
Masih dalam keheningan ketiganya menatap sang naga yang terluka itu tengah mengatur nafasnya.
Rion tidak berkata apapun karena tidak mendapat intruksi dari Jun untuk menyerang dan ia pribadi memang tidak ingin membunuh naga itu, dengan alasan yang tidak bisa Rion jelaskan.
Max yang masih memegangi ujung baju Rion pun tidak memiliki niat untuk menyerang. Mungkin karena melihat sang naga yang hampir kehabisan nafas tadi membuatnya makin enggan untuk membunuhnya.
Sementara Jun, sosok yang memiliki pemikiran sulit di tebak itu hanya diam. Tapi jika di lihat lebih dekat, matanya mengisyaratkan sebuah kesempatan pada sang naga.
Namun, nampaknya sang naga tidak memahami maksud Jun. Sehingga dengan seluruh tenaga yang tersisa ia menyerang ketiga sekawan itu dengan sebuah bola cahaya yang keluar dari mulutnya.
"Mati.." lirih sang naga yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
Untuk kepersekian detik sebelum bola cahaya itu mengenai mereka. Mata Jun sempat terbelak sebelum dengan cepat kilat pedang tipisnya membuat sebuah gerakan menebas dan bola cahaya itu terbelah menjadi dua sebelum meledak. Tentu saja Jun tidak membiarkan kedua temannya yang masih tertegu itu terluka atas efek ledakan itu, karena ia sudah siap dengan sebuah kubah yang terbuat dari elemen angin melindungi keduanya.
Naga itu nampaknya sangat terkejut atas serangan terakhirnya yang berhasil Jun gagalkan. Sebab, selama hidupnya belum pernah ada sosok yang bisa merespon serangannya yang satu ini, jadi tak heran naga itu nampak terkejut.
Tapi tak lama, naga itu memasang wajah pasrah kala Jun mengayunkan pedangnya dan mengirim sebuah 'Tebasan Angin' yang berhasil meninggalkan sebuah luka besar di dekat dadanya. Darah terus mengalir layaknya air mengalir membuat Max yang memiliki hati lembut tak tega melihatnya.
"Aku sudah memberimu kesempatan.." lirih Jun sambil melangkah mendekati sang naga dengan aura mengintimidasi-nya.
Memang, awalnya Jun ingin membunuh naga itu dan mengambil Kristal Naga yang sudah di pastikan bernilai banyak poin mengingat level sang naga tidak bisa di bilang golongan rendah.
Namun saat Jun melihat sorot mata sang naga yang memancarkan rasa penyesalan, keputusasaan, amarah dan dendam membuat Jun mengurungkan niat awalnya. Mungkin karena sorot mata itu persis dengan sorot matanya saat mendapat ingatan yang ayahnya tinggalkan. Mungkin Juga karena Jun merasa bahwa naga itu berhak memiliki kesempatan hidup sekali ini dan membalas dendam yang belum terbalas.
Jun, jun benar-benar ingin melepasnya. Tapi saat naga itu tidak mengerti isyaratnya dan menyerang mereka dengan serangan ganas itu. Jun menarik keputusannya untuk melepas naga itu, ia harus membunuhnya seperti niat awalnya.
"Aku sudah memberimu satu kesempatan, tapi sepertinya kau tidak menghargainya sama sekali.." kata Jun penuh penekanan sambil bersiap mengambil nyawa sang naga dengan pedangnya.
Namun serangannya harus ia tahan saat Max dengan penuh keberanian mencoba menghentikannya dengan berdiri di depan sang naga sambil merentangan tangannya, kapalanya menggeleng menandakan bahwa si anak ayam tidak setuju akan Jun yang ingin membunuh sang naga.
"Biaskah kita melepasnya saja?" katanya sambil menatap lekat kedua mata Jun yang tengah memancarkan sorot amarah disana.
"Tidak bisa.."
" Kenapa?"
"Aku sudah memberinya kesempatan tadi. Tapi ia malah memilih tuk mencoba membunuh kita."
"Ta-tapi aku ingin memberi kesempatan sekali lagi.." lirih Max dengan kepala menunduk menyembunyikan rasa campur aduk di hatinya.
"Kau harus memberi alasan yang jelas untuk meyakinakan Jun, Anak Ayam.." Rion angkat bicara sambil merangkul Jun. Dengan itu pula Rion menekan-kan bahwa ia sependapat dengan teman muka datarnya itu.
Max mengigit bibirnya pelan lalu menatap naga di belakanya yang telah terluka parah oleh serangan mereka cukup lama sebelum kembali menatap kedua teman di depannya yang memiliki perbedaan pendapat dengannya kali ini.
"Hanya lepaskan saja!" dengan keras kepala Max bersekukuh dengan suara hatinya yang ingin melepas naga itu.
Sang naga yang melihat Max terus membelanya merasakan rasa campur aduk di hatinya. Ia juga merasakan rasa familiar yang aneh saat berdekatan dengan bocah yang satu ini dan ia baru menyadari rasa ingin mengikuti dan melindungi Max saat anak itu mencoba menghentikan Jun yang ingin membunuhnya. Ia tidak tau kenapa rasa ini bisa muncul, tapi yang jelas perasaan ini membuatnya ingin tetap hidup..
"Lagi pula dia akan mati, di lepas pun akan mati juga. Apa bedanya?" Rion berucap dengan nada dingin membuat Max merinding sebentar sebelum melotot tajam pada temannya yang satu ini.
Sebelum Max menyangkal dengan agumennya, suara serak sang naga mengejutkan ketiga sekawan itu.
"Bisakah kalian memberikan ku kesempatan untuk hidup?" tanya-nya yang membuat ketiga sekawan itu menatap pemilik suara dengan mata terbelak.
Pantas saja ketiganya kesusahan menghadapi sang naga, ternya dari ras Binatang Buas.
"Bukan, aku naga yang Menentang Langit," katanya sambil terbatuk darah.
"Junn.." Max menatap Jun penuh permohonan. "Seorang naga yang Menentang Langit pasti punya tujuan hidup yang sangat kuat, entah itu ingin melindungi sesuatu atau balas dendam. Jadi Jun, beri kesempatan sekali ini saja yaa.."
"Cih!" Rion nampak tidak senang akan sikap Max. Itu bukan karena Max yang ingin memberi kesempatan pada sang naga, tapi Rion baru menyadari bahwa temannya itu terlalu baik, takutnya kebaikan kawannya itu di manfaatkan atau bahkan menjadi kelemahan terbesar Max. Intinya, Rion tidak senang akan sikap Max yang terlalu baik.
"Aku menyerah.." kata Jun dengan muka pasrah. Mendengar itu, Max sangat senang sampai ia hampir tersandung saat akan memberi Jun pelukan.
Setelah memeluk Jun, Max langsung mendekat ke arah sang naga tanpa rasa takut.
"Kuharap kau hidup dengan baik setelah ini.. Juga kau harus berhati-hati tiga hari kedepan! Anak-anak Istana Fajar sedang berburu Kristal Naga!" cerewet Max sambil menyembuhkan luka sang naga.
Hati naga itu menghangat saat melihat keperdulian Max, ia jadi semakin yakin tuk melepas dendamnya dan mengikuti Max sebagai tuan-nya.
"Bisakah aku mengikutimu?" Kata sang naga yang kembali mengejutkan ketiga sekawan itu.
"Apa maksudmu?!" kejut Max.
"Aku ingin mengikutimu sebagai tuan-ku.." kata sang naga sambil menatap lekat Max. Rion dan Jun pun tidak bisa berkata-kata untuk permintaan naga itu.
"Jika kau mengikutiku, kau akan dapat banyak masalah!" ingat Max dengan wajah serius.
"Tidak masalah.."
"Aku adalah anak paling menyebalkan di dunia! Aku bisa membuat kau ingin menggali kuburan untuk dirimu sendiri saat menghadapi sikapku! Apa kau yakin?!" aku Max yang membuat Rion dan Jun menatap Max dengan pandangan rumit. Ah! Akhirnya anak ayam sadar diri akan sikap menyebalakannya itu.
" Tidak masalah.." kata sang naga lagi yang membuat Max terdiam cukup lama.
"Usiamu pasti sudah seratus taun lebih, mungkin juga aku harus memanggilmu kakek, tapi kenapa kau sangat bodoh?!" Max mengerutkan alisanya. "Jelas-jelas bila mengikutiku kau akan sangat kerepotan, kenapa masih mau?" lanjutnya penuh ketidak percayaan.
"Tidak masalah.." kata sang naga untuk ketiga kalinya.
•
•
•
•
•
•
•
•
Bersambung.