Secret

Secret
43 : Dariel



Lembah Naga adalah tempat tinggal para naga di Area Merah.


Pada masa kepemimpinan Raja Melviano, kehidupan di Lembah Naga sangat lah damai. Tidak ada mahluk supernatural yang memburu para naga dan melukai mahluk itu. Mereka benar-benar hidup sangat baik sehingga sedikit dari para naga yang memutuskan tuk Menentang Langit.


Hingga perang perebutan kekuasaan di Athens itu terjadi. Para naga yang hidup di Lembah Naga terkena dampak peperangan yang mengakibatkan banyak naga yang tinggal di sana mati.


Ada banyak alasan para naga di Lembah Naga mati, entah itu di jadikan senjata perang dengan melakukan Kontrak Darah, mati karena melawan saat akan melakukan Kontrak Darah atau mati karena terkena serangam nyasar.


Dariel dan keluarganya adalah salah satu dari sekian banyak naga yang cukup beruntung bisa hidup setelah peperangan itu terjadi.


Setelah kubah yang di buat Raja Melviano di Area Merah. Dariel berpikir bahwa kehidupan dirinya dan keluarganya akan baik, mengingat bahwa penghuni Area Merah adalah kumpulan ras supernatural yang memutuskan hidup berdampingan dan hidup dengan damai. Jadi ia berpikir bahwa hewan bisa seperti dirinya dan yang lain juga bisa hidup berdampingan dengan yang lain.


Awalnya memang kehidupan para naga di Lembah Naga berjalan baik-baik saja sebelum para petinggi di Aliansi Fajar menyadari bahwa kubah yang Raja Melviano buat melemah akibat serangan dari luar kubah.


Itu benar-benar kabar buruk, tapi yang lebih buruk bagi para naga adalah fakta bahwa salah satu penyihir menemukan cara untuk memperkuat kubah dengan Kristal Naga yang berada di dahi setiap naga.


Masih jelas Dariel ingat keluarga maupun teman-temannya di bunuh oleh orang-orang itu. Masih Dariel ingat suara raungan kesakitan dari putranya yang terus teringang dalam benaknya setiap malam.


Ia juga selalu bertanya-tanya setiap malam tentang; kenapa harus mereka? Kenapa harus para naga yang di korbankan?


Aish! Dariel benci ini, benci akan keegoisan orang-orang itu yang mengorbankan mereka dengan alasan kedamaian. Kedamaian yang palsu ini membuat Dariel muak!


Dengan kebencian dan ketidak puasan yang Dariel rasakan, itu sudah cukup memotivasi sang naga untuk Menetang Langit dan memberikan alasan sosoknya untuk membunuh orang-orang yang datang ke Lembah Naga sebagai pelampiasaan amarah.


Mungkin juga bila Dariel cukup kuat untuk meruntuhkan Istana Fajar seorang diri, pasti ia sudah mendatangi tempat itu sejak lama.


•••


Max menatap seorang pria yang memiliki fisik usia 30 tahunan itu dengan pandangan rumit. Ia heran, kenapa naga yang usianya sudah seratus tahun lebih itu bisa memiliki fisik pria 30 tahun? Ini sangat tidak normal!


"Uhuk, aku tidak tau kau akan terlihat semuda ini, kakek." Max berucap canggung saat melihat sosok di depannya yang terus menatapnya penuh harapan.


"Hamba belum punya cucu.." lirih si naga yang membuat ketiga sekawan itu makin canggung.


"Jadi siapa namamu terlebih dahulu, paman?" kata Max.


"Dariel."


"Oke paman Dariel, kau sudah tau bahwa aku sangat merepotkan dan aku tidak menjamin bahwa kau akan hidup sangat nyaman. Jadi apa kau yakin?"


"Tidak masalah.." lagi-lagi kata itu menjadi jawaban atas pernyataan Max.


"Kudengar bahwa naga yang ingin menjadikan seorang harus terikat Kontark Darah, apa aku benar?" Jun bersuara setelah lama diam.


Max menolehkan kepalanya ke arah Jun dengan sebelah alis terangkat, ia baru tau ada hal semacam itu. Jun yang di pandang oleh Max dan Rion pun mulai menjelaskan apa itu Kontrak Darah.


"Jadi maksudmu jika aku dan paman Dariel melakukan Kontrak Darah maka hubungan kami seperti Tuan dan Budak? Bukankah itu sangat kejam?" Max berucap tidak senang atas penjelasan Kontrak Darah itu. "Apa lagi bila paman Dariel mati aku tidak terpengaruh apapun. Tapi jika aku mati, paman Dariel akan mati juga, bukankah itu sangat tidak adil!"


"Itu tidak masalah," kata Dariel yang membuat Max melotot tajam padanya.


"Aku tidak mau kontrak-kontrak apalah dengan paman Dariel! Cukup ia ikut denganku saja sudah cukup kan?"


"Apa kau tidak takut aku berhianat suatu saat nanti? Dengan Kontrak Darah, aku tidak akan berhianat karena terikat kontrak."


"Eih.. aku percaya padamu paman, lagi pula aku tidak berniat memperbudak apapun. Aku yang baik hati ini mana tega berbuat seperti itu.." kata Max sambil meletakan tangannya di dada dengan ekspresi bak malaikat dari surga.


"Jikalau pun tuan muda tidak ingin melakukan Kontrak Darah dengan hamba, maka kita bisa menggunakan Kontrak Penjaga. Hubungan Kontrak Penjaga lebih sederhana." Dariel pun menjelaskan apa itu Kontrak Penjaga, dimana posisi dirinya seperti seorang penjaga yang akan selalu melindungi Max dari bahaya yang ada. Kontrak Penjaga juga memungkinkan Max membagi kekuatan dengan Dariel. Jika Max maupun Dariel mati pun tidak akan mempengaruhi salah satu pihak. Itu terdengar lebih baik.


"Lebih sederhana? Meski lebih sederhana itu tetap saja mengekang kan?" saut Max.


"Setidaknya itu sebagai bukti kesetiaan hamba pada tuan muda..."


Ya, Kontrak Penjaga juga mengharuskan 'Si Penjaga' untuk tidak berhianat pada 'Sang Tuan'. Jadi Dariel pikir dengan melakukan Kontrak Penjaga, ia bisa membuktikan kesetiaannya.


"Tanpa Kontrak sekalipun aku yakin paman itu orang baik, jadi aku percaya dengamu. Oh! lagi pula untuk seorang yang bisa tahan dengan diriku itu sudah sangat baik!" kata Max dengan senyum lebar, senyum itu pula membuat sudut hati Dariel merasa hangat. "Tapi, bagaimana caranya agar paman ikut dengan kami tanpa di curigai sedikitpun?" lanjutnya dengan muka bingung.


Dariel tersenyum lalu menunjukan jarinya ke arah kalung yang Max gunakan. "Aku bisa bersembunyi di sana."


Max terkejut lalu tanpa sadar ia mencengkram liontin kalungnya. "Paman tau sesuatu tentang kalung ini?" Tanya Max bingung sekaligus curiga, sebab ia hanya tau bahwa kalungnya hanya kalung biasa.


"Tuan muda tidak tau?" Dariel mengernyitkan alisnya bingung, merasa aneh akan Max yang tidak tau apa-apa dengan kalung yang selama ini ia gunakan. "Darimana tuan muda mendapat kalung itu?" tanya Dariel pada akhirnya.


"Ini kado dari ayahku.."


"Ayahmu pasti bukan orang biasa karena memiliki kalung itu bersamanya."


"Kurasa tidak ada yang aneh dari paman Chen." Rion angkat bicara. "Memang apa yang aneh tentang kalung itu?"


"Yang aku tau bahwa kalung adalah Kalung Semesta, dimana kalung itu bisa menyimpan benda mati maupun hidup di dalamnya dan kalau tidak salah Kalung Semesta yang memiliki simbol pohon itu hanya di pakai oleh para bangsawan Kerajaan Badar." Terang Dariel yang membuat tiga sekawan itu terkejut.


Max menatap Jun dengan pandangan rumit. Dalam kode matanya pula ia mempertanyakan apakah ia memiliki hubungan dengan Kerajaan Badar.


Tapi Max merasa bahwa itu tidak mungkin mengingat ayahnya hanya manusia tulen. Mungkin Kalung Semesta ini di peroleh secara acak oleh ayahnya, mengingat sang ayah adalah seorang yang suka membeli barang-barang unik dan aneh membuat Max yakin kalau kalung ini mungkin secara tidak sengaja ayahnya beli.


"Mungkin ayahku membelinya secara tidak sengaja," katanya dengan mata penuh takjub. "Ayah sangat beruntung...."


Dariel terdiam sebentar setelah mendengar penjelasan Max sebelum mengangguk paham, lagi pula apa yang Max katakan terdengar masuk akal jadi Dariel tidak mempertanyakan lebih banyak perihal asal kalung itu bisa berada di tangan Max. "Tapi sepertinya kalung itu belum mendapat kepemilikan," kata Dariel tenang.


"Bagaimana caranya?"


"Huh.... hamba tidak tau harus menangis atau tertawa untuk fatka ini. Bagaimana bisa benda berharga seperti itu malahan di berikan pada seorang yang tidak tau apa-apa seperti dirimu, tuan muda? Beruntungnya kau bertemu diriku, jika itu orang lain yang memiliki niat jahat maka kau sudah tamat sejak lama," kata Dariel sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku tau aku tidak terlalu pintar, paman. Jadi bagaimana caranya?"


Dariel pun penjelaskan cara agar kalung itu memiliki kepemilikan dengan meneteskan darah Max pada liontin itu. Max pun langsung melakukan apa yang Dariel katakan.


Benar saja, setelah Max meneteskan darahnya ke liontin, Max langsung mersa bahwa ia memiliki sinyal penghubung dengan kalung yang ia gunakan.


"Tuan muda, kau harus berhati-hati saat menggunakan kalung itu, karena banyak orang yang menginginkannya.."


"Memang paman tidak menginginkannya?" Max bertanya dengan ekspreai bodoh.


"Jika hamba menginginkannya, maka hamba sudah melakukannya sejak lama tuan muda.."


"Jangan berkata seformal itu. Ini sangat canggung, panggil saja namaku.."


"Baik."


"Ingat jangan gunakan kata hamba dan tuan muda di depanku, kita patner bukan tuan dan bawahan.."


"Dimengerti.."









Bersambung.


Makasih yang udah menyempatkan diri buat mampir🥰