
Bekyun menyemburkan minumannya keruang kosong, untung saja Jong Il sudah pindah posisi dengan berdiri di depan kulkas karena kalau tidak dia akan menerima air yang bercampur saliva milik Bekyun dan itu sangat menjijikkan untuknya.
Chan Yool yang duduk di sebelah Bekyun hanya menepuk punggung Bekyun pelan karena setelahnya pemilik tubuh kecil itu terbatuk beberapa kali dengan mata dan hidung yang merah.
"Apa kau bilang?" Bekyun memekik saat di rasa suaranya sanggup keluar dalam keadaannya yang setengah terkejut. "Sehun—"
"Kak," Jong Il menyela cepat saat menjatuhkan pantatnya di sofa didekat Sehun. "Dia ini sudah dewasa, jangan berpikir kalau itu adalah hal aneh karena menurutku itu wajar."
Wajar dalam artian Jong Il itu jelas sangat berbeda dengan apa yang di pikirkan Bekyun. Mencium seorang gadis yang jelas-jelas sudah menjadi saudara tiri itu sama sekali tidak masuk dalam kategori wajar. Kabar bahwa Hyemi dan Sehun sudah menjadi saudara saja sudah mengejutkan Bekyun, apalagi kabar kalau Sehun terang-terangan menyatakan suka pada Hyemi.
"Jangan samakan kedewasaan dengan tindakan gila seperti itu, bodoh! Lagipula dia tidak sama seperti dirimu! Jangan berani-berani mengotori pikirannya."
Jong Il mengernyit, tidak terima dengan ucapan Bekyun yang main tuduh seenaknya. Bekyun memang terlihat seperti seorang kakak walau tubuhnya lebih kecil. Terlebih perannya itu akan semakin terlihat saat Jong Il melihat jari-jari lentik itu menepuk-nepuk bahu Sehun atau mengacak rambut milik Sehun dan membuatnya tersenyum. Tapi tetap saja menurut Jong Il ini sangat berlebihan, dimana seseorang yang sudah seperti 'adiknya' itu tidak lagi berusia tujuh tahun, jadi semua tindakan dalam masa pubertas itu adalah wajar. Lagipula, Sehun itu tidak sepolos yang dikatakan Bekyun.
"Kak, kenapa kau jadi menyalahkanku begitu?" Jong Il protes, tidak terima dengan tuduhan Bekyun yang masih menatapnya curiga. "Kau tidak tahukan, dia ini tidak sepolos yang kau kira. Coba kau belah kepalanya dan lihat, kau akan tahu seberapa buruk isi otaknya itu."
"Tapi aku tidak seperti dirimu yang sembarangan meniduri wanita."
Komentar Sehun tadi membuat Jong Il menjejakkan kakinya di pinggang Sehun. Sehun membalas, tapi Jong Il membalas lagi lebih banyak dari yang dia terima.
"Sejak kapan kau menyukainya?"
Perntanyaan itu menghentikan kegaduhan kecil yang dibuat Sehun dan Jong Il.
Bekyun sama penasarannya dengan yang lain, tapi reaksi Bekyun tidak begitu jelas, dia melirik Chan Yool yang bertanya, tapi kemudian pandangannya beralih ke tempat lain seolah tidak benar-benar peduli.
Chan Yool menyadari bahwa ucapannya tadi sudah menarik perhatian semua orang. Dia kemudian menjelaskan. "Aku hanya penasaran, tidak perlu dijawab kalau memang tidak mau mengatakannya."
Chan Yool meraih kaleng soda dan langsung meminumnya. Mengabaikan tatapan semua orang.
Memang seharusnya dia tidak menanyakan hal itu. Apa urusannya sampai harus mengetahui sejak kapan Sehun mulai menyukai mantan pacarnya? Tapi Chan Yool bukannya merasa cemburu, dia hanya penasaran.
"Itu sudah lama." Jawaban itu berasal dari Bekyun, dan karena itu Chan Yool menoleh ke arahnya.
"Kau tahu soal ini?"
"Hem,"
"Sejak kapan?"
"Sejak kau memulai hubunganmu, dengannya." Bekyun menjawab dan mencoba untuk terdengar santai.
Chan Yool memandang ke sisi lain seraya mengangguk pelan. "Jadi, Sehun mulai menyukai Hyemi sejak itu?"
"Bukan. Aku menyukainya jauh sebelum kau mengenalnya."
Penegasan Sehun membuat beberapa orang menelan kata-katanya. Tidak berani berkomentar dan mereka begitu saja melupakan topik sejak kapan dan sejauh apa Sehun mulai melirik mantan Chan Yool.
.
.
Hyemi benar-benar ketinggalan setengah cerita dari Bomi. Yang dia tangkap dengan pendengarannya yang tidak begitu jelas adalah restoran, dua pria, lalu tugas sejarah. Meskipun begitu, dia sesekali akan menunjukkan ekpresi yang pas ketika harus tersenyum, menatap penasaran, mengernyit sebal, atau apapun yang membuatnya terlihat meyakinkan kalau dia memang benar-benar sedang mendengarkan.
Sekelebat potongan-potongan adengan dimasa lalu kembali mengusiknya. Pernikahan. Rumah baru. Sekolah. Sehun.
Lalu ucapan Sehun pada waktu itu juga menganggu pikirannya.
"Coba kau ingat apa yang kau katakan pada teman-temanmu tentang diriku."
"Bomi," seruan Hyemi mendapat perhatian dari Bomi yang langsung berhenti mengoceh. "Apa aku pernah mengatakan sesuatu tentang Sehun?"
Seolah Hyemi baru saja menekan tombol pause, dua orang yang duduk di depannya bergeming seraya menatap heran ke arah Hyemi. Lima detik kemudian keduanya saling berpandangan, lalu kembali menatap Hyemi yang masih menunggu jawaban.
"Sehun?" Bomi mengulang.
"Kenapa jadi Sehun?"
"Benar, kenapa kita jadi membicarakannya?" Bomi menyahut ucapan Soo Jung.
"Hanya ... tiba-tiba saja aku teringat sesuatu ...." Kalimat Hyemi menggantung. Dia memang tidak menemukan jawaban pas untuk menjelaskan kepada keduanya. "Lupakan, sepertinya pikirannku sedang tidak beres sekarang."
Hyemi mengabaikan tatapan kedua temannya yang masih curiga sementara dia tutup mulut dan sibuk dengan urusannya sendiri.
.
.
Satu lagi malam yang harus Hyemi lewati dengan kembali memasang topeng di wajahnya. Tuan Yoon baru pulang dari Jeju dan memimpin makan malam di hari pertama kepulangannya. Sebenarnya tidak ada alasan untuk Hyemi tidak menyukai lelaki dengan perawakan yang hampir sama dengan pemuda yang duduk di kursi sebrangnya, Sehun.
Tuan Yoon sangat baik, tidak banyak menuntut dan selalu mempertimbangkan pendapat orang lain. Tapi Hyemi tetap merasa bahwa 'orang besar' itu memiliki aura yang entah kenapa membuat Hyemi merasa ngeri. Bahkan dengan satu lirikan atau senyuman di wajahnya, Hyemi merasa harus menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Bagaimana dengan sekolah kalian?" Tuan Yoon bertanya setelah keheningan yang hampir mencekik Hyemi.
"Baik." Jawaban singkat itu berasal dari Sehun, Hyemi meliriknya dan mendapat balasan dari orang yang bersangkutan. "Apa kali ini Ayah akan tinggal lebih lama?"
Seolah Sehun mengetahui kekhawairan Hyemi, pertanyaan itu jelas mewakili lirikan Hyemi yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik Tuan Yoon. Sikap sungkan Hyemi bagaimanapun membuat Sehun tidak bisa menahan senyumannya lagi.
"Mungkin dua atau tiga hari,"
"Kau seharusnya lebih banyak istirahat." Ibu Hyemi bersuara dan membuat Sehun melirik ke arah wanita yang memiliki wajah tirus—berbeda dengan Hyemi. "Pikirkan kesehatanmu, serahkan semua pekerjaan kepada pegawai-pegawaimu."
"Aku baik-baik saja." Tangan kasar itu menyentuh punggung tangan istrinya. Sehun memalingkan wajahnya dan bertemu mata dengan Hyemi, dan perasaan tidak nyaman dialami oleh keduanya untuk kesekian kali.
"Sehun, bisa bicara sebentar setelah ini?" suara ayahnya melepas paksa tatapan Sehun dari Hyemi. Sehun mendengarnya, tidak perlu berpura-pura tuli dan jawaban Sehun menghentikan ketegangan Hyemi karena beberapa detik kemudian ayah Sehun beranjak dari kursinya. Belum sempat Hyemi melemaskan ketegangannya, dia kembali dikejutkan dengan suara serak ayah Sehun.
"Hyemi, nikmatilah makan malamu."
Ucapan terakhir Tuan Yoon diikuti senyuman ibu Hyemi yang langsung mengusap punggung putrinya. Kali ini Hyemi benar-benar menghela nafas lega dan berusaha untuk tidak terlihat begitu jelas, karena ibunya sesekali akan melirik Hyemi dan memastikan kalau Hyemi menghabiskan makan malamnya.
"Proyek di pulau Jeju tidak mungkin aku tinggalkan begitu saja." Suara Tuan Yoon menggema di antara barisan buku-buku yang terpajang mengelilingi ruangan. "Aku bahkan tidak mungkin bisa sering-sering terbang ke Seoul karena harus kuakui kalau terkadang aku sering kelelahan—"
"Ayah—"
"Aku baik-baik saja, jangan pikirkan itu. Ada begitu banyak dokter hebat di sana kalau memang terjadi apa-apa denganku." Suara beratnya mencoba menenangkan Sehun.
Kedua tangan Sehun bahkan sudah mencengkeram ujung lengan kursi. Sehun mengkhawatirkan ayahnya, itu sudah pasti, dan itu lebih karena dirinya yang sesekali menolak menggantikan posisi ayahnya untuk sekedar menghadiri acara penting menyangkut pekerjaan.
"Aku akan membereskan masalah di sini. Aku akan berusaha belajar sebaik mungkin."
Kerutan di wajah Tuan Yoon semakin terlihat jelas melihat putranya berinisiatif sebelum dirinya memintanya langsung. Bekerja di perusahaan bukan prioritas Sehun, karena dia pun tidak ingin semakin mengukung masa muda lelaki itu dengan sejumlah permasalah di perusahaan.
Pembicaraan itu berlangsung singkat bahkan tidak sampai lima belas menit, tapi saat Sehun keluar dari ruangan dia tidak lagi melihat Hyemi di meja makan. Beberapa makanan yang memenuhi meja makan juga sudah di bereskan. Samar-samar Sehun mendengar suara ibu Hyemi dari arah dapur, sibuk bercengkrama dengan para pelayan saat bersama-sama membereskan sisa makan malam.
"Aku akan kembali ke atas sekarang," kata Sehun saat keberadaannya disadari ibu Hyemi. "Selamat malam." Sehun membungkuk dengan sopan, seperti yang selalu dilakukannya selama setahun belakangan ini.
.
.
Malam-malam yang biasa Sehun lewati di bar bersama Xiao Lu tidak lagi menjadi kunjungan rutinnya, dia tidak punya waktu untuk melakukan itu karena pekerjaan di rumah sudah menunggu. Tidak ada waktu untuk bermain-main, tidak ada waktu untuk memikirkan teman, tapi sesekali Sehun akan memikirkan orang ini, Hyemi.
Sudah dua minggu Sehun hampir tidak melihatnya, bertatap muka dan berbicara. Bahkan saat Sehun pulang larut malam dan lampu di sebelah kamarnya sudah padam. Sehun memutuskan untuk menikmati kesendiriannya di balkon kamar sambil memeriksa surel. Kalau dia bosan, dia bisa saja melompat dari balkon dan menyeberang ke sebelah kamarnya. Tapi dia tidak mau melakukannya, dia tidak mau menambah masalah karena saat bersama Hyemi dia pasti tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan apapun.
Sejak awal Sehun tahu ini terlalu sulit, tapi untuk meyakinkan orang tuanya adalah mimpi lain yang ingin dia wujudkan. Jika harus memilih maka Sehun akan memilih Hyemi, jika dia di tending keluar maka dia bisa membangun hidupnya kembali. Asalkan itu bersama Hyemi dia tidak mempermasalahkan apapun.
Realitanya jika seseorang dihadapkan dengan pilihan antara uang dan cinta, mereka tentu saja akan memilih untuk hidup mewah dan berdampingan dengan uang. Tapi tindakan bodoh seperti yang Sehun pikirkan tadi tidak mungkin ada yang berani melakukannya selain dirinya.
.
.
Hyemi sengaja berlama-lama di dapur karena dia pikir dia akan melihat Sehun. Duduk di teras sambil memandangi ibunya yang menata tanaman karena dia pikir dia bisa melihat Sehun. Sengaja melewati jalur berbeda untuk sampai ke kelas karena dia pikir dia akan berpapasan dengan Sehun. Juga sengaja membuka jendela balkon karena dia pikir dia akan berada disana dengan harapan bisa melihat Sehun. Tapi kenyataannya semua yang dia lakukan hanya seperti memindahkan air dengan ember yang memiliki lubang besar di bawahnya. Dia mendapat pekerjaan yang sia-sia, dan hanya semakin menambahkan kekecewaannya.
Memikirkan hal ini membuat Hyemi seperti merasa marah dengan dirinya sendiri. Dia memutuskan untuk membatasi hubungannya dengan Sehun, memutuskan untuk tidak tertarik sedikitpun dengan Sehun. Dia sudah bertahan selama satu tahun, tidak disangka pertahanannya hanya sampai batas itu saja.
Se Ho baru saja menutup pintu kamar bersamaan dengan Hyemi yang keluar dari kamar. Melihatnya keluar dari kamar Sehun membuat Hyemi gatal ingin bertanya. Se Ho terlihat menenteng kantong kertas. Ujung kemeja di dalam kantong kertas menyembul keluar, Hyemi menduga bahwa isinya adalah pakaian Sehun.
"Kau mau pergi?" Hyemi bertanya.
"Aku mengantar beberapa pakaian untuk Sehun. Dia ada di hotel perusahaan, ada rapat dan mungkin sampai malam."
Itu cukup jelas. Sehun tidak akan pulang ke rumah malam ini, menginap di hotel dan entah besok pagi atau lusa baru bisa kembali. Menurutnya tidak masalah sesekali membolos, karena Sehun selalu menyombongkan diri bahwa nilainya tidak akan turun. Sehun menyebut dirinya genius, tapi Hyemi hanya menganggap bahwa Sehun memiliki IQ beberapa digit angka lebih tinggi darinya.
Anggukan Hyemi mengakhiri percakapan singkat itu. Se Ho pergi setelah mengucapkan selamat malam dengan cukup singkat. Tadinya Hyemi berharap kalau Se Ho akan mengatakan sesuatu —barangkali pesan dari Sehun — tapi saat melihat dia menuruni tangga tanpa menoleh, Hyemi sadar bahwa mungkin namanya sedikitpun tidak terlintas dalam kepala Sehun.
Belajar adalah satu-satunya yang bisa Hyemi kerjakan. Dia juga tidak ingin mendapat urutan terakhir dalam ujian. Lagipula Hyemi terlalu malas untuk melihat tayangan berita, mengikuti siaran drama, atau apapun yang bisa mengusir rasa bosannya.
Anna melarangnya menyentuh cucian, juga alat-alat dapur dan segala pekerjaan rumah lainnya. Anna mengatakan kalau itu pekerjaan mereka, dan memintanya untuk tidak mengambil jatah pekerjaan mereka. Karena itu Hyemi tidak punya pilihan lain selain mengurung diri di kamar dan kadang melakukan hal-hal tidak berguna selain belajar.
Pukul 12 malam Hyemi masih terjaga. Buku-buku berserakan di atas meja, satu gelas susu sudah habis dia minum dan hanya menyisakan potongan buah di atas piring yang diantarkan Anna dua jam lalu.
Hyemi menoleh saat mendengar suara dari arah balkon, setelah beberapa saat dia beranjak dari kursi dan berjalan ke sana. Hyemi merasa aneh dengan dirinya setelah menyadari dia mengharapkan sesuatu tapi tidak jelas apa itu. Setelah menyadari bahwa dia beberapa kali menatap ke seberang kamarnya yang kosong, dia sadar bahwa prasaannya sudah mulai berkembang. Dia memang ingin melihatnya.
.
.
.
"Aku pikir kau ada rapat saat memintaku membawakan beberapa baju." Se Ho berjalan beriringan dengan Sehun saat menuruni tangga.
Sehun sedikit menurunkan tempo langkahnya, menyamakan tempo Se Ho yang sudah mirip seperti kura-kura, padahal kakinya tidak lebih pendek dari Bekyun.
"Bajuku kotor, lagipula Xiao Lu akan menendangku keluar kalau datang dengan seragam sekolah."
Sehun sedikit melirik Se Ho dan melihat kepalanya mengangguk dengan ekspresi yang tidak terbaca. Mungkin ada alasan kenapa Se Ho bahkan mempermasalahkan hal ini, ini tidak biasanya dan Sehun benar benar penasaran. Karena itu dia bertanya.
"Ada apa?"
"Tidak, hanya saja tadi aku bertemu Hyemi. Dari wajahnya dia seperti ingin mengatakan sesuatu."
Mendengar nama Hyemi, langkah Sehun berhenti tepat di depan pintu masuk. Se Ho bahkan sampai menggeser tubuh Sehun yang bergeming saat dua orang wanita ingin melewati jalan itu juga.
"Apa yang dia katakan?" suara Sehun tidak begitu jelas.
"Aku bilang dia seperti ingin mengatakan sesuatu. Dia belum mengatakan apapun dan aku langsung pergi."
Itu adalah percakapan terakhir mereka mengenai Hyemi, karena Xiao Lu muncul setelah melihat kedatangan keduanya. Kehadiaran Xiao Lu membuat Sehun harus menahan diri untuk tidak bertanya lebih banyak lagi mengenai Hyemi kepada Se Ho. Tapi setidaknya dari percakapan singkat itu Sehun tahu bahwa beberapa hari ini tidak hanya dirinya saja yang memikirkan Hyemi, tapi Hyemi pun—ternyata—juga sedang memikirkannya. Siapa yang menduga kalau hal ini akan terjadi? Sehun terdiam dalam seringaian karena perasaan bahagia.
Malam itu cuaca sedikit panas, mungkin isu pemanasan global itu memang benar karena Sehun merubah suhu di dalam mobil menjadi lebih dingin. Se Ho sempat bersin dua kali saat mobilnya meninggalkan pelataran parkir.
Mereka sudah menghabiskan waktu selama satu jam lebih di tempat Xiao Lu. Membahas hal-hal tidak penting mengenai Jong Il yang katanya lebih sering bersembunyi di tempat Xiao Lu karena kakak Jong Il ingin mematahkan lengan adiknya setelah tahu bahwa Jongin meminjam mobil tanpa ijin dan membenturkaan mobilnya ke beton pembatas jalan. Atau Do Kyun yang sesekali akan mengganggu Xiao Lu karena anak itu sedang membutuhkan seorang teman di apartemennya yang besar. Sehun hanya menanggapi seadanya, karena pikirannya saat itu sudah berada di tempat lain.
"Kau bisa membuatku mati beku." Se Hol mematikan AC di dalam mobil. Dia masih menyilangkan kedua tangannya, lalu menoleh ke arah Sehun. "Buka saja jendelanya kalau memang kepanasan."
"Sebenarnya siapa sih pemilik mobil ini?"
Se Ho menunjukkan giginya yang rapi yang tersenyum. Tentu saja kalimat Sehun dimaksudkan untuk menyindir Se Ho yang seolah bertindak sebagai pemilik sedangkan kenyataannya dia hanyalah pegawai di rumah Sehun. Tapi meskipun begitu Sehun tidak pernah menganggap Se Ho begitu rendah. Kenyataan kalau Se Ho adalah putra dari sekretaris ayahnya tidak membuatnya membedakan status orang, tapi rasa penasaran Sehun mengenai pilihan pekerjaan Se Ho tetap tidak terjawab sampai sekarang.
Mobil yang dikendarai Se Ho berhenti di depan garasi. Sehun keluar dan Seho mengikuti. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Se Ho melempar kunci mobil dan berhasil di tangkap oleh Sehun dengan sangat mudah.
Mereka tidak berbasa basi saat mengucapkan salam perpisahan. Se Ho pergi begitu saja saat Sehun mengatakan bahwa Se Ho bisa membawa mobilnya. Tapi Se Ho dengan gayanya yang luar biasa hanya melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. Dia terus berjalan dan membuat Sehun mendengus ringan.
Langkah Sehun berhenti di tengah tangga saat dia menemukan beberapa pesan masuk di ponselnya.
Hey, sepertinya kau sibuk sekali—Bekyun.
Sudah lupa denganku?—Jong Il.
Aku tidak melihatmu selama dua hari ini, apa tuan Yoon mengirimmu ke pulau terpencil?—Jong Il.
Jong Il kehilangan selera makan, kuharap bukan karena kau—Bekyun.
Pesan baru masuk—dari Jong Il—bersamaan dengan bunyi batre yang menandakan kalau benda itu sudah sekarat. Sehun mengabaikan isi pesannya, dan kembali mengantongi ponsel sebelum akhirnya memutar kenop dan mendapati ruangan itu gelap. Sedikit cahaya dari lampu duduk di atas nakas membuat Sehun melangkah dengan mantap saat memasuki satu-satunya ruangan yang melintas dalam pikirannya.
Sehun berdiri di tepi ranjang lalu merendahkan tubuhnya saat menyentuh ujung rambut Hyemi. Pada akhirnya dia memilih duduk di sebelahnya, menatap wajah Hyemi yang tertidur dan tidak merasa terganggu sedikitpun dengan apa yang Sehun lakukan sekarang.
Sehun merendahkan kepalanya dan berada dalam jarah dekat dengan wajah Hyemi. Dia tersenyum lalu meniupkan udara di depan Hyemi dengan sengaja. Dia bermain-main sebentar karena pada saat itu Hyemi terlihat terganggu tapi masih tidak membuka matanya.
Sehun meniupkan udara di depan wajah Hyemi sekali lagi. Bibirnya melengkung sampai dia tidak tahan dan mengeluarkan suara aneh dari tawanya. Karena tindakan itu, mata Hyemi terbuka dan mengerjap. Dia terkejut saat melihat Sehun dan mundur kebelakang, tapi kepalanya berbenturan dengan tembok dan tingkah konyolnya membuat Sehun kembali menahan tawa.
Hyemi tidak mengatakan apapun. Dia meraba belakang kepalanya, mundur sedikit lebih jauh saat terbangun dan menatap Sehun dengan dahi berkerut.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Jadi kau memutuskan untuk tidak mengunci kamarmu lagi?"
Itu bukanlah jawaban yang Hyemi harapkan. Tapi Sehun memang kadang seperti itu, mejawab pertanyaan dengan pertanyaan lain.
Tapi karena Sehun tidak menjawabnya, maka Hyemi juga tidak akan menjawabnya. Dahinya membentuk kerutan saat menatap Sehun yang dalam pandangannya masih sedikit kabur.
Sehun menyentuh dahinya, Hyemi terkejut dan mundur. Bukannya merasa tersinggung, Sehun malah tersenyum sekali lagi. Perasaan senang menyebar keseluruh lapisan sel. Wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar dalam mood yang bagus.
Saat melihat Sehun tersenyum, dentaman dari dadanya mengejutkan Hyemi. Suara dentaman jantungnya menjadi begitu jelas dan menimbulkan berbagai pertanyaan. Dia memang sering merasakan hal ini, tapi perlakukan sejenis ini masih tetap tidak Hyemi terima. Inilah yang membuat Hyemi dalam keadaan bimbang antara harus mengabaikan perlakuan Sehun dan menambah jarak padanya atau mengabaikannya saja.
"Aku menguncinyapun kau tetap bisa masuk."
Sehun tersenyum dalam seringaian. Kepalanya mengangguk pelan, menyetujui ucapan Hyemi dan memuji keberaniannya.
"Kenapa kau melakukannya?"
" .... " Sehun tidak menjawab tapi Hyemi pikir seharusnya Sehun cukup pintar untuk mengerti.
"Katakan,"
"Apa?"
"Bukannya kau ini genius?"
"Aku genius. Tapi aku tidak mengatakan aku bisa membaca pikiran orang, Hyemi."
Hyemi mencibir dalam hati.
Tapi dipikir Hyemi akan mengatakan secara gamblang? Itu tidak mungkin! "Beri aku alasan kenapa aku tidak bisa menolakmu."
Hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh dua orang yang tercatat dalam satu keluarga, Hyemi bertanya-tanya apakah dia berani memulainya? Apakah dia sanggup mempertanggungjawabkan tindakannya? Apakah dia siap membawa sebuah rahasia? Akankah semua baik-baik saja?
"Jadi, kau berubah pikiran?"
Pertanyaan itu seperti sebuah ejekan. Hyemi ingin melayangkan tinjunya tapi dia bertanya-tanya apa itu cukup kuat dan tidak akan melukai dirinya sendiri?
Pada akhirnya Hyemi tidak berani menjawab. Matanya hanya fokus menatap Sehun dan mencba memahami masud dari ekspresinya. Kalau dia menarik ucapannya apakah itu sudah terlambat?
Hyemi tidak sempat mengeluh ketika Sehun mendekat dan merasakan bibirnya bertemu dengan milik orang lain. Hyemi tidak mengeluhkan itu — tidak lagi — setelah dia nekat bertanya dan seperti itulah jawaban Sehun kepadanya. Bahkan setelah 20 detik dengan lidah saling bertemu dan jilatan Sehun di bibirnya yang dilakukan berulang kali, Hyemi tetap tidak mendorong Sehun pergi seperti sebelumnya. Sehun menjauh hanya untuk melihat ekspresi Hyemi — yang saat di tatap matanya melirik ke samping dengan sengaja — tangannya kembali menekan belakang leher Hyemi. Sehun dengan sengaja membuat Hyemi menatap ke arahnya. Setelah sebuah seringaian di diarahkan kepada Hyemi yang mengerutkan dahi, mereka kembali berciuman dengan Sehun mendorongnya ke belakang dan kepala Hyemi terbentur tembok sekali lagi. Hyemi berseru karna terkejut dan Sehun hanya tersenyum untuk menertawai tanpa berniat untuk mengakhiri.
.
.
160303