
Arsen menghentikan mobilnya di depan gerbang putih yang menjulang tinggi.
"Pak, saya mau ketemu sama Tiara" ucap Arsen pada satpam yang berjaga di rumah Tiara.
Ini memang sudah cukup malam untuk bertamu, tapi Arsen harus meminta maaf pada gadis itu secara langsung. Ini semua salahnya.
"Iya mas, saya bukain gerbangnya dulu" Arsen kembali memasuki mobilnya begitu mendapat ijin dari satpamnya Tiara.
Begitu gerbang dibuka, Arsen memasukkan mobilnya ke halaman luas milik Tiara. Ia turun dan menghampiri sang satpam yang sedang menutup kembali gerbangnya.
"Pak, Tiara nya ada di rumah kan ya?" Arsen hanya memastikan gadis itu sudah di rumah apa belum.
"Ada mas" Arsen mengangguk lalu kembali bertanya, "Emm.. Tiara tadi keluar rumah gak pak?"
Pak Ujang, satpam di rumah Tiara berpikir sejenak.
"Keluar mas tadi" Arsen jadi yakin bahwa Tiara menunggunya.
"Baru pulang apa udah dari tadi sore pak?" Tak masalah Arsen dibilang kepo atau apa. Ia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu.
"Sekitar jam tujuh tadi sih mas"
Sial, Tiara menunggunya terlalu lama. Arsen tak habis pikir pada gadis itu. Sudah tau dirinya tak bisa dihubungi, kenapa tak langsung pulang saja. Kenapa malah menunggu dirinya. Arsen jadi makin merasa bersalah pada gadis itu.
"Makasih ya, pak" Arsen kemudian berjalan menuju pintu utama. Ia mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
Arsen mengetuk satu kali tak ada jawaban. Ia pun mengetuk pintu itu kembali.
Tok tok tok
Pintu terbuka begitu Arsen mengetuk pintu itu. Dilihatnya seorang laki-laki dengan kaos putih serta celana pendek itu membuka pintu.
"Loh, Sen. Ada apa?" Tanya Farhan begitu ia melihat Arsen lah yang bertamu.
"Malem, bang. Maaf ganggu malem-malem" sapa Arsen dengan sopan.
"Iya Sen, santai aja. Ada apa?" Tanya Farhan.
"Mau ketemu sama Tiara, bang. Tiara nya ada?" Arsen mengungkapkan maksudnya datang ke rumah ini malam-malam.
Farhan mengernyitkan dahinya lalu menjawab, "Ada kok. Masuk dulu, yuk. Ngobrol didalem"
"Emm.. gak usah bang. Saya nunggu disini aja" Farhan mengangguk saja. Ia tak mau memaksa jika Arsen tak mau.
"Yaudah, tunggu dulu ya" Farhan memasuki rumahnya sedangkan Arsen masih berdiri di teras.
Farhan menaiki tangga menuju kamar Tiara.
Tok tok tok
"Ra" panggil Farhan begitu ketukannya tak mendapat respon dari di pemilik kamar.
Farhan baru saja akan mengetuk pintu itu lagi tapi sudah dibuka dari dalam.
"Kenapa, bang?" Tanya Tiara dengan rambut yang dicepol asal serta piyama berwarna pink soft dengan motif bunga sakura.
"Ada Arsen diluar" jawaban Farhan membuat Tiara menghembuskan napas beratnya. Ia sedang malas sekali bertemu dengan Arsen.
"Ngapain?" Tiara jelas tau untuk apa Arsen kesini. Tapi ia sedang malas sekali memikirkan masalah itu. Ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi via email.
"Nyari kamu" Farhan tak tau ada masalah apa antara Tiara dengan Arsen. Tapi ia berharap, masalahnya cepat selesai.
"Enggak deh bang, aku lagi banyak tugas" Tiara menjawab dengan wajah malasnya.
"Tugas apa dek? Besok kan libur" Ya, besok memang weekend. Tapi guru dari Tiara ingin tugas itu dikirim besok lewat email. Ya mau bagaimana lagi. Mau tak mau harus mengerjakan.
"Tugasnya dikirim lewat email, bang. Bilangin aja lah bang, aku mau ngerjain tugas dulu nanti malah kemaleman" Tiara tak bohong perihal tugasnya. Tapi jika membahas Arsen, siapa yang tak marah.
"Temuin dulu, Ra. Kamu bilang sama dia kalo emang mau ngerjain tugas" Farhan yakin adiknya ini tak mau bertemu Arsen.
Tiara menghembuskan napasnya sebelum mengangguk menuruti ucapan Farhan. Tiara menutup pintunya lalu berjalan menuju teras, tempat Arsen menunggu.
Tiara melihat Arsen yang sedang duduk di kursi depan.
"Ada apa?" Tanya Tiara yang langsung pada intinya. Ia ingin segera masuk ke rumahnya untuk mengerjakan tugasnya.
Arsen berdiri dari duduknya begitu Tiara menghampirinya. Ia tak menyangka gadis itu mau menemuinya. Ia kira Tiara marah hingga tak mau bertemu dengannya.
"Maaf ya, Ra" hanya itu yang keluar dari bibir Arsen.
"Kalo emang gak bisa dateng, kan bisa ngomong dulu ke gue" Tiara ingin masalah ini kelar. Ia sebenarnya tak begitu mempermasalahkannya. Tapi menunggu selama itu juga tak enak jika tak ada kejelasan.
"Maaf, Ra. Tadi gue ada acara. Dan handphone gue lowbat. Sorry.." ucap Arsen dengan tulus. Ia tak bermaksud membohongi Tiara ataupun sengaja membuat Tiara menunggu lama, tapi ia benar-benar tak mengecek handphone nya tadi. Ia terlalu fokus pada Tania.
"Udah malem. Lo pulang, gih. Gak enak dilihat orang" ucap Tiara yang tak ingin berdebat dengan Arsen.
Tiara sedikit heran melihat penampilan Arsen sekarang. Tak biasanya laki-laki itu memakai blazer rapi begitu.
"Pak Ujang, tolong bukain pagernya" ucap Tiara dengan lantang.
"Iya, non" Satpam yang dipanggil pak Ujang itu segera membuka pagar putih nan tinggi itu.
Melihat pintu pagar yang sudah dibuka oleh satpamnya, Tiara kembali berkata pada Arsen.
Arsen menatap Tiara yang ada di depannya. Ia tau Tiara marah padanya.
Tiara berbalik untuk kembali masuk ke rumahnya, tanpa mengindahkan tatapan Arsen padanya.
"Ra" panggilan Arsen membuat Tiara berbalik, melihat cowok itu dengan kernyitan didahinya.
"Apa lagi?"
"Besok gue jemput jam sembilan pagi. Gue janji gak bakal ingkar lagi. Jam sembilan pagi gue udah stay di rumah lo, gue janji Ra" ucap Arsen sungguh-sungguh. Ia merasa bersalah karena membuat Tiara menunggunya lama. Dan ia harus menebus kesalahannya.
"Terserah" jawaban Tiara menjadi pengiring kepulangan Arsen.
Tiara memasuki rumahnya begitu mobil Arsen keluar dari gerbang. Tiara kembali memasuki kamarnya untuk melanjutkan tugasnya.
Tok tok tok
Baru Tiara duduk di meja belajarnya, suara ketukan pintu kamarnya terdengar.
"Masuk" ucap Tiara kemudian pintu kamarnya terbuka, menampakkan Kaffa dengan boxer berwarna abu-abu.
"Apa?" Tanya Tiara begitu Kaffa melangkah memasuki kamarnya.
"Buset dah, galak amat" Kaffa tetap berjalan menuju kasur king size milik adiknya.
Tak mendapat jawaban berarti dari Kaffa, Tiara melanjutkan menghitung angka yang ada di bukunya.
"Tadi gue liat mobilnya Arsen, tuh" ucap Kaffa begitu dirinya sudah duduk bersila diatas kasur milik Tiara.
"Trus?" Tanya Tiara tanpa menoleh pada Kaffa yang berada dibelakangnya.
"Kangen lo apa gimana itu? Malem-malem kok kesini, tumben" ucapan Kaffa membuat tangan Tiara terhenti seketika.
"Gak usah kepo, deh" jawaban Tiara justru mengundang kekehan Kaffa.
"Ngerjain apaan sih kok serius banget?" Tanya Kaffa yang melihat adiknya begitu serius.
"Tugas gue" jawaban Tiara mengundang kernyitan di dahi Kaffa.
"Besok kan sabtu, sekolah libur. Masa ada tugas"
"Ya ini buktinya ada" jawaban ketus Kaffa dapatkan dari Tiara. Sepertinya mood adiknya ini sedang buruk.
"Tugas apaan tuh?" Pertanyaan Kaffa membuat Tiara menghembuskan napas kesalnya.
"Fisika" Kaffa mengangguk mendengar jawaban Tiara.
"Gue bantuin sini" ucapan Kaffa membuat Tiara menoleh padanya.
"Setengah tapi" lanjut Kaffa diiringi dengan tawa ringannya.
"Gak lucu banget, deh" Kaffa kembali tertawa melihat respon Tiara.
"Udah sini gue bantuin" ucapan Kaffa langsung membuat Tiara menyodorkan bukunya serta kertas kosong.
"Gue ngerjain nomer satu sampek lima, lo lanjutannya" Kaffa mengangguk saja.
Disisi lain, Arsen memasuki rumah berpagar hitam dengan lampu kuning yang menyinari kawasan depan.
Arsen berjalan menuju halaman samping basecamp. Disana sudah banyak teman-temannya yang sedang membakar jagung serta ikan.
Arsen duduk di bangku yang menghadap ke arah tempat teman-temannya membakar jagung.
"Akhirnya lo dateng juga" ucap Dimas begitu melihat Arsen yang sudah duduk di bangku kayu.
Dimas menghampiri Arsen sambil membawa piring berisikan dua jagung bakar.
Arsen tak menjawab ucapan Dimas. Ia sedang memikirkan kejadian hari ini. Satu sisi ia bahagia bertemu dengan Tania, tapi ia juga merasa tak enak telah membuat Tiara kecewa.
"Gue kira gak dateng lo" ucap Gilang yang baru bergabung dengan Arsen dan Dimas.
"Dateng gue" Arsen hanya menjawab seperlunya.
"Dari mana emang lo?" Tanya Dimas
"Ketemu Tania" jawaban Arsen membuat Dimas dan Gilang mengernyitkan dahinya.
"Tania?" Gilang benar-benar tak yakin dengan yang diucapkan Arsen.
Diantara yang lain, Gilang lah yang mengerti jelas cerita cinta Arsen dan Tania. Seberapa besar cinta Arsen pada Tania dan seberapa berharganya Arsen bagi Tania.
"Iya" Jawaban Arsen membuat Gilang dan Dimas saling pandang.
"Ketemu dimana?" Tanya Gilang yang ingin tau.
"Di Bandung" jawab Arsen singkat.
"Yang jelas coba, Sen. Jangan setengah-setengah gitu. Kepo gue" ucap Dimas dengan gemasnya pada sikap Arsen yang bertele-tele. Tidak tau apa sahabatnya ini kepo.
Arsen menceritakan awal bagaimana dirinya bisa bertemu Tania. Dimas dan Gilang bisa melihat bagaimana bahagianya Arsen ketika dia menceritakan tentang Tania. Mereka yakin, cinta Arsen dan Tania itu selamanya. Mereka berharap takdir mempersatukan Arsen dan Tania kembali.
To be continued....