Secret

Secret
Prolog



Hyemi berusaha untuk mengikuti gaya hidup orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Dia bahkan rela membohongi temannya dimana dia tinggal saat ini. Hanya untuk menyimpan sebuah rahasia, sepertinya Hyemi harus menderita sedikit untuk mendapat ketenangan, tapi sampai kapan dia harus terus berpura-pura?


Hyemi mendengar suara ibunya dari luar. Memanggilnya beberapa kali dan memintanya untuk segera sarapan. Berteriak-teriak seperti orang bar-bar, apa mungkin tinggal di rumah besar membuat ibunya dimanja dan bertingkah seenaknya? Atau ada alasan lain karena ibunya sudah mengetahui sesuatu? Karena itukah ibunya menjadi tidak begitu sabaran?


"Iya, kami turun sekarang."


Hyemi adalah anak dari ibu bar-bar itu. Dia juga anak yang harus mengikuti aturan dan berbakti pada ibunya kalau tidak ingin dicap sebagai anak durhaka. Lagipula sejak Hyemi kecil, dia hanya dekat dengan ibunya.


Tapi bukan ibunya yang menjadi kekhawatiran Hyemi sekarang. Pria ini-yang berdiri di hadapan Hyemi-lah yang harus dia pikirkan.


Bagaimana cara membuat Sehun menuruti kemauannya tanpa memberi persyaratan? Bagaimana cara membuat Sehun bertindak seperti manusia normal? Bagaimana cara membuat Sehun mengerti, bahwa mereka memiliki batasan yang harus tetap dijaga untuk kenyamanan orang-orang di samping mereka.


Sekali lagi Sehun dihadapkan dengan pilihan apakah dia harus mengikuti keinginan pikiran kotornya atau hatinya yang lemah, apakah dia harus memejamkan mata untuk menolak pemandangan indah ini atau harus menatap demi kesenangan?


Tiba-tiba saja Hyemi menjadi begitu gugup. Tapi Sehun terlihat sebaliknya. Seolah momen seperti inilah yang dia tunggu, seolah reaksi Hyemi-lah kesenangan itu.


Dibandingkan dengan Hyemi yang selalu bersikap hati-hati, Sehun tidak pernah berpikir bahwa yang dilakukannya bisa saja membuat seisi rumah jantungan. Dia tidak pernah berpikir seperti apa jadinya kalau mereka sampai tertangkap basah sedang berduaan sambil berdempetan seperti yang mereka lakukan sekarang ini. Sehun tidak memikirkan hal itu.


Bagaimanapun, Hyemi sudah mengklaim bahwa Sehun menderita serangan otak yang membuat jalan pikiran dan hatinya bertindak tidak normal. Saudara laki-lakinya itu sudah kehilangan kontrolnya. Bagaimana bisa dia menyebut ini sebagai perasaan cinta? Bagaimana rasa suka bisa disamakan dengan cinta?


Tapi apa yang bisa Hyemi lakukan? Ketika seekor domba masuk ke dalam rumah yang memelihara srigala, tidak satu pun ada yang bisa menyelamatkan hidupnya.


"Kau sungguh tidak ingin membiarkanku pergi?"


"Apa harus kuperjelas?"


Apa itu ancaman? Tapi kenapa dia harus menunjukkan wajah seperti itu? Membuatku merasa bersalah saja


Terkadang saat Sehun sedang memohon, dia selalu menatap dengan mata sendu. Dan terkadang saat Sehun mengancam, matanya seolah mengatakan bahwa itu hanya sebuah candaan. Dua kepribadian dalam satu tubuh ini hanya Sehun yang memilikinya. Dalam hal berakting, tidak ada yang lebih hebat dari Sehun.


Hyemi pikir kalau teriakannya tidak cukup membuat Sehun mundur dan tetap nekat memojokkan tubuhnya seperti itu, dia akan menggunakan serangan seperti yang sudah Hyemi pelajari dari Soo Jung. Mungkin dengan memberikan tendangan ke arah selangkangannya. Tapi masih lebih bagus kalau mereka berbicara seperti seorang murid terpelajar, benar kan?


Saat Hyemi berpikir apa yang seharusnya dia lakukan, Sehun sudah megambil langkah pertama dan membuat Hyemi terkejut setengah mati.


Sehun berhasil mencium bagian bawah telinga Hyemi dan membuat Hyemi menjerit tertahan.


Saat itu Hyemi hanya merasa seperti lehernya dililiti ular yang berbisa. Rasanya benar-benar aneh, karena itu Hyemi segera mendorong dan menjauhkan diri. Tapi Sehun selalu punya cara untuk membuat Hyemi selalu dalam jangkauannya.


"Kau berani melakukannya?"


Hyemi mengusap tempat yang dijejaki Sehun tadi. Berusaha menghilangkan sensasi aneh dan menatap Sehun tidak percaya.


"Karena kau tidak berani melakukannya maka biarkan aku menanggungnya."


Dalam sekali dorong, bahu Hyemi sudah membentur pintu lagi. Kedua tangan Sehun mengunci di sisi kiri dan kanan. Seolah tangan itu sudah terpaku di sana, sekeras apapun Hyemi mencoba untuk menyingkirkannya, itu tidak semudah mendorong kursi.


Ujung rambut Sehun yang jatuh ke dahi masih basah, Hyemi lupa dengan fakta bahwa dia sedang menganggu pihak lain dalam urusan mandinya.


Seperti tikus yang terpojok dan ingin lari, Hyemi mengerutkan tubuhnya ketika Sehun semakin maju dengan senyum yang kurang ajar.


Hidup Hyemi tertolong dengan suara ibunya sekali lagi. Dia bernafas lega tapi wajah Sehun yang tampak kecewa membuat Hyemi mengerutkan dahi dengan ekspresi lucu. Dan meskipun begitu tangan sialan itu tidak mau berpindah tempat.


"Apa kau tidak dengar ibu sudah memanggil?"


"Aku dengar."


Sehun menjawab dan tidak sedetikpun mengalihkan matanya.


"Cepat minggir,"


"Tidak mau,"


Hyemi mendongak hanya untuk melihat ekspresi Sehun yang minta dipukul. Tapi tatapan Sehun berkata lain. Hyemi bisa menebak apa saja yang ada di isi kepalanya, itu seperti; beri aku imbalan, ciuman, pelukan, berkencan atau apalah. Hal-hal seperti itu. Hyemi sudah sering mendengarnya dan Hyemi pikir Sehun sedang hangover atau kepalanya sudah terbentur kloset ketika sedang mandi.


"Lepaskan dari apa? Lihat aku tidak mengikatmu atau mengurungmu kan?"


"..." Hyemi mengatupkan giginya karena kesal.


"Oke, berikan aku sesuatu dan kau boleh pergi dari sini."


Saat Sehun mengatakannya, entah kenapa itu terkesan seperti sedang membujuk anak kecil. Berikan aku permen dan kau bisa bermain dengan boneka ini, seperti itu. Dan kalau Hyemi tidak memberikan satu-satunya permen yang dia miliki, memangnya Sehun mau melakukan apa?


"Jangan seperti ini. Jangan membuatku membencimu. Jangan bermain-main denganku!"


Hyemi menggunakan satu tangan untuk menyingkirkan tangan Sehun. Memukulnya, menggesernya, mencubitnya. Sepertinya kulit itu setebal kulit badak. Tangannya tidak cukup kuat untuk membuat tangan Sehun agar menyingkir. Dan aksi Hyemi ini malah dijadikan tontonan dan hiburan untuk Sehun sendiri. Sialan!


Wajah Sehun mendekat, aroma sabun di tubuhnya seketika menyebar dan menguat. Kedua tangan Hyemi mengepal kuat, dia sudah sangat siap berteriak tapi suara Sehun yang tenang terdengar di sisi wajahnya.


"Kau tahu sendiri kan, kalau aku sangat menyukaimu."


Sekujur tubuh Hyemi merinding. Ditambah tangan Sehun yang tiba-tiba pindah untuk menarik pinggangnya.


Hyemi yang sedang memegang ponselnya berpikir, apakah dia boleh menggunakan itu untuk memukul kepala Sehun saat ini juga? Tapi pada akhirnya Hyemi mengurungkan niatnya. Seolah Hyemi sudah mulai sedikit tergoda, tapi kewarasannya sedikit lebih besar dari pikiran erotis yang tiba-tiba muncul dalam otaknya. Jadilah kedua tangannya menahan Sehun dan tidak sengaja menyentuh kulitnya yang lembab.


Hyemi bisa merasakan ujung bibir Sehun yang hempir menyentuh telinganya, tapi Hyemi buru-buru menghentikannya sebelum semuanya berjalan terlalu jauh.


"Bukannya kau ingin aku melepaskanmu?" tiba-tiba Sehun bersuara. "Tapi aku belum menerima apapun,"


"..."


"Beri aku alasan kenapa tidak boleh melakukannya lagi."


Kenapa bisa ada orang seperti ini? Apa dia benar Yoon Sehun? Laki-laki yang mendapat peringkat satu dan terkenal dengan sopan-santunnya? Aku rasa semua perempuan di sekolah harus tahu bagaimana sosok laki-laki ini dalam kehidupan nyata. Aku yakin dia akan langsung mendapatkan julukan pria brengsek! Predikat nomor satu sebagai penggoda wanita.


"Apa kau hanya menggunakan otak cerdasmu itu di sekolah saja? Atau perlu kuperjelas dengan menunjukkan kartu keluarga?"


"Apa yang salah dengan itu?"


Pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas itu salah, kenapa masih ditanyakan lagi?


"Please, Sehun! Apa harus aku memanggilmu 'kakak' supaya kau mengerti?"


Sehun menarik tangannya dengan ekspresi yang rumit. Mungkin karena tadi Hyemi menyebutnya sebagai 'kakak', atau mungkin juga dia sudah lelah bermain kucing dan tikus.


"Apa kau tidak menyukaiku?"


"..."


Pertanyaan macam apa itu? Coba diperjelas suka dalam bentuk apa dulu. Hyemi ingin berkata begitu tapi takut kalau dia salah bicara.


"Kau yakin tidak suka?"


Sehun menekankan pertanyaannya sekali lagi.


"Kita ini saudara. Kau-"


"Jadi kenapa memangnya kalau kita saudara?"


"..." Kenapa? Masih saja tanya? Dimana dia meletakkan otaknya?


"Kalau begitu, apa perlu kubuat mereka bercerai?"