Secret

Secret
One person - 1



One Person


Seperti orang bodoh,


Aku takut perasaanku yang semakin besar ini


****


Sehun merasa jengkel melihat keadaan tempatnya yang sudah berantakan. Dia sudah menahan diri untuk tidak memaki ketika mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari barang-barang pribadinya.


Dengan cepat dia bangkit dari posisi tidurnya yang bersandar nyaman di punggung sofa, lalu menatap dua orang yang saling kerjar-kejaran di seberang ruangan. Kehebohan ini sudah berlangsung selama 10 menit, tapi semua barang di ruangannya sudah habis menjadi sampah dan berserakan di lantai.


"Hey, kalian merusak barang-barangku!"


Sehun hampir menjegal kaki Jong Il yang berlari melintas di depannya tapi selalu tidak berhasil. Dan Jong Il beberapa kali menjadikannya tameng ketika Soo Jung ingin melempar balok mainan (jenga).


Jong Il bahkan sudah mematahkan kaki meja bilyarnya saat berlari ke sana tadi, dan Sehun merasa puas ketika lemparan Soo Jung mengenai dahi Jong Il yang menantang.


Sehun segera menyingkir sebelum hidung kesayangannya terkena lemparan.


"Bab..." Jong Il merajuk.


"Jangan memanggilku seperti itu!"


Senjata Soo Jung berubah menjadi bola bilyar. Dan lemparan Soo Jung mengenai sisi kanan Jong Il dan menjatuhkan vas yang bertengger di meja.


"Sweetie,"


"Menjijikkan sekali!"


Lemparan ke dua berhasil di hindari Jong Il lagi dan kini mengenai figura di dinding sampai kaitannya terlepas sebelah dan miring.


"Sugar pai?"


"Kubilang jangan memanggilku dengan nama menjijikkan seperti itu!"


Lemparan selanjutnya Jong Il sudah tiarap.


"Honey,"


Soo Jung berdesis kesal dan tetap tidak menurunkan level kemarahannya.


"Krys!"


Jong Il memberikan usaha terakhirnya dengan wajah memohon ampun, dia juga sudah menyebut nama Soo Jung dengan panggilan seperti biasanya, Krysta.


Jong Il tahu Soojung geli mendengar sebuatan-sebutan manis seperti yang Jong Il sebutkan tadi, tapi Jong Il hanya ingin memperlakukan Soo Jung dengan manis. Menurutnya tidak ada yang salah dengan nama-nama itu.


"Sehun, kunci pintunya!" Soo Jung mengabaikan Jong Il yang memasang pupy eye dan meminta Sehun untuk mendukung upayanya menghakimi Jong Il yang mata keranjang. Tapi detik berikutnya yang keluar adalah suara ancaman. "Kalau kau membiarkannya keluar kupatahkan juga kakimu!"


Ancaman itu bukan hanya sekedar omongan. Sehun ingat bagaimana kaki Soo Jung menendang pahanya ketika Sehun kalah dalam permainan. Rasanya benar-benar menyakitkan. Bagaimana seorang perempuan memiliki tenaga badak seperti itu? Tubuh Soo Jung bahkan tidak lebih besar darinya.


Tapi omongan Soo Jung tidak diharaukan Sehun. Dia terlanjur kesal karena tempatnya menjadi berantakan. Coba saja hitung berapa kerugian yang dia dapat saat kedua orang itu menghancurkan barang-barangnya. Tapi setelah urusan mereka selesai dan Sehun meminta pertanggung jawaban, Jong Il hanya mengatakan bahwa nanti dia akan membayar. Tapi pada akhirnya kata nanti itu terlupakan oleh waktu yang mereka habiskan bersama.


Seharusnya Jong Il membiarkan tubuhnya remuk saja kan? Itu mungkin akan membuat Soo Jung puas dan cepat melupakan kemarahannya. Tapi Jong Il si pembuat onar tidak pernah membuat Soo Jung bisa duduk dengan tenang. Katanya menyenangkan menjahili Soo Jung, tapi terkadang Jong Il tidak menduga seperti apa resikonya.


"Dimana kau beli itu?"


Suara Bekyun menarik perhatian Sehun dari benda-benda kesayangannya. Dia melihat ke arah jatuhnya keramik antik yang baru dibelinya dari seorang seniman terkenal di Thailand. Sekarang keramik itu sudah berserakan di lantai, Soo Jung yang menyenggolnya dan Sehun tidak bisa berbuat banyak karena amukan Soo Jung itu sangat mengerikan.


"Thailand, harganya hampir satu juta dolar."


Bekyun mendelik takjub, menatap Sehun sambil membayangkan jumlah nol yang Sehun sebutkan tadi. Tapi menurutnya itu pasti hanya jumlah kecil bagi seorang pewaris seperti Sehun. Seharusnya itu menjadi harga yang tidak seberapa, tapi entah kenapa reaksi Sehun sangat tidak enak dilihat.


Lalu, Bekyun akhirnya paham, tentu saja Sehun membeli itu semua bukan untuk dijadikan sasaran kemarahan Soo Jung atau pun Jong Il. Jadi kalau pun barang itu pecah seharusnya itu pecah di tangan Sehun, bukan orang lain.


Sekarang Bekyun sedikit khawatir karena mungkin Jong Il harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk mengganti rugi barang. Sampai saat ini Bekyun tidak mengerti kenapa dia bisa berada di lingkungan orang yang bahkan tidak perlu memikirkan uang ketika harus membeli makanan di restoran mahal, membayar listrik bulanan atau cicilan di bank. Mereka itu tidak seperti dirinya yang harus ikut bekerja untuk meringankan beban ayahnya.


"Perusahaan ayahnya mungkin akan bangkrut kalau terus seperti ini,"


Bekyun kembali berkomentar sambil melihat Jong Il dan Soo Jung masih dalam kondisi kejar-kejaran. Lalu matanya kembali fokus ke buku dalam genggaman.


"Bagus. Anak itu jadi tidak banyak ulah lagi kan. Dan aku tidak perlu repot-repot merayunya untuk menjual saham."


"Mengesankan, seolah uang hanyalah lipatan kertas yang akan kau hanyutkan ke sungai. Apa kau kehabisan ide untuk membuang uang?"


"Jangan mulai menceramahiku."


Sehun mengambil kaleng soda yang ada di atas meja. Menarik penutupnya dengan kasar lalu meminumnya.


"Kau ini beruntung." Bekyun memberi komentar, tidak peduli apakah Sehun mau mendengarnya atau tidak. "Tidak semua anak memiliki nasib seperti dirimu."


Sehun hanya tersenyum, menganggap bahwa kalimat Bekyun barusan adalah sebuah sindiran, tapi kenapa itu terdengar sangat lucu?


Mungkin kalau Sehun mendengar itu sebelum melihat Hyemi, dia tidak akan menganggapi kalimat Bekyun dengan sinis, tapi lain cerita ketika dia menyukai gadis dan kenyataan bahwa gadis itu punya pacar dan setelah putus dengan pacarnya, Sehun masih belum bisa mendapatkan hatinya karena dia merubah status menjadi saudaranya sendiri.


Komentar Bekyun juga bukan tanpa maksud. Sehun tahu kenapa Bekyun mengatakan itu. Karena kalimat yang keluar dari mulut Bekyun selalu melibatkan soal perasaan pribadi. Orang seperti Bekyun yang lebih suka menghemat pasti akan merasa tersinggung dengan kata-kata Sehun yang menyepelekan soal uang.


"Kak, apa kau sedang mengeluh?"


"Tidak,"


"Kalau begitu jangan tunjukkan wajah yang seperti minta belas kasihan begitu."


Bekyun langsung terdiam. Kalimat Sehun mungkin cukup pedas saat didengar, tapi dia tahu Sehun tidak bermaksud untuk menghinanya. Dan entah kenapa hal itu membuat mood-nya tiba-tiba menjadi jelek. Dia terdiam untuk beberapa saat. Lalu seseorang yang menggunakan pahanya sebagai bantal bergerak hingga membuatnya geli.


"Bisa diam tidak sih? Kalau tidak bisa minggir saja sana!"


Bekyun menarik kakinya tapi di tahan oleh tangan yang lain. Lalu setelah berhasil menahan Bekyun, orang itu kembali tidur dengan menjadikan paha Bekyun sebagai bantal yang nyaman.


"Dua orang itu sudah cukup berisik, dan kalian masih mau ikut-ikutin seperti mereka?"


Sehun yang mendengar sindiran itu tiba-tiba menjadi jengkel. Sepertinya dia tidak pernah mengijinkan orang itu untuk masuk ke 'sarangnya', kenapa juga dia ada disini? Lalu mata Sehun beralih ke Bekyun dan mendapatkan jawabannya.


Karena Bekyun ada disana, tentu saja orang itu akan mengikutinya.


Sejak awal Sehun tidak memiliki alasan untuk tidak menyukai Chan Yool, tapi itu sebelum Sehun mengetahui kalau pada waktu itu Chan Yool adalah pacar Hyemi, gadis yang Sehun taksir. Sejak saat itu Sehun mulai tidak menyukainya.


Setiap kali melihat Chan Yool rasanya Sehun ingin melenyapkan orang itu, kadang-kadang merasa iri tapi itu semua tidak Sehun tunjukkan dengan ekspresi. Sehun selalu bisa mengontrol dirinya, tapi dalam hati dia berdoa semoga ada kejadian besar yang membuat mereka berpisah.


Lalu Tuhan Yang Maha Adil mengabulkan permintaannya. Chan Yool dan Hyemi berpisah. Sehun hanya merayakannya dengan senyum bahagia setiap kali dia berjalan dan melihat Chan Yool ketika berpapasan.


Sekarang Sehun mencurigai bahwa Chan Yool sedikit berbelok seperti yang selama ini dikhawatirkannya. Hal itu tidak perlu diperjelas dengan sebuah pernyataan, karena Sehun bisa melihatnya sendiri dari tindakannya. Dan dari awal, Bekhyun sepertinya memang adalah orang yang seperti itu. Dia hanya tidak menyangka, senior yang begitu dekat dengannya lebih memilih untuk bergaul dengan laki-laki daripada perempuan.


Dan karena Chan Yool adalah mantan pacar Hyemi, dan sekarang Chan Yool sepertinya memiliki hubungan khusus dengan Bekyun, tidak ada alasan bagi Sehun menghindari pertemuannya dengan Chan Yool seberapapun tidak sukanya dia pada Chan Yool. Tapi meskipun begitu dia tetap tidak suka kalau terus-terusan melihatnya, itu mengingatkannya pada hubungan Chan Yool dan Hyemi dimasa lalu.


"Apa selama ini aku mengijinkanmu untuk masuk? Kenapa kau disini?"


Sehun berkata sinis dan jelas-jelas memberi kode untuk mengusir Chan Yool dari tempatnya.


Tapi Chan Yool tidak mengindahkan omongan Sehun, dia malah menyumpal lubang telinganya dengan earphone yang tersambung di ponsel. Berpura-pura tuli, dan bermain game dalam ponselnya.


Bekyun yang berada di tengah-tengah merasa canggung. Dia hanya melirik Sehun dan sesekali melihat Chan Yool yang bermuka tebal. Seharusnya dia memang tidak mengijinkan Chan Yool mengikutinya sampai ke sana. Dia tahu Sehun sedikit tidak menyukainya. Tapi beberapa kali ketika Bekyun menyebut nama Chan Yool, Sehun tidak pernah protes. Jadi Bekyun pikir Sehun mungkin sudah melupakan permusuhannya dengan Chan Yool. Tapi kenyataanya tidak seperti itu.


Sehun beranjak dari tempatnya dan membuat Bekyun yang masih duduk mendongak karena karena penasaran. Bekyun juga merasa tidak enak karena membuat Sehun tidak nyaman.


"Mau kemana?"


Sehun melirik sebentar ke arah Bekyun, lalu Chan Yool yang begitu tidak tahu malu. Tapi Sehun memilih untuk menjadikan Jong Il dan Soo Jung alasan untuk pergi dari sana.


"Terlalu berisik. Suruh mereka membereskan semuanya. Atau, aku akan menghancurkan asetnya!"


Bekyun yang mendengar itu hanya diam dan terlalu bingung untuk menanggapi. Lalu Sehun keluar dari ruangan begitu saja.


Chan Yool yang sejak tadi diam langsung berkomentar. "Sikap macam apa itu? Ternyata benar kalau dia itu kasar dan suka menang sendiri! Benar-benar tidak punya tata krama!"


Bekyun memberikan sentilan di kening Chan Yool sebelum berdiri dan membuat kepala Chan Yool terhempas lalu membentur kursi dengan keras.


"Bek!"


Chan Yool protes dengan wajah di tekuk, tapi Bekyun tidak menghiraukannya, dia malah berjalan kearah Soo Jung dan Jong Il yang sekarang sedang bergulat di lantai.


Jong Il dalam posisi terbaring telungkup di lantai, satu tangannya ditarik ke belakang oleh Soojung dan suara Jong Il yang menjerit kesakitan membuat telinga Bekyun gatal.


"Jangan coba-coba membantunya!" Kata Soo Jung.


"Krys, lepas, lepasin Bab. Jangan seperti ini, kita kan bisa bicara baik-baik. Akh! Tanganku, tangankuuuu..."


"Siapa suruh main mata dengan gadis lain, hah?"


"Main mata apanya! Aku tidak begitu. Aku kan sedang meminta mereka untuk tidak mengambil foto. Kalau mereka membuat gaduh, kami akan disalahkan dan mendapat masalah."


"Tutup mulutmu!"


Bekyun memutar bola matanya dan kembali duduk di sofa. Tidak ada yang mendengarkannya, jadi Bekyun lebih memilih untuk menunggu sampai Jong Il remuk menjadi potongan tulang.


"Memangnya apa yang dilakukannya kali ini?"


Chan Yool diam-diam menempatkan kepalanya lagi di atas paha Bekyun. Meletakkan ponselnya dan membiarkan suara latar gamenya berbunyi nyaring.


"Dia meniduri wanita lain?"


Chan Yool menebak. Dan saat itu juga suara Chan Yool yang melengking bersautan dengan suara Jong Il yang kesakitan. Bekyun sedang menarik telinga Chan Yool karena ucapannya tadi. Bekyun pikir itu kalimat yang tidak pantas di ucapkan dari seorang teman. Apalagi, Soo Jung bisa saja mendengar hal itu. Apa jadinya mereka jika bicara sembarangan? Soo Jung mungkin akan memberikan jatah tendangan untuk mereka.


Chan Yool mengusap telinganya yang memerah, lalu menatap sebal ke arah Beekyun.


"Otakmu itu harus di setting ulang. Tidak heran kalau kalian berteman baik. Kau-"


Ucapan Bekyun tertahan saat menatap Chan Yool. Sebenarnya Chan Yool tidak melakukan apapun, dia hanya diam sambil menunggu ucapan Bekyun selanjutnya, tapi entah kenapa Bekyun merasa 'wajah itu' sangat menganggu.


"Kau apa?"


"Kau sama saja seperti Jongie!" Bekyun mendorong kepala Chan Yool menjauh. Lalu berkata dengan jengkel. "Minggir sana! Jauhkan kepalamu!"


*


Sehun menghentikan langkahnya saat merasakan getaran ponsel di saku celana. Dia menarik keluar ponselnya, menatap pada layar yang menampilkan notifikasi pesan dari seorang kenalan lama.


Ayo kita rayakan.


Pesan singkat itu di sertai foto sebotol anggur. Lalu pesan berikutnya muncul lagi.


Aku mendapatkan ini dengan susah payah. Kau tidak mau mencicipinya?


Sehun menduga, Xiao Lu sudah mendapat kabar baik mengenai dirinya yang kembali berprestasi di sekolah. Sepertinya memang tidak ada yang tidak diketahui Xiao Lu mengenai kabar apapun di sekolah.


Yang Sehun tahu, selain Xiao Lu adalah alumni di sekolahnya sekarang ini, dia juga salah satu murid yang punya banyak kenalan di kalangan junior. Jadi memang ada kemungkinan kalau Xiao Lu mengetahui kabar ini dari mereka.


Sehun mulai menghubungi Xiao Lu. Tidak butuh waktu lama hingga Sehun mendengar suara di seberang sana, memanggilnya dengan cara khas yang hanya dimiliki oleh pria berdarah China itu.


"Kak, apa kau tidak punya kerjaan lain?"


["Aku meluangkan waktuku untukmu. Kenapa kesannya kau merasa terganggu begitu?"]


"Bukan begitu,"


["Aku pikir kau akan bosan, makanya aku mengundangmu."] Ada jeda sebelum Xiao Lu melanjutkan. ["Kau juga pasti butuh temankan sekarang?"]


Sehun diam. Tiba-tiba saja dia kembali ingat dengan wajah seseorang. Seharusnya dia mengunjunginya kan? Sehun sangat merindukannya sampai-sampai ingin memeluknya, tapi itu tidak bisa lagi dia lakukan ketika orang yang dirindukan sudah tidak ada di dunia ini lagi.


Selama ini kalau Sehun membutuhkan seseorang, Xiao Lu akan diam-diam mendekatinya lalu menganggunya. Membuatnya begitu sibuk sampai-sampai melupakan semua masalahnya. Persis seperti hari ini.


Sehun bersyukur dengan keputusannya untuk mendekati seorang anak laki-laki yang sedang bermain layangan di lapangan beberapa tahun yang lalu. Anak itu seperti tidak tahu bagaimana cara menerbangkannya. Yang dilakukannya hanya berlari kesana kemari sambil menarik benang. Kalau layangan itu jatuh ke tanah di ketinggian 3 meter, anak itu langsung menggerutu dengan tidak jelas.


Waktu itu Sehun memberanikan diri untuk mendekat dan menawarinya bantuan. Dia merasa kalau tubuhnya yang lebih tinggi dari bocah itu bisa sedikit diandalkan. Sehun pikir anak yang memiliki tubuh tinggi itu juga pasti lebih bisa menerbangkannya. Dan dalam satu hari mereka sudah menjadi seorang teman. Tidak menyangka kalau anak yang lebih pendek darinya itu lebih tua darinya, jadi pada hari itu juga Sehun memutuskan dia memiliki seorang kakak laki-laki.


["Hey, kau masih di sana?"]


Ucapan Xiao Lu seketika menarik kesadaran Sehun dari lamunannya.


"Sepertinya aku tidak bisa datang."


[" Oke. Tapi apa kau mau kutemani ke sana?"]


"Tidak perlu. Aku akan pergi sendiri."


["Baiklah, telpon aku kalau kau berubah pikiran."


"Terimakasih, aku akan menelponmu lagi nanti."


Sehun mematikan sambungan telpon, menyimpannya kembali ke dalam saku dan menghela nafas panjang sebelum kembali berjalan melewati jalan setapak.


Tiba-tiba saja kalimat Bekyun melintas dalam kepalanya. Mengungkit persoalan beruntungnya dia karena lahir di keluarga yang tidak memiliki kekurangan apapun. Tapi Bekyun seharusnya juga tahu, bahwa hidup dengan banyak uang bukan berarti bisa membeli sebuah kebahagiaan.


Langkah Sehun melambat saat melihat seseorang di depannya berjalan dengan mata yang fokus pada lembar kertas di tangan.


Sebuah kalimat yang ditanam dipikirannya kembali muncul.


Karena 'dia', sesuatu yang tidak pasti itu menjadi pasti. Karena 'dia' juga, hal yang tidak mungkin itu menjadi mungkin.


Sehun berjalan ke arahnya. Langkahnya begitu hati-hati. Dia mengamati dan bertanya-tanya, apa yang begitu menarik sampai matanya tidak fokus saat berjalan?


Sehun berhenti tepan di depannya dan membuat orang itu menabrak tubuh Sehun. Suara pekikan terdengar, lalu matanya melebar karena terkejut saat melihat Sehun.


Sehun hanya menyunggingkan senyuman. Menatap pada pihak lain yang memiliki reaksi lucu. Kertasnya jatuh berhamburan di lantai dan Sehun mendengar umpatan makian.


"Hati-hati. Bagaimana kalau yang kau tabrak itu tiang?"


Sehun mencoba untuk mengingatkan, tapi dari nadanya itu terdengar seperti sebuah ejekan di telinga orang lain.


Pihak lain yang di serang dengan kalimat ejekan merasa tidak senang. Dia memandang tidak suka kearah Sehun. Berjongkok untuk memungut kertasnya dan memukul pergelangan tangan Sehun sambil berkata, "Jangan pegang. Aku bisa sendiri."


Sehun kembali berdiri dan hanya mengamati. Dia tidak merasa sakit hati ketika mendengar nada sinis seperti itu. Dia sudah terbiasa dengan perilakunya yang kasar serta makiannya. Hanya saja, terkadang Sehun tidak mengerti kenapa setiap kali dia mendekatinya, orang itu terkesan ingin menghindar tapi juga menunjukkan sebuah keinginan?


"Hyemi-"


"Jangan menggangguku!"


Hyemi mencoba memperingatkan ketika memungut lembaran kertas di lantai.


"Aku hanya mau bilang kalau kertasnya terbang dan masuk ke air. Tuh, lihat di sana."


Ratapan Hyemi langsung terdengar, dia berlari ke arah belakang dan mengambil kertas yang tercelup di selokan. Hyemi memaki dan menyalahkan Sehun. Berkata, "Kenapa kau tidak langsung mengambilnya?"


Pada saat itu Sehun baru menyadari kalau wanita itu terkadang susah untuk dimengerti. Laki-laki itu selalu serba salah. Ingin membantu tapi bantuannya di tolak. Setelah mendapatkan masalah pihak laki-laki yang selalu disalahkan.


Sehun berjongkok, berkata, "Tadi siapa yang menolak bantuan" sambil membantu memungut kertas.


"Ini salahmu. Kenapa tiba-tiba muncul di depanku. Ah, bagaimana ini, semuanya jadi basah. Kalau aku dimarahi ini semua salahmu!"


Sehun menyerahkan lembar kertas itu kepada Hyemi dan diterima dengan setengah hati oleh Hyemi. Wajahnya menunjukkan rasa tidak suka, tapi ada sedikit perasaan malu karena apa yang Sehun ucapkan tadi.


"Apa kau ada waktu nanti?"


"Kenapa?"


"Apa kau bisa menemaniku pulang sekolah nanti?"


Pertanyaan yang syarat akan hal-hal yang mencurigakan. Hyemi mengernyit, menatap bingung ke arah Sehun yang memang terlihat aneh. Dari kalimatnya itu terdengar seperti benar-benar penting. Tidak ada nada gurauan, tapi Sehun memang selalu seperti itu. Bagaimana kalau dia terjebak lagi? Lagi pula Sehun tidak pernah bertanya seperti ini, pria itu hanya akan langsung menyeret Hyemi pergi ke mana pun tanpa bertanya lebih dulu.


Tapi untuk alasan apapun itu, wajah Sehun kali ini terlihat berbeda dari biasanya. Hyemi tiba-tiba merasa khawatir.


"Aku benar-benar membutuhkanmu. Mau menemaniku tidak?"


.


.


.


TBC


Chapter ini pertama kali di buat pada 10 Feb 2016