
Sudah tengah malam ketika mereka sampai di gerbang Villa milik Erga.
Butuh waktu 2 jam untuk menempuh perjalanan.
Karna Erga tidak berpikir bahwa dia akan di antar kembali oleh mereka, dia sama sekali tidak membawa kunci cadangan untuk membuka gerbang tersebut.
Seperti yang dipikirkan oleh Julian dan yang lainnya. Villa Erga dikelilingi oleh teknologi canggih, dan tanpa dia, tidak ada yang dapat memasuki tempat tersebut.
Kecuali 'mereka' yang telah dia berikan kunci cadangan.
Keluar dari mobil, Erga segera menuju sudut pagar dengan ringan.
[Silahkan lakukan pemeriksaan murid dan jantung]
Suara manual tiba-tiba terdengar.
Jonathan dan yang lainnya yang melihat dan mendengar hal tersebut tercengang.
Mengerutkan keningnya, Jonathan menatap Erga dengan samar.
Meski dia tidak memiliki teknologi seperti itu ditempatnya, dia cukup mengenal mereka.
Hal itu membuatnya merasa biasa diawalnya.
Sayang bahwa yang dia tahu hanyalah pemeriksaan murid seseorang.
Meski dia telah mendengar rumor tentang beberapa fitur yang akan ditambahkan dalam teknologi tersebut, itu sama sekali belum diputuskan apalagi di produksi dan dipasarkan?
Erga kembali memasuki mobilnya dan duduk di kursi co-driver dengan tenang. Dia awalnya ingin melakukan pengenalan melalui kamera pengintai yang terpasang. Namun, jika dia melakukan hal itu, maka semua orang yang ikut bersamanya akan terlibat.
Dia tahu bahwa Keysha sangat tulus berteman dengannya, tetapi ada beberapa hal yang membuatnya tidak ingin melibatkan perasaan. Itu bukan karna dia trauma pada masa lalunya, tetapi status Keysha dan saudara-saudaranya sangat bertentangan dengannya.
Dia bukan seorang penjah*t internasional atau seorang mafia. Dia hanya seseorang yang memiliki kelompok kecil yang melakukan sesuatu jika itu berkaitan dengan keinginannya. Dia juga tidak begitu menyukai orang-orang yang berkaitan dengan militer.
Aneh! Padahal Kakeknya merupakan mantan tentara yang memiliki gelar Jendral Tertinggi.
Lucu, bukan?
"Kita sampai".
Ucapan Jonathan membangunkannya. Mengangguk pada Jonathan dia segera keluar dari mobilnya.
Hal yang sama dilakukan oleh Jonathan. Bagaimanapun itu bukan mobil miliknya.
"Terima kasih". Ucap Erga ketika melihat semua orang telah keluar dari mobil. Melihat waktu pada jam tangannya, "Sudah larut malam. Villa ini memiliki banyak kamar. Jika kalian tidak keberatan, kalian dapat tetap tinggal hingga besok".
Andy menatap Erga lekat. Batinnya berdecak ketika mendengar tawaran Erga. Bukan karna dia tidak menyukai tempat ini, melainkan dia hanya sering mendapati gadis-gadis yang akan melakukan apa saja untuk menarik perhatian Jonathan.
Gadis-gadis kadang terlalu mengerikan menurutnya. Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Melihat Erga, sedari awal dia tidak memiliki kesan terhadap gadis ini.
"Tidak perlu..." ucap Jonathan ringan.
Mendengar Jonathan, Erga mengangguk pelan. Dia merasa lega dari dalam dirinya.
"Baiklah. Kami akan..." ucapan Keysha terhenti.
Pintu utama Villa dibuka dengan perlahan, namun masih menarik perhatian Keysha dan yang lainnya.
Erga sudah biasa dengan itu, jadi dia berpikir bahwa orang yang membuka pintu tersebut merupakan pengurus rumah.
Tapi, melihat Keysha yang tertegun, Erga menaikan alisnya kemudian berbalik.
Tubuhnya seketika membeku melihat pria yang berdiri dihadapan mereka itu.
Salah satu tangannya dimasukan kedalam sakunya, tangan lainnya memegang rokok. Jari-jarinya panjang dan elegan, itu seperti jari seorang seniman pianis.
Membuang rokok yang tersisa di tangannya, dia tersenyum malas dan dengan santai melangkah menuju Erga.
Penampilannya dapat dikatakan luar biasa.
Sama seperti Jonathan, kehadirannya dapat menarik perhatian siapa saja.