
Detik jarum jam masih terus bergulir. Suara kendaraan berlalu lalang sudah mulai terdengar.
Arsen yang tadinya masih menutup mata segera melesat ke kamar mandi begitu sadar akan janjinya. Setelah bersiap dengan cepat, Arsen segera keluar dari kamarnya dengan terburu.
"Kok lo gak bangunin gue sih, bang" ucap Arsen begitu menuruni tangga dan melihat sang abang yang sedang berkutat di dapur.
"Lo gak minta bangunin" jawaban santai dari Satria membuat Arsen mendumel.
"Gue mau pergi" ucapan Arsen seketika membuat Satria menoleh pada adiknya yang sedang menuruni tangga.
"Mau kemana lo? Makan dulu, nih" Satria sudah menyempatkan waktu untuk memasak sarapan pagi ini. Jadi ia tak mau Arsen pergi tanpa mencicipi masakannya.
"Gue buru-buru" Arsen melihat makanan yang sudah disajikan oleh Satria. Ia tak tega jika tak menikmati makanan yang sudah dibuat oleh sang abang.
"Makan dulu" Satria masih kekeh untuk Arsen memakan sarapan yang sudah ia siapkan.
"Lo libur, bang?" Tanya Arsen sambil berjalan menuju meja makan.
"Enggak. Nanti siangan baru berangkat" Arsen mengangguk mendengar jawaban Satria.
Arsen melihat sepiring nasi goreng dengan nugget serta telur mata sapi di atas meja makan.
Baru Arsen menggeser kursi, Satria berkata, "Sen, masukkin cucian ke mesin cuci. Gue mau mandi dulu. Nanti kalo udah lo masukin tinggal aja"
Belum sempat Arsen menjawab, Satria sudah berlalu menaiki tangga menuju lantai atas. Arsen menghembuskan napasnya berat, lalu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum ia menepati janjinya pada Tiara. Arsen segera memasukan baju kotor yang ada di keranjang ke dalam mesin cuci. Begitu sudah memasukkan semua baju yang ada di keranjang, Arsen segera memakan sarapan yang telah dibuatkan oleh Satria. Ia harus bergegas menuju rumah Tiara.
Arsen segera melesat menuju mobilnya begitu selesai sarapan. Ia melihat kearah lantai atas yang masih tak terlihat keberadaan Satria. Biarlah, nanti Arsen akan memberi kabar ke abangnya itu.
Arsen memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Jam sembilan kurang lima belas menit membuat Arsen tak bisa menjalankan mobilnya dengan santai. Arsen bahkan mengumpat jika ada kendaraan yang menghalangi jalannya. Ia tak ingin terlambat menjemput Tiara. Ia harus menebus kesalahannya kemaren.
Arsen berhenti di depan gerbang putih tinggi, rumah Tiara. Arsen kembali melihat jam tangannya. Sembilan kurang lima menit. Setidaknya Arsen tak sampai terlambat.
Arsen berjalan menuju pintu utama setelah dibukakan pintu oleh pak Ujang, satpam Tiara.
Tok tok tok
Arsen mengetuk pintu kokoh didepannya. Tak lama Arsen menunggu, pintu kokoh itu terbuka. Sosok laki-laki dengan kaos hitam polos serta celana pendeknya tersenyum begitu melihat Arsen.
"Pagi, kak" sapa Arsen dengan senyumnya.
"Pagi, Sen. Pagi-pagi udah kesini aja lo. Mau ngapelin adek gue, ya?" Kekehan Kaffa mengiringi ucapannya. Arsen hanya tersenyum canggung. Ia jadi seperti orang yang baru berpacaran saja.
"Bentar-bentar gue panggil adek gue dulu" Kaffa masih tertawa ringan melihat raut wajah Arsen.
Kaffa memasuki rumahnya sambil berteriak, "Tiaraa!!! Dicari Arsen!!"
Tiara yang sedang menonton tv menoleh pada kakaknya yang berjalan menuju ruang tengah.
"Apaan sih teriak-teriak" ucap Tiara sewot yang dibalas tawa Kaffa.
"Dicari pacar lo tuh. Eh salah.. calon suami" tawa Kaffa menggelegar begitu menyelesaikan ucapannya.
Tiara yang melihat Kaffa tertawa begitu jadi tergidik ngeri.
Tak mau banyak bicara, lebih tepatnya tak mau meladeni Kaffa yang sedang mode gila. Tiara berjalan menuju pintu rumahnya, dimana Arsen menunggunya.
Arsen menoleh begitu mendengar suara langkah kaki. Ternyata itu Tiara.
"Ada apa?" Tanya Tiara begitu ia sudah berada di samping Arsen.
"Gue gak telat, kan?" Jawab Arsen sambil melihat jam tangannya yang tepat menunjukkan pukul sembilan.
"Mau kemana emang?" Pertanyaan Tiara membuat Arsen tersenyum. Ia senang Tiara mulai meresponnya.
"Beli baju. Kan kemaren belum beli" Tiara mengangguk mendengar jawaban Arsen.
Sebenarnya Tiara sudah tak marah pada Arsen. Hanya saja mengingat ia yang menunggu begitu lama tanpa kabar dari Arsen membuatnya kesal. Ia merasa menjadi perempuan bodoh yang menunggu seseorang. Tapi Tiara berusaha mengerti urusan Arsen. Mungkin, urusan Arsen sangat penting hingga ia tak sempat mengabarinya. Lagipula Tiara juga salah tak bertanya dulu pada Arsen, apakah Arsen bisa berangkat atau tidak.
"Gue ganti baju dulu" Begitu mendapat anggukan dari Arsen, Tiara memasuki rumahnya. Ia akan berganti baju lebih dulu sebelum pergi bersama Arsen.
Tak mau membuat Arsen menunggu lama, Tiara segera keluar dari rumahnya begitu mengganti bajunya. Untuk make up Tiara hanya memoles wajahnya tipis. Tak mau terlihat menor di depan Arsen.
Begitu melihat Tiara yang sudah siap dengan sweater rajut berwarna coklat serta rok pendek berwarna senada itu membuat Arsen tersenyum. Ternyata gadis di depannya ini cantik, bahkan sangat cantik. Kaki jenjang nan putih itu menjadi begitu indah dibalut dengan sepatu flatshoes berwarna hitam. Arsen rasa ia baru pertama kali melihat Tiara berpenampilan begini.
"Kok diem? Gak berangkat sekarang?" Pertanyaan Tiara membuat Arsen tersadar seketika. Ia jadi bengong melihat penampilan Tiara.
"Iya, berangkat sekarang" ucap Arsen sambil berjalan menuju mobilnya bersama Tiara.
Di dalam perjalanan, tak ada pembicaraan yang mengiringi keduanya. Tiara sibuk melihat handphone nya sedangkan Arsen sesekali melirik Tiara yang tengah fokus pada ponsel.
Perjalanan terasa cepat menurut Tiara. Tak sampai satu jam mereka sudah sampai di mall. Ya, mereka akan mencari dresscode untuk acara pertunangan mereka.
Tiara mengikuti langkah Arsen menuju salah satu toko yang begitu besar. Tiara juga melihat banyak baju yang indah dan mewah dipajang disana.
"Lo pilih aja mau yang mana, gue ngikut" ucap Arsen begitu mereka sudah berada di dalam toko.
Tiara mengangguk saja. Ia melihat-lihat baju yang ada di dalam toko, sedangkan Arsen berjalan menuju sofa yang ada diujung ruangan. Ya, begitulah laki-laki kalo belanja. Ceweknya yang disuruh milih dia nya duduk.
"Sen" Arsen menoleh pada sumber suara. Di depannya, Tiara memakai dress putih yang terlihat pas di tubuh Tiara. Bahkan Arsen dibuat kagum dengan cantiknya Tiara saat memakai dress putih itu.
"Bagus gak?" Arsen mengangguk tanpa suara dan matanya yang tak berkedip melihat Tiara.
"Kalo ini aja, gimana?" Arsen kembali mengangguk tanpa suara. Tiara hanya tersenyum simpul lalu berjalan menuju ruang ganti untuk melepaskan baju yang dipakainya.
"Mbak, yang ini ya" ucap Tiara pada karyawan toko yang sedang berjaga. Karyawan itu mengangguk lalu membawa baju yang dipilih Tiara ke kasir.
Setelah menyesuaikan baju Tiara dan Arsen, mereka pun segera membayar baju yang mereka pilih.
"Mau kemana sekarang?" Tanya Arsen begitu mereka keluar dari toko baju.
"Emm.. gue pingin liat make up dulu" Arsen mengangguk saja dan mengikuti Tiara yang menuju toko kosmetik.
Arsen mengikuti kemana pun langkah Tiara saat melihat kosmetik. Bahkan ia juga sesekali dimintai pendapat oleh Tiara tentang apa yang dibelinya.
Bahkan Arsen tak tau mana yang bagus, asal pilih aja beres. Toh, kalo jelek ya beli lagi. Begitulah prinsip cowok.
"Sen, bagus yang mana?" Tanya Tiara sambil menunjukkan dua lipcream pada Arsen yang berada disampingnya.
Arsen melihat dua barang yang ditunjukkan Tiara. Perasaan tak ada bedanya.
"Bedanya apa?" Tanya Arsen yang tak mengerti dimana letak perbedaannya selain warnanya.
"Ya warnanya lah" Arsen terdiam sambil berpikir warna mana yang bagus.
"Ini bagus" jawab Arsen sambil menunjuk barang yang dipegang tangan kiri Tiara.
"Tapi yang ini soft banget. Bagus kalo diombre" ucap Tiara sambil menunjukkan lipcream yang ada di tangan kanannya.
"Diombre tuh diapain?" Tanya Arsen polos yang justru ditertawakan oleh karyawan toko kosmetik yang tak sengaja mendengar ucapan Arsen.
Tiara tersenyum geli mendengar pertanyaan polos Arsen.
"Cari di google aja deh, Sen" jawab Tiara sambil terkekeh. Toh, dijelaskan juga percuma. Arsen tak kan paham.
Mendengar jawaban Tiara membuat Arsen menghembuskan napas beratnya.
"Trus enaknya beli yang mana?" Ini nih cewek. Udah tau cowoknya gak bisa milih masih aja ditanyain. Heran Arsen.
"Beli semua aja" jawab Arsen santai yang justru dapat pelototan dari mata Tiara.
"Kenapa jadi beli semua? Kan gue tanya antara dua ini" Arsen menghela napas sebelum menjawab. Tadi disuruh milih, sekarang disuruh beli semuanya juga gak mau. Ribet banget cewek.
"Biar lo gak bingung pilih warna. Beli semua aja" Tiara terdiam mendengar jawaban Arsen. Kenapa sih cowok kalo disuruh bantuin milih aja susah banget. Malah disuruh beli semuanya. Buat apa coba banyak-banyak.
"Gue gak suka warna yang terlalu mencolok" ucap Tiara yang membuat Arsen menghela napas kembali.
"Mbak, saya ambil semua warna yang soft" ucap Arsen pada karyawan toko yang langsung diangguki.
Tiara jelas kaget dengan ucapan Arsen. Yang benar saja mau memborong semua lipcream. Tapi ya sudahlah biarkan saja. Dibantah juga susah pasti. Cowok kan gitu.
"Udah itu aja?" Tanya Arsen yang langsung mendapat gelengan dari Tiara.
"Gue mau liat lipgloss dulu" jawaban Tiara justru mengundang kernyitan di dahi Arsen.
"Lipgloss apaan lagi?" Arsen sama sekali tak tau apa itu lipgloss. Kalo lipcream ia sedikit tau karena pernah melihat Tania memakainya. Tapi untuk lipgloss, ia sama sekali tak tau.
"Ya pokok lipgloss" Tiara tak ingin berdebat panjang lebar dengan Arsen. Ia segera menuju etalase yang menampilkan jajaran lipgloss.
Arsen kembali mengikuti Tiara yang sudah berjalan. Ia sama sekali tak paham dengan cewek. Untuk bibir saja pilihannya banyak banget. Pantes aja cewek kalo dandan lama.
Tiara langsung memilih lipgloss yang biasa ia beli. Setelah ia puas melihat-lihat isi toko kosmetik ini, akhirnya Tiara pun berjalan ke kasir. Dibelakangnya ada Arsen yang setia mengikuti kemana pun langkah kaki Tiara berpijak.
"Berapa mbak?" Tanya Tiara pada kasir setelah semua barangnya ditotal.
"Lima ratus tujuh puluh empat mbak" Tiara baru akan mengeluarkan uangnya, tapi Arsen sudah menyodorkan kartu ATM pada mbak kasir.
"Pake ini mbak" ucap Arsen sambil menyodorkan ATM nya pada mbak kasir.
Kasir itu pun memproses pembayaran melalui ATM Arsen. Begitu selesai ia menyerahkan kembali ATM Arsen.
"Terima kasih" ucap kasir itu dengan senyuman. Arsen hanya mengangguk sedangkan Tiara masih diam melihat keperlakuan Arsen.
Tiara mengikuti Arsen yang berjalan keluar dari toko.
"Mau kemana lagi?" Tanya Arsen yang tak mendapat respon dari Tiara.
"Kok lo yang bayar?" Bukannya menjawab pertanyaan Arsen, Tiara justru menanyakan apa yang ada di otaknya.
"Emang kenapa? Gak salah dong bayarin calon istri" jawaban Arsen membuat Tiara tak berkedip.
Apa Tiara tak salah dengar? Arsen menyebutnya calon istri? Tak bisa dipungkiri semburat merah di pipi Tiara muncul beserta senyumnya.
To be continued...