untuk membuat tangan Sehun agar menyingkir. Dan aksi Hyemi ini malah dijadikan tontonan dan hiburan untuk Sehun sendiri. Sialan!


Wajah Sehun mendekat, aroma sabun di tubuhnya seketika menyebar dan menguat. Kedua tangan Hyemi mengepal kuat, dia sudah sangat siap berteriak tapi suara Sehun yang tenang terdengar di sisi wajahnya.


"Kau tahu sendiri kan, kalau aku sangat menyukaimu."


Sekujur tubuh Hyemi merinding. Ditambah tangan Sehun yang tiba-tiba pindah untuk menarik pinggangnya.


Hyemi yang sedang memegang ponselnya berpikir, apakah dia boleh menggunakan itu untuk memukul kepala Sehun saat ini juga? Tapi pada akhirnya Hyemi mengurungkan niatnya. Seolah Hyemi sudah mulai sedikit tergoda, tapi kewarasannya sedikit lebih besar dari pikiran erotis yang tiba-tiba muncul dalam otaknya. Jadilah kedua tangannya menahan Sehun dan tidak sengaja menyentuh kulitnya yang lembab.


Hyemi bisa merasakan ujung bibir Sehun yang hempir menyentuh telinganya, tapi Hyemi buru-buru menghentikannya sebelum semuanya berjalan terlalu jauh.


"Bukannya kau ingin aku melepaskanmu?" tiba-tiba Sehun bersuara. "Tapi aku belum menerima apapun,"


"..."


"Beri aku alasan kenapa tidak boleh melakukannya lagi."


Kenapa bisa ada orang seperti ini? Apa dia benar Yoon Sehun? Laki-laki yang mendapat peringkat satu dan terkenal dengan sopan-santunnya? Aku rasa semua perempuan di sekolah harus tahu bagaimana sosok laki-laki ini dalam kehidupan nyata. Aku yakin dia akan langsung mendapatkan julukan pria brengsek! Predikat nomor satu sebagai penggoda wanita.


"Apa kau hanya menggunakan otak cerdasmu itu di sekolah saja? Atau perlu kuperjelas dengan menunjukkan kartu keluarga?"


"Apa yang salah dengan itu?"


Pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas itu salah, kenapa masih ditanyakan lagi?


"Please, Sehun! Apa harus aku memanggilmu 'kakak' supaya kau mengerti?"


Sehun menarik tangannya dengan ekspresi yang rumit. Mungkin karena tadi Hyemi menyebutnya sebagai 'kakak', atau mungkin juga dia sudah lelah bermain kucing dan tikus.


"Apa kau tidak menyukaiku?"


"..."


Pertanyaan macam apa itu? Coba diperjelas suka dalam bentuk apa dulu. Hyemi ingin berkata begitu tapi takut kalau dia salah bicara.


"Kau yakin tidak suka?"


Sehun menekankan pertanyaannya sekali lagi.


"Kita ini saudara. Kau—"


"Jadi kenapa memangnya kalau kita saudara?"


Kenapa? Masih saja tanya? Dimana dia meletakkan otaknya?


"Kalau begitu, apa perlu kubuat mereka bercerai?"


Dari sekian banyak obat yang Sehun konsumsi, Hyemi benar-benar penasaran apa yang diresepkan dokter padanya sampai Sehun menjadi sedikit gila.


Saat Hyemi mengecap sesuatu yang aneh di bibirnya dia tahu kalau dalam sekejap Sehun telah membuat seluruh syaraf dan persendiannya tidak bekerja. Kalau Sehun tidak cepat-cepat menahan tubuh Hyemi dengan melingkari pinggangnya menggunakan satu tangan mungkin tubuh kecil Hyemi sudah jatuh ke lantai. Jantungnya berdebar hebat, begitupun dengan Sehun saat telapak tangannya menyentuh dada pria itu. Merasakan sengatan kecil karena ini jelas untuk pertama kalinya Hyemi menyentuh kulit Sehun tanpa lapisan kain.


Tangan itu merambat naik mengusap punggung Hyemi yang masih terbalut jas seragam sekolah, Hyemi bagaimanapun bersyukur karena Sehun tidak berbuat gila dengan merusak seragamnya.


Saat Sehun mendesaknya, menciumnya seperti tidak ada hari esok, Hyemi tidak sadar kalau dia mendorong Sehun hingga menabrak meja kayu yang menempel dinding di belakang mereka dengan tidak melepaskan bibirnya. Mungkin Hyemi sudah termakan rayuannya sampai bertindak aktif dengan membalas ciuman Sehun, dia bahkan tidak mencoba melepaskan diri sampai 90 detik berlalu sejak mereka saling berpagutan mesra.


Hyemi yakin dirinya sedang dalam tingkat kesadaran seratus persen. Dan geraman Sehun di sela-sela kegiatannya seharusnya membuat Hyemi secepat kilat menarik tubuhnya menjauh.


Sehun tersenyum di sela-sela ciumannya karena berhasil menarik sisi lain dari seorang Oh Hyemi. Ternyata dugaannya memang benar, bahwa Hyemi juga menginginkannya, kalau tidak, kenapa Hyemi membiarkannya menciumnya dengan liar seperti ini? Tekanan tubuh Hyemi yang semakin menuntut bahkan membuat Sehun hampir kehilangan keseimbangan kalau dia tidak cepat-cepat meraih ujung meja. Sebagai gantinya, sebuah vas terjatuh ke lantai karena lengan Sehun tanpa sengaja menyentuhnya. Hyemi tersentak, lalu menarik wajahnya hingga bertatapan dengan Sehun yang tersenyum dengan masih berpegangan di pinggang Hyemi yang membuat gadis itu bergeming karena terkejut.


"Kalau Chanyeol bertanya, katakan kau sudah pernah melakukannya. Seingatku ini yang kedua kalinya," kata Sehun, saat menangkap raut binggung dari wajah Hyemi. Pria itu tersenyum, mengusap bibir Hyemi, menghilangkan jejak salivanya sebelum kembali berkata. "Bukankah kau belum pernah berciuman dengan Park Chanyeol?"


.


.


"Pernah."


"Pernah?"


Bekyun mengulang, dia bahkan terkejut dengan intonasinya sendiri. Kenapa bahkan hal itu mengusik pikirannya? Hal normal kalau sepasang kekasih itu berciuman kan? Tapi Bekyun benar-benar tidak bisa membayangkannya, espresinya menjadi sedikit aneh dan Chan Yool melihat itu dengan wajah tersenyum.


"Bibir?"


Bekyun meminta konfirmasi. Dan Chan Yool mengangguk sebagai jawaban.


Bahu Bekyun seketika turun, meskipun tidak begitu jelas tapi dia sadar kalau hal itu sudah membuatnya mengurangi rasa percaya dirinya.


"Bek, ada apa denganmu?" Detik berikutnya dia sadar kalau Bekyun mungkin membayangkan apa yang diucapkannya tadi. Seketika wajahnya berubah panik. "Ya ampun, Bek, ini tidak seperti yang kau pikirkan,"


"Chan Yool—" Bekyun menelan ludahnya sebelum melanjutkan, "—tidak apa-apa, aku rasa itu wajar. Kalian pria dan wanita, sepasang kekasih, menurutku tidak ada yang salah kalian itu."


Chan Yool berdecih dan tersenyum geli mendengar Bekyun mengucapkan hal yang tidak sesuai dengan ekpresi wajahnya.


Saat senyuman Chan Yool membuat Bekyun merasa malu, dia berjalan lebih dulu meninggalkan Chan Yool. Buku masih dalam genggamannya, dan matanya yang menjelajahi barisan huruf itu sama sekali tidak membantu mengenyahkan bayangan Chan Yool bersama Hyemi dulu. Bekyun menyerah dan menggantung bukunya di samping saat langkahnya semakin lama semakin cepat. Bekyun merasa aneh dengan dirinya, dia tidak pernah merasa seperti ini dan mendengar Chan Yool menceritakan masa lalunya entah kenapa membuatnya tidak memiliki mood sama sekali.


Bekyun mengabaikan suara beriton dari arah belakangnya, di belokan pertama Bekyun hampir berhasil meninggalkan Chan Yool kalau pria itu tidak muncul di depannya dengan tiba-tiba. Chan Yool menundukkan kepalanya seolah mencari tahu ekspresi Bekyun. Setelah secara jelas melihat wajah suramnya, Chan Yool kembali menegakkan tubuhnya—menenggelamkan sebelah tangannya ke saku saat tangannya yang lain berada di puncak kepala Bekyun.


"Kalau kau tidak suka mendengarnya kenapa bertanya? Jangan memasang wajah seperti itu."


Bekyun melirik sekilas, tidak berani untuk menatap langsung karena seluruh darahnya pasti akan langsung berkumpul di kedua pipinya. Dan senyuman itu, bagaimanapun Bekyun sangat menyukainya.


"Kau marah karena aku mengungkit masa laluku dengan Hyemi?"


Chan Yool bertanya, sedikit ragu karena melihat Bekyun sepertinya tidak suka tapi Chan Yool memaksa bertanya.


Dia bersiap menghalangi langkah Bekyun kalau Bekyun mau kabur lagi. Tapi nyatanya tidak. Bekyun memanggilnya dengan ragu-ragu.


"Chan Yool—"


"Kau marah perihal ciumanku dengan Hyemi?"


Memang benar kalau Chan Yool adalah lelaki yang bahkan tidak peka dengan hal-hal seperti ini. Dia mengucapkan hal itu seolah tidak akan memberikan efek apapun pada orang yang mendengarnya, nyatanya Bekyun merasa tidak nyaman mendengarnya dan Bekyun benci karena harus merasakan ini.


Sejak mengenal Chan Yool, dia tidak berpikir kalau dirinya akan jatuh hati pada seorang pria. Bekyun tahu dirinya berbeda sedangkan saat itu Chan Yool tidaklah seperti dirinya. Chan Yool memiliki kekasih dan dia adalah seorang wanita. Mendengar Chan Yool bercerita tentang Hyemi membuat Bekyun merasa sangat aneh karena entah kenapa dirinya tidak suka mendengar hal itu. Dan saat kabar putusnya mereka, Bekyun tidak tahu lagi harus berkata apa. Kejutan lain adalah saat Chan Yool mengatakan menyukai orang lain dan merasa selama ini hubungannya dengan Hyemi tidak memberikan efek apapun padanya.


"Baiklah Bek, maafkan aku, lagipula ini tidak seperti yang kau bayangkan."


Chan Yool menarik tangannya dari kepala Bekyun, membuat surai rambut Bekyun yang berwarna coklat sedikit berantakan.


"Aku yakin kau pasti tidak akan marah lagi kalau aku menunjukkannya padamu seperti apa dia menciumku saat itu."


Terkejut, Bekyun melotot saat menatap wajah Chan Yool yang tersenyum dengan membentuk sedikit lesung pipi di sebelah kiri. Chan Yool menunduk dengan kedua tangan yang tenggelam dalam saku—mensejajarkan tingginya dengan Bekyun—sampai membuat Bekyun menarik kakinya kebelakang seperti posisi memasang kuda-kuda.


Saat itu yang dipikirkan Bekyun adalah bagaimana dia bisa mengontrol detak jantungnya karena merasa takut kalau Chan Yool bisa mendengarnya. Bekyun berharap kalau apa yang dia pikirkan itu salah—bahwa Chan Yool benar-benar akan melakukannya—karena wajah Chan Yool sekarang ini terlihat serius seperti ingin melakukan apa yang diucapkannya tadi.


Tanpa sadar Bekyun menutup kedua matanya. berharap kalau Chan Yool tidak akan melakukannya tapi juga penasaran seperti apa jika mereka melakukannya. Tapi yang terjadi selanjutnya adalah bibirnya menyentuh kulit yang kasar. Rasanya sedikit aneh. Saat Bekyun membuka matanya dia melihat kedua jari Chan Yool tepat berada di depan bibirnya, senyuman Chan Yool itu membuat pipi Bekhyun merah. Selanjutnya adalah suara kekehan ringan dari Chan Yool saat menarik tangannya dan mengusap jarinya dengan jari lain.


"Kenapa kau menutup matamu?"


Pertanyaan itu seratus persen adalah ejekan yang dilayangkan Chan Yool untuk menggoda Bekyun. Dan Bekyun tidak pernah menyangka kalau Chan Yool hanya akan membuat kedua jarinya menyentuh bibir miliknya.


"Benarkan? Kau pasti membayangkan hal lain saat aku menceritakan perihal ciuman itu. Wajahmu jadi merah begitu."


Bekyun berdehem sekali saat membuang muka. Dia memposisikan dirinya dengan berdiri tegap meskipun merasa canggung dengan situasinya.


"Sialan. Enyah kau!" Bekyun menggunakan kakinya untuk membuat tendangan di betis Chan Yool tapi Chan Yool berhasil menghindar sambil tertawa.


"Jangan marah begitu."


"Berani-beraninya mempermainkanku!"


"Soalnya kau mudah sekali dibohongi sih."


Bekyun cemberut. Merasa jengkel sekaligus malu.


"Jadi itu yang kau maksud?"


"Hemm." Chan Yool menggangguk dengan ekrspresi datarnya. Bagaimanapun dia merasa edikit aneh karena sedetik kemudian melihat Baekhyun menarik ujung bibirnya, membentuk senyuman meskipun itu tidak begitu jelas.


"Lebih tepatnya bukan aku yang melakukannya, tapi Hyemi. Anak itu benar-benar sangat aneh karena tidak membiarkan lelaki manapun menyentuhnya."


"YAA! PARK CHAN YOOL!"


Lengkingan itu membuat Chan Yool memutar tubuhnya dan Bekyun menggerakkan tubuhnya ke kiri mencari tahu apa yang terjadi.


Gadis itu mempercepat langkahnya, menghampiri Chan Yool yang terlihat bingung.


Selanjutnya, seorang gadis sudah melayangkan tendangannya ke arah tulang kering pemuda di depannya, membuat pemiliknya mengaduh dan berjingkat.


Bekyun hanya memekik karena terkejut, memandangi Chan Yool yang menahan sakit, lalu beralih ke arah gadis yang mengatupkan giginya karena kesal.


"Hyemi! Aku akan menuntutmu karena tindak kekerasan!"


Rintihan Chan Yool bahkan terdengar dari sela-sela ucapannya. Dan Hyemi, gadis yang melayangkan serangan padanya hanya berdiri dengan menyilangkan kedua tangan.


"Siapa yang menyuruhmu bicara sembarangan seperti itu pada Sehun?" geram Hyemi. Dia mendengus saat mendengar Bekyun menyebut namanya dan meminta Hyemi untuk tenang.


Tatapan Hyemi beralih ke Bekyun. "Senior, sebaiknya kau menjaga mulut pacarmu ini atau kalau tidak—" Hyemi menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah. "—aku akan membuatnya terbaring di unit gawat darurat."


Hyemi tidak pernah merasa semarah ini. Tapi salah Chan Yool karena berani membuka mulut sampai Sehun tahu bahwa Hyemi belum pernah berciuman. Hal itu pasti akan menjadi bahan ejekan karena sejak pagi ekspresi Sehun seperti orang yang minta di pukul.


Kemarahan Hyemi semakin memuncak karena orang yang melintas dalam pikirannya muncul di hadapannya.


Sehun itu berdiri dalam jarak sepuluh meter di depannya.


Bekhyun juga memutar tubuhnya, lalu melihat Sehun, lalu Jong Il yang bergeming dan menyaksikan dengan ekpresi ingin tahu. Reaksi berbeda ditunjukkan Sehun karena memang Sehun lah satu-satunya yang mengetahui alasan Hyemi melabrak Chan Yool.


"Kita melewatkan pertunjukan bagus."


Jong Il berkomentar dengan terus menatap karena penasaran. Lalu meringis seperti orang bodoh saat dirasa tatapannya bertemu dengan manik mata Hyemi yang terlihat seperti ingin mencekik leher orang.


"Menurutmu apa yang membuat wanita itu seperti psikopat?"


Sehun memutar kepalanya, menatap Jong Il yang bagaimanapun sudah menyakiti telinganya karena mendengar kata sudah mengatai Hyemi psikopat.


"Siapa yang kau panggil psikopat?"


"..."


Sehun melangkah pergi. Dan Jong Il yang membeku karena tatapan mengerikan dari Sehun segera sadar dan mengikuti Sehun dari belakang.


.


.


.


TBC