Secret

Secret
He's Back



Teriakan Soo Jung sekali lagi membuat Hyemi mengerutkan wajahnya. Matanya terpejam saat tubuhnya terbaring nyaman di kursi santai di sisi kolam renang. Dua jam yang lalu Hyemi baru saja tiba di sebuah villa. Villa milik keluarga Park. Siapa yang menyangka kalau Soo Jung menyeret dirinya ke tempat yang tidak ingin dia kunjingi. Hyemi jelas sudah pernah datang ke villa itu saat masih menjadi kekasih Chan Yool. Keberadaannya di sana mau tidak mau membawa Hyemi ke masa lalu, mengingat kembali saat wajah bodohnya menganga karena pemandangan pantai dan villa mewah yang dimiliki ayah Chan Yool. Hyemi tahu kalau dirinya memiliki status sosial yang berbeda dengan Chan Yool, tapi dia tidak menyangka kalau sebenarnya status orangtua Chan Yool itu lebih tinggi dari bayangannya.


Pajangan berbentuk kucing menyita perhatian Hyemi saat melangkah masuk ke ruang tengah. Benda itu di tempatkan di meja yang menempel pada dinding bercat keabuan — di antara vas bunga dan figura yang menampakkan wajah kecil Chan Yool bersama seorang wanita, kakaknya.


Itu adalah pajangan rumahan yang Hyemi beli dan dihadiahkan ke Chan Yool, tidak di sangka benda itu masih terpajang di sana dan dirawat dengan baik. Hyemi pikir Chan Yool sudah membuangnya, mengingat kalau hubungan mereka sudah tidak lagi mengharuskannya menyimpan barang pemberian satu sama lain.


Hyemi melirik Chan Yool yang sesekali mengamati Bekyun dari kejauhan, pandangan mereka (HM dan CY) bertemu selama beberapa detik, dan dari tatapan Chan Yool yang seolah berkata "lihat apa kau?" dengan mata membulat dan bibir maju membuat Hyemi mencibir dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


Mata Hyemi kembali mengamati sudut-sudut ruangan, dan merasa bahwa tidak ada perubahan di tempat itu sejak satu tahun yang lalu. Sebuah lukisan yang katanya di beli Tuan Park di belanda masih menggantung di sisi kanan dekat pintu masuk. Sofa masih di tempatkan di tengah ruangan dengan TV raksasa 84 inchi di atas kabinet kayu. Hyemi pernah melihatnya di sebuahiklan, setidaknya harganya mencapai 25 juta won (setara $22.067). Di sebelahnya stereo yang sangat canggih tidak luput dari perhatian Hyemi.


Soo Jung mengatakan kalau liburan itu sekaligus untuk merayakan pesta, Hyemi hanya mengernyit heran. Dia yakin ulang tahun Chan Yool bukan dalam waktu dekat ini. Entah alasan apapun itu, Hyemi tahu bahwa ada tujuan lain Chan Yool membawa beberapa temannya ke villa pribadinya, dan maksud lain itu pasti berhubungan dengan Bekyun.


"Ya ampun! Di mana posisi kalian sekarang?"


Hyemi menoleh, sedikit mengangkat kepalanya saat mendengar geraman Bomi di sebelahnya. Temannya sedang berusaha menjelaskan jalan ke lokasi villa ini dan bisa Hyemi lihat kalau Bomi sudah terlihat frustasi. Mungkin karena orang di seberang tidak juga paham hingga akhirnya Bomi memanggil Chan Yool—yang terlihat sibuk menata makanan di atas meja—lima meter dari posisi Hyemi dan Bomi.


"Kenapa?"


"Jelaskan padanya arah villa ini." Bomi berkata sambil menyodorkan ponselnya di hadapan Chan Yool. "Aku sudah menjelaskannya berulang kali tadi dia tidak juga mengerti."


Chan Yool mengambil alih ponsel Bomi, melihat sekilas nama di layar sebelum berkata, "Jongdae ... iya ini aku ... di mana kau sekarang ...."


Chan Yool berjalan menjauh dari kolam renang sambil dengan cermat menjelaskan rute.


Di dalam kolam renang terlihat seperti surganya anak laki-laki. Ada teriakan dan suara tawa yang membuat Bomi serta Hyemi menoleh karena penasaran. Bahkan Jong Il tertawa sampai hampir merobek mulutnya ketika bercanda dan duduk berdampingan dengan Soo Jung di tepi kolam. Hyemi mendengus dan menerima nasibnya karena sudah dibohongi temannya sendiri, Soo Jung.


"Oh ya ampun, kau datang di waktu yang tidak tepat." Bomi menepuk perutnya dengan kecewa, membuat Hyemi seketika menoleh dan mendapati temannya itu sedang mengusap perutnya dengan wajah cemberut.


"Kenapa?" tanya Hyemi.


"Aku harus ke kamar mandi, dan apa kau tahu? Lihat—" Bomi menunjuk ke arah kolam di mata sekumpulan pria yang bertelanjang dada seolah sedang melakukan pemotretan majalah—"mereka cukup sayang untuk dilewatkan, sedangkan panggilan alam seperti ini selalu merusak suasana. Apa kau bisa merekamnya untukku, nona Oh?"


Hyemi disebelahnya hanya mendengus ketika Bomi lari mengitari kolam untuk mencari toilet.


"Hey, Hyemi!"


Itu suara Hyunsik, setengah tubuhnya berada di dalam kolam renang dan setengahnya lagi mengekpos dada bidangnya saat kedua tangan terlipat di lantai keramik. Pose itu sangat Hyemi kenal, gerakan lambat ketika Hyunsik menarik kebelakang rambut basahnya dan menarik sudut bibirnya dengan sengaja seperti ingin menggoda para gadis.


"Kemari!" satu tangan Hyunsik bergerak memberi isyarat agar Hyemi mendekat.


"Apa?"


"Kemari!" tangan Hyunsik masih melambai seperti pajangan kucing.


"Berhenti atau kau akan bergebung dengan mereka di dalam air." Chan Yool muncul di sebelahnya dan memberikan tatapan meremehkan sebelum menambahi kata "bodoh" dengan lirikan yang membuat Hyemi mendadak kesal.


Hyunsik mundur dengan wajah cemberut karena aksinya gagal.


Chan Yool mulai menggerakkan tangannya, mengisyaratkan pada Hyemi untuk mengambil alih ponsel Bomi.


Hyemi meraih benda itu tanpa repot-repot mengucapkan terima kasih atau apapun. dia berusaha untuk menghindari percakapan dengan orang menyebalkan seperti Chan Yool ini. Melihatnya membuat dia ingin menarik rambutnya sampai rontok.


"Apa kau selalu bersikap seperti ini juga dengan Sehun?" Chan Yool mendaratkan pantatnya di kursi tidur.


Hyemi hanya melirik tanpa minat. "Kau mau membuat pengumuman hubunganku dengan Sehun?"


"Mereka tidak akan dengar." Chan Yool berkata santai.


Sikap Hyemi masih terlihat canggung, bahkan ketika dia bertanya, "Apa yang terjadi denganmu dan Bekyun? Kelihatannya tidak baik."


"Kenapa kau sekarang jadi penasaran begitu?"


"Tidak perlu jawab kalau tidak mau." Hyemi hampir mendidih karena emosi.


Tapi Chan Yool bersikap terlalu santai, dia menarik sudut bibirnya melihat tingkah Hyemi sebelum menjawab, "Sepertinya dia marah padaku."


"Yahh, itu terlihat sekali dari sikapnya yang selalu menjauhimu."


Hyemi benar-benar menabur garam diatas luka, karena itu Chan Yool menatap jengkel tapi dia berusaha mengabaikan itu.


"Apa aku seburuk itu?"


"Soal apa?"


"Posisiku sebagai seorang kekasih. Apa aku memang seburuk itu?"


"Kau mau aku jujur?" Hyemi bertanya, dan tahu kalau dia tidak harus mendengar jawaban atas pertanyaannya tadi karena Chanyeol terlihat seperti menunggu dengan dipenuhi wajah penuh harap. "Kau memang seperti itu. Bicaramu tidak bisa di kontrol, menyebalkan karena apapun pendapat orang lain tidak pernah kau dengarkan. Orang lain harus mengikuti caramu dan kau tidak pernah mau mengikuti cara orang lain. Terlalu royal, tidak peduli jumlah uang yang kau keluarkan. Masalah uang hal sepele bagimu, tapi apa kau tahu? Saat kau dengan mudahnya menggesek kartumu, orang sepertiku—seperti Bekyun—harus mengeluarkan keringat untuk mendapatkan uang."


Celaannya mungkin sudah menonjok sisi wajah Chan Yool, tapi tidak ada ekspresi terpukul di wajah Chan Yool. Meskipun begitu Hyemi jadi merasa tidak enak hati karena sudah terlalu jujur, karena itu Hyemi buru-buru menambahi.


"Yahh, itu sih ... sedikit ... pendapatku tentangmu."


"Karena itu kau mau putus denganku?"


Hyemi mengerutkan dahinya sebelum menjawab dengan yakin. "Sepuluh persen, ya ... seperti itu."


"Sepuluh persen?" Chan Yool mengulang tidak percaya.


"Ya, sepuluh persen karena kau begitu menyebalkan, sepuluh persen lagi karena kau orang yang tidak peka sama sekali, sepuluh persen lainnya karena kau orang yang terlalu percaya diri—yang benar saja, kau menyamakan dirimu seperti Hyun Bin? Heol! Sepuluhnya lagi karena aku tahu kau tidak bahagia saat bersamaku, kau terlihat nyaman saat bersama Bekyun. Itulah yang membuatku yakin melepaskanmu saat itu."


"Wah ... kedengarannya aku ini seperti pria brengsek."


"Memang."


Chanyeol menoleh dengan senyuman khas, dan Hyemi harus mengakui bahwa pria tinggi itu masih memiliki pesona yang luar biasa. Chan Yool—untuk pertama kalinya sejak putus dengan Hyemi—merasa nyaman berada di dekat wanita itu tanpa harus merasa canggung ataupun malu.


"Kau seharusnya memukulku waktu itu," kata Chanyeol.


"Boleh sekarang saja tidak?"


"Yaaa!" Chan Yool bangkit dari posisinya saat Hyemi sudah siap melayangkan sandal ke udara. Benda itu menjadi satu-satunya senjata saat pukulan pertama mendarat di belakang bahu Chan Yool hingga pria itu melindungi dirinya dengan ke dua tangan.


Mereka tertawa karena hal itu dan perasaan canggung keduanya memudar sedikit demi sedikit.


Bekyun mengeryit, meyaksikan pemandangan dua orang yang tertawa sambil bercengkrama di area kolam renang. Sejumput perasaan iri mulai membayangi pria itu, dan dia juga sedikit menyesali perbuatannya sendiri yang begitu kekana-kanakkan mendiami Chan Yool selama tiga hari ini. Sesekali dia berpikir apakah memang dirinyalah yang tidak bisa mengimbangi Chan Yool?


Bekyun memang tidak bisa.


Mungkin, tidak akan pernah bisa.


.


.


"Kirim saja semua berkas melalui email, aku akan melihatnya nanti."


Sehun memutus panggilannya. 20 menit dia menunggu di bandara dan orang yang seharusnya menjemputnya di sana masih belum terihat batang hidungnya.


Sehun melihat seseorang keluar dari taxy dan berpikir untuk menggunakan kendaraan itu dalam perjalanan pulang. Dia mengintruksi kepada supir taxy yang kemudian keluar dan membantu Sehun memasukkan koper ke dalam bagasi, tapi kemudian sebuah suara seperti menghentikannya. Se Ho berlari secepat yang ia bisa, lalu membantu menurunkan koper dari bagasi dan meminta maaf kepada supir yang kemudian memilih untuk pergi setelah mendapat permintaan map dari Se Ho.


"Sorry, tadi ada sedikit keributan di jalan." Se Ho membuat alasan dengan menangkupkan telapak tangan dan meminta maaf dengan tulus.


Sehun tidak mau menunda terlalu lama, jadi dia membiarkan kesalahan Se Ho dan memilih untuk tidak membahasnya setelah berkata, "Hyung, aku akan memotong gajimu!" yang membuat Se Ho protes.


Di tengah perjalanan Sehun tiba-tiba saja bertanya. "Tumben sekali terlambat?"


"Tidak. Aku harus mengantar ibuku ke rumah sakit."


"Tadi bukannya kau bilang ada keributan di jalan?"


Se Ho yang keceplosan menoleh kearah Sehun sebentar sebelum menjawab. "Aku mengantar ibuku yang sakit lalu di perjalanan ada keributan."


"Hyung, kau tahu kan kalau kau ini payah saat sedang berbohong."


"Oke. Lalu bagaimana keadaan ibumu?"


"Hanya kram perut. Ibuku terlalu berlebihan, mengatakan akan mati hanya karena kram perut. Itu hanya alasan saja agar aku menemuinya. Kau tahu, hari ini aku mendengar ceramahan ibuku selama dua jam, terimakasih karena kau tiba-tiba saja menelpon, jadi aku bisa kabur dari rumah."


Sehun bisa menebak kalau topik itu pasti masalah perjodohan lagi.


"Kenapa juga ibumu ingin kau cepat-cepat menikah? Kolot sekali," kata Sehun.


"Dia tidak sabar ingin menimang cucu," Se Ho menjawab sekenanya.


"Kau terlalu muda untuk jadi seorang ayah."


"Benar, aku bahkan belum mengikuti wajib militer."


"Kalau begitu carilah pacar, setidaknya untuk menghindari perjodohan,"


"Sedang kupikirkan." Junmyeon menginjak rem tepat di persimpangan lampu merah. Menatap Sehun sekilas yang merunduk menyalakan radio dan sibuk mencari chanel yang pas. "Bantu aku mencari wanita yang mau melakukannya untukku."


"Pergi saja ke Bar. Kau akan menemukan banyak di sana."


Se Ho yang menyetir menatap Sehun beberapa kali dengan ekspresi tidak percaya. Dia tidak pernah menduga kalau Sehun akan mengatakan hal itu.


Se Ho berseru karena kagum, sengaja menggoda Sehun. "Ohoo... Sehun, apa Jeju sebegitu berpengaruhnya sampai pikiranmu menjadi nakal seperti ini."


Senyuman Sehun tampak menyebalkan sebelum dia berkata, "Menyetir saja yang benar."


.


.


Hyemi merasa seseorang sudah masuk ke kamarnya tapi dia berpikir kalau itu mungkin saja Bomi yang baru kembali dari kamar mandi setelah menuntaskan panggilan alamnya. Pikiran sederhanya itu membuat Hyemi malas membuka matanya dan terus mencoba memasuki alam mimpi, tapi gerakan di sisi ranjangnya begitu mengganggu, terlebih saat Hyemi merasakan Bomi menyentuh dahinya.


Apa-apaan itu?


Hyemi membuka mata dan bayangan seseorang terlihat kabur, tidak jelas dan berbeda dari gambaran Bomi yang dia kenal.


"Aku membangunkanmu?"


Begitu suara itu terdengar, Hyemi segera melebarkan matanya dan hampir melompat berdiri. Dia duduk dalam gerakan yang begitu tiba-tiba, mengejutkan pemilik tubuh tinggi yang jongkok di samping ranjangnya.


"Sehun?!"


Seruan itu terdengar memalukan andai saja Hyemi sadar kalau suaranya begitu tidak enak di dengar. Karena itulah Sehun tersenyum, tapi ada sedikit perasaan khawatir yang membuatnya berpikir kalau Hyemi mungkin saja sakit. Mungkin itulah yang membuat Sehun pindah dan duduk di ranjang, mengulurkan tangannya, meraba leher Hyemi kemudian dahinya.


"Suaramu terdengar aneh," kata Sehun. "Sakit?"


Hyemi berdehem sekali sebelum berkata, "Aku baik-baik saja" dan menatp Sehun dengan hati-hati dan terus juga melihat kearah pintu yang terlihat aman.


"Sepertinya tidak begitu."


"..."


"Apa aku ini buruk?"


Hyemi mengerutkan dahi, lalu bertanya, "Mengenai apa?"


"Posisiku sebagai sorang pacar. Apa aku memang buruk?"


Hyemi terdiam tidak langsung menjawab. Berpikir bahwa dia cukup familiar dengan pertanyaan ini.


"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"


Sehun tidak menghiraukan Hyemi dan terus mendesak. "Apa aku seburuk itu?"


Hyemi terdiam untuk beberapa saat. Menyipitkan matanya, memfokuskan pandangannya, tapi kemudian dia melihat sebuah senyuman tergambar jelas di wajah Sehun lalu dorongan tiba-tiba yang membuat bibir Sehun menabrak bibirnya tanpa aba-aba.


Hyemi tiba-tiba saja memejamkan matanya sebentar lalu merasakan sentuhan aneh yang tidak biasa. Hyemi membuka mata dan bayangan Sehun berubah menjadi sosok pria dengan pipi yang sedikit gemuk, tulang hidung yang sedikit lebih besar, bibir yang tebal dan garis rahang yang tidak begitu jelas.


"Cha-chan Yool?" Hyemi tergagap, seketika tubuhnya memutar ke arah lain—menghindari Chan Yool—hingga lantai keras menyadarkan Hyemi saat dia terjatuh ke lantai.


Hyemi mengaduh, dan serbuan sinar matahari yang menerobos masuk dari jendela membuatnya silau. Tangan kecilnya berusaha melindungi wajahnya, hingga Hyemi mendengar suara pintu dan Soo Jung muncul.


"Kau semalaman tidur di lantai?" Soojung bertanya saat mendaratkan pantatnya di tepi ranjang, melipat baju kotor lalu menyimpannya di sisi koper. Dia mengamati Hyemi yang tidak juga menjawab, mendapati bahwa Hyemi terlihat bingung sekaligus terkejut.


"Mimpi buruk?" Soo Jung hanya asal menebak.


Hyemi tidak menjawab. sebagai gantinya, dia bertanya ketika menahan tubuhnya dan merangkak ke atas kasur. "Dimana Bomi?"


"Dia tidur di ruang tengah," kata Soo Jung. "Kenapa dia bisa tidur di sana, aku pikir dia tidur denganmu."


Hyemi beranjak dari kasur, berkata "dia mungkin terbangun untuk mencari cemilan lagi" lalu mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi untuk menghindar.


Hyemi menghentikan langkahnya saat menyadari sesuatu. "Ngomong-ngomong, kau tidur di luar semalam?" tatapannya semakin curiga saat melihat Soojung mengancingkan kemeja miliknya tidak pada tempatnya. "Jangan bilang kau tidur di kamar Jong Il."


"Aku mau tidur sebentar." Soo Jung melompat ke kasur. Menutup setengah tubuhnya dengan selimut saat menghindari pembicaraan.


.


.


Hyemi bergabung dengan beberapa temannya saat selesai mengurus segala kebutuhannya.


Chan Yool adalah orang pertama yang mendapat perhatian dari Hyemi—yang membuatnya melirik tajam dengan pandangan tidak suka.


Mimpi buruk. Hyemi merasa harus mulai menghindari Chan Yool mulai dari sekarang.


Hyemi mengikut langkah Bomi yang berjalan ke arah dapur dan menghindari berpapasan dengan Chan Yool. Dan di sudut lain Chan Yool begitu sadar dengan hawa membunuh dari Hyemi yang membuatnya bertanya-tanya kesalahan apa yang dia perbuat sampai tatapan Hyemi penuh dengan intimidasi.


"Sehun?"


Seruan itu berasal dari Bomi, yang membuat Hyemi tadinya tidak fokus menatap kearah orang yang sudah menempati dapur lebih dulu.


"Kapan kau datang? Semalam sepertinya kau belum datang."


"Aku datang saat kalian semua sudah tidur."


"Ohh, apa Jong Il yang memberitahumu?"


"Hmm."


Bomi mengambil gelas pemberian Sehun tanpa diminta, lalu wajah cerahnya di hiasi senyuman hanya untuk bertindak sopan. Kemudian Sehun pergi meninggalkan Bomi yang sedang menyedu teh dan berhenti di depan Hyemi yang mematung di dekat pintu masuk.


"Kau benar-benar datang semalam?"


"Hm, ya."


Senyuman itu ditunjukkan untuk Hyemi yang masih tidak percaya apakah dia sedang bermimpi atau tidak. Reaksi yang Hyemi tunjukkan terlalu menggemaskan, Sehun melihat ke sekeliling untuk menyadarkan dirinya bahwa di sana terlalu banyak orang untuk berbuat semaunya. Jadi dia memikirkan untuk berbicara dengan Hyemi di tempat lain.


"Temui aku, satu jam lagi, di danau di belakang villa ini."


Sehun membisikkan kalimat itu dengan cukup hati-hati. Tubuhnya yang sedikit membungkuk saat berdiri di samping Hyemi menganggu pemandangan dan konsentrasi Hyemi. Dia menghindar sedikit ke samping dan Sehun tersenyum untuk kesekian kalinya sebelum pergi meninggalkan Hyemi dan bergabng dengan Xiao Lu di meja bilyar.


.


.


.


TBC