
Angin yang berhembus membawa kesejukan pada siang hari ini. Pohon dan rumput ikut bergoyang begitu angin menerpa. Langit pun tak seterik biasanya.
Suara tawa dari dua anak seumuran itu menjadi suara satu-satunya yang terdengar di telinga dua perempuan yang sejak duduk di bangku taman sambil melihat kedua bocah itu bermain.
Mila masih tak menyangka bahwa ia akan bertemu lagi dengan perempuan ini. Perempuan yang ada di masa lalunya.
"Siapa Mia?" Tanya Tania memecah keheningan diantara keduanya. Mata Tania masih menatap ke depan, melihat dua anak kecil itu bermain dengan riangnya.
"Bukan urusan lo" jawab Mila yang tak ingin membahas masalah Mia. Mia tak ada sangkut pautnya dengan masa lalunya dan Tania.
"Kenapa Mia?" Tania tak berhenti bertanya. Ia tau, Mia itu bukan anak Mila. Tapi kenapa bisa Mila mengadopsi Mia. Itulah pertanyaannya.
"Maksud lo?" Tanya Mila yang tak mengerti maksud Tania.
Tania masih menghadap ke depan dan tak menoleh ketika Mila melihatnya.
"Gue tau, Mia itu bukan anak lo" Tania mendengar hembusan napas dari Mila. Mungkin, Mila tak mau menjawab pertanyaannya.
"Dia anak yang gue temuin di jalan. Gue angkat dia karena gue gak punya siapa-siapa lagi setelah Arsen kabur dari tanggung jawabnya" jawaban Mila mengundang kernyitan di dahi Tania.
"Kabur?" Tania tau Arsen pindah ke Jakarta. Tapi ia tak lagi kelanjutan dari terakhir kali mereka bertemu.
"Iya, dia kabur. Lo kan, yang suruh dia kabur dan gak nikahin gue" Tania menoleh menatap Mila yang sekarang juga menatapnya. Tania menatap Mila tak kalah tajamnya.
Tania tersenyum mengejek lalu berucap, "Gue gak ada urusannya sama masalah kalian"
"Lo udah putus sama dia?" Tanya Mila masih tak mengalihkan pandangannya dari Tania. Sedangkan Tania sendiri tak begitu menghiraukannya.
"Gak ada kata putus diantara gue sama Arsen. Dan soal kaburnya Arsen, harusnya lo bisa sadar. Posisi lo sebagai apa sampai Arsen gak mau nikahin lo" jawaban Tania itu justru membuat kilat marah dimata Mila.
"Lo masih pertahanin hubungan lo sama Arsen? Atas dasar apa? Cinta? Lo pikir cinta lo itu bisa mengubah semuanya? Gue sama Arsen aja bisa lakuin itu tanpa dasar cinta" balas Mila dengan kekehan ejekannya.
Tania melihat Mila yang sedang terkekeh mengejeknya.
"Lo lagi bahas aib lo sendiri?" Tania tak habis pikir pada Mila. Ia menyalahkan cinta karena perbuatannya sendiri, lucu sekali.
"Dimana harga diri lo? Masih mau sama bekas orang. Gak laku lo sampek mau nerima bekas orang? Dan berharap orang itu mencintai lo? Lo pikir itu bisa menghapus dosa masa lalu?" Ucapan Mila membuat Tania diam seketika.
Tania menoleh melihat Mila yang juga menatapnya. Senyum Tania terbit hingga menjadi kekehan ejekan.
"Lo tanya harga diri sama gue? Bukannya kebalik, harusnya gue yang tanya sama lo. Dimana harga diri lo sebagai cewek. Lo ngasih mahkota lo ke orang yang gak lo cintai dan itu diluar ikrar pernikahan. Lo pikir itu sesuatu yang patut dibanggain? Berapa harga diri lo, sampek nyerahin mahkota lo ke orang yang gak cinta sama lo?" Jawaban telak dari Tania membuat Mila bungkam.
Ia menatap Tania yang kini melihatnya dengan tatapan mengejek. Mila mengangkat tangannya untuk menampar pipi mulus Tania.
"Jangan main tangan didepan anak kecil" Ucapan Tania membuat tangan Mila mengambang di udara. Ia lupa jika sekarang dirinya bersama anak kecil.
"Denger ya, Mil. Itu dosa lo, dan apa yang lo laluin sekarang adalah karma yang masih berjalan buat lo. Jadi nikmatin aja" ucap Tania sebelum beranjak dari bangku taman menghampiri dua anak kecil yang sedang bermain di depan sana.
Mila jelas marah pada Tania. Ucapan Tania membuat ia tak bisa berkutik. Tapi ia tak terima dicap begitu. Arsen harus menanggung semua yang terjadi padanya. Ia tak terima jika Tania dan Arsen bersatu.
"Leo, kita pulang yuk. Udah siang lho ini, nanti dicariin sama bu Lusi" ucap Tania lembut sambil mengelus kepala Leo.
Leo pun mengangguk dan berpamitan pada Mia. "Mia, aku pulang dulu ya. Sampai jumpa"
Mia mengangguk sambil berucap, "Sampai jumpa, Leo"
"Mia, kakak sama Leo pulang dulu ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi, oke?" Mia mengangguk semangat mendengar ucapan Tania. Mia senang ia mempunyai teman seperti Leo. Leo baik dan bisa menerimanya.
*****
Arsen yang sudah berada di jalan selama dua jam itu, baru ingat pesan papanya. Ia belum mengabari Tiara untuk mengajaknya membeli baju.
Arsen pun mengeluarkan ponselnya yang dari tadi ia simpan di saku celananya dan mengirim pesan pada Tiara.
Begitu mendapat balasan dari Tiara, Arsen memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ia mengantuk sekarang, mungkin efek kurang tidur.
"Gue mau tidur dulu. Nanti bangunin ya kalo udah sampek" ucap Arsen yang dibalas acungan jempol oleh Dimas.
"Kasian temen lo, gak pernah tidur kayaknya" ucap Dimas begitu melihat Arsen yang sudah terlelap.
Gilang yang berada disamping Dimas menoleh ke belakang melihat Arsen yang sudah menutup matanya itu.
"Iya. Gue jadi merasa bersalah karena sebagai wakilnya, gue gak bantu beban dia" jawab Gilang dengan sendu.
Arsen itu terlalu bekerja keras dari awal pengajuan proposal sampai acara penggalangan dana selesai. Gilang bahkan tak membantu banyak karena Arsen sudah menyelesaikan semuanya. Bahkan, Arsen sampai lembur karena dia merasa ini adalah tanggung jawabnya. Padahal jika dia mau, Gilang akan selalu membantunya.
"Kayak gak tau aja Arsen gimana" balas Dimas yang diangguki oleh Gilang.
Selama mereka bersahabat, Arsen tak pernah terus terang tentang masalahnya. Jika ditanya, pasti akan menjawab baik-baik saja. Sedangkan mereka sebagai sahabatnya jelas tau bahwa Arsen ada masalah. Tapi Arsen adalah tipe orang yang tak mau merepotkan orang lain. Jika bisa dilakukannya sendiri, ia tak kan meminta bantuan orang lain.
Disisi lain, Tania sedang bermain dengan anak-anak di rumah disabilitas. Ketika dirasa sudah lumayan sore, ia segera berpamitan pada bu Lusi.
"Kak Tantan" panggil Leo ketika dirinya baru keluar dari ruangan bu Lusi.
"Hai, Leo" Tania menunduk sambil mengelus kepala Leo.
"Kak Tantan mau pulang?" Tania mengangguk sambil tersenyum manis pada anak berusia enam tahun itu.
"Jangan sedih, dong. Kak Tania punya hadiah buat Leo" Mata Leo kembali memancarkan rasa senangnya.
Tania mengeluarkan sebuah brosur kecil seperti tiket dari dalam tasnya.
"Taraaa" ucap Tania sambil menunjukkan brosur yang dibawanya pada Leo.
Leo mengernyitkan dahinya sambil berucap, "Itu apa kak?"
"Ini brosur buat nonton acara kakak. Kakak mau nyanyi lho disitu. Nanti Leo datang ya, bu Lusinya diajak. Leo kan masih kecil, jadi harus sama orang dewasa ya" jawab Tania dengan lembut. Leo mengangguk girang mendengar ucapan Tania. Ia senang mendengar Tania menyanyi. Suara Tania itu adalah suara yang ingin selalu Leo dengar.
"Horeeee! Bisa liat kak Tantan nyanyi" ucap Leo dengan girangnya. Tania yang melihat respon Leo membuatnya tersenyum.
"Dikasih ke bu Lusi, ya" Leo mengangguk dengan semangat.
"Kalo gitu, kakak pulang dulu. Besok ketemu kak Tania lagi" ucap Tania agar Leo tak sedih ketika dirinya pulang.
Leo itu dekat dengan Tania. Sedangkan Tania memang mudah dekat dengan anak kecil. Jadi mereka begitu cocok menjadi adik kakak.
Tania keluar dari gedung tinggi itu sambil melambaikan tangan pada Leo. Leo mengantarnya sampai gerbang. Begitu Leo masuk, Tania berjalan melewati taman, tempatnya bertemu Mila.
Tania berhenti sebentar sambil melihat ke arah taman itu. Ternyata sudah sepi. Mungkin Mila sudah pergi darisana. Tanpa disadari oleh Tania, ada sepasang mata yang melihatnya dari jauh. Bahkan orang itu menajamkan penglihatannya.
To be continued....