Secret

Secret
17



Erga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia kehilangan kata-katanya.


Bagaimana pria dihadapannya bisa sampai ditempat ini?


Tidak apa-apa baginya.


Tapi bukankah, dia seharusnya berada di Kota D saat ini?


Sama seperti dia, pria ini  sangat sulit untuk ditemui. Pasalnya dia selalu sibuk dan sering berpindah dari satu Kota ke Kota lainnya.


Terakhir kali, dia mendengarnya berada di Kota D. Tapi, lihatlah! Pria itu sekarang ada tepat dihadapannya.


Mengusap kepala Erga, Joan tahu bahwa Erga tengah kebingungan saat ini.


Tanpa mempedulikan orang-orang sekitar, "Saya baru tiba beberapa menit lalu. Joana mengatakan pada saya bahwa dia akan sibuk dan tidak dapat menemanimu". Ucap Joan dengan lembut.


Sikap malas yang dia tunjukan berubah menjadi  lembut dan menyenangkan.


Suaranya ringan dan sangat enak di dengar ketika dia berbicara.


Erga segera menganggukan kepalanya mengerti.


Mencium sesuatu, Joan menundukan kepalanya. Wajahnya dan Erga sangat dekat. Menyipitkan matanya, "Bukankah sudah dikatakan untuk tidak menekannya dengan banyak alkohol?"


Erga membeku.


Orang-orang disekitarnya memiliki hidung anjing yang cukup menjengkelkan baginya.


"Hanya sedikit". Ucap Erga sambil mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya.


Menaikan alisnya, "Benarkah?"


Erga hanya diam-diam menganggukan kepalanya.


Pemandangan itu tidak luput dari orang-orang sekitar. Mereka menyaksikan adegan itu dengan bingung.


Keysha yang melihat tatapan Jonathan yang tidak biasa, dia tidak bisa tidak tersenyum.


"Kalau begitu Erga. Kami tidak akan mengganggu kalian lagi".


Ucapan Keysha menyadarkan Erga bahwa mereka masih berada di tempat ini.


Mencubit hidungnya, betapa memalukannya.


"Oh.. siapa ini?" Tanya Joan. "Erga, kamu memiliki tamu tapi kamu bahkan tidak mengundang mereka untuk masuk".


Erga, "..."  kenapa saya yang disalahkan?


"Saya Keysha sahabat Erga". Keysha memperkenalkan dirinya, menunjuk Jonathan dan yang lainnya, "Mereka adalah saudara-saudara saya".


Mengangguk, Joan tersenyum, "Keysha, senang bahwa dia masih memiliki teman dengan sikapnya yang seperti ini".


Erga menatap Joan tidak percaya, "..." apakah kamu masih saudara ku yang baik?


Mengangguk, Keysha merasa cukup tenang, "Tuan Joan, karna Anda disini, maka kami pamit pergi terlebih dahulu".


"Kamu dapat memanggil saya Saudara Joan seperti Erga". Ucap Joan kemudian melanjutkan, "Baiklah. Hati-hati dalam perjalanan".


Bagaimanapun juga Keysha adalah sahabat Erga yang pertama yang dibawanya ke Villa ini, jadi Joan sebisa mungkin bersikap sopan.


Setelah berpamitan, Keysha dan lainnya segera masuk mobil dan pergi dari Villa tersebut.


Jonathan mengemudi dengan pelan, Keysha duduk di co-driver.


Melihat raut wajah Jonathan, Keysha terkikik, "Saya tidak tahu Erga memiliki Saudara setampan dia, tidak heran dia mengabaikanmu dari awal sampai akhir".


Mendengar wahyu yang begitu langka dari mulut Keysha secara langsung membuat Julian dan Daniel terkejut.


Jika seperti itu, Erga adalah wanita pertama yang mengabaikan Jonathan.


Keduanya akan mengatakan sesuatu, tetapi melihat wajah gelap Jonathan, keduanya kembali diam dan menyimpan berita tersebut dengan baik.


Andy tidak terlalu memikirkannya. Baginya, Erga mungkin sengaja melakukannya untuk menarik perhatian Jonathan. Dia hanya berdecak dalam hati.


Melirik Keysha, Jonathan tidak memikirkan kalimat yang dilontarkan oleh Keysha. Namun, tatapan mengancamnya membuat Keysha segera tutup mulut.


Jonathan kembali mengemudi, namun dia masih memikirkan saudara Erga, Joan.


Dia tentu tahu siapa pria itu.


Dia adalah tangan kanan atau orang kepercayaan dari seseorang yang telah dia cari selama ini, Dewa Saham.


Meski dia mengetahui pria itu, untuk menemukannya, sangat sulit. Dia seperti hantu yang menghilang kapanpun dia mau. Bahkan jejak tentangnya juga di hilangkan dengan sangat baik.


Dia tidak tahu siapa yang dapat menyembunyikan jejaknya dengan begitu baik, tapi dia menyimpulkan bahwa itu adalah orang yang sama, Dewa Saham.


Setelah mencarinya keseluruh Kota, dia tidak menyangka akan bertemu dengannya di tempat ini. Meski begitu, dia tidak dapat melakukan apapun tanpa adanya perjanjian di antara keduanya.


Memikirkan ini, tiba-tiba dia disadarkan oleh lampu mobil dari arah berlawanan.


Mengerutkan keningnya, dia tidak mengatakan apa-apa.


Villa.


Erga dan Joan masih bediri dihalaman Villa.


"Mereka sudah pergi, ayo masuk". Ucap Joan.


Erga menganggukan kepalanya.


Saat mereka akan memasuki Villa, bunyi gerbang terdengar, berbalik, keduanya menyipitkan mata untuk melihat siapa yang tiba di tempat ini pada jam begini.


Ketika mobil semakin mendekat, Erga membeku.


Dengan kaku dia melihat Joan. " Saudara, apakah kamu memanggil Bibi Olivia untuk datang?"