Secret

Secret
Part 29



Malam sudah cukup larut ketika Arsen menginjakkan kaki di rumahnya. Tadi setelah sampai di rumah neneknya, ia dan teman-temannya diajak makan bersama dan jelajah kuliner malam bersama kakek.


Hingga Arsen dan kedua sahabatnya baru bisa pulang ketika malam sudah cukup larut. Arsen pulang bersama sang papa dan meninggalkan motornya di rumah Gilang untuk diambil besok pagi.


Selesai membersihkan tubuhnya, Arsen tidak langsung tidur. Ia akan menyelesaikan tugas sekolahnya dulu agar besok ia bisa tenang melihat konser mini Tania.


Arsen melihat kembali brosur yang tadi diberikan Leo. Ada foto Tania disitu meskipun hanya secuil.


"Aku kangen, Na" gumam Arsen dengan senyuman dibibirnya.


Ia jadi teringat masa-masa bersama Tania dulu. Rasanya begitu bahagia mengingat kebersamaan mereka dulu. Tapi kini semua hanya bisa diingat, mungkin akan susah untuk diulang.


"Aku mau mulai semuanya dari awal, Na. Aku kangen semua yang kita laluin dulu. Dan aku mau kita kayak dulu lagi, Na. Aku cinta sama kamu, dan akan selalu begitu" ucap Arsen sambil melihat brosur yang dipegangnya.


"Apa kamu benci sama aku, Na? Aku belum bisa buktiin apa pun ke kamu. Tapi aku janji, Na. Aku akan kelarin semuanya. Aku janji itu, Na. Dan saat semua udah jelas, aku mau kita bareng-bareng lagi" Arsen masih ingin bersatu dengan Tania. Bahkan cintanya masih ia simpan untuk Tania.


Arsen tak tau kenapa ia harus menjalani takdir seperti ini. Ia mencintai Tania, tapi ia harus menjalani hidup kedepannya bersama Tiara. Orang yang tak ia cintai. Bagaimana hidupnya nanti jika menyaksikan Tania yang menikah dengan laki-laki lain. Bagaimana hancurnya ia nanti. Arsen tak siap untuk itu.


Jika ia bisa mengubah takdir, ia ingin bersama dengan Tania. Jika waktu bisa diulang, Arsen tidak akan menolong Mila. Arsen ingin bersama dengan Tania. Ia ingin Tania menjadi gadis satu-satunya dalam hidup Arsen.


"Apa kita bisa kembali kayak dulu, Na? Aku masih cinta sama kamu. Aku gak bisa kehilangan kamu, Na. Aku harap, dimasa depan kita bisa bersama" Arsen berharap ia bisa bersama dengan Tania. Entah bagaimana nanti, ia ingin selalu bersama Tania.


Arsen jadi membayangkan bagaimana besok reaksi Tania ketika bertemu dengannya. Arsen harap, Tania mau bertemu dengannya. Arsen kembali mengerjakan tugasnya dan menyimpan brosur Tania kedalam tasnya.


*****


Matahari baru mulai menampakkan sinarnya di pagi ini. Namun, Arsen sudah selesai bersiap untuk ke sekolah. Kini dirinya sedang memilih baju untuk nanti bertemu Tania.


"Enaknya gue pake baju apa ya?" Gumamnya sambil melihat baju-bajunya yang bergantung di lemari.


Arsen sudah lama tak bertemu dengan Tania, jadi ia harus tampil rapi saat bertemu nanti. Ia bahkan dari semalam masih membayangkan wajah cantik gadisnya. Rindunya Arsen bahkan tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Ia sangat merindukan gadisnya.


Akhirnya Arsen memilih longneck sweater berwarna putih dan blazer abu-abu. Arsen juga mengambil celana jeans berwarna biru dongker, lalu memasukkannya ke dalam tas sekolah.


Hari ini jadwal Arsen cukup padat. Tapi, ia akan menyelesaikannya dengan cepat agar bisa segera ke Bandung. Arsen memacu mobilnya dengan cepat untuk sampai sekolah. Begitu sampai di sekolah, Arsen segera menuju ruang OSIS untuk menjalankan piketnya.


Hari ini Arsen bertugas keliling sekolah untuk mengecek siswa siswi yang membolos atau merokok.


"Pagi bener lo, Sen?" Dimas kaget begitu memasuki ruang OSIS sudah ada Arsen dengan jas OSIS yang dikenakan Arsen.


"Iya, ngehindarin macet" jawab Arsen masih sibuk dengan tumpukan kertas yang ada dihadapannya.


Dimas meletakkan tasnya di kursi dekat Arsen duduk. Ruang OSIS akan sepi jika pagi karena mereka biasanya menyelesaikan urusan kelas dulu baru ke ruang OSIS. Bahkan jika tak ada jadwal piket, maka anggota OSIS wajib mengikuti pelajaran seperti biasa.


"Bawa mobil lo?" Tanya Dimas yang diangguki oleh Arsen. Dimas tadi melihat mobil Arsen terparkir di parkiran mobil dekat pintu gerbang.


"Nanti malem anak-anak mau makan-makan di basecamp" ucap Dimas yang membuat Arsen berdehem.


"Kuylah ikut. Masa lo gak ikut" ajak Dimas yang tak mendapat respon berarti dari Arsen.


"Iya, nanti gue dateng. Jam berapa?" Tanya Arsen balik sambil tetap membaca deretan huruf yang dipegangnya.


"Malem sih, kayaknya. Tengah malem kan enak tuh bakar-bakar" Arsen mengangguk mendengar jawaban Dimas. Di otak Arsen sekarang hanyalah tugasnya. Ia harus menyelesaikan tugasnya hari ini. Apalagi besok weekend ia harus pergi bersama Tiara.


"Gue ke depan dulu, Sen" lanjut Dimas begitu ia sudah memakai jas OSIS nya.


"Iya" jawab Arsen sambil melihat Dimas sekilas.


Arsen melihat jam tangannya, sebentar lagi ia harus bertugas. Arsen membereskan semua tumpukan kertas dihadapannya lalu memasukkan ke dalam lemari kayu yang ada disamping kirinya.


Arsen keluar dari ruang OSIS sambil membawa handphone nya. Ia akan melaksanakan sidaknya.


*****


Tak terasa, hari sudah siang dan jam pelajaran terakhir sudah berlangsung. Arsen merasa hari ini jam begitu cepat berjalan. Biasanya, menunggu jam pulang adalah waktu yang lama. Tapi hari ini, rasanya sangat cepat sekali.


"Sen, nanti ada latihan buat sparingan sama sekolah sebelah. Lo ikut kan?" Tanya Gilang sambil mencatat barang-barang yang disita oleh OSIS hari ini.


"Gue ada acara hari ini, gak bisa ikut" jawab Arsen sambil terus menulis nama siswa yang telah melanggar peraturan sekolah.


"Tapi lo ikut sparing kan?" Tanya Gilang sambil melihat Arsen.


"Ikut. Hari minggu kan?" Gilang menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Gue cabut, ya" ucap Arsen begitu mendengar bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini berbunyi.


"Lah, mau kemana lo?" Tanya Dimas yang baru kembali dari kamar mandi.


"Ada urusan" jawab Arsen sebelum melesat meninggalkan ruang OSIS.  Baru Gilang akan bertanya urusan apa tapi Arsen sudah pergi saja.


Arsen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia harus menghindari macet hari ini karena ini adalah hari penting baginya.


Arsen terus melihat jam tangannya setiap kali berhenti di lampu merah. Acara Tania dimulai pukul lima sore, sedangkan sekarang sudah pukul setengah tiga sore. Arsen harus sampai Bandung sebelum pukul lima sore. Kalau dirinya telat, maka bukan hanya hatinya yang kecewa tapi juga Leo. Leo pasti kecewa karena tak melihat Tania bernyanyi.


Perlu Arsen akui, Leo begitu sayang pada Tania. Dilihat dari mata bening milik Leo, ia begitu antusias membahas tentang Tania.


Sampainya di rumah disabilitas, Arsen segera mengajak Leo untuk berangkat ke cafe tempat Tania bernyanyi. Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Arsen berhenti di sebuah cafe dengan hiasan lampu serta pernak-pernik di luarnya.


Arsen menggandeng tangan Leo begitu mereka keluar dari mobil. Arsen mengajak Leo duduk di salah satu meja dekat jendela. Yang Arsen tau, Leo itu sangat menyukai bintang. Dan dilihat dari cuaca sore ini, cukup indah untuk melihat bintang.


"Kak Sensen" panggil Leo sambil mendongak melihat Arsen yang lebih tinggi darinya.


Arsen mensejajarkan tubuhnya dengan Leo sambil berucap, "Kenapa, Leo?"


"Leo mau kesana" jawab Leo sambil menunjuk arah panggung.


Arsen melihat kearah yang ditunjuk Leo. Mungkin Leo ingin melihat lebih dekat. Arsen pun menuruti permintaan Leo.


"Oke, kita kesana ya" Leo mengangguk semangat lalu berjalan mengikuti Arsen. Arsen membawa Leo ke depan panggung. Disana sudah banyak yang berdiri, menunggu penampilan sore ini.


Tak lama acara pun dimulai. Pembawa acara dengan topi serta kumisnya menjadi daya tarik tersendiri. Semua yang hadir bertepuk tangan menyambut penampilan pertama, yaitu band. Arsen melihat Leo yang fokus melihat ke panggung. Arsen hanya khawatir, jika Leo terdorong oleh orang-orang yang menonton lainnya.


"Leo, kak Arsen gendong ya, biar kamu bisa kelihatan" ucap Arsen yang diangguki oleh Leo. Banyak anak kecil yang turut berdesakan ke depan panggung untuk melihat penampilan malam ini. Untung saja, Leo mau digendongnya. Jadi ia bisa menjaga Leo agar anak itu tetap melihat penampilan di depan.


To be continued....