Secret

Secret
Part 36



Mobil yang dikendarai Arsen terus berjalan melewati gedung-gedung tinggi di pinggir jalan. Dari keluar resto tadi, Tiara hanya diam. Bahkan jika ditanya ia hanya menjawab seperlunya saja. Arsen jadi berpikir, Tiara tak bisa menerima masa lalunya.


Atau mungkin Tiara tak percaya padanya seperti Tania dulu? Eh, bicara soal Tania, Arsen sudah mendapatkan nomor gadis itu lagi. Mungkin nanti ia akan menelpon Tania.


Arsen melirik Tiara yang sekarang hanya diam melihat ke arah jalanan.


"Ra" panggilan Arsen membuat Tiara menoleh padanya.


"Iya?" Tanya Tiara sambil melihat Arsen yang kini juga melihatnya.


"Lo... Marah sama gue?" Jujur Arsen takut tak dipercaya lagi. Sejak kejadian itu, dirinya tak berharap kepercayaan dari orang lain selain Tania. Tapi kini, ia juga takut jika Tiara tak percaya padanya. Entah karena apa.


Tiara tak langsung menjawab. Ia justru memalingkan wajahnya, melihat jalanan melalui kaca mobil disampingnya.


"Gue percaya, Sen" ucap Tiara setelah dirinya terdiam. Iya, dia percaya pada Arsen. Ia yakin, Arsen tak mungkin lari dari tanggung jawabnya. Jika memang benar itu anak Arsen, pasti Arsen akan bertanggung jawab.


Arsen menoleh pada Tiara, ia tak menyangka, benar-benar tak menyangka.


"Lo percaya sama gue, Ra? Gak salah?" Jujur Arsen hatinya merasa tenang saat mendengar Tiara percaya padanya. Inilah yang ia cari. Kepercayaan.


Tiara melihat Arsen yang menatapnya dengan pandangan tak percaya. Tiara tersenyum menenangkan pada Arsen.


"Kita cari tau, siapa bapak dari anak itu. Biar nama lo bisa bersih dari masalah itu" ucap Tiara dengan lembut.


Rasanya Arsen sangat bahagia sekaligus tak menyangka. Ia bahagia Tiara mempercayainya. Tapi ia juga tak menyangka, begitu mudahnya Tiara percaya padanya. Apa gadis itu tak berpikir jauh?


"Lo yakin, Ra?" Tiara mengangguk sambil tersenyum pada Arsen.


Tiara akan membantu Arsen. Entah ia akan mulai dari mana, tapi Tiara yakin ia dan Arsen bisa menemukan bapak anak itu.


"Kenapa lo bisa percaya sama gue? Lo gak takut gue bohong?" Arsen mengungkapkan rasa bingungnya.


"Mau lo bohong atau enggak, suatu saat kebenaran pasti terungkap, Sen. Gue percaya, lo orang baik. Kedua kakak gue percaya, lo orang yang baik buat jaga gue. Jadi, gue akan bantu lo sebisa gue. Kita cari tau semuanya" Arsen tak bisa berkata-kata. Ia sungguh bahagia.


Arsen baru mengenal Tiara beberapa minggu yang lalu, tapi ia sudah mendapat kepercayaan sebesar itu dari Tiara dan kakaknya. Arsen tak menyangka, ia dipertemukan dengan gadis sebaik Tiara. Ia jadi takut melukai gadis itu.


Mobil yang dikendarai Arsen berhenti di depan gerbang tinggi berwarna putih. Sebelum Tiara keluar dari mobil Arsen, Arsen berkata, "Makasih Ra"


Tiara menoleh, ia tersenyum sambil mengangguk.


"Gue masuk dulu, ya. Lo hati-hati" ucap Tiara yang dibalas anggukan oleh Arsen.


Setelah Tiara keluar dari mobil, Arsen menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Tiara.


Tiara memasuki rumahnya sambil menenteng beberapa tas belanja.


"Wihh, habis belanja, nih" ucap Kaffa saat Tiara berjalan memasuki ruang tengah.


Tiara berjalan menuju sofa, tempat Kaffa duduk, dan meminum jus jeruk yang berada di meja.


"Ambil sendiri, sih" ucap Kaffa yang dibuat kesal karena minumannya diminum oleh Tiara.


"Gak mau, wlek" jawab Tiara sambil menjulurkan lidahnya.


Kaffa yang dibuat gemas oleh adiknya itu langsung mengacak rambut Tiara.


"Ihhh, berantakan nih" dumel Tiara yang justru ditertawakan oleh Kaffa.


"Habis kencan kemana tadi?" Tanya Kaffa begitu tawanya sudah ia akhiri.


"Ke mall" jawab Tiara sambil bersender di pundak Kaffa.


"Habis kencan juga, malah manjanya ke gue" ucap Kaffa dengan kekehan.


Tiara tak menggubris ucapan kakaknya. Entah kenapa, dirinya seperti bingung.


"Kak" Kaffa hanya berdehem menjawab panggilan Tiara.


"Menurut lo, gue harus percaya sama Arsen, gak?" Kaffa mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan adiknya.


"Kenapa nanya gitu?" Jelas Kaffa tak tau maksud adiknya bertanya begitu. Kenapa tiba-tiba adiknya bertanya begitu, apa terjadi sesuatu pada Tiara dan Arsen.


"Ya enggak, gue mau tau aja menurut lo. Salah gak sih kalo gue percaya Arsen, kak? Untuk semua masa lalunya, untuk semua yang dia ucapin ke gue? Gue harus percaya apa enggak?" Tiara hanya ingin memastikan dirinya bisa percaya sepenuhnya pada Arsen. Bukan maksud Tiara mengatakan Arsen berbohong, ia hanya takut saja.


Tiara takut disaat dirinya benar percaya pada Arsen tapi Arsen mengecewakannya. Apalagi jika dipikir soal Tania. Tiara bahkan tak dapat jawaban mengenai siapa Tania.


"Menurut gue sih, ikutin kata hati lo dek. Gue gak bisa maksa lo untuk percaya sama Arsen. Kalo hati lo masih ada rasa gak percaya sama Arsen, cari tau dan pastiin semuanya" jawab Kaffa sambil mengelus kepala Tiara lembut.


"Kalo Arsen nyakitin lo, bilang sama gue dek. Gue akan beri dia pelajaran" lanjut Kaffa dengan yakinnya.


Kaffa tak kan membiarkan siapa pun menyakiti adiknya, termasuk calon suami Tiara sekalipun. Bahkan jika mereka sudah menikah, dan Arsen berani menyakiti Tiara, Kaffa tak akan diam saja. Akan ia pastikan, Arsen tak kan hidup dengan tenang.


Tiara memeluk Kaffa dari samping. Ia begitu menyayangi kakaknya ini. Kaffa akan selalu berada dibarisan depan untuk menjaganya. Dan ia bersyukur bisa menjadi adik seorang Kaffa.


Disisi lain, Arsen sudah sampai di rumahnya. Bahkan ia bersiap untuk menelpon Tania. Entah kenapa ia ingin sekali mengobrol dengan gadis itu.


Setelah mendial nomor yang dikirim oleh bu Lusi padanya tadi, Arsen menunggu jawaban dari seberang sana.


Tak lama panggilan tersambung.


Halo


Arsen mengembangkan senyumnya begitu mendengar suara yang sangat ia rindukan.


Halo, Tan


Arsen tak mendengar suara Tania lagi. Hening beberapa saat setelah dirinya menyapa Tania. Apa Tania tak ingin berbicara dengannya?


Oh, halo Sen. Kirain siapa. Kok punya nomer aku?


Ternyata Arsen salah. Tania mau berbicara dengannya. Terdengar jelas gadis itu berbicara dengan ringannya. Sama seperti dulu saat bicara dengannya.


Iya, ini aku Tan. Aku dapet nomer kamu dari bu Lusi


Ohh, bu Lusi. Trus ada apa, Sen?


Emm, aku mau minta foto yang semalem boleh? Tapi kalo kamu sekarang lagi sibuk, bisa kapan-kapan aja kok


Ohh foto yang semalem, ya. Iya nanti ku kirim. Gak lagi sibuk banget, sih. Cuma ada kerjaan dikit aja


Aku ganggu ya berarti?


Arsen jadi tak enak telah mengganggu gadis itu. Arsen melihat jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul dua siang.


Ohhh enggak, kok. Santai aja, Sen


Kamu udah makan, Tan? Udah jam segini, loh


Arsen ingat betul. Tania itu selalu lupa makan. Dulu saat mereka masih berpacaran, Arsen akan selalu mengingatkan gadis itu untuk makan.


Eh iya udah jam segini. Belum makan sih aku. Nanti aja lah sekalian. Nanggung


Emang lagi ngapain, Tan?


Arsen tak mendengar suara Tania. Apa ia terlalu lancang bertanya begitu? Apa saking sibuknya Tania hingga tak sempat menjawab pertanyaannya?


Cukup lama Arsen menunggu jawaban Tania, akhirnya ada suara dari sebrang sana.


Duhh maaf ya, Sen. Aku tadi bayar dulu di kasir. Kamu tanya apa tadi?


Ohh sekarang Arsen tau, Tania sedang ada di supermarket. Gadis itu pasti kesusahan saat berbelanja sambil menerima telfon darinya.


Gak papa, Tan. Aku yang minta maaf udah ganggu kamu belanja


Hehehe santai aja, Sen. Kamu tanya apa emang tadi?


Sudah lama rasanya Arsen tak mendengar tawa Tania. Meski hanya kekehan kecil, tapi itu membuat Arsen tersenyum lebar.


Enggak, cuma nanya kamu lagi ngapain


Ohh, aku lagi belanja tadi. Sama lagi cari cat air buat Leo


Leo?


Iya, aku mah beliin Leo cat air. Biar dia bisa gambar di kanvas


Arsen mengangguk meski Tania tak tau. Ia baru tau jika Leo suka menggambar.


Obrolan mereka berlanjut begitu saja. Tanpa mereka sadari, waktu berjalan dengan cepat. Hingga panggilan berakhir tercatat satu jam lebih dua puluh menit.


To be continued...