Secret

Secret
Bad News



Diantara deretan nama yang tersimpan di nomor kontak yang tersimpan, Hyemi lebih penasaran dengan satu orang yang sampai sekarang belum menghubunginya. Ini sudah hapir tiga minggu. Tepatnya 18 hari, dan Sehun belum juga kembali atau mencoba menghubunginya dari pulau Jeju.


Sehun hanya mengirimi pesan selang satu hari setelah kepergiannya, mengatakan bahwa ayahnya baik-baik saja dan tetap ingin ibu Hyemi tidak mengetahui apapun soal ini. Hyemi menurut, karena dia memang tidak ingin membuat ibunya khawatir. Setelah itu Hyemi hanya sekali menerima sms dari Sehun yang menanyakan kabarnya.


Biasanya Hyemi selalu tidak peduli. Dia akan menganggap bahwa keberadaan Sehun yang tidak diketahui adalah kabar bagus untuknya. Tapi perasaan seperti itu sudah lama berlalu, dan kalau diingat kembali, Hyemi tidak ingat kapan tepatnya dia memiliki perasaan semacam ini.


Keesokan harinya saat di kelas, di sepanjang koridor dan di kantin, Hyemi akan selalu mendengar nama Sehun bertebaran dari mulut siswi di sekolahnya. Dia menerima banyak berita di sana-sini, mengatakan bahwa Sehun memutuskan untuk keluar sekolah dan melanjutkan perusahaan milik ayahnya, mengatakan bahwa Sehun bertemu kekasihnya di luar Seoul yang membuatnya tidak segera kembali, mengatakan bahwa anak baik sepertinya bisa saja mendapat masalah dan di skor selama beberapa hari, dan hal-hal buruk lainnya.


Berita-berita seperti itu seperti kuman yang menyebar dengan mudah. Hyemi yang menggigit daging sedikitpun tidak merasa terganggu, apalagi ketika So Jung dan Bomi membuat kelompok sendiri dan ikut andil dalam acara gosi murahan seperti itu.


So Jung dan Bomi sudah bicara panjang lebar, bahwa dia sempat beberapa kali menyebut nama Hyemi agar Hyemi bergabung dengan acara gosip mereka tapi Hyemi hanya memperhatikannya sebentar lalu dia mulai mengabaikan kedua sahabatnya lagi.


Kedua sahabatnya menyadari perubahan Hyemi yang tidak seperti biasanya, mereka berdua mempertanyakan hal itu tapi sampai beberapa hari mereka belum mendapatkan jawaban apapun. Saat So Jung menceritakan hal itu pada Jong Il, dia hanya hanya tersenyum seolah mengetahui sesuatu, tapi ketika So Jung bertanya Jong Il akan menawarkan sebuah kesepakatan dengan dia mendapatkan imbalan ketika memberi informasi. Sayanganya So Jung tidak terpancing dengan permainan Jong Il dan memilih untuk mencaritahu sendiri.


.


.


Dengan kabar bahwa sekolah meliburkan siswanya selama tiga hari, So Jung dan beberapa temannya sdah membuat rencana untuk pergi berlibur.


"Jadi bagaimana? Mau ikut?" So Jung bertanya dari seberang telpon. Hyemi masih terbaring di atas karpet kamarnya, dengan laptop yang masih menyala dan irisan buah semangka.


"Memangnya kita mau ke mana?"


"Kejutan. Kupastikan kau tidak akan menyesal."


"Jangan membuatku dalam masalah Kris,"


"Tidak Hyemi sayang, katakan pada ibumu kalau aku akan menjagamu, jadi ibumu tidak perlu khawatir."


"Aku juga mendengar itu tahun lalu." Hyemi mencoba mengingatkan apa yang terjadi satu tahun yang lalu. Dan Ya, So Jung melanggar janji untuk menjaga Hyemi karena saat dirinya di camp perkemahan Hyemi hampir saja hilang di tengah hutan. Sebenarnya itu bukan salah So Jung sepenuhnya, karena Hyemi terpisah dari rombongan itu seratus persen karena kesalahnnya. Dia mengikuti suara yang membuatnya begitu penasaran. Beruntung karena saat itu Hyemi bertemu dengan Kyungsoo—seniornya yang pendiam tapi begitu baik hati.


"Aku minta maaf karena mataku tidak terus mengawasimu, tapi—hey—itu kesalahanmu,"


Hyemi terkekeh mengingat hal itu. "Ya, aku tahu."


"Jadi, kujemput besok jam tiga sore. Bagaimana?"


"Memangnya kau tahu di mana aku tinggal?"


"Ahh, benar juga." Terdengar helaan nafas saat So jung mengingat hal itu. "Karena itu kenapa juga kau tidak mengatakan di mana kau tinggal?"


"Aku bisa pergi sendiri," kata Hyemi, sengaja tidak meladeni ucapan So jung, "di mana kita akan bertemu?"


"Di sekolah saja, kita bertemu di sana."


"Baiklah—"


Ucapan Hyemi terputus saat dia mendengar ketukan pintu. Saat itu juga Hyemi memutuskan sambungan telponnya dan meyakinkan sekali lagi pada Soojung bahwa dia benar-benar akan datang.


Hyemi setengah berlari menuju pintu saat melihat jam di ponselnya baru menunjukkan angka sebelas. Bergumam mengenai apakah sudah waktunya makan siang karena dia yakin Anna biasa memanggilnya saat waktu menunjukkan pukul satu kurang sepuluh. Mungkin Anna membutuhkan bantuan, saat pikiran itu muncul sosok nyonya besar yang lama tak di jumpainya berdiri di depan pintu kamarnya—bersama Anna dan satu pelayan lagi bernama Minju.


Hyemi membungkuk untuk memberi salam. Sedikit gugup saat melihat wajah nyonya Shin yang seolah tidak sabar ingin melempar duri ke wajah Hyemi. Tapi hanya deheman kasar yang Hyemi dapatkan saat nyonya besar itu menerobos masuk ke kamar Hyemi.


Kedua tangan Hyemi saling bertaut di depan perutnya, memainkan jarinya dengan gugup tapi wajah sedikitpun tidak menunjukkan kalau dia sedang gugup. Memang aneh, Hyemi sendiri heran kenapa wajahnya bahkan tidak bisa bereskpresi seperti itu.


"Kau benar-benar memanfaatkan statusmu dengan baik." Itu jelas kalimat sindiran. Hyemi merasa telinganya seperti tertusuk benda runcing dan itu juga sedikit melukai harga dirinya. "Apa kau memang selalu bermalas-malasan seperti ini?" tanyanya dengan begitu sengit.


"Tidak—" Anna menyela dengan cepat, membuat Hyemi melirik karena terkejut, "—maksud saya, Hyemi ... selalu membantu saya ... di dapur." Anna berkata dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya saling bertaut dan meremasnya hingga ototnya menyembul keluar.


Untuk pertama kalinya Hyemi mendengar Anna berbicara seperti itu. Menyela ucapan majikannya dan membela Hyemi. Dia senang, tapi tahu kalau seharusnya Anna tidak berkata seperti itu, bisa saja Anna di pecat dan cara nyonya Shin menatap Anna membuat Hyemi menelan ludahnya berat.


Tidak lama ponsel dalam genggaman nyonya Shin berdering. Hyemi mengehela nafas tanpa sadar, dan tatapannya bertemu dengan Anna yang meringis menyikapi tindakan nekatnya. Hyemi hanya menggeleng pelan ke arah Anna—menyayangkan sikap Anna tadi—saat nyonya Shin berbalik dan mulai berbicara di telpon. Saat mendengar pulau Jeju dan nama wanita yang cukup Hyemi kenal entah kenapa itu menarik perhatian Hyemi. Sebelumnya tidak seperti ini, tapi jujur saja saat mendengar nama wanita itu yang kabarnya berada di Jeju—bersama Sehun—Hyemi sama sekali tidak menyukainya.


.


Sehun mengamati dirinya di dalam cermin melalui berbagai sudut saat tangan meraba rahang lalu mendorongnya ke kanan dan kiri. Dia melihat lingkar hitam di bawah matanya, dia juga merasa wajahnya semakin tirus. Lalu tiba-tiba wajah Hyemi muncul dalam ingatan, membautnya merasa hampa karena keberadaannya yang jauh.


Siulan panjang tiba-tiba saja menggema dan membuat Sehun memutar tubuhnya. Terkejut, Sehun menoleh dan melihat Irene sudah bersandar nyaman di kusen pintu kamarnya.


"Noona?!" Sehun berseru sambil menyambar kaos di kursi. Mengenakannya dengan cepat sebelum memprotes, "bisa tidak, ketuk pintu dulu sebelum masuk?"


Irene menarik sudut bibirnya tapi itu malah membuatnya terkesan sombong, apalagi saat jari telunjuknya yang lentik menunjuk Sehun dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi. "Aku tidak bermiat dengan tubuhmu itu, jadi jangan khawatir."


Sehun mendengus ringan, merasa tersinggung sekaligus kecewa.


"Tapi kau terlihat sedikit ... berbeda." Irene menambahkan dengan menatap curiga kearah Sheun yang mulai sedikit gugup.


"Terima kasih,"


"Aku tidak memujimu,"


"Lalu yang tadi itu apa?"


"Hanya berkomentar, memangnya tidak boleh?"


"Hah!"


Irene tersenyum dan perubahan warna di ruangan itu langsung terlihat jelas.


"Kau sudah siap?" tanyanya.


"Memangnya mau ke mana kita?" pertanyaan Sehun menghentikan langkah irene. "Aku tidak ingat kita punya janji," tambah Sehun.


"Ada yang ingin kukatakan padamu." Wanita itu memutar tubuhnya, menghadap Sehun yang seketika bergeming mendengar nada serius wanita di depannya. "Kau akan menyesal kalau tidak mendengarnya lebih dulu dariku, ini benar-benar sesuatu yang penting."


Saat umurku sembilan tahun dia datang ke keluarga kami dengan raut wajah ketakutan. Aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Dia menggenggam erat tangan nenek dengan kepala menunduk, sedikitpun tidak mengeluarkan suara meskipun beberapa kali Ayahku menanyakan namanya.


Gadis kecil itu berpenampilan kacau, dengan balutan dress yang di penuhi darah, rambut acak-acakkan dan wajahnya begitu kotor. Dia juga hanya mengenakan sebelah sepatu saat kakinya menggantung di sofa besar yang membuatnya tampak lebih kecil lagi. Kedua tangannya saling bertaut, dan terdapat luka goresan merah yang menarik perhatianku. Pasti sakit, dan mengherankan karena gadis itu tidak terlihat seperti ingin menangis. Ibuku bertanya kenapa tidak membawa anak itu ke rumah sakit saja dan nenek sudah mencoba membujuk tapi anak itu tidak mau. Karena itulah gadis itu berada di rumah kami.


Cantik. Gadis itu terlihat cantik meskipun penampilannya terlihat kotor. Rambutnya berwarna hitam seperti arang, alis tebal dengan tulang hidung yang tinggi, kulit putihnya membuat bibirnya memunculkan semburat warna merah muda. Dia sangat cantik untuk usia yang terbilang muda, dua belas tahun.


Aku sedikit terkejut saat mendengar penjelasan nenek yang mengatakan kalau ada kecelakan besar diwilayah Mapo, menewaskan dua orang yang tidak lain adalah orang tua dari anak itu. Bae Irene.


Sampai sekarang Irene tinggal bersama nenek di wilayah Bukchon. Nenek membesarkannya seperti cucunya sendiri. Namanya tidak tercatat sebagai anggota keluarga, sengaja dilakukan karena hal itu juga atas dasar permintaan Irene sendiri. Untuk gadis seusianya, dia memang cukup pintar pada saat itu.


Sudah enam bulan aku tidak melihat Irene karena kesibukannya sebagai mahasiswa kedokteran. Dan kemunculannya di sini sedikit membuatku terkejut, dia sehari pun tidak pernah membolos sedangkan aku yakin seorang mahasiswa kedokteran sibuknya pasti melebihi seorang pekerja kantoran.


Untungnya dia tumbuh menjadi wanita yang tangguh. Aku dulu sangat tidak menyukainya, tapi aku juga tidak terlalu membencinya. Dia hanya bertindak sebagai kakak yang menurutku terlalu berlebihan, aku tidak suka dia menganggapku seperti bocah berumur 10 tahun. Aku tahu dia menyayangiku, begitu pun dengan diriku.


"Hallo ... kau mendengarku?"


Aku mengerjap dan melihat telapak tangannya bergerak di depan wajahku. Sadar bahwa saat ini aku duduk di salah satu meja restoran dengan pemandangan pantai di bawah sana. Suasana yang terlalu romantis untuk dikunjungi oleh dua saudara yang sedang melakukan makan siang. Aku bisa lihat ada meja-meja menyisiri sepanjang jembatan berbatu, tamu mendominasi dan memenuhi setiap meja dengan balutan kain putih dan vas bunga di atas meja. Sangat Irene sekali. Ini jelas sesuatu yang Bae Irene sukai.


Irene mengerutkan dahinya, melipat tangannya saat suara desisannya menganggu telingaku. Dia muai menatap dengan ekspresi yang sangat tidak kusukai. Curiga.


"Apa yang kau pikirkan? Hyemi?" tebaknya.


Tidak ada rahasia diantara kami, dan setiap pertemuan kami pembahasan selalu tidak jauh-jauh dari hal itu. Irene sangat tahu aku menyukai Hyemi dan dia tahu dengan sendirinya, setelah mengandalkan beberapa orang untuk mencari informasi.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku saat meraih gelas lalu meneguknya sekali. Berusaha mengalihkan pembicaraan—tapi sepertinya itu tidak berhasil.


"Aku yang bertanya lebih dulu, apa yang kau pikirkan sampai tidak mendengarku?" balasnya. Satu tangannya membenahi rambutnya yang tertiup angin. Aku lupa kalau dia orang yang tidak mau mengalah.


"Tidak ada." Aku menunduk.


"Kau yakin?"


"Ya,"


"Dan tidak ada yang ingin kau katakan padaku?"


"Misalnya apa?"


"Ohh ... banyak sekali. Kau bisa mengatakan apa saja, seberapa jauh hubungan kalian misalnya. Apakah kalian sudah berciuman—oh mungkin sudah kalau melihat bagaimana kelakuanmu—atau apakah sudah ke tahap saling melepas baju? Aku benar-benar penasaran dengan ini—"


"Noona!!" geramku. Beberapa orang menatap kami penasaran. Topik ini memang tidak seharusnya dibicarakan di tempat umum, dan aku seharusnya tahu kalau cepat atau lambat pertanyaan itu akan keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa seorang perempuan bertanya blak-blakan seperti itu?


Irene tersenyum—seperti biasa—dan beginilah cara dia menggodaku hingga aku tidak betah berlama-lama berada di dekatnya. Aku benar-benar akan mengurungnya diruang bawah tanah kalau perlu. Dia sangat membenci itu.


Dan meskipun Irene menggumamkan permintaan maafnya, tapi dengan ekspresi yang sama sekali tidak mendukung, siapa yang mau percaya? Akupun tidak akan percaya dan pada akhirnya hanya bisa mengabaikan Irene yang tertawa ketika berhasil menggodaku.


Seorang pelayan mendekat, tersenyum ke arah Irene lalu ke arahku, dan menuangkan air putih ke dalam gelas Irene yang mulai habis. Irene bergumam terimakasih sambil sesekali melempar senyuman pada pelayan yang tampak seperti model majalah dewasa. Aku hanya mengamatinya, dan sebagai seorang pengamaat aku jelas tahu kalau Irene bermaksud menggoda pria itu, kuharap mereka tidak berakhir di atas ranjang nanti malam.


Aku berdecih pelan saat melihat tawa Irene yang jelas di buat-buat. Pria itu, menatapku dengan cukup hati-hati, mengatakan bahwa 'pacar anda sangat tampan' kepada Irene—aku yakin bukan itu sebenarnya yang pria itu pikirkan tentangku. Iri? Mungkin saja. Irene selalu menjadi pusat perhatian semua lelaki, sayangnya aku tidak termasuk dalam kategori 'semua lelaki' itu.


"Kau menjatuhkan reputasimu sendiri," kataku saat melihat pelayan pria tadi pergi karena panggilan dari tamu lain. "Apa kau selalu seperti ini?"


"Tergantung." Irene mengambil gelasnya dan meneguknya sekali. "Aku tidak akan mendekati pria yang tidak bisa memuaskanku."


"Jadi dia memuaskamu?"


"Yah ... tujuh puluh persen—mungkin." Irene mengedikkan bahunya sekilas.


"Yang seratus persen seperti apa?"


Irene terdiam, dengan gelas yang masih berada dalam genggamannya dia terlihat serius saat sedang berpikir. Tapi sampai beberapa detik berlalu Irene masih dalam posisinya dan tatapanku terlihat semakin menyudutkannya.


Irene mungkin tidak suka kalau aku terus menatapnya, lebih tepatnya memperhatikan gerak-geriknya yang sibuk menata hati dan pikiran karena lelaki yang sejauh ini tidak juga kuketahui. Aku berharap aku mengenal siapa orangnya, dengan begitu aku bisa mendatangi lelaki itu dan mengatakan bahwa wanita di depanku ini menyukainya. Mungkin dengan begitu Irene akan lebih menghargai dirinya—dengan tidak membiarkan pria lain menjamahnya.


Sebelas tahun mengenalnya aku tidak pernah paham dengan jalan pikiran Irene, termasuk mengenai apa yang dirasakannya saat Nenek menyetir hidupnya. Irene selalu mengikuti apa yang Nenek katakan, dan menurutku itu bukanlah yang diinginkan Irene.


Dia bodoh atau apa? Mengabaikan perasaannya dan lebih memilih bermain-main dengan pria lain dari pada mengejar lelaki yang jelas-jelas disukainya. Apa memang serumit itu? Bahkan diriku yang berada di posisi terumit pun mengabaikan segala macam kemungkinan yang membuatku tidak mungkin bersama gadis itu.


"Kapan kau kembali ke Seoul?"


Pertanyaan Irene menarik kesadaranku. Kulihat dia sudah menyingkirkan piring di depannya, menggantinya dengan gelas anggur yang entah sejak kapan berada di atas meja. Aku tidak begitu memerhatikan.


"Besok, atau lusa? Lalu kenapa kau ke sini? Kau belum menjawabnya tadi."


Irene meletakkan gelas anggurnya setelah meneguk sekali. Menatapku dengan cukup hati-hati dan aku bisa melihat helaan nafasnya yang berat.


"Nenek memintaku datang dan memastikan kalau paman baik-baik saja."


"Nenek tahu?"


"Orang-orang di sini lebih setia pada nenek daripada ayahmu," katanya. Ada jeda sebelum Irene melanjutkan ucapannya. Tatapannya mengisyaratkan bahwa apa yang akan dikatakan selanjutnya bukanlah sesuatu yang baik. Dia hanya membuka mulut lalu menutupnya kembali, seakan ragu dan bingung bagaimana menyampaikannya.


"Sehun ... kau punya rencana untuk mengatakan hubunganmu dengan Hyemi kepada ayah?"


Aku tidak langsung menjawab, masih menatapnya dengan curiga karena pertanyaan semacam itu jelas bukan hanya pertanyaan basa-basi saja. "Itu akan menjadi kabar yang menghebohkan kurasa, tapi ... ya, aku memang berpikir seperti itu, sayangnya Hyemi tidak sependapat denganku."


"Kau harus melakukannya—tidak peduli apakah Hyemi sependapat denganmu atau tidak," tegasnya. "Atau paman benar-benar akan membuatku bertunangan denganmu."


.


.


TBC