
"Hei!"
Hyemi melihat jentikkan jari di depan wajahnya. Itu jari-jari Bomi karena bumbu barbeque-nya menyatu dengan cat kuku yang mulai pudar.
Hyemi menatapnya linglung, dan langsung sadar bahwa dia berada di supermarket dengan satu cup mie berukuran besar.
Terakhir yang dia ingat saat itu mereka ada di halte bus, dan Bomi banyak mengoceh tentang pelaku kriminal yang akhir-akhir ini sering dialami siswa seusianya. Hyemi tidak terlalu antusias karena dia memang tidak suka mendengar berita semacam itu. Menurutnya membaca atau melihat berita kriminal hanya akan semakin membuatnya resah hidup di kota ini, sedangkan hidupnya sudah di penuhi dengan ketidaknyamanan karena status baru di rumah orang lain.
Kapan Soojung bergabung dengan mereka saja Hyemi bahkan tidak menyadarinya. Begitu duduk di meja kosong—saat Bomi berhasil menyeretnya masuk ke restoran—pikiran Hyemi sudah sibuk dengan berbagai asumsi karena ucapan Sehun mengganggu. Sekarang dia bahkan mulai mengkhawatirkannya.
Hyemi menatap Soojung saat menyruput minuman. Tidak tahu apa yang terjadi dengannya hari ini, tapi Soojung terlihat sangat berantakan. Hyemi mengernyit, dan mulai membayangkan hal-hal kotor di dalam pikirannya. Dia menduga Krisha baru saja bergulat dengan Jong Il—entah itu di atas matras atau di ranjang UKS.
Setiap melihat Soojung seperti ini pikiran Hyemi selalu kemana-kemana. Dia selalu membayangkan Jong Il sudah melecehkan Soojung tanpa sepengetahuannya, dan hal itu benar-benar membuatnya ingin mencekik leher Jong Il sampai pria itu memohon ampun.
Membayangkan Jong Il menyentuh Soojung entah kenapa membuatnya sangat marah, mungkin karena Hyemi hanya terlalu takut kalau sahabatnya akan terluka atas perlakuan pria itu nanti. Tidak seperti temannya yang menjalami hubungan pacaran yang normal, Hyemi rasa dua orang ini sudah berjalan terlalu jauh. Meskipun pertunangan mereka dijadikannya alasan, tapi selama janji pernikahan belum tertulis di atas kertas, hal-hal yang menyangkut kontak fisik secara berlebihan itu jelas dilarang! Tapi Soojung maupun Jong Il tidak mengerti aturan semacam itu. Mereka benar-benar tidak peduli.
"Kenapa penampilanmu seperti ini? Apa yang terjadi?"
Hyemi bertanya karena penasaran, tapi helaan nafas Bomi menarik perhatiannya.
Ketika Hyemi menoleh, dia melihat Bomi bersandar pada kursi dan terlihat setengah hati ketika menjelaskan.
"Belum ada tiga puluh detik sejak Soojung menutup mulutnya, kau masih bertanya apa yang terjadi padanya?"
Bomi mengambil air minumnya. Secara terang-terangan mulai menyindir Hyemi yang melamun.
"Sorry, aku tadi sedang memikirkan hal lain."
"Kau semakin aneh, kau yakin baik-baik saja?" Soojung meletakkan minumannya dan menyilangkan tangannya di atas meja. "Dari tadi pikiranmu tidak ada di sini."
"Benar, kau aneh, dan itu bermula sejak kau pindah rumah," kata Bomi. "Kau juga melarang kami mengunjungi rumahmu. Kau baik-baik saja dengan tempat tinggalmu yang baru, kan?"
"Aku baik-baik saja, semua baik-baik saja."
Hyemi memberikan penjelasan seperti yang sudah-sudah.
Soojung dan Bomi tidak mengatakan apapun, tapi mata mereka masih mengawasi gerak-gerik Hyemi yang tidak biasa.
"Oke, lupakan apa yang terjadi dengan kalian hari ini. Sebaiknya kita pergi sekarang kalau kalian tidak ingin ketinggalan pertunjukan."
Bomi beranjak dari kursi dan menunggu kedua temannya yang terbengong.
Hyemi mengeryit, melirik Soojung, meminta penjelasan. Tapi sepertinya Soojung juga tidak mengerti apa-apa karena dia menggeleng pelan. Hyemi kembali melirik Bomi dan mendapati ekspresi Bomi yang berubah suram.
"Kalian lupa hari apa ini, iya kan? Benarkan?" Bomi berubah jengkel. "Satu minggu yang lalu aku sudah mengatakan kalau hari ini kita pergi ke Sky Night. Arggh...demi Tuhan, kita sudah merencanakan ini sebelumnya. Aku tidak mau melewatkannya lagi."
Hyemi baru ingat kalau mereka sudah membuat janji untuk melihat pertunjukan band indie di Sky Night. Sepertinya karena akhir-akhir ini Hyemi mengalami kejutan yang memacu jantungnya hingga dia melupakan janji-janji itu.
"Bomi, maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut," Hyemi berkata dengan menyesal. "Aku harus membantu ibuku menyiapkan makan malam."
Bomi menyipitkan matanya, menatap datar ke arah Hyemi. Apa pentingnya dengan makan malam. Setiap malam Hyemi juga bisa melakukannya. Tapi pertunjukan di Sky Night tidak bisa di saksikan setiap hari. Kebetulan Band Blue-L yang dia nanti-nantikan selama enam bulan datang juga untuk manggung. Tapi begitu kesempatan itu datang kedua temannya bersikap bingung seolah melupakan semuanya.
"Aku benar-benar minta maaf,"
"Tidak apa-apa, kita bisa menontonnya lain kali." Bomi mencoba tersenyum, berkata bahwa dia baik-baik saja walau pergi tanpa Hyemi dengan setengah hati. Dia lalu menatap kearah Soojung
"Bagaimana denganmu?"
.
Musik berdentam dengan keras, puluhan orang berdiri di depan panggung kecil dan mulai bersorak sambil membawa ligstick.
Bomi berdiri di antara puluhan orang dan mengambil tempat di barisan paling depan setelah berhasil menerobos segerombolan wanita yang sempat mengumpat kearahnya. Dia tidak peduli, dimatanya hanya terlihat New yang sedang menggebuk drum, dan telinganya hanya mendengar suara Alan yang bernyanyi dengan suara berat.
Bomi tidak sendiri, dia menggandeng Soojung untuk berdiri di barisan depan dan menggerakkan tangan Soojung ke atas—bergerak kanan kiri—lalu mulai bereriak seperti orang gila.
Meskipun Soojung juga adalah penggemar Blue-L, tapi adegan teriak-teriak seperti itu malah membuat Soojung ingin mundur dan bersembunyi sejauh mungkin dari orang-orang. Kelakuan Bomi benar-benar membuatnya malu, tapi Bomi yang antusias tidak menangkap sinyal Soojung yang meminta temannya untuk menjaga sikap.
Diantara keruman yang menjadi satu di depan panggung, Jong Il yang tidak tahu apapun berdiri seperti orang tolol. Dia bahkan tidak mengerti apa yang dinyanyikan band Indie itu. Selama ini Jong Il tidak pernah menggunakan waktunya untuk mendengarkan lagu, daripada itu dia lebih memilih menggunakan waktunya untuk bermain game.
Jong Il menggunakan kedua tangannya untuk menutupi jeritan yang bercampur musik. Dia memutuskan untuk mundur ke belakang, mencari-cari letak kursi yang ditempatinya tadi bersama Soojung dan Bomi.
"Menyedihkan, bahkan orang yang mengaku jagoan sepertimu bisa terlihat seperti srigala yang kehilangan kaki dan taring."
Sindiran itu di lontarkan Do Kyun untuk temannya yang tidak tahu bersyukur.
Jong Il menoleh, lupa bahwa dia menyeret satu korban untuk dijadikanya teman bicara.
Do Kyun sedang memandangnya dengan tatapan mengejek. Melipat kedua tangannya dan bersandar pada kursi. Tapi Jong Il tidak terlalu jelas melihat ekspresi macam apa yang diberikan temannya pendeknya.
"Kenapa juga kau harus menyeretku ke tempat seperti ini?"
Do Kyun mengeluh. Bisa-bisanya Jong Il menipunya dengan mengatakan bahwa mereka hanya pergi untuk makan. Tapi pada akhirnya Jong Il membawanya ke tempat yang tidak disukainya. Benar-benar membuat kepala pusing.
Do Kyun juga merasa kalau Jong Il itu sangat bodoh karena menjadi begitu penurut dan lemah kalau berhadapan dengan Soojung. Tapi melihat perubahan Jong Il yang awalnya hanya bermain-main dengan gadis tanpa berkencan secara serius, itu membuat Do Kyun takjub karena orang seperti Soojung sanggup menjinakkan srigala seperti Jong Il.
Do Kyun pikir, temannya itu hanya akan bertahan paling lama satu bulan ketika berpacaran dengan Soojung. Karena dia tahu ketika Jong Il berhubungan dengan wanita, itu tidak akan lebih dari satu bulan. Mungkin hal itu juga yang membuat orang-orang menjuluki Jong Il sebagai Lebah yang berbahaya, itu karena Jong Il memiliki senjata manis yang membuat wanita terpikat padanya. Siapa yang menyangka kalau mereka sudah memasuki babak baru dengan berstatus sebagai tunangan?
"Kyun, my brother...."
Jong Il tanpa sadar menepuk paha Do Kyun dan membuat teman pendeknya itu tersentak dan hampir tersedak minumannya sendiri.
"Aku mengajakmu ke sini agar kau tidak berkutat dengan koleksi bukumu itu. Kau sudah mirip seperti Kak Bekyun. Tidak asik sekali."
DO Kyun mendengus ringan. Menyingkirkan tangan Jong Il dengan melemparnya, seolah itu sebuah kotoran.
Kepribadian Do Kyun jauh berbeda dengan Jong Il, tapi entah kenapa dia bisa berteman dengan anak brengsek ini.
Bocah itu (Jong Il) sudah seperti adik baginya, dan kedekatan mereka layaknya saudara kandung yang kemana-mana harus pergi berdua. Tapi Jong Il yang lebih muda menolak memanggilnya Kakak. Perkembangan zaman memang membuat sopan santun seseorang mudah hilang.
Apa yang menarik dari bocah itu sampai semua gadis meliriknya? Bahkan Soojung yang di kenal sebagai gadis tangguh menjadi begitu buta oleh cinta.
"Hey, menurutmu dia sedang melihat ke arahku?"
Jong Il menggeser tubuhnya dan sedikit mengarahkan kepalanya ke sisi Do Kyun yang tidak paham maksudnya. Tapi Do Kyun baru tahu setelah melihat Jong Il tidak melepas tatapannya dari seorang wanita dengan pakaian yang lebih pendek dari pengunjung lain.
"Aku rasa dia sedang melihatku sekarang."
Jong Il menjawab pertanyaannya sendiri karena Do Kyun tidak menanggapi. Dia kegirangan dan sedikit bangga dengan panampilannya. Tuhan begitu baik menganugrahkan wajah yang begitu menarik.
Jong Il mulai tersenyum, membuat Do Kyun dengan cepat meraih tangan Jong Il yang ternyata sudah bertengger di bahu kanannya. Dia melirik dengan pandangan tidak suka. Dalam hati, Do Kyun berdoa semoga Soojung cepat-cepat memergokinya dan melumpuhkan asetnya.
Do Kyun ingin berteriak, "Kris, priamu sedang main mata dengan wanita lain" tapi tidak jadi dia lakukan karena kesialan Jong Il akan berakhir dengan kesialannya juga.
"Kendalikan dirimu."
Do Kyun menatap Jong Il dari atas ke bawah, dia lalu menggeleng pelan, meneguk minumannya sekali sebelum menunjuk kerumunan orang dengan tangannya yang masih memegang botol.
"Ratumu ada di sana, jangan membuat masalah. Apa kau membawaku ke sini hanya untuk kau jadikan tameng?"
Jong Il mencibir. Dia beranjak dari posisinya, membuat Do Kyun mendongak dan bertanya ke mana temannya itu akan pergi?
Jong Il hanya menjawab sambil lalu, membuat Do Kyun tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi Do Kyun tahu kalau Jong Il hanya akan pergi ke toilet saat melihatnya berjalan ke samping ruangan, memasuki sebuah lorong dengan tulisan 'TOILET' yang menggantung di atasnya dengan lampu yang menyorot ke papan.
*
Jong Il melirik dua pasangan yang berjalan di sampingnya. Menatap mereka yang saling berdempetan sambil sesekali si pria mengelus bokong wanitanya.
Jong Ile mengusap bibirnya saat matanya terus memandangi si wanita yang sudah berjalan jauh di belakang. Dia bahkan memuji lekuk tubuh wanita tadi sebelum akhirnya memasuki toilet.
Do Kyun benar, kalau dirinya hanyalah srigala yang kehilangan taringnya. Dia tidak bisa menolak permintaan Soojung—gadis yang menyita perhatiannya enam bulan yang lalu—yang mengajaknya menonton pertunjukan band.
Yang Jong Il tahu, Soojung bahkan tidak pernah mengenakan pakaian lebih pendek seperti kebanyakan wanita lain yang selalu menggodanya, atau bahkan tidak sedikitpun pernah menggunakan kata-kata manis untuk merayunya. Soojung hanya seorang siswi yang sekalipun dulu tidak banyak bicara dengannya tapi dimatanya Soojung cukup mempesona.
Gadis itu—Soojung—hanyalah seorang sisiwi yang dikenal sebagai pegulat hebat, dan beberapa pria di sekolah tidak ada yang berani atau bahkan berhasil mendekatinya. Soojung jauh dari kata feminine, tapi bagi Jong Il ada pesona lain yang dimilki Soojung tapi tidak di miliki wanita lain.
Soojung terlihat lebih seksi saat keringat bercucuran dari wajahnya, lebih cantik dengan gerakan saat mengarahkan tinju ke lawannya, yang membuat Jong Il bagaimanapun juga ingin sekali merasakan seberapa kuat gadis itu saat menerjangnya. Seberapa kuat Soojung bisa menahan serangannya.
Sebelum bertemu dengan Soojung, Jong Il bahkan sudah menetapkan standar untuk setiap gadis yang menarik dan pantas mendapat perhatian darinya. Wanita yang seharusnya menempati ranjangnya itu haruslah seksi; memiliki lekuk tubuh yang ideal juga feminine, agresif, cantik itu yang terpenting, dan mereka tidak akan membuatnya repot kalau Jong Il merasa bosan dan ingin meninggalkan mereka.
Jong Il tidak pernah menyangka kalau dia akan merubah definisi kata seksi itu seperti Soojung yang sekarang ini. Jong Il juga tidak menyangka kalau Soojung pada akhirnya akan membuatnya tergila-gila.
*
Langkah Jong Il terhenti saat keluar dari toilet. Dia melihat sosok yang bersandar di tembok di samping pintu. Menunggunya.
Satu alis Jong Il terangkat, menebak sekiranya apa yang dilakukan wanita itu di sana—di depan toilet pria.
Jong Ile mengenal wanita itu, bukan dalam artian benar-benar mengenalnya hingga tahu nama serta latar belakangnya. Jong Il hanya mengenali wajah itu yang terlihat tidak asing. Mereka baru saja bertatapan beberapa saat yang lalu ketika Jong Il duduk bersama Do Kyun.
"Kai?"
"Kau mengenalku?"
"Tentu saja," Wanita itu berkedip seolah sedang merayu.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak mengenalmu."
"Kau akan mengenalku mulai sekarang." Wanita itu mendekatkan tubuhnya ke arah Jong Il. Menggesekkan bagian depannya dan berharap Jong Il akan tertarik.
"Itu kalau kau mengijinkanku memperkenalkan diriku, padamu."
Jong Il menghindari tatapan wanita di depannya. Bukankah di saat seperti ini langkah terbaik adalah mendorongnya pergi? Tapi Jong Il adalah Jong Il. Dia adalah pria yang selalu mengambil kesempatan saat seseorang menawarkan barang gratisan.
"Siapa namamu?"
"Jin Ri, kau bisa memanggilku seperti itu."
"Baiklah, nona Jin Ri."
Jong Il meletakkan kedua tangannya di pundak Jin Ri sebelum menunduk untuk menatap Jinri dan tersenyum. lalu kedua tangannya mendorong Jin Ri ke belakang untuk memberi jarak.
"Itu mungkin tidak akan mudah, kau harus melewati satu orang dulu kalau mau membawaku pergi," kata Jong Il.
Semua wanita memang harus melewati tahap itu. Selama tidak ada yang bisa mengalahkan Soojung, dia pun tidak akan dengan mudah berpaling ke wanita lain.
"Jadi kau sudah memiliki kekasih?"
"Yup."
Jong Il memastikan dirinya tidak akan terpancing tapi dia kembali menatap belahan dada yang sedikit terbuka.
"Tidak seharusnya aku menyia-nyiakan makanan enak tanpa menyentuhnya sedikitpun. Benar kan? Tapi mau bagaimana lagi?"
"Kau masih bisa menyimpannya dan memakannya nanti kalau kau mau."
"Itu sangat tidak adil, karena orang lain mungkin juga menginginkannya. Sebaiknya tidak. Lagipula kalau akuterlalu lama menyimpannya itu akan menjadi busuk."
Jin Ri tersenyum saat merapatkan tubuhnya mendekati Jong Il. Satu tangannya meraba pinggang Jong Il dan tentu saja itu memberikan sensasi aneh saat menatap lurus ke dalam mata Jin Ri.
"Tidak masalah," bisik Jin Ri yang kembali tersenyum. "Mereka bisa menunggu—"
"Singkirkan tanganmu!"
Suara itu membuat dua orang yang berdiri di depan toilet menoleh. Jong Il mengumpat dalam hati saat melihat pemilik suara tadi berjalan ke arahnya dengan langkah cepat. Dia juga segera menarik tangannya untuh melindungi kepalanya sendiri. Jong Il pikir Soojung akan melayangkan serangan untuknya, tapi nyatanya pukulan itu malah mendarat ke arah wanita yang berdiri di depannya—Jin Ri.
Jong Il mendelik, saat tamparan menggunakan tas kecil mengarah ke belakang kepala Jin Ri dengan begitu cepat, bahkan Jin Ri tidak sempat melindungi bagian kepalanya dan hanya mengaduh menahan sakit.
"Pergi! Atau aku akan mengirimmu ke dokter bedah plastik sekarang juga!"
Geraman dari Soojung membuat Jong Il tanpa sadar tersenyum.
Wajah Jin Ri tampak kesal. Dia juga siap melayangkan serangan balasan, namun tangannya dengan cepat di tahan oleh Jong Il yang sekali lagi memberinya sebuah senyuman nakal.
Jongie berbisik kepada Jinri untuk memberinya peringatkan.
"Kuberitahu, dia selalu serius dengan ucapannya. Dia bahkan bisa menyayat wajahmu kalau kau tidak segera pergi."
Jin Ri mendengus kesal saat menatap Jong Il. Lalu perhatiannya beralih ke Soojung, wanita yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya.
Seleranya benar-benar buruk. Jin Ri membatin, menatap dari ekor matanya lalu melangkah pergi.
Jong Il bersandar pada tembok sambil tersenyum saat melihat Soojung. Dia senang melihat kekasihnya begitu cemburu dan bertindak kasar kepada siapapun wanita yang berani mendekatinya. Gerutuannya bahkan terdengar lucu dan Jong Il tidak bisa berhenti tersenyum melihat tingkahnya.
"Masih bisa senyum-senyum?"
Soojung memberikan sindiran sambil melotot tidak suka. Dia sudah siap memberikan pukulan di lengan Jong Il, atau mungkin di bagian perutnya, tapi Jong Il lebih dulu memeluknya dan tidak membiarkannya kesempatan untuk setidaknya memberi Jongie pelajaran.
"Ya ampun, pacarku ini imut banget sih kalau marah."
Jong Il mempererat pelukannya tapi Soojung menolak dan mendorong Jong Il dengan kasar.
Wajah Jong Il masih tersenyum bahagia, tapi Soojung tidak bisa menghilangkan rasa jengkelnya karena melihat wanita tadi menggoda pacarnya di tempat umum seperti ini.
"Terimakasih sudah menolongku."
"Terimakasih?" wajah Soojung sudah seperti kucing betina yang siap mencakar wajar Jong Il kapan saja. "Kau baru saja melepaskan pancingan yang bagus. Keparat!"
"Tentu. Kalau tidak begitu bagaimana aku bisa mendapatkanmu?"
Jong Il kembali bersikap seperti orang yang ingin memeluk bayinya. Kedua tangannya direntangkan, tapi dengan cepat Soojung mendorong Jong Il menjauh. Bahkan Soojung menjauhkan wajah Jong Il yang minta ciuman saat bibirnya mengerucut dan maju ke depan.
Soojung melangkah pergi, berniat meninggalkan Jong Il atau dia akan membuat pertunjukan bagus menggantikan pertunjukan band favoritnya.
Tapi Jong Il buru-buru menahan Soojung dengan menarik pinggangnya, memeluknya dengan erat sambil bergerak ke kiri dan ke kanan. Jong Il mulai bertingkah manja—upaya untuk membuat Soojung tidak lagi marah padanya.
"Kau mau pergi begitu saja?"
Soojung berkedip salah tingkah saat tangan Jong Il melingkari pinggangnya. Dia bahkan menggeliat saat mencoba melepaskan diri, tapi Jong Il terlalu ketat saat memegangnya.
"Lepas tidak?"
Jong Il menjawab dengan gelengan kepala.
"Sudah, kan? Sekarang lepaskan!"
Jong Il menggeleng tidak puas. "Tidak seperti itu, Krys. Kau harus melakukannya dengan benar. Ini juga untuk membayarku karena kau membuatku seperti ini."
Soojung mengerutkan dahi. Dia berpikir bagian mana yang salah? Apa maksud Jong Il mengatakan itu? Tapi sebelum Soojung bertanya, Jong Il sudah lebih dulu menciumnya di bibir.
Soojung terkejut saat melihat Jong Il melepaskannya sambil menunjukkan wajah tersenyum. Dan Soojung lebih terkejut lagi saat Jong Il menariknya masuk ke dalam kamar mandi dan memberinya hujanan ciuman lain. Kali ini Soojung tidak bisa menolakanya. Lagipula mau lari kemana dia saat Jong Il sudah memutuskan untuk mengurungnya seperti itu? Dia hanya berdoa semoga tidak ada orang yang tiba-tiba masuk kedalam toilet sampai mereka menyelesaikannya.
Soojung berpikir ditengah kenikmatan yang Jong Il berikan. Hyemi pasti sudah gila karena menahan diri dengan tidak menyentuh pria manapun saat dia di kelilingi orang orang-orang yang peduli dan perhatian padanya. Kenapa juga Hyemi tidak mengambil kesempatan itu untuk menjadikannya pacar? Mungkin Chan Yool bukan kandidat terbaik, tapi masih ada yang lain. Dan Soojung siap membantu jika dia dibutuhkan.
Lalu pikiran Soo Jung buyar saat tangan Jong Il berhasil menyentuh pengait di punggungnya dan memaksa Jong Il untuk berhenti sampai disana.
***
"Sedang apa kau di sini?"
Suara itu membuat Hyemi menoleh dan menghentikan aktifitasnya yang menendang-nendang kerikil dengan ujung sepatu.
"Kenapa kau berdiri di sini?"
Sehun bertanya sekali lagi karena Hyemi tidak juga menjawab.
Hyemi gugup dan juga bingung, entah kenapa tiba-tiba kemampuan bicaranya menghilang. Dia hanya sempat membuka dan menutup mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Tindakan bodohnya itu malah terlihat seperti ikan koki.
Saat itu juga Hyemi mengutuk dirinya sendiri. Kenapa juga dia harus berdiri di depan gerbang tengah malam begitu? Seberapa besar rasa khawatirnya ke Sehun tidak seharusnya dia menunjukkannya dengan begitu jelas. Bagaimana kalau Sehun mengambil kesempatan dari tindakannya ini untuk menggodanya?
Tapi Hyemi benar-benar merasa bersalah karena melupakan tentang ibu Sehun yang sudah meninggal. Dia lupa kalau di saat seperti ini memang seharusnya ada seseorang yang menghiburnya.
Tadi saat pulang sekolah, Hyemi menghampiri ibunya yang sibuk menanam bunga di belakang rumah. Ibunya menatap heran kearah Hyemi. Bertanya soal keberadaan Sehun yang Hyemi jawab dengan tidak tahu. Kenapa juga Hyemi harus tahu kemana Sehun pergi?
Saat itu ibunya mengingatkan. Hari itu adalah hari ulang tahun ibu Sehun. Dan Sehun yang sudah ditinggalkan ibunya pasti merasa sedih karena ibunya sudah meninggal. Saat ulang tahun Nyonya Yoon, Sehun selalu berkunjung ke makam. Dan ibu Hyemi berharap kalau Hyemi akan menemani Sehun mengunjungi makam Nyonya Yoon.
"Maaf, aku lupa kalau hari ini ulang tahun ibumu."
Hyemi berkata dengan menyesal. Sebenarnya dia merasa kasihan. Siapa yang tidak sedih kalau ibu kandungnya sudah lebih dulu menghadap Tuhan?
Sehun tersenyum, menenggelamkan satu tangannya ke dalam saku saat tangannya yang lain menenteng plastik hitam yang menarik perhatian Hyemi.
Hyemi rasa, senyuman Sehun hari ini terlihat berbeda dari sebelumnya. Mungkin sebaiknya Hyemi tadi tidak menolaknya.
"Sehun, aku—"
"Tidak apa-apa. Aku tidak marah karena kau sempat menolak ajakanku, tapi sebagai gantinya kau harus menemaniku malam ini. Oke?"
Hyemi mengerutkan keningnya. Berpikir apalagi yang Sehun pikirkan kali ini? karena dari senyuman Sehun yang seperti itu biasanya akan diikuti dengan tindakan gilanya mendorong bahu dan menciumnya sesuka hati. Lalu Hyemi akan mengeluarkan suara lenguhan yang membuatnya terdengar seperti pelacur.
Hyemi menggidik ngeri dan dia mendengar suara kekehan yang menyentilnya.
"Kenapa?"
Seringaian itu lagi. Hyemi benar-benar tidak menyukainya.
"Tidak apa-apa."
"Apa yang kau pikirkan tadi?"
"Tidak ada,"
"Lalu kenapa wajahmu memerah?"
"Bukan urusanmu!"
*
Tadinya Hyemi pikir Sehun akan membawanya masuk ke dalam kamar dan melakukan hal seperti yang ada di pikirannya. Kalau sampai Sehun berani meminta hal itu, Hyemi sudah siap memberinya tendangan atau pukulan seperti yang diajarkan Soojung padanya.
Tapi yang dia bayangkan tidak terjadi. Sehun membawanya ke tempat lain. Mereka ada di bukit. Menikmati pemandangan dengan hamparan kota yang seperti di taburi jutaan batu krystal.
Hyemi duduk dan mengambil jarak dari tempat Sehun. Dia tidak mau dekat-dekat dan membuat Sehun mengambil kesempatan. Tidak ada yang tahu apa jalan pikirannya. Pada dasarnya pikiran Sehun itu selalu berubah-ubah.
"Jangan berpikir macam-macam. Nanti aku benar-benar akan melakukannya."
Hyemi terkejut dan seketika menggeser tempat duduknya lagi. Tapi saat itu tiba-tiba saja Sehun terkekeh ringan. Lalu menepuk kursinya yang kosong.
"Kenapa jauh-jauh, cepat sini!"
Hyemi menimbang apakah kata-kata Sehun ini bisa dipercaya atau tidak. Tapi sebelum Hyemi mengambil keputusan, Sehun sudah menggeser tempat duduknya dan memotong jarak mereka. Sekarang Hyemi tidak bisa kabur atau pun menjauh. Dia sudah ada di ujung kursi, bagaimana kalau dia jatuh?
"Tadi pergi kemana saja?"
Hyemi menoleh, tapi tidak menjawab.
"Saat aku memintamu untuk menemaniku, kau bilang tidak mau karena ada urusan'kan? Kemana?"
"Aku pergi dengan Soojung dan Bomi."
"Kemana?"
"Makan."
Jawaban Hyemi terdengar sangat biasa. Dan pasti Sehun berpikir kalau hal itu bukanlah urusan penting. Sebenarnya Hyemi memang hanya sedang beralasan, dan dia sedikitpun tidak merasa bersalah karena sudah berbohong.
"Tadinya aku ingin mengajakmu mengunjungi makan Ibuku,"
"Aku tahu."
Komentar Hyemi lebih seperti gumaman, dan Sehun mendengarnya, karena itu dia tersenyum.
"Apa ibumu yang memberitahu?"
Hyemi yang bermain-main dengan kerikil di ujung sepatunya hanya bergumam mengiyakan. Dia juga berpikir, apa Sehun kecewa padanya karena sudah berbohong, padahal Sehun benar-benar hanya memintanya untuk menemaninya mengunjungi makam.
"Apa tidak ada yang menemanimu mengunjungi makam?"
"Tidak."
"Paman bagaimana?"
"Ayahku biasanya datang di hari berikutnya kalau sedang sibuk."
"Kalau Se Ho?"
Sehun menoleh dan melihat Se Ho sedang bersandar di kap mobil sambil menelpon.
"Dia itu lebih sibuk dari yang kau duga."
Hyemi ikut menoleh ke belakang. Melihat Se Ho yang terlihat serius saat melakukan pembicaraan di telpon. Lalu pandangan mereka bertemu dan Se Ho memberikan senyum hangat seperti seorang Kakak.
"Memangnya kau tidak meminta orang itu untuk menemanimu?"
"Siapa?"
"Itu, orang yang kemana-mana selalu ada di sampingmu."
Sehun tersenyum lalu berkata, "Xiao Lu?"
Padahal jelas-jelas Xiao Lu itu adalah seorang pria. Tapi kenapa Hyemi merasa tidak suka kalau Sehun terlalu dekat dengannya? Apa karena wajahnya yang putih dan bersih itu lebih menarik darinya? Tapi memang benar, orang berdarah China itu lebih menarik.
"Dia menawarkan diri. Tapi aku lebih memilih orang lain untuk menemaniku, sayang sekali dia menolaknya."
Hyemi tersentil karena ucapan Sehun. Dia hanya melirik dari sudut matanya tapi masih menolak untuk mengatakan apapun. Perasaannya hanya menjadi sedikit tidak nyaman. Hyemi juga tidak mau disalahkan. Itu semua karena niat Sehun yang selalu berujung pada tindakan pelecehan. Karena itu Hyemi selalu lebih waspada dari sebelum-sebelumnya. Tidak ada salahnya untuk bertindak lebih hati-hati.
Tapi meskipun begitu, Sehun masih tidak mengatakan apapun, menumpahkan kekecewaannya atau apapun itu. Yang Hyemi lihat hanya sikap Sehun yang sangat santai seperti biasanya. Duduk dengan sekaleng bir di tangan kanan—yang entah bagaimana Sehun bisa membelinya—dan sebelah kakinya yang menumpu di kaki lain digoyang-goyangkan dengan santai.
Menurut Hyemi, kalau saja sikap Sehun tidak seperti yang di tunjukkan padanya selama ini, Hyemi mungkin masih akan sedikit menghargainya. Karena setahu Hyemi, Sehun yang selalu ada kemanapun Bekyun pergi tidak menunjukkan sikap genit saat ada di dekat perempuan. Sehun juga di kenal sebagai seseorang yang memiliki sopan santun, orang yang baik, orang yang tidak pernah memiliki niat buruk kepada orang lain. Tapi menilai orang itu memang tidak bisa hanya dari penampilan dan ucapan orang lain saja. Lihat bagaimana Sehun sekarang.
"Maaf, aku lupa kalau hari ini ulang tahun ibumu."
Hyemi menunduk, menyesali ketidaktahuannya mengenai hal ini.
"Berikan aku ini—" Sehun menunjuk bibirnya, "—di sini—" lalu menunjuk pipinya, "—kalau kau memang merasa bersalah."
Lalu Sehun tersenyum dan Hyemi heran kenapa Sehun masih bisa tersenyum dengan cara seperti itu. Mungkin kepribadiannya memang sedikit ceria.
Tapi hati Hyemi terlanjur melelah hanya dengan senyuman itu dan Hyemi berusaha keras untuk tidak menunjukkannya dengan ekspresi.
Akhir-akhir ini Hyemi merasa kalau hatinya benar-benar lemah. Apa itu karena dia sudah lama tidak berhubungan dengan laki-laki atau memang senyuman Sehun sudah seperti obat bius?
"Aku pergi—"
"Hey—" Sehun menahan tangan Hyemi, menunjukkan ekspresi menyesal yang terlalu dibuat-buat. "—aku hanya bercanda. Duduklah."
Hyemi tidak tahu apakah ucapan Sehun tadi dikategorikan sebagi candaan. Setahu Hyemi, Sehun memang selalu melakukan apapun yang dia ucapkan tanpa berpikir apakah itu akan menjadi akhir yang baik atau buruk. Tapi yang terpenting adalah Sehun tidak pernah tahu seberapa dasyatnya efek itu bagi Hyemi.
Hyemi mengambil langkah hati-hati saat kembali duduk dan menerima sebuah senyuman dengan cara yang berbeda.
Tapi sampai Hyemi duduk kembali, Sehun tiba-tiba tidak mengeluarkan suara lagi. Itu sudah berlangsung hampir 15 menit, dan Hyemi merasa canggung dengan keheningan yang tidak biasanya seperti itu. Tapi mungkin Sehun sedang merenungkan ibunya, jadi Hyemi pikir seharusnya dia tidak mengganggu sampai akhirnya dia tidak tahan.
"Aku pergi sebentar."
Hyemi beranjak dari duduknya dan langsung berjalan pergi. Lagi pula Sehun tidak menanggapi, hanya menoleh sambil menatap kepergian Hyemi yang berjalan kearah Se Ho.
Sampai Hyemi menghampirinya, Sehun masih tidak melepaskan tatapannya. Dia memang tidak pernah bosan melihat Hyemi melakukan apapun, hanya dengan melihatnya berjalan kesana kemari dan tertawa itu sudah membuatnya senang. Tapi itu juga menimbulkan masalah karena hatinya seperti ingin memeluk Hyemi dan mengeluhkan apa yang dia rasakan.
"Untuk apa kau berdiri disini? Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu yang buruk padaku? Aku akan marah padamu kalau kau sampai tidak waspada."
Hyemi mengeluhkan sikap Se Ho yang terlalu lunak membebaskan Sehun saat berada di dekatnya. Tapi Hyemi tidak suka, dia lebih suka kalau ada orang ketiga dalam jarak dekat, itu membuatnya merasa lebih aman.
"Apa yang kau takutkan?" Se Ho melihat ke arah Sehun yang menatapnya dengan cara aneh. "Dia tidak akan berbuat apapun di tempat seperti ini."
"Kak..." Hyemi ingin mengeluh tapi tidak jadi karena malu dengan kenyataannya. "Kau ini memang tidak tahu apa-apa."
Sudut mulut Se Ho terangkat dan Hyemi merasa malu, entah bagaimana dia merasa kalau Se Ho mengetahui segalanya. Hyemi hanya ingin berpura-pura tidak mengetahui apapun. Itu membuatnya lebih nyaman dengan berdiri didekat Se Ho dan mengobrol layaknya teman.
"Apa kau sedang menertawakanku?" Hyemi memprotes. Menatap dengan curiga.
"Tidak, aku—"
Kalimat Se Ho terputus saat mendengar suara jatuh dari arah lain. Hyemi juga menoleh dan mereka melihat Sehun sudah terjatuh dari kursi dan tidak sadarkan diri di tanah.
Hyemi dan Se Ho berlari secepat mungkin. Menghampiri Sehun dan beberapa kali memanggil nama Sehun. Se Ho terlihat panik, begitpun dengan Hyemi. Hyemi juga tidak megira kalau Sehun yang biasanya bugar tiba-tiba jatuh pingsan.
"Sehun, Sehun, Sehun, bangun! Kau bisa mendengarku? Hey!"
"Bantu aku, kita harus membawanya pulang."
Hyemi mengangguk setelah mendengar perintah.
**
Bahkan saat Hyemi melihat tubuh Sehun yang akhirnya terbaring di ranjang rasa panik masih menggerogoti dirinya. Hyemi bahkan tidak sadar saat kedua tangannya bertaut dan meremas satu sama lain. Dia tidak pernah melihat Sehun seperti ini, sekalipun dalam keadaan mabuk seperti yang dikatakan Se Ho padanya.
Mungkin memang benar kalau Sehun pingsan karena mabuk, tapi Hyemi tetap merasa kalau bukan hanya pengaruh alkohol saja sampai Sehun tidak sadarkan diri. Hyemi bahkan bisa melihat wajah Sehun yang sedikit lebih pucat dari biasanya, dan tatapan sendu dari pria itu sudah sangat jelas menggambarkan bagaimana perasaannya.
Sejak Se Ho membuat suara dengan membuka dan menutup pintu, Hyemi masih termenung memandangi Sehun yang tampak pulas dalam tidurnya. Dia merasa aneh, melihat kondisi Sehun seperti ini seharusnya dia merasa senang kan? Tapi sebaliknya, Hyemi tidak suka melihat Sehun seperti ini dan Hyemi lebih tidak suka lagi karena dia memiliki perasaan seperti itu.
Hyemi mengenyahkan perasaan yang mulai mencekiknya. Dia bangkit dari duduknya lalu tiba-tiba saja tubunya oleng dan jatuh ke sisi pria itu. Hyemi menepis kemungkinan keseimbangan tubuhnyalah yang membuatnya jatuh ke sisi Sehun. Dia tidak akan sebodoh itu menjatuhkan tubuhnya kearah pria yang menjadi musuhnya. Dan memang benar kalau Sehun yang menarik pergelangan tangan Hyemi. Dan dalam posisinya yang tidak nyaman karena saling berhadapan dengan wajah Sehun, Hyemi merasakan sentuhan hangat meremas telapak tangannya.
"Kubilang kau harus menemaniku malam ini."
Pemilik suara itu masih memejamkan matanya. Suaranya terdengar parau bahkan tarikan nafasnya terdengar lambat dan hangat.
"Tidak sampai menemanimu tidur kan?"
"Kau sudah berjanji."
Hyemi terdiam. Lalu berkata setengah penasaran. "Kau sakit."
Suara Hyemi terdengar lirih, tanpa sadar dia sudah mulai berani menatap wajah pria di depannya. Tidak ditahan-tahan. Dia bahkan lupa betapa memalukannya posisi mereka sekarang.
Kedua mata itu terbuka dan Hyemi masih bergeming, berkedip sesekali saat menatap manik mata Sehun yang berwarna hitam.
"Tadinya, tapi sekarang sudah lebih baik—" Sehun kembali memejamkan matanya, merasa tenang bagaimanapun juga. "—karena kau di sini. Aku merasa jauh lebih baik."
Hyemi kembali merasakan perasaan aneh menjalar menuju hatinya. Dorongan untuk merasakan kebahagiaan membuatnya mengabaikan selembar kertas yang menyatakan dirinya bagian dari keluarga ini. Hyemi ingin melupakan kenyataan itu, meskipun perasaan bahagia hanya akan dinikmati untuk malam ini saja.
.
.
.
TBC
Maret 2016
Sehun > Yoon sehun
Jongin > Jong Il
Baekhyun > Bekyun
Chanyeol > Chan Yool
Soojung > Soo Jung/ Krisha/Kris
Yg belum kutandai di babnya berarti masih memakai nama asli mereka. Semoga jelas dan g bingung ya,
Akupun mau edit blm ada waktu 🙏
Thanks untuk pengertiannya