
Suatu hari di musim panas
kau datang seperti angin, yang terkadang memeberikan kesejukan tapi sekaligus badai
***
Hanya dengan melihat bayangannya saja sudah membuat Hyemi ingin lari, dan sekarang wujud nyata itu berjalan ke arahnya dengan kesombongan yang hanya dimiliki oleh pria ini, Yoon Sehun.
Hyemi tidak tahu kenapa setiap mendengar atau melihat Sehun akan membuat lututnya lemas. Mendadak dia diserang rasa panik dan ingin cepat-cepat menghilang dari hadapan lelaki itu. Tapi setelah dipikirkan lebih jauh lagi, kenapa juga Hyemi harus merasa tidak berdaya saat Sehun datang padanya? Dia bukan balita yang tidak bisa melakukan apa-apa, dia juga bisa membalas dengan ucapan ketika merasa terprovokasi. Tapi kenapa perasaan ini selalu muncul begitu saja?
Hyemi melihat sudut bibir Sehun membuat garis lengkungan. Jantung Hyemi melonjak seketika-berdentam-dentam-dan itu hanya membuat Hyemi semakin panik dan gugup.
Di sampingnya, Bekyun menatap Hyemi dengan dahi berkerut. Matanya tidak berhenti melirik ke arah Sehun dan Hyemi secara bergantian. Tapi karena tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka, Bekyun memilih untuk berpura-pura.
"Kau baik-baik saja?"
Hyemi seperti orang ling-lung, menoleh ke arah Bekyun dan gagap ketika akan menjawab. Tapi pada akhirnya Hyemi mengabaikan pertanyaan Bekyun. Dia kembali mengawasi Sehun yang semakin berjalan mendekat ke arah mereka.
Suara alarm peringatan terus berbunyi di dalam pikiran Hyemi.
Hyemi menggerakkan kakinya, dan dia terlihat seperti orang tolol ketika membalikkan badan 90˚ untuk menghindari bertatap muka dengan Sehun.
Hyemi menyerukan kalimat "aku pergi dulu" kepada Bekyun sebelum berjalan dengan langkah cepat dan kaku. Dia bahkan tidak menunggu sampai Bekyun membalas kalimatnya.
Bekyun hanya menatap kepergian Hyemi dengan alis berkerut. Pikirannya penuh dengan pertanyaan, kenapa ketika melihat Sehun dia selalu kabur?
"Dia lucu sekali." Sehun berkomentar.
Bekyun menoleh, dan tersadar tubuh tinggi Sehun sudah berdiri di sebelahnya.
Bekyun membuat posisi menyelidik dengan menatap ke arah Sehun. Tapi Sehun di sebelahnya terlihat acuh. Berkata, "ayo ke kantin" sambil berjalan mendahului Bekyun yang tertinggal di belakang.
***
6 bulan yang lalu.
Hyemi melihatnya. Malam itu. Ketika Sehun bersama seorang wanita. Dan mereka berciuman.
Suasana seketika berubah menjadi canggung, dan hal itu hanya Hyemi saja yang merasakan. Keterkejutannya waktu itu membuat berbagai pertanyaan dan spekulasi yang mengalir deras dalam benaknya.
Seorang Yoon Sehun ---murid teladan dan dikenal sebagai sosok yang pendiam, berprestasi dan mengesampingkan perihal perempuan--- tiba-tiba menunjukkan sisi liarnya di tempat umum dengan berciuman. Bagaimana Hyemi bisa mempercayai hal ini? Dia bahkan tidak mendengar kalau Sehun memiliki seorang kekasih. Tapi ini adalah berita besar, Hyemi pikir dia mungkin satu-satunya orang yang tahu mengenai hal ini.
Di tengah keraguannya mengenali wajah dan karakter seseorang, Hyemi seperti kecolongan ketika tiba-tiba sosok itu sudah berdiri di depannya.
Tiba-tiba wajah Hyemi berubah kaku. Ada perasaan malu bercampur rasa takut yang membuat bulu kudunya berdiri. Rasa khawatir kalau Sehun bertindak kasar muncul begitu saja di dalam pikirannya.
Sedikit takut ketika Hyemi ingin menatap Sehun. Bagaimana kalau Sehun tidak sebaik seperti berita yang selama ini beredar? Bagaimana kalau dia adalah maniak yang sedang menyamar?
Menghindari sorot mata Sehun, Hyemi sedikit melirik untuk mencari tahu keberadaan gadis yang 'bercengkrama' dengan Sehun tadi. Tapi gerakannya diketahui dan itu membuat sudut bibir Sehun terangkat bersamaan dengan langkahnya yang mendekati Hyemi.
Hyemi yang sadar bahwa Sehun sedang menertawakannya mulai berhenti untuk mencari tahu. Dia menegakkan kepalanya dan melihat Sehun dengan keberanian yang tersisa.
"Hyemi,"
Dia terlihat marah, tapi juga tidak terlihat marah.
Hyemi mencoba menebak apa yang ada dalam pikiran Sehun. tapi ekspresi itu terlalu rumit.
Hyemi sadar bahwa Sehun sudah menyebut namanya tanpa ada kesalahan sedikitpun. Tapi aksennya terdengar lucu. Dia baru pertama kali mendengarnya.
Hyemi sudah beberapa kali mendengar tentang Sehun. Dia juga setiap hari hampir melihatnya berjalan di koridor dengan banyak gadis yang memperhatikan. Yang Hyemi tahu, Sehun berteman dekat dengan Bekyun.
Hyemi tidak pernah membayangkan pertemuan semacam ini akan terjadi, terlebih dalam situasi canggung yang mengharuskannya melihat seperti apa jika Sehun berada di luar sekolah.
Apa ini wajah aslinya? Apa dia memang orang yang seperti ini?
Seperti halnya orang-orang yang mendengar sosoknya. Hyemi juga menaruh rasa kagum pada Sehun si tokoh utama dalam kehidupan sehari-hari murid perempuan. Tapi terkadang jika mereka berpapasan, Sehun selalu memperlihatkan sikap tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Inilah yang membuatnya terlihat misterius. Sosok yang pendiam, pintar, memiliki sifat dan karakter yang dicintai semua guru, sosok seperti ini sangat jarang di sekolah. Karena itu dia adalah jenis orang yang langka. Tapi melihat sisi karakter yang liar seperti ini, perasaan kagum dan pujian yang tersemat dalam kepala menguap begitu saja.
"Yoon Hyemi, benarkan?"
Hyemi hanya mengerutkan dahi. Dia ingin bertanya 'bagaimana kau bisa tahu?' tapi urung ketika sadar bahwa mereka berada dalam satu sekolah yang sama. Apalagi Bekyun cukup dekat dengan Sehun yang kebetulan Hyemi kenal karena satu dan lain hal.
Sehun bergerak maju tanpa instruksi. Tiba-tiba saja Hyemi mendapat firasat aneh. Merasakan bahwa posisi ini tidak benar, Hyemi ingin menggeser tubuhnya sedikit, tapi dari tempat lain Sehun mengikutinya. Begitu seterusnya sampai Hyemi menyerah dan berdiri diam karena terpojok.
Punggungnya merasakan dinding keras di belakang, tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu yang lembab di punggungnya sampai membuatnya tidak nyaman.
Hyemi menoleh ke samping dan dia melihat tanaman yang merambat di belakang punggungnya. Begitu menoleh lagi untuk melihat apa yang dilakukan Sehun, bibir mereka tiba-tiba saja bertemu. Seolah Sehun sudah menunggu kesempatan itu, seolah Sehun sudah memperhitungkannya.
Tubuh Hyemi layaknya sekumpulan daging yang tidak memiliki tulang dan saraf, yang tiba-tiba terbujur kaku dan seluruh persendiannya terasa ngilu. Untuk beberapa detik apa yang ada di depan matanya terasa menyilaukan. Dia menutup mata sebentar namun segera sadar bahwa yang ada di hadapannya ini adalah sosok yang tidak seharusnya.
Hyemi mendorongnya mundur dan wajahnya menjadi memerah karena malu sampai warnanya menjalar ke telinga.
Sehun yang melihatnya hanya tersenyum karena merasa terhibur. Meraba pada bibirnya yang lembab, dan Hyemi tanpa sadar sedang memperhatikan.
"Kita akan sering bertemu setelah ini."
Sehun adalah pria yang aneh menurut Hyemi. Bahkan ketika pertama kali dia melihatnya.
"Sampai ketemu satu bulan lagi." Kalimat itu diucapkan Sehun dengan meninggalkan jejak senyum di wajahnya.
Kemudian Sehun meninggalkan Hyemi sendirian tanpa memberi penjelasan.
.
Bahkan tanpa mengatakan 'kita akan sering bertemu', mereka tetap akan bertemu keesokan harinya di sekolah, di hari berikutnya, dan hari berikutnya lagi. Tapi Hyemi tidak menduga bahwa yang dimaksud Sehun adalah sebuah pertemuan keluarga.
Di malam ketika ibu Hyemi membawa dirinya ke rumah baru yang akan mereka tinggali, Hyemi baru menyadari hal itu.
Hyemi tahu ibunya menikah dengan teman lamanya, tapi dia hanya melihat wajah orang itu dari sebuah foto. Pernikahan itu tidak melalui sebuah upacara besar, hanya mendaftarkan pernikahan di kantor catatan sipil dan mereka resmi berstatus suami istri setelah tanda tangan dan mendapatkan sebuah buku nikah.
Hyemi tidak menduga kalau pria yang menikahi ibunya sudah memiliki anak yang cukup besar-hampir seusia dengannya. Dengan begitu Hyemi tidak hanya memiliki seorang ayah baru tapi juga saudara tiri-sebuah bonus yang mengejutkan.
Rumah yang akan Hyemi tinggali cukup besar, lahannya luas, rumput di halaman tumbuh dengan subur dan terawat. Hyemi bahkan tidak bermimpi akan tinggal di rumah sebagus itu. Dia sudah terbiasa mencium bau besi berkarat dan debu yang menyesakkan. Jadi membiasakan diri dengan rumah seperti itu menurutnya akan membutuhkan cukup banyak waktu.
Membandingkan rumah itu dengan tempat tinggalnya dulu membuatnya berpikir bahwa rumahnya bahkan tidak layak untuk dibandingkan. Ini terlalu mewah untuknya, ini terlalu bagus untuk dirinya.
Hyemi melirik pada wajah ibunya yang sedikitpun tidak menunjukkan keterkejutan. Hyemi yakin ibunya sudah tahu bahwa calon suaminya sangat kaya. Hyemi mengkhawatirkan maksud lain di balik pernikahan itu tapi berkali-kali ibunya meyakinkah bahwa dia bukan wanita yang suka memanfaatkan kekayaan. Hyemi sangat tahu ibunya bukan salah satu dari pengeret* harta yang paling dia benci. Tapi entah itu kebenaran atau kebohongan, Hyemi hanya bisa mengandalkan sikap ibunya di masa depan.
(*Pengeret: orang yang pandai/suka menipu)
Melirik pada satu persatu orang yang berdiri menyambutnya. Hyemi tidak terbiasa dengan banyaknya perubahan. Di rumah pun dia tidak memiliki pembantu atau asisten rumah tangga. Tapi di sana ada beberapa orang yang memakai seragam dan semuanya tampak sangat asing baginya.
Ini seharusnya menjadi impian banyak anak seusianya; tinggal di rumah besar dengan memiliki pelayan pribadi, fasilitas yang memadai dan uang yang tidak ada habisnya di rekening. Tapi yang Hyemi tahu kehidupan orang kelas atas juga tidak semudah melepas baju lalu membeli yang baru. Selalu ada sebuah konflik keluarga, perebutan warisan atau sebagainya, hal itu adalah apa yang Hyemi pelajari dari beberapa kali menonton drama tivi.
Hyemi pikir tinggal di rumah yang lebih kecil seperti tempat tinggalnya dulu juga membuatnya bahagia. Setidaknya dia hidup dengan bebas tanpa banyak mata yang mengawasi. Dia hanya menginginkan atap dan alas tidur yang bisa membuatnya nyaman, tidak perlu dengan perabot yang berlebihan.
Hyemi ingat ketika neneknya berkata 'sebagus dan semewah apapun tempat yang akan ditinggali, masih lebih nyaman kalau tinggal di rumah sendiri'. Tapi ibunya tidak lagi berpikir seperti ini, dan Hyemi hanya diam-diam mengikuti tanpa banyak komentar.
"Selamat datang, Hyemi."
Suara itu menarik perhatian Hyemi. Bayangan satu per satu barang di rumahnya dulu pun lenyap, berganti dengan barang yang tidak mungkin dia beli dengan bekerja dan mendapat gaji satu tahun penuh.
"Kuharap kau senang dengan tempat tinggal barumu. Aku Jinso, kau mungkin sudah banyak mendengar tentangku dari ibumu, bahkan sebelum ibumu memutuskan untuk menerima lamaranku. Kita sebenarnya sudah pernah bertemu tapi aku yakin kau tidak ingat. Saat itu kau baru berusia satu tahun."
Hyemi melirik ibunya, dan ibunya hanya mengangguk pelan kepadanya dengan wajah tersenyum. Mengonfirmasi bahwa kalimat terakhir Tuan Jinso benar adanya, tapi kenapa ibuya tidak mengatakan apapun?
Yang ibunya ceritakan waktu itu hanyalah mereka adalah kawan lama. Pada saat itu ayahnya sendiri juga mengenal Tuan Jinso. Sayangnya mereka putus komunikasi setelah Tuan Jinso tinggal berpindah-pindah, begitu pun dengan ibu Hyemi. Dan 4 bulan setelah pertemuan ibunya dengan Tuan Oh, ibunya mengatakan bahwa temannya itu melamarnya.
Pada saat itu, Hyemi tidak mengetahui latar belakang calon ayahnya. Karena memang pada dasarnya Hyemi tidak terlalu ingin tahu, ibunya hanya mengatakan bahwa temannya juga seorang duda dan memiliki seorang anak. Sudah, sampai di situ saja. Karena itu sekarang Hyemi terkejut karena tahu bahwa teman ibunya yang sudah menjadi ayah tirinya ini adalah seorang pengusaha.
Tangan ibunya mengusap lembut punggung Hyemi, membawanya pada kenyataan bahwa dia sekarang berdiri di antara dua teman lama yang sudah menjadi suami istri. Senyuman ibunya yang menenangkan membuat Hyemi tidak bisa merengek lagi untuk membawanya pulang. Ini sudah menjadi keputusan ibunya. Kenyataan bahwa ayahnya masih hidup membuat Hyemi selalu berpikir bahwa mungkin mereka bisa rujuk kembali.
"Sehun, kemari!"
Hyemi memutar kepala. Perasaanya menjadi tidak enak. Begitu dia melihat sosok pria yang menjadi perhatiannya kemarin, Hyemi mejatuhkan tas yang dia pegang karena terkejut.
Itu Sehun, pria yang banyak diperbincangkan di kalangan teman-temannya, pria yang kemarin tiba-tiba muncul di depannya dan begitu saja menciumnya tanpa permisi. Kenapa dia bisa ada disini?
Hyemi mengerutkan dahinya dan menunjukkan ketidakpuasan dengan sosok Sehun di tengah-tengah pertemuan keluarga.
Di tempat lain, Sehun lebih bisa mengontrol dirinya. Ekspresinya tidak menunjukkan kekecewaan sedikit pun. Dia justru menyunggingkan senyuman yang membuat orang lain mengalami diabetes. Seolah sudah menantikan kehadiran Hyemi sejak lama, Sehun memberikan tatapan langsung kepada Hyemi yang sulit diartikan apa maksudnya.
"Ini putraku, Sehun. Bukannya kalian satu sekolah?"
Apakah ada yang lebih sial dari jatuh dan tertimpa tangga? Dari sekian banyak orang, kenapa itu harus Sehun?
Hyemi tersenyum untuk menanggapi ucapan Tuan Jinso. Tapi seketika itu juga dia mengingat bagaimana Sehun memperlakukannya dengan cara yang tidak sopan. Sudah jelas kenapa Sehun tiba-tiba mengatakan hal aneh di pertemuan mereka malam itu, dia pasti sengaja. Sehun pasti mengetahui hal ini lebih dulu. Jadi, kenapa dia tiba-tiba menciumnya kalau tahu mereka akan menjadi keluarga?
"Ini Ra Im dan putrinya, Hyemi. Aku sudah pernah menceritakannya kan?"
"Selamat siang."
Salam Sehun terdengar formal dan menggelikan di teliga Hyemi.
Alis Hyemi saling bertaut. Memandangi Sehun dengan seksama dan membandingkan sifat Sehun kemarin dan sekarang. Jelas-jelas kemarin Sehun seperti preman yang kehabisan uang dan bertindak seenaknya, sekarang orang itu bahkan seperti anak alim yang hanya tahu belajar.
Di tengah rasa bingungnya dengan perubahan Sehun, acara penyambutan kedatangan Hyemi dan ibunya berlangsung dengan cepat. Tahu-tahu, Hyemi sudah berhadapan dengan wanita yang hendak mengambil kopernya.
Tuan Jinso sudah menunjukkan kamar yang akan digunakan oleh Hyemi, dan wanita yang mengambil koper Hyemi sudah lebih dulu berjalan di depannya. Merasa bahwa tindakan itu tidak benar, Hyemi segera mengikuti dan bersikap sopan dengan mengatakan bahwa dia akan membawa kopernya sendiri.
Hyemi masih belum terbiasa dengan perlakuan orang-orang di tempat ini. Dia terbiasa melakukan apapun sendiri termasuk ketika harus menyeret kopernya sampai ke lantai atas. Tapi tidak satu pun dari mereka membiarkannya membawa barang-barangnya sendiri. Jadi setelah bersikeras menolak bantuan dan tidak berhasil, Hyemi menyerah dan membiarkan mereka melakukan apa yang mereka suka. Mungkin Hyemi akan memberitahu mereka lain kali, bahwa dia tidak membutuhkan mereka untuk melayaninya secara pribadi.
"Apa kamar di sebelah kosong?" Hyemi menunjuk pada kamar yang berada tepat di sebelah-calon-kamarnya.
"Tidak, itu kamar tuan muda."
Hyemi mendelik begitu menyadari bahwa orang yang dimaksud adalah Sehun. Rasanya aneh mendengar Sehun disebut dengan menggunakan embel-embel tuan muda. Apa mereka tidak terlalu berlebihan? Tapi kenapa dia harus menempati kamar di sebelahnya? Bukankah rumah ini memiliki banyak kamar?
"Mm...Anna," Hyemi harap dia tidak salah menyebut nama. "Apa ini kamar yang tersisa di rumah ini?"
Wanita itu mengerutkan dahinya.
"Tidak, ada hampir delapan kamar kosong di rumah ini,"
"Lalu kenapa aku harus menggunakan kamar ini? Tidak ada larangan untuk memilih kamar yang kusukai kan? Aku mau ganti."
Anna terpaku untuk beberapa saat. Dia hanya memandangi Hyemi dan tidak tahu harus menjawab apa. Majikannya sudah meminta untuk membereskan kamar itu, jadi memang itulah kamar yang Hyemi tempati. Tapi sekarang Hyemi meminta untuk pindah, dia tidak tahu apa harus mengijinkan Hyemi atau melapor dulu kepada Tuan Jinso.
Menurut Hyemi, Anna pasti berpikir sifat dirinya yang seperti ini sangat blak-blakan. Ini jelas bukan sikap seorang tamu yang baik, dan mungkin Anna merasa bahwa Hyemi akan susah untuk dipuaskan, dan hal itu hanya akan membawa masalah pada dirinya sendiri. Jadi Hyemi buru-buru menjelaskan.
"Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman. Aku mungkin akan sedikit canggung kalau harus bersebelahan dengannya."
"Tapi-"
"Sikapmu sudah seperti nyonya besar nona, apa Ibumu yang mengajarimu bicara seperti itu?"
Hyemi menoleh dan melihat seorang nenek berdiri tidak jauh darinya. Pakaiannya cukup menarik perhatian. Siapa yang mau mengenakan gaun berenda dengan pita di ujung lengan di usia yang mungkin mendekati 70 tahun? Neneknya dulu bahkan tidak pernah menyentuh model baju seperti itu.
Hyemi menatap penuh rasa ingin tahu. Mengingat-ngingat wajah asing yang baru pertama kali dilihatnya. Wajahnya ada pada salah satu figura photo keluarga di lantai bawah. Dan Hyemi berasumsi bahwa nenek ini adalah nenek Sehun. Jadi apa mereka akan tinggal satu rumah?
Dari ucapan nenek itu, Hyemi punya firasat kalau kehadirannya tidak begitu diharapkan.
Inilah kenapa Hyemi tidak menyukai ide gila ibunya saat mengatakan ingin menikah lagi. Apalagi ibunya menikah dengan seorang pengusaha besar. Selain karena Hyemi ragu kehadirannya tidak akan diterima dengan mudah begitu saja, bisa juga nantinya kehidupannya tidak akan sebebas sebelumnya. Dan sekarang salah satu dugaannya terbukti di depan matanya sendiri. Nenek itu jelas tidak menyukainya.
Hyemi menundukkan kepala dengan sopan untuk memberi salam. Dia masih ingat bagaimana ibunya mengajarinya untuk bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua. Meskipun dia merasa tidak nyaman tapi sudah seharusnya dia menunjukkan bahwa dia juga mengerti etika.
"Siapa namamu?"
"Hyemi."
Tidak ada nada gugup ataupun perasaan takut. Lagi pula tidak ada gunanya bersikap manis di depan wanita tua ini karena toh suatu hari nanti kebohongannya akan terbongkar juga, jadi kalaupun dia membuat kesan buruk di hari pertamanya dia tidak peduli. Kalau Nenek itu tidak menyukainya dan mengusirnya, Hyemi malah akan berterimakasih, jadi dia memiliki alasan untuk tidak tinggal lagi di sana.
"Inilah kenapa aku tidak membiarkan Jinso bergaul dengan orang yang tidak berpendidikan. Bahkan anaknya menuruni sifat ibunya. Tidak tahu aturan. Sangat murahan."
"Apa yang Anda maksud itu saya, nyonya?" tanya Hyemi. Sedikitpun tidak merasa tertekan.
Kalimat balasannya membuat dua pelayan melirik ke arah Hyemi.
"Saya anggap itu sebagai pujian, terimakasih." Hyemi menunduk sekilas. "Dan saya selalu ingat dengan ucapan ibu saya yang mengatakan untuk menghargai seorang tamu dengan tidak menyinggung mereka apalagi mengatai mereka tidak murahan. Apakah hal seperti itu tidak diajarkan di rumah ini?"
Nenek itu mendengus, menahan belakang kepalanya saat tubuhnya terhuyung mendengar ucapan Hyemi. Dua pelayan yang berdiri di belakang Hyemi sudah pindah tempat dan menahan tubuh si Nyonya besar.
"Nenek!"
Sehun tiba-tiba muncul dari arah lain dan menopang neneknya yang hampir jatuh. Dia melirik Hyemi sebentar, ekspresikan tidak menuntut, tapi tidak tahu kenapa Hyemi jadi merasa sedikit bersalah. Apa kalimatnya sudah sangat keterlaluan? Tapi yang dia ucapkan itu memang benar kan? Neneknya saja yang terlalu berlebihan dan menggunakan kesempatan ini untuk membuat Hyemi dipermalukan. Menyebalkan!
Sehun membawa neneknya pergi. Meninggalkan Anna yang berdiri dengan raut wajah yang khawatir. Tapi setelah menyadari kalau Hyemi berdiri di sana tanpa berbuat apapun dengan wajah bingung dan setengah tidak peduli, Anna diam-diam menghampiri Hyemi, ingin mengatakan sesuatu tapi Hyemi sudah mendahului.
"Maaf kalau ucapanku tidak sopan, aku hanya-"
"Saya mengerti. Anda mungkin tidak nyaman karena harus menempati kamar di sebelah tuan muda. Dan seperti yang anda lihat, Nyonya kami sedikit butuh waktu untuk menyesuaikan diri."
Hyemi menurunkan volume suaranya dan bertanya, "Apa memang biasanya begitu?"
Dan Anna yang mendengarnya hanya memberikan senyuman karena Hyemi kelihatannya cukup menyenangkan.
Hyemi pikir, Anna adalah wanita yang baik dan cukup cerdas. Hyemi harap mereka bisa menjadi teman nantinya. Setidaknya, Hyemi harus memiliki satu orang dari pihak musuh untuk berpihak padanya, kan?
.
Anna hanya mengantar sampai di depan pintu kamar lalu meninggalkan Hyemi yang mengatakan tidak memerlukan apa-apa lagi.
Hyemi menatap sebentar untuk melihat isi kamarnya yang sudah seperti kamar seorang selebriti. Biasanya dia hanya tidur dengan ukuran ranjang 1x2 meter, tapi kali ini ukuran ranjangnya bertambah besar. Belum lagi isi perabotan di dalam kamarnya yang tidak pernah dia miliki secara pribadi.
Semuanya pasti bernilai fantastis. Dia seperti bermimpi karena sudah menempati tempat yang seperti itu. Barang-barang yang ada di sana jauh lebih bagus dari barang miliknya dulu. Tadinya Hyemi menolak habis-habisan tinggal di rumah itu, tapi melihat semua fasilitas ini sepertinya dia akan berpikir dua kali.
Puas berkeliling dan melihat sampai ke sudut kamar, Hyemi memilih untuk duduk sebentar di sofa yang menghadap ke balkon. Tidak sadar kalau dia sudah berbaring, tahu-tahu Hyemi sudah tertidur karena merasa nyaman dengan tempat yang dia duduki.
Tapi di tengah antara sadar dan bermimpi, Hyemi seperti mendengar suara seseorang. Sepertinya memang bukan suara ibunya karena suara ini tidak terdengar seperti suara seorang wanita. Mungkinkah itu Ayah barunya?
Berpikir kalau itu adalah si pemilik rumah, Hyemi segera membuka mata dan melihat keadaan kamarnya yang gelap. Ada bayangan cahaya yang menerobos masuk melalui jendela. Hyemi langsung terbangun dan duduk untuk meluruskan punggungnya.
Tapi begitu Hyemi membalikkan tubuh dia melihat bayangan seseorang duduk di kursi tanpa bergerak. Hyemi sudah membuka mulut dan akan menjerit, tapi seseorang lebih dulu membungkam mulutnya dengan mendorong cukup keras sampai dia jatuh dalam posisi tidur.
Siapa?
Hyemi sangat panik. Berpikir mungkin saja itu pencuri yang ingin membobol seluruh harta rumah konglomerat. Tapi suara yang familiar menghentikan gerakan Hyemi yang memberontak.
"Jangan teriak, kau akan membangunkan seisi rumah nanti."
Hyemi berkedip beberapa kali. Siapa lagi kalau itu bukan Sehun. Satu-satunya pemilik suara khas yang membuat Hyemi ingin memukulnya setelah kejadian waktu itu.
Hyemi ingin membalas ucapan Sehun tapi mulutnya dibungkam dan bibirnya bergesekan dengan tangan besar milik orang lain.
Sadar kalau hal itu membuat Hyemi tidak nyaman, Sehun menarik tangannya tapi menolak untuk berpindah posisi.
"Aku sudah bilangkan kalau kita akan bertemu lagi. Tapi apa yang kau lakukan tadi? Jangan membuat masalah, Hyemi. Atau kau akan ditendang keluar dari rumah ini."
Kata-katanya penuh dengan peringatan dan ancaman.
"Aku malah akan berterimakasih, kepada siapapun yang membuatku keluar dari rumah ini."
"Jangan bermimpi, aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah ini."
Hyemi mengerutkan dahinya meskipun Sehun tidak bisa melihat itu dengan jelas.
"Tadinya aku percaya kalau kau seperti yang orang-orang katakan."
Mata Hyemi menatap pada sosok Sehun di kegelapan. Bertanya-tanya seperti apa ekspresinya saat ini? Tapi hanya bayangan samar yang terlihat, dan nafasnya juga cukup dekat di depan wajahnya. Hyemi menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Tapi melihatmu seperti ini membuatku yakin kalau kau bahkan lebih buruk dari yang aku bayangkan."
"Itulah kenapa aku tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah ini."
"Kenapa?"
Sehun tidak menjawab, jadi Hyemi hanya menebak alasan yang melintas di dalam kepalanya.
"Apa karena aku melihatmu bersama wanita itu? Aku janji akan menutup mulut dan kau bisa terus berpura-pura menjadi orang polos di depan orang lain. Bukannya aku pernah bilang begitu?"
"Kau pikir aku seperti ini hanya karena kau memergokiku dengan seorang wanita?"
Hyemi menelan ludah, khawatir kalau Sehun yang sebenarnya adalah lebih buruk dari yang dia bayangkan. Dan jika memang seperti itu Hyemi akan kesulitan beradaptasi di rumah barunya. Sepertinya dia tidak perlu berpikir dua kali untuk minta pindah.
"Lalu apa?"
Hyemi bertanya. Sedikitpun tidak menunjukkan rasa takut dengan penindasan seperti ini. Bagaimanapun mereka sedang berada di dalam rumah, tidak mungkin Sehun nekat melakukan hal yang macam-macam terhadapnya. Benarkan?
"Kalaupun kau memang orang yang seperti itu aku tidak akan mengatakannya ke orang-orang, karena aku ingin kau juga tidak mengatakan apapun mengenai hubungan kita ke orang-orang."
Sehun mencondongkan tubuhnya ke depan. Membuat Hyemi yang takut semakin beringsut untuk menghindari wajah Sehun yang semakin dekat.
"Hubungan seperti apa maksudmu?"
"Kakak adik, apa lagi?"
"Kau yakin hubungan kita hanya seperti itu?"
"Apa maksudmu?"
"Pikirkan...." Sehun bergerak maju lebih dekat. "-coba kau ingat...." Hyemi menahan nafas saat tubuhnya semakin menciut. "-apa yang kau katakan..." Hyemi menggigit bibirnya menahan godaan, "-pada teman-temanmu...." Mulut Sehun kini tepat berada di dekat telinga Hyemi, "-tentang diriku."
Di akhir kalimatnya, Hyemi bisa mendengar tarikan nafas yang seolah mencoba menghirup aromanya.
Hyemi tidak berani bergerak bahkan satu inchi pun. Sedikit saja dia bergerak pipinya akan bersentuhan dengan milik orang lain.
Demi Tuhan, kalaupun Hyemi memiliki kekuatan untuk mendorong Sehun maka dia akan segera melakukannya, tapi gerakan kecil dari Sehun sudah membuat Hyemi lemas dan kehilangan seluruh energi.
Hyemi sudah memejamkan mata. Berpikir apa yang sebaiknya dia lakukan untuk mengakhiri ini dengan jalan damai. Tapi belum sempat Hyemi berpikir, Sehun sudah lebih dulu memberikan ciuman di tulang rahangnya.
"Ingat." Sehun menarik wajah Hyemi untuk saling berhadapan. "Semakin kau menginginkan keluar dari rumah ini semakin aku bersikeras menahanmu di sini."
*** ***
Hyemi menggidik ngeri ketika mengingat kejadian 6 bulan lalu. Dia mengusap kedua lengannya beberapa kali, mengusap tulang rahangnya sampai memerah, dan tiba-tiba sekujur tubuhnya seperti dihinggapi ribuan ulat bulu yang membuatnya geli.
Pilihan yang bagus karena Hyemi menghindari Sehun. Bahkan ketika itu di sekolah. Tapi dipikir-pikir kenapa Hyemi menjadi pengecut begitu? Kenapa dia tidak bisa bertindak seperti dirinya yang dulu?
Hyemi tidak bisa selalu menghindar. Dia harus belajar untuk menghadapi kalau tidak mau ditindas olehnya. Mungkin Soo Jung bisa sedikit membantu. Hyemi pikir dia harus belajar lebih banyak lagi dari Soo Jung untuk pertahanan diri. Siapa tahu saja teknik taekwondo itu akan berguna.
Tapi apa yang membuat Hyemi tidak habis pikir adalah kegigihan murid perempuan di sekolahnya yang walaupun saat itu Sehun mendapat rumor jelek, mereka masih setia menunggu seperti barisan semut.
Hyemi bangkit dari ranjang, dan keluar dari ruang kesehatan. Tadinya dia berniat membolos di pelajaran berikutnya tapi keheningan di ruang kesehatan hanya akan semakin membuatnya memikirkan si kep*rat Sehun.
.
TBC