Secret

Secret
Because of You



HYEMI pov


.


Saat Soojung mengatakan pesta itu artinya benar-benar pesta.


Bau bir, asap yang mengepul dari panggangan, dan kembang api yang meletup-letup dari tangan mereka membuat pesta semakin bertambah meriah.


Orang-orang berkumpul di pinggir kolam, menikmati pesta dengan jumlah makanan yang bahkan sanggup memuaskan 50 orang sekalipun. Padahal aku yakin yang ada di sini tidak lebih dari 20 orang. Chan Yool hanya mengajak beberapa teman club bisbolnya; Woohyun, Minhyuk, Min Ho dan Hyunsik. Tentu saja ke empat orang itu juga mengajak teman wanitanya, tapi tidak semuanya.


Bekyun sudah pasti menjadi orang pertama yang harus ikut serta, Dokyun tidak ketinggalan karena pasti Bekyun akan menyeretnya dengan paksa sekalipun Dokyun membuat banyak alasan. Dan Jong Il—yang aku rasa akan mengambil kesempatan ini untuk berduaan dengan Soojung—jelas tidak akan menolak.


Mereka sibuk bercengkrama, saat aku hanya berdiri di ambang pintu dengan lima piring kosong di kedua tanganku yang entah kenapa itu terasa berat. Semua orang rasanya menikmati pesta ini dan hanya aku saja yang sibuk dengan memikirkan orang di luar sana.


Sehun tidak ada di sini dan entah apa yang dia lakukan seharusnya sudah menjadi kebiasaanku untuk tidak menyebut namanya di dalam hati, tapi itu adalah sebuah ketidak sengajaan ketika namanya tiba-tiba muncul di pikiranku dan menyedot semua perhatianku. Aku seharusnya mulai terbiasa tapi memang benar, semakin banyak menyangkal malah semakin sering memikirkannya.


Kenyataan mengenai keberadaannya di Jeju bersama Irene membuatku semakin memikirkannya. Gadis itu—orang yang selalu Sehun panggil dengan sebutan Nuna—bagaimanapun membuatku merasa iri. Entah kenapa, semua hal yang ada pada diri Irene—wajah, tubuh, caranya berjalan, caranya tersenyum, rasa percaya dirinya, semuanya—membuatku merasa kecil.


Aku masih ingat.


Saat itu Irene berkunjung di malam tahun baru. Bersama nenek Sehun. Melewati satu malam di akhir tahun. Mereka jelas tidak terlihat seperti saudara—ya, aku tahu—mereka memang bukan saudara dan kenyataan itulah yang membuatku merasa iri. Aku masih tidak menyukai Sehun saat itu, hanya sebatas mengagumi tanpa membawa perasaan lebih jauh seperti sekarang ini. Tapi tetap saja yang mereka lakukan entah kenapa membuatku tidak nyaman. Kesal. Marah.


Sehun terbiasa mengangguku, dan malam itu dia sejenak melupakan diriku dan menganggap Irene adalah satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara.


Irene sebenarnya tidak terlalu menyebalkan. Sifatnya memang sedikit arrogant, itu jelas terlihat saat berada di dekatku. Aku tidak tahu kenapa dia seperti itu. Menatapku dengan tatapan tidak suka tapi adakalanya dia tersenyum dengan begitu ramah dan bersahabat. Lalu aku tahu, saat aku berada di dapur dan Irene menghampiriku dengan kata-kata yang sampai sekarang tidak akan aku lupakan, bahwa dia tidak seperti yang aku pikirkan.


"Sehun menyukaimu, aku sudah tahu—jadi jangan memandangiku seolah aku sudah merebutnya darimu. Dia yang sekarang bersamaku, dengan sifatnya yang seperti anak kecil, dan dia yang selalu bersamamu, dengan sifatnya yang seperti pria brengsek, adalah orang yang sama. Dia pria yang baik, jadi jangan membuatnya terluka."


Aku harap Irene bicara yang sebenarnya. Mendengarnya mengatakan itu membuatku berpikir kalau perannya sebagai kakak benar-benar luar biasa. Sadar atau tidak, orang-orang yang melihat kedekatan merekap pasti akan berpikir mereka cocok satu sama lain.


Orang-orang mulai bernyanyi dan membuatku sadar dimana aku sekarang. Mendengar kegaduhan di luar sana sepertinya semua orang begitu menikmatinya. Mungkin hanya aku yang terlalu banyak khawatir dan memikirkan banyak hal, tapi keramaian itu tetap membuatku tidak ingin bergabung dan memilih untuk menikmati kesendirian.


Jadi aku mulai berkeliling lagi, memperhatikan setiap sudut yang sudah lama tidak kulihat. Aku memang ingin tahu apakah benar Chan Yool masih membiarkan perabot di sini seperti saat terakhir aku melihatnya. Ternyata memang ada sedikit perubahan, apa yang aku pikirkan?


Chan Yool menambah koleksi lukisannya, perabot seperti kursi dan meja yang dulu menurutku sangat kuno sudah berganti dengan yang baru. Langkahku terhenti sampai di satu ruangan. Kamarku.


Kalaupun aku menghilang aku rasa tidak akan ada yang sadar, jadi aku memutuskan untuk menjadi seorang buangan dan memilih untuk istirahat lebih dulu.


Kenyataannya itu adalah pilihan yang buruk. Mungkin karena tempat ini atau karena aku berbicara dengan Chan Yool, hingga mimpiku soal Sehun bercampur dengan kemunculan Chan Yool yang tiba-tiba. Kemunculan Chan Yool di dalam mimpi benar-benar menghancurkan semuanya. Aku kesal sampai rasanya ingin mengigit kakinya (CY), bahkan Soo Jung yang masuk dan melihatku duduk di lantai pun sampai curiga.


Tapi apa arti dari mimpi itu? Aku berpikir bahwa ini benar-benar tidak akan berjalan sesuai harapanku, bahwa aku tidak seharusnya memiliki perasaan kepada Sehun bahwa aku seharusnya tidak menghubungkan masalahku dengan Chan Yool.


Sekarang aku tahu. Aku tahu begitu aku melihat Sehun tiba-tiba ada di dapur. mimpi itu benar-benar membawa Sehun pulang, berkumpul bersama kami, dan membawa situasi canggung yang membingungkan. Kenapa dia disini? Kapan dia datang? Bagaimana kalau anak-anak sampai melihat?


"Temui aku, satu jam lagi, 30 meter dari belakang villa ini."


Kata itu dibisikkan di telingaku. Sedikit khawatir kalau orang lain akan melihatnya karena jarak kami bagaimanapun sanggup membuat orang lain curiga dalam sekali lihat. Bomi untungnya sedang berdiri membelakangiku, seketika nafasku yang tertahan berhembus pelan. Lega. Hingga akhirnya aku melihat Sehun berjalan pergi.


Sesekali aku melihat punggungnya menjauh, mataku tidak sengaja bertatapan dengan Xiao Lu. Sepertinya dia satu-satunya orang yang melihat kami, dan aku tidak menyukai tatapannya yang dipenuhi dengan rasa penasaran. Tapi ini adalah Xiao Lu. Ya, Xiao Lu, yang aku curigai tidak hanya memiliki kasih sayang seorang kakak.


.


.


.


AUTHOR


Hyemi duduk di meja makan yang menghadap langsung ke ruang tamu. Itu memberinya akses mengawasi Sehun dari jarak 10 meter yang memisahkan dirinya dengan Sehun yang terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitar. Kenapa kesannya jadi seperti Hyemi yang terus-terusan mengawasi dan berharap sesuatu?


Hyemi bergumam dan mengutuk dirinya sendiri, tapi dia memang tidak bisa mengendalikan pikirannya.


Satu jarinya bergerak bebas di bibir cangkir saat Hyemi tanpa sadar menatap Sehun lagi. Dia ingin bertanya banyak hal karena begitu tidak sabaran, tapi itu tidak mungkin terjadi dalam keadaan banyak orang seperti ini. Mereka akan heran kalau tiba-tiba saja Hyemi menjadi sk akrab dengan Sehun. Dimata mereka, Hyemi tidak begitu dekat dengan Sehun.


Hyemi mengingat hanya dia—dan beberapa orang disekitar Sehun—saja yang tahu seperti apa hubungannya dengan Sehun. Hyemi bahkan sangat hati-hati dengan Bomitapi seberapa besar kehati-hatiannya, Jong Il selalu memegang kendali bom waktu. Dialah orang yang membuat Dokyun dan Chan Yool tahu hubungan mereka, dan bukannya tidak mungkin kalau Jong Il akan keceplosan lagi dan berita menyebar sampai ke sekolah.


Melihat Sehun bicara dengan Bekyun dan Xiao Lu membuat Hyemi kembali menatap penuh arti. Dua pria itu dengan mudah membuat Sehun tertawa, tidak ditahan-tahan dan sangat alami. Hyemi jadi ingintahu dengan apa yang mereka bicarakan, dia ingin ikut bergabung tapi kemunculannya mungkin akan membuat canggung dan hyemi menunggu-nunggu kapan saatnya mereka bisa bicara berdua saja. Kenapa jam berputar dengan begitu lambat?


Hyemi menatap layar ponselnya. 15 menit. Masih ada waktu sampai 15 menit lagi tapi Sehun terlihat masih sibuk bersama Bekyun dan Xiao Lu. Sepertinya Sehun bahkan lupa dengan janjinya. Hyemi mendengus dan bersamaan dengan itu Hyemi melihat Dokyun melintas dengan selembar kertas. Hyemi memperhatikan sebentar dan Dokyun terlihat mebenarkan letak kacamatanya sebelum berguman saat membaca. Hyemi melihat Dokyun mengambil kunci di meja tinggi yang terletak di antara dapur dan ruang tengah lalu berjalan keluar


Hyemi diam-diam mengikuti, dia memutuskan begitu saja idenya tanpa berpikir. Dia tidak mau Dokyun lebih dulu menginjak pedal gasnya, karena itu Hyemi bahkan mengabaikan sedikit rasa nyilu di pergelangan kakinya yang tadi sempat menyenggol kaki meja.


"Mau ke mana?" Tanya Hyemi, saat Dokyun berhasil duduk di dalam kursi kemudi.


Dokyun tidak langsung menjawab, menatap sekilas ke arah Hyemi dan tatapannya penuh arti. Hyemi bisa menebak apa jadi dia buru-buru menambahi.


"Aku sedang menganggur, dan semua orang sepertinya terlihat sibuk."


Hyemi menunjukkan ekspresi yang meyakinkan, menutupi kekecewaannya saat melihat Sehun seperti sedang mengabaikannya. Dia memutuskan untuk mengikuti Dokyun dan mengabaikan apa yang Sehun tadi katakan padanya.


Hyemi jarang berbicara pada Dokyun—bahkan bisa di bilang hapir tidak pernah—karena kelas mereka berbeda dan alasan lainnya mereka tidak cukup dekat hingga menanyakan 'mau ke mana' adalah sesuatu yang tidak mungkin terlontar dari mulut keduanya.


"Supermarket. Kita kehabisan air dan beberapa bahan makanan," jawab Dokyun.


"Memangnya Chan Yool tidak menyiapkan sebeumnya?"


"Kita tidak pernah bisa mengandalkannya. Chanyeol memang pintar sekali merepotkan orangkan? Kenapa juga mengundang temannya ke sini tanpa persiapan. Merepotkan." Itu sindiran yang cukup keras. Hyemi ingin tahu seperti apa reaksi Chan Yool ketika mendengarnya.


"Apa aku boleh ikut?"


"..."


"Sudah kubilang aku sedang menganggur. Lagipula ada barang yang harus kubeli."


Hyemi nyengir, menunjukkan deretan giginya dengan canggung. Berusaha terlihat meyakinkah karena dia sendiri tidak tahu kenapa kata-kata itu meluncur bebas dari mulutnya. Tapi sepertinya alasannya masih kurang.


"Barang-barang wanita, aku ingin membeli beberapa kebutuhan," jelas Hyemi, menekan kata wanita dan mendapat anggukan dengan ekspresi datar Dokyun setelah beberapa detik.


Dokyun baru akan meminta Hyemi masuk tapi ponsel miliknya lebih dulu berdering dan membuat perhatian Dokyun teralih. Dia berbicara singkat di telpon dan wajah Dokyun yang terkejut terlihat ragu. Ada sedikit ekspresi panik meskipun itu tidak terlihat jelas dan Hyemi tahu bahwa itu adalah telpon yang mengharuskan Dokyun membatalkan rencananya.


"Aku harus kembali ke Seoul sekarang." Itu penjelasan Kyungsoo setelah menutup panggilan dan keluar dari mobil. "Apa kau bisa menyetir?"


Menyetir? "Kau memintaku untuk mengantarmu ke stasiun?" Hyemi mengangkat kedua tangannya secara otomatis. "Oh, tidak, tidak, tidak. Aku akan tersesat karena tidak tahu jalan saat pulang nanti."


"Aku harus kembali sekarang, tapi kita perlu ke supermarket," kata Dokyun. "Aku bisa pergi sendiri tapi kau sepertinya butuh seseorang agar tidak tersesat. Kalau begitu akan kupanggil seseorang dulu."


"Biar aku yang pergi dengannya."


Dokyun menoleh saat mendengar seseorang menyela. Itu Sehun, yang entah sudah sejak kapan memperhatikan mereka dan tiba-tiba masalah terselesaikan tanpa Dokyun perlu menjelaskan lebih banyak lagi.


"Kenapa harus kau?" tanya Hyemi, terdengar tidak puas dan mengandung arti sebuah penolakan.


Sehun hanya bereaksi sebentar dengan mengerutkan dahi, tidak begitu jelas tapi anehnya Hyemi bisa melihat itu. Sikap Sehun terlihat tenang, sepertinya memang dia pandai berekting, berbeda dengan Hyemi yang terkadang mudah sekali ditebak.


"Karena yang lain sibuk, sedangkan aku tidak."


"Kau bisa menyetir?" Hyemi menyela.


"Tentu saja."


Meskipun Dokyun memandangnya ragu, tapi dia tetap menyerahkan kunci dan memberikan beberapa nasehat agar Sehun tidak melanggar lalu lintas. Dokyun tahu Sehun belum memiliki surat izin mengemudi dia hanya tidak mau mendapat masalah karena sudah membiarkan Sehun menyetir tanpa memiliki surat ijin.


Hyemi berniat untuk angkat bicara tapi Sehun lebih dulu menyela dan menyeret lengan gadis itu untuk masuk ke dalam mobil, mendorongnya setengah paksa, mendudukkannya, memasangkan sabuk pengaman, lalu menutup pintu sebelum mengitari mobil dan duduk di belakang stir.


"Kau memilih jalan yang sulit hanya untuk berdua denganku," kata Sehun, yang langsung mendapat lirikan dari sudut mata Hyemi.


Sehun tiba-tiba mengingat ucapan Hyemi dan sedikit tersinggung ketika mengulang, "Kau bisa menyetir? Aku bahkan lebih dari sekedar bisa."


Sejenak Hyemi merasakan evil mata Sehun mulai terlihat, dan menyebalkan harus melihat wajah itu yang bagaimanapun tidak mungkin bisa di abaikan begitu saja. Hyemi ingin membencinya, tapi hati menolak untuk melakukan itu.


Dia terlalu tampan, ah sialan !


.


.


Dokyun setengah berlari saat melewati ruang tengah dan itu menarik perhatian Bekyun yang tadinya sedang mengobrol dengan Xiao Lu. Penasaran dengan apa yang terjadi pada temannya, Bekyun meninggalkan Xiao Lu dan berjalan mengikuti Dokyun yang sudah menghilang dari anak tangga.


"Hey, ada apa?" Bekyun bertanya saat berhasil menyusul Dokyun dan melihatnya mulai mengemasi barang-barang. Wajahnya terlihat panik, dan itu membuat Bekyun khawatir kabar buruk telah menimpanya.


"Kenapa kau mengemasi barangmu? Apa terjadi sesuatu di rumahmu?" Bekyun mengulang pertanyaan yang tidak dijawab.


"Aku menerima telpon darinya. Aku harus kembali ke Soul. Dia menungguku."


Ini untuk pertama kalinya Bekyun melihat Dokyun begitu gugup dan khawatir. Dokyun tidak pernah bereaksi begitu berlebihan, ketika keluarganya mengalami musibah dia tidak terlihat seperti ini. Lagipula Dokyun menyebut seseorang yang kedengarannya adalah orang asing. Hal itulah yang membuat Bekyun yakin kalau orang lain yang tidak dia ketahuilah yang membutuhkan pertolongan.


"Kujelaskan nanti, aku harus pergi sekarang."


Ucapan itu sekaligus mengakhiri obrolan singkat mereka lalu Dokyun membawa tasnya saat berjalan keluar.


Bekyun sudah akan menyusul tapi langsung berhenti saat wajahnya hampir menabrak Chan Yool yang tiba-tiba muncul.


"Mau kemana dia?" Chan Yool bertanya ketika melihat Dokyun buru-buru pergi.


Bekyun mengedikkan bahu. "Aku baru mau mencaritahu. Minggir."


Bekyun setengah berlari saat meninggalkan Chan Yool yang masih belum selesai dengan urusannya.


Bekyun ingin mendengar sedikit saja penjelasan, setidaknya dia harus memiliki alasan juga untuk meninggalkan tempat itu dan pergi dengan Dokyun. Masalahnya Dokyun terlalu terburu-buru, seakan melupakan keberadaannya dan pada akhirnya Bekyun tertinggal di belakang saat mobil yang dikendarai Dokyun sudah pergi meninggalkan halaman.


.


.


Sehun selalu pamer di depan Hyemi untuk bertindak keren di hadapannya. Hal itu sudah sering sekali terjadi bahkan sebelum mereka kenal sampai sedekat ini. Secara tidak langsung Hyemi menyadari itu dan beberapa hal itu terjadi dalam perjalanan mereka menunju supermarket terdekat.


Hyemi tidak berhenti melirik saat Sehun menyetir dengan satu tangan, saat Sehun memindah gigi, dan saat Sehun meletakkan sikunya di jendela dengan jari meraba bibir. Tindakan pamernya tidak berhenti sampai Sehun memarkir mobilnya, meletakkan satu tangannya di belakang kursi Hyemi saat menoleh ke belakang dan saat memutar kemudi dengan satu tangan.


Saat mobil terparkir dengan sempurna, Sehun menyadari bahwa Hyemi di sebelahnya terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa?"


Hyemi mendengus ringan saat berkata, "Kau tidak perlu berusaha begitu keras."


Itu adalah kalimat sindiran. Masalahnya, orang yang disindir itu tidak merasa tersinggung sama sekali.


Sudut bibirnya melengkung. Sehun berkata, "Bilang saja kalau tadi itu keren."


Hyemi memutar bola matanya dan keluar dari mobil tanpa menanggapi omongan Sehun yang sudah meninggalkan jejak senyum karena tingkah Hyemi.


.


.


"Bicara saja di sini!" Bekyun berusaha terdengar tegas, mengangkat dagunya, menunjukkan sikap acuh yang membuat tangannya berkeringat.


Bekyun sudah berusaha keras untuk terlihat begitu tidak peduli, dia juga berusaha keras untuk terlihat kuat dihadapan Chan Yool, tapi orang lainlah yang bisa menilai. Sekeras apapun Bekyun berusaha, dia tidak pernah bisa berbohong ketika dihadapan Chan Yool.


"Kau ini kenapa? Ada apa denganmu?" tanya Chan Yool.


Sikap Bekyun yang tiba-tiba menjadi acuh membuat Chan Yool bingung. Pada awalnya dia bisa bersabar, berpikir mungkin Bekyun memiliki masalah yang belum siap dibicarakan dengannya, tapi itu sudah beberapa hari berlalu dan Bekyun masih berusaha menghindarinya.


"Kau tidak mau mengatakannya padaku?"


"Apa kau yang membayar uang sekolahku?" Baekhyun akhirnya bertanya setelah merasa terdesak.


Chanyeol terdiam, mengerutkan dahi, menggaruk pelipisnya. Dia memperhatikan reaksi Bekyun sebentar tapi tahu bahwa Bekyun tidak suka menunggu dan harus mendapat kepastian.


"Em... Ya, aku melakukannya. Aku tidak tahan melihat Mr. Choi menggerutu hanya karena masalah uang, kau hampir tidak bisa mengikuti ujian kan?"


"Itu masalahku," kata Bekyun. "Kau seharusnya tidak perlu ikut campur. Jangan lakukan itu lagi." Bekyun merasa malu ketika menerima bantuan dari orang lain. dia juga malu ketika mengatakan hal ini dihadapan Chan Yool.


"Aku akan mengembalikan uangmu nanti."


Itu adalah kalimat terakhir Bekyun sebelum dia pergi meninggalkan Chan Yool dan berpapasan dengan Jong Il yang terkejut ketika melihatnya bersama Chan Yool.


Bekyun tidak meliriknya, dia pergi begitu saja tanpa membalas sapaan Jong Il yang sudah mengangat sebelah tangannya.


"Kenapa dia?" Jong Il bertanya saat menghampiri Chan Yoo yang bergeming memandangi jejak Bekyun


"Sepertinya dia marah,"


"Dia memang sudah marah."


Chanyeol menoleh untuk menatapnya.


Jongin terdiam dan membuat ancang-ancang untuk kabur kalau Chan Yool melampiaskan kemarahannya. Setelah beberapa detik Chan Yool tidak memberikan reaksi fisik, jadi Jong Il merangkulnya untuk menghibur.


"Tidak perlu dipikirkan, nanti juga dia akan baik-baik saja."


"Sepertinya yang kulakukan salah lagi."


"Memangnya kau pernah bertindak dengan benar?"


Karena ejekan itu, Jong Il mendapat tendangan di bagian paha belakang yang membuat Jong Il jatuh berlutut karena serangan tiba-tiba.


.


.


Dalam perjalanan pulang Hyemi menawarkan diri untuk menyetir. Sehun meragukannya tapi Hyemi berusaha keras meyakinkannya dan akhirnya Sehun membiarkannya.


Tapi atas keputusan Sehun, mereka sekarang terjebak di tengah jalan raya.


Hyemi mendengar suara klakson yang saling bersautan. Memaki kerahnya saat berhasil menyalip mobil yang ditumpanginya. Bukannya merasa tenang Hyemi malah semakin gugup.


"Apa dia tidak pernah belajar menyetir dengan benar? Berkendara itu harus hati-hati, kenapa dia marah-marah begitu?" Hyemi kesal karena beberapa kali mendengar makian dari pengendara lain.


Sehun yang duduk di kursi penumpang menggunakan tangannya yang bersandar di jendela untuk menekan pelipisnya. Dia tahu seburuk apa Hyemi menyetir dan dia menyalahkan keputusannya membiarkan Hyemi mengendalikan stir kemudi.


"Pinggirkan mobilnya, biar aku saja yang menyetir."


"Tidak. Kau tadi mengebut seperti orang gila. Bagaimana kalau nanti kecelakaan?"


"Menurutku kaulah yang akan membuat kita kecelakaan." Setelah mengatakan itu Sehun memegang stir dan membantingnya sebelum Hyemi menginjak rem karena terkejut.


"Apa yang kau lakukan?!" Hyemi menjerit saking ketakutannya.


Sehun sudah melepaskan seatbelt. "Turun," katanya saat membuka pintu dan mengitari mobil.


Tapi Sehun tidak melihat Hyemi trun, jadi Sehun hanya mendorongnya kesampaing dan terpaksa Hyemi bergeser ke kursi penumpang dengan susah ayah sambil memaki tidak jelas. Bahkan saat Sehun sudah menyamankan posisinya Hyemi masih saja mengomel. Itu membuat Sehun menoleh kearah Hyemi dan mendorong maju tubuhnya dan membuat Hyemi terkejut karena wajah Sehun yang mendadak berada didepannya.


"Tenang. Kita tidak akan kecelakaan."


Hyemi menelan ludahnya karena kehabisan kata-kata, selain karena terkejut dengan tindakan Sehun yang seenaknya membanting stir di tengah jalanan ramai, Sehun juga membuat posisinya dalam kesulitan saat akan bergerak.


Hyemi pikir kalau dia tidak melakukan apapun maka Sehun akan menyingkir dengan sendirinya, tapi pikiran itu salah. Sehun berlama-lama dalam posisinya, menikmati pemandangan di depan wajahnya, menelusuri setiap lekukan di wajah Hyemi yang tidak terpoles makeup. Dia juga menikmati saat wajah Hyemi memerah karena gugup dan hal itu membuat Sehun tersenyum.


"Mau kupatahkan hidungmu atau dagumu? Tinggal pilih saja, aku bisa melakukannya dalam hitungan ketiga."


Sehun mengernyit. Masih dalam posisi menyudutkan Hyemi di antara pintu mobil dan punggung kursi. Ujung bibirnya terangkat, dan dia menunjukkan ekspresi kecewa karena tidak mendapatkan seperti apa yang dia pikirkan sebelumnya.


"Apa kau mau menunggu sampai truk menerjang mobil ini?"


"Jalannya begitu lebar, kenapa truknya harus menerjang mobil yang berhenti di pinggir jalan?"


Merasa kesal, Hyemi akhirnya mendorong Sehun menjauh dan membuat Sehun kembali tersenyum dengan sangat menyebalkan.


Hyemi memejamkan matanya, memaki beberapa kali dengan kelakuan Sehun yang datang-datang sudah membuatnya kesal. Tapi sepertinya hanya Hyemi saja yang merasa begitu, karena Sehun terlihat seperti sedang menikmatinya.


Kenapa aku bisa menyukainya? Kenapa aku bisa suka orang seperti dia? Hyemi merasa frustasi sekaligus jengkel. Apalagi ketika mengingat bahwa beberapa kali Sehun mengambil kesempatan untuk menyentuhnya, mengambil kesempatan untuk menciumnya dimanapun tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Itu memalukan tapi kenapa aku juga menikmatinya?


"Terima saja kalau kau menyukaiku karena kau juga pada akhirnya menikmatinya."


Sehun tertawa kegirangan, membuat Hyemi menoleh karena terkejut. Sialan! Tanpa sadar Hyemi sudah menyuarakan isi hatinya. Memalukan, benar-benar memalukan!


.


.


.


TBC