Secret

Secret
18



Mendengar pertanyaan Erga, Joan segera menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak".


Meski Erga tahu bahwa dia akan mendapat jawaban seperti itu, dia masih menanyakannya dengan curiga.


Bibi Olivia merupakan anak yatim piatu. Dia tinggal di panti asuhan yang berada di Desa F hingga usianya mencapai 19 tahun.


Itu adalah Desa pengentasan kemiskinan.


Tapi, tidak ada yang tahu bahwa yang disebut sebagai 'pengentasan kemiskinan' memiliki beberapa rahasia luar biasa didalamnya.


Salah satunya adalah Labolaturium yang didirikan oleh Teror*s kemudian menangkap berbagai jenius penelitian dari berbagai Negara dan dengan paksa menekan mereka untuk melakukan sebuah penelitian terlarang ditempat itu.


Namun, setelah penyelidikan yang panjang informasi tentang sarang Teror*s ditempat itu segera diketahui.


Kakek membawa pasukan Elitnya dan menyerang markas tersebut. Tapi, bahkan setelah berjuang dengan keraspun Kakeknya masih harus melihat banyak korban yang berhamburan.


Tidak hanya beberapa peneliti yang tidak dapat diselamatkan, tetapi juga terdapat beberapa warga Desa yang menjadi abu saat ledakan itu terjadi.


Saat penyerangan itu dilakukan, Bibi Olivia yang saat itu berusia 19 tahun juga berperan didalamnya.


Karna potensinya yang luar biasa, Kakek memutuskan untuk membawanya ke Kamp untuk di kultivasikan dengan baik.


Kebaikan yang diberikan Kekek untuknya, dimanfaatkannya dengan baik.


Sebagai salah satu orang yang jenius, Kakek tentu memiliki banyak penggemar, salah satunya Bibi Olivia.


Karna dari itu, Bibi Olivia belajar dengan sangat keras hanya agar dapat memasuki kelompok yang dipimpin oleh kakek.


Namun, Bibi Olivia harus bekerja keras selama 5 tahun untuk berada di posisi itu.


Kakek sering membimbing Bibi ketika dia memiliki waktu luang, dan ketika bibi berhasil memasuki kelompok yang diinginkannya, Bibi menjadi Junior termuda di Kamp Militer tersebut, dan karna dia adalah anggota termuda saat itu, perhatian semua orang tertuju padanya, tidak hanya itu, semenjak dia memasuki kelompok itu, Kakek bahkan merawat dan menganggapnya sebagai putrinya sendiri.


Namun, setelah kematian Kakek, saat itu juga Bibi Olivia memutuskan untuk pensiun lebih awal. Tidak ada yang tahu alasannya.


Tapi meskipun demikian, dia adalah yang paling jelas...


Setelah pensiun dari kemiliterannya, Bibi Olivia menikah dengan seorang pria dari salah satu keluarga kaya di Ibu Kota dan memiliki seorang putra yang masih berusia 6 tahun.


Setelah kematian Kakek, kedua orang itulah yang telah merawatnya. Meski tidak memiliki darah yang sama, perhatian keduanya sangat tulus.


Itu membuatnya sangat menghornati Bibi Olivia dan selalu mendengarkannya. Dia seperti hanya bisa dikendalikan oleh dua orang itu. Bahkan Ayah angkatnya tidak dapat melakukan apapun tentang dia.


Melihat dua orang yang terpaku diluar Villa, Olivia mengerutkan keningnya. Tidak lagi memasukan mobilnya ke garasi, dia berhenti tepat disamping mobil Erga.


Menggelengkan kepalanya, "Tidak ada." Memikirkan sesuatu, Erga bertanya, "Bukankah Bibi seharusnya berada di Ibukota?"


Tersenyum ringan, "Diluar dingin. Sebaiknya kita masuk dan berbicara didalam".


Itu sudah memasuki musim dingin di Kota ini dan kebetulan mereka sama-sama mengenakan pakaian yang sedikit tipis. Tidak baik jika mereka terlalu lama berdiri diluar.


Mengangguk, ketiganya memasuki Villa.


Didalam Villa.


Maid menyiapkan minuman juga beberapa hidangan cemilan.


Mencium aroma teh yang menenangkan, Olivia berkata dengan ringan, "Saya memiliki pekerjaan ditempat ini. Organisasi mencurigai penggunaan Dermaga T dalam melakukan bisnis ilegal. Jadi saya kemari untuk menyelidiki".


Joan menaikan alisnya ketika mendengar ucapan Olivia, "Itu bukan lagi hal yang baru. Kenapa Organisasi baru bergerak sekarang?"


"Itu berbeda". Menyesap teh nya, Olivia meletakan cangkirnya di meja kemudian melanjutkan, "Ada beberapa hal yang telah diselipkan oleh orang-orang itu. Itu sebabnya saya kemari".


Mendongak, "Apakah itu adalah senjata Nukl*r?" Tanya Erga.


Mengangguk, "Benar."


Joan sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka maksudkan. "Itu hanya senjata Nukl*r. Apa yang membuat Organisasi begitu cemas?"


"Saudara..." Panggil Erga, "Kamu hanya fokus pada saham internasional sehingga hal-hal seperti ini tidak dapat kamu pahami dengan baik".


"Saya tahu. Hanya saja, itu adalah hal biasa. Bahkan itu sering terjadi". Ucap Joan mengerutkan keningnya.


"Ya". Erga mengangguk, "Tapi kali ini benar-benar berbeda, Saudara. Sebab senjata nukl*r yang dihasilkan kali ini bukan senjata biasa. Itu adalah rancangan yang digabungkan dengan teknologi canggih sehingga senjata tersebut hanya bisa di kendalikan orang tertentu dan hanya satu orang yang dapat mengendalikannya, selain itu mereka menggunakan chip yang ditanamkan pada orang itu sehingga mereka tidak perlu menggunakan alat pengendali dan itu tidak membatasi jarak sama sekali".


Joan menelan salivanya kasar.


Seperti yang dikatakan oleh Erga. Mereka memiliki tugas masing-masing di berbagai tempat. Sehingga ada beberapa hal yang mereka lewati karna terlalu fokus pada tugasnya.


Joan adalah salah satunya.


Dia adalah orang yang sangat mencintai pasar saham. Dimana dia akan menghabiskan lebih banyak waktunya untuk bermain dengan komputer.


Bermain bukan sekadar bermain dimana ketika di mulai bergerak, pasar saham akan mengalami kerugian.


Itu sebabnya dia tidak begitu memperhatikan dunia luar.